The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 192 - Rasa Bersalah



Tranformasi anggota tubuh memang bukanlah hal yang mustahil dilakukan oleh para Demonic Beast dan Spirit Beast, itulah teknik paling mendasar bagi mereka. Usai meningkatkan masa otot pada sekitar tangan kanannya hingga urat – uratnya menonjol, Eva menikam Lian dengan kekuatan penuh.


Bunyi daging terkoyak juga cipratan darah terdengar, Aincrad buru – buru mengangkat kepalanya khawatir kepada nasip sang putri. Namun pemandangan di sana malah membuatnya terpaku tidak kuasa menahan keterkejutannya, Baixian hampir kehilangan kesabaran terus membatalkan jurus kekangannya sembari berteriak. “Lian!?”.


“Uhuk! Uhuk!”


“Arrrrgggg......” Eva menggeram marah seolah bersiap mencabik – cabik pemuda tersebut, matanya memutih kosong sebab kontrol tubuhnya dikendalikan oleh kutukan Black Graveyard Sect.


“Kena kau....”


Meski cairan merah segar merembus keluar melalu tepi bibir maupun lukanya Lian masih bisa tersenyum puas, tapi bukan menatap Eva melainkan tengkorak hitam yang merupakan perwujudan Cursed Item pengendali badannya. Ketika momen barusan ia mulai menyadari ancaman dan kian meronta berupaya melepaskan gigitan pilar – pilar naga.


Melihat hal itu Baixian mengurungkan niatnya kemudian memerintahkan Aincrad buat memegangi anak gadisnya sekali lagi, Eva mencoba menarik lengannya namun Bing Lian langsung menggenggamnya kuat – kuat. Sang Raja Fairy Snow pun tiba tepat waktu menolong tuk meringkus fisik Eva.


“ROAAAAARRRRR....!!!”


“Sekarang atau tidak sama sekali!” seru Baixian mengencangkan mantranya.


“Selamat tinggal....makhluk melata menjijikan”


Lian bicara lirih sambil menyiapkan telapak berlapis Qi siap menghantam perempuan di hadapannya, lalu tanpa menunggu lama mendorong sedikit perut Eva sampai dia mengeluarkan suara tersedak. Bersamaan dengan kejadian tadi, Bing Lian mencabut pasak terakhir dalam alam bawah sadar Eva sekaligus membebaskannya dari Cursed Item.



Secara mengejutkan seekor ular tak berkulit terlontar melalui mulut Eva bersamaan dengan hilangnya tengkorak hitam sekitar tubuhnya. Ukurannya kecil tapi panjangnya sekitar lima meter, dia meliak – liuk mencoba kabur menyelamatkan diri apalagi Baixian sudah menonaktifkan kurungan Qi transparannya.


Baixian yang khawatir mau memeriksa keadaan Lian cukup cekatan mencabut sehelai rambut miliknya terus melemparkannya tanpa perlu menoleh, helaian tadi menegang bagaikan jarum usai diselimuti tenaga dalam berjumlah luar biasa dan akhirnya menancap mulus ke kepala makhluk itu.


Ular tersebut mengeluarkan desisan putus asa sambil menatap ngeri, usahanya menggunakan tubuh Eva menyerang Bing Lian karena kesadarannya tidak bergeming mendapatkan gangguan apapun saat mencoba melepaskan kekangan sang Tuan Putri Kerajaan Fairy Snow gagal total.


Serangannya masih meleset dari jantung Lian, Baixian meliriknya sinis lalu dalam satu tarikan napas berhasil meledakan seluruh tubuhnya hingga berceceran. Perlahan kumpulan energi gelap meluap secara berangsur – angsur, jumlahnya banyak sekali menandakan begitulah jiwa – jiwa yang telah dilahap oleh sang Cursed Item.


“Dasar parasit kecil....!”


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”


“Mmm....di mana? Aku ketiduran ya? Kepalaku sakit se—“ Eva perlahan membuka matanya mendengar suara batuk berat barusan namun kata – katanya terhenti akibat keadaan di hadapannya.


Pandangannya bergerak antara pemuda berambut putih sama persis dengan yang dilihatnya pada alam bawah sadar dan lengannya sendiri. Perlahan ujung jari – jarinya mulai merasakan hangatnya darah juga daging mengelilinginya.


“Eva!?”


“Hah....hah....hah....hah....hah....”


“Syukurlah....kamu baik – baik saja....hehehe....” ujar Lian tersenyum lembut ke arah Eva kemudian membantunya menarik keluar tusukannya.


Ia mundur sempoyongan hampir terjatuh namun Baixian langsung menangkapnya lalu membantunya untuk berada dalam posisi duduk, meski Baixian mengoceh tanpa henti menceramahinya telinga Bing Lian cuma mendengar dengung layaknya ratusan lebah marah.


“Kau kehabisan banyak darah! Bagaimana kalau keluarkan beberapa barang berguna dari Galaxy Ri—“


“Baixian....aku ingin istirahat sebentar jadi bisakah....hoek!?”


“Aku mengerti....” Baixian membalas dan perlahan mengeluarkan benda – benda yang kemungkinan dapat menjadi pertolongan pertama bagi Tuannya.


