The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 156 - Fifteen Peak Catastrophes



Pada sebuah gua raksasa, terdapat sebuah kastil megah berdiri kokoh. Para penjaganya nampak mengenakan zirah besi dan memiliki sayap layaknya kelelawar, di dalam bangunan tersebut sedang terjadi pertemuan akbar antar makhluk – makhluk tingkat tinggi yang biasa manusia Benua Huawai sebut sebagai Demonic Beast.


Lima belas individu telah menduduki kursinya mengelilingi suatu meja bundar. Penampilan masing – masing sekilas tidak mempunyai perbedaan seperti orang biasa, namun jika diperhatikan baik – baik mereka memiliki anggota tubuh tak lazim menghiasi badan. Ini menunjukkan tingkat kekuatan hadirin rapat itu bukan main – main.


Seluruhnya berpraktik Nascent Soul Great Circle – Stage serta cukup berumur terlepas dari wujudnya, bahkan yang paling muda berusia sekitar lima ratus tahun. Sebenarnya perkumpulan tadi terbentuk sudah lumayan lama, mereka menyebut dirinya Fifteen Peak Catastrophes.


Meskipun demikian, masih ada pembagian tiga kelompok lagi di dalamnya yaitu Land Threat, Ocean Heart, dan Sky Watcher. Dengan kata lain sesuai sebutan barusan, para anggota merupakan pemuncak rantai makanan atau sosok terkuat pada tiap wilayah kekuasaannya entah darat, laut, atau udara.


Seorang perempuan bertanduk merah juga memiliki sayap bewarna serupa menggemertakkan giginya kesal usai mengamati sekitar, dia sedikit menyesal menawarkan tempat tinggalnya untuk menjadi lokasi pertemuan karena melihat sikap menyebalkan tamu – tamunya terutama gadis kecil berselimutkan bulu tebal yang tengah menjilati tangan berkuku panjang penuh darah miliknya.


“Oi?! Little Jackal....”


“Hmm? Apa?”


“Atur nafsu makanmu! Berhenti berburu manusia tanpa pikir panjang! Pergerakanmu mulai mencuri perhatian”



“Hah? Pemilik tahanan segunung untuk dijadikan peternakan darah sepertimu tidak pantas merasa keberatan, memangnya kau yang memberiku makan?” Little Jackal berdiri pada kursinya lalu membalasnya dengan senyuman sinis.


“Brengsek...! Kau pikr aku tak tau! Sekali lagi kau menghabisi anak buahku bersiaplah menerima akibatnya....”


“Oh? Mau berkelahi?”


Mata keduanya menyala terang saling menatap satu sama lain siap menerkam kapan saja, pancaran Qi mereka membuat kastil sekaligus seluruh gua bergetar hebat. Untungnya seorang pemuda bersama gadis kecil lainnya segera merelai sebelum terlambat.


“Tenanglah Bat General, mungkin dia belum mengkonsumsi apapun dalam jangka waktu lama makanya kurang mampu menahan diri”


“Ugh...cih!?” geram Bat General kemudian perlahan menarik kembali auranya akibat ucapan laki – laki tersebut.


“Jackal!?”


“Yaa....maaf”


Little Jackal melanjutkan kegiatannya menjilati tangan tanpa menunjukkan rasa bersalah mengabaikan tatapan marah temannya, anak perempuan berpakaian indah dengan batu karang menghiasi sekujur tubuhnya. Terdapat sebuah benda bulat berkilauan layaknya mutiara terbang mengikutinya kemanapun pergi, tiba – tiba sewaktu situasi mulai kondusif bunyi berdebum keras terdengar usai wanita berpenampilan beringas menghantamkan pedang biru besar ke atas meja.


BUMM!!!


“Hey Coral Bishop? Fishman Prince? Kalian berdua yang mengusulkan pertemuan ini karena menolak pelaksanaan rencana kudeta kepada umat manusia, kita semua kemari ingin mengambil suara atau menonton pertengakaran konyol?”


“KEPARAATTT....! DASAR SINTING!!! HARGAI PROPERTI PUNYA ORANG LAIN IDIOT!!!” Bat General menunjuk pelaku sambil marah – marah, lidahnya menjulur layaknya iblis dalam buku – buku bergambar.


“Wave Rider?”


Coral Bishop dan Fishman Prince bertukar pandang sulit mencari alasan demi menjawab tuntutan tadi, sementara Wave Rider menutup telinganya agar terhindar dari omelan Bat General. Akhirnya disebabkan sudah tidak ada cara mengulur waktu lagi.


Pengambilan suarapun dilakukan oleh Fifteen Peak Catastrope, pemandangan beberapa menit berselang mengejutkan mereka semua karena menunjukkan hasil seri. Tujuh anggota