“ARRRRGGGGGG.....!!!”


Eva menjerit berhiaskan air mata menatap terpukul lengan berlumuran darahnya, Aincrad merangkulnya berusaha menenangkan putrinya itu. Setelah memasuki benaknya Bing Lian mengetahui kalau Eva belum pernah melukai makhluk hidup apapun selama hidupnya. Makanya ruangan di sana begitu bersih.


Sembari bersandar kepada pundak Baixian, dia mencoba mengatur napasnya. Tetapi tidak berselang lama kumpulan prajurit datang mengepung keduanya, mereka dipimpin oleh Taeral. Nampaknya teriakan Tuan Putri menyebabkan pasukan ini memutuskan menerobos masuk melanggar perintah Raja.


Sekilas pandangan Lian dan Taeral bertemu, ekspresinya menunjukan keterkejutan mendapati keadaan Bing Lian bisa separah itu. Sayangnya rasa kantuk memaksa Lian buat memejamkan matanya juga gagal mengetahui kelanjutan kejadian berikutnya.


><


Walau kepalanya terasa pening nan berat akhirnya Bing Lian berhasil membuka matanya sesudah mengerjap beberapa kali, aroma unik menggelitik hidungnya terus memaksanya untuk terjaga. Saat mencari dari mana bau tersebut berasal, Lian menemukan Eva tengah berdiri dekat tempatnya tidur sembari menata sekumpulan Magic Herb ke dalam vas bunga.


“Harum....sekali....kau membuatnya sendiri?”


“Hiy!?” Eva terkesiap kaget padahal suara gumaman Lian sangatlah pelan, telinganya tegak berdiri. Begitu Bing Lian mencoba mengubah posisinya menjadi duduk gadis itu malah berbalik terbirit – birit pergi.


“Eh? Tungg seb—ekh!?”


Lian mencoba menghentikannya dengan menjulurkan tangan namun rasa nyeri menghentikan gerakannya, dia meringis pelan lalu meraba lokasi yang seharusnya sempat ditusuk oleh Eva. Barulah ia sadar kalau sedang tidak mengenakan pakaian dan terbungkus perban, pertanyaan Bing Lian mengenai di mana serta mengapa kondisinya dapat begini terjawab kegaduhan dari luar ruangan.



“Woi!? Aku mana mengerti kalau kau tak bicara!? Ada apa sih?! Berhenti mendorongku peri siala—Lian? Kau siuman?“


Baixian menyeletuk heran meski wajahnya masih memerah kesal usai dibawa paksa Eva menuju tempat Lian berada, Bing Lian tersenyum kepada keduanya namun sebelum Baixian sempat menyemprotnya Lian mengangkat jarinya sebagai gerakan memintanya buat menyimpan semua itu.


Walaupun kelihatan kurang puas, akhirnya Baixian menghela napas sambil melipat tangan kemudian menjawab semua pertanyaan sang Tuan. Berdasarkan penjelasannya ternyata mereka sekarang berada di ruang perawatan khusus milik Fairy Snow, Lian dibawa kemari sehabis insiden pencabutan Cursed Item atas perintah Raja.


Eva cuma mendengarkan obrolan masing – masing tanpa berkomentar apapun serta masih bersembunyi dibalik punggung Baixian. Lian yang menyadari hal tersebut lantas mengalihkan fokus kepadanya, Baixian pun menyingkir agar keduanya saling bertatap muka langsung meski Eva mencoba menghindar.


“Anda baik – baik saja Tuan Putri?”


Bukannya membalas menggunakan kata – kata Eva malah mulai memperagakan gerakan aneh, Bing Lian mengenalinya sebagai bahasa isyarat terus memberikan respon. Eva nampak bahagia juga antusias Lian mampu memahami maksudnya.


‘Maaf....’


‘Kenapa anda meminta maaf?’


‘Soalnya sudah melukaimu’


‘Ini bukan salah Tuan Putri, ada orang – orang jahat yang mencoba mencelakaimu, Raja, dan seluruh Kerajaan’


‘Tapi karena aku kamu hampir mati’


‘Namun nyatanya tidak. Kita masih bisa berkomunikasi seperti sekarang, jangan khawatir aku kuat kok’


“Tolong hentikan, dua ini bukan milik kalian berdua ya!?” geram Baixian heran mengapa mereka terlihat menikmati sekali cara komunikasi merepotkan begitu.


“Dasar pengganggu”


“Apa kau bilang!?”


“Tuan Putri? Bolehkah aku meminta tolong agar anda memberitahu Raja kalau aku telah siuman. Beritahu dia jika aku ingin bicara” Lian berkata lembut mengabaikan seruan kesal Baixian.


Eva memberikan anggukan kalem tanda mengerti sebelum bergegas meninggalkan lokasi, memberi kesempatan Bing Lian berduaan dengan Baixian yang menggerutu sambil duduk pada tepi kasurnya. Lian memutar – mutar lenganya demi merenggangkan ototnya terus menyeletuk, “Tidak perlu menyembunyikan apapun lagi sekarang, waktunya bicara serius bagaimana kronologi sesungguhnya usai aku kehilangan kesadaran”.


Ch.192 (252)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 60 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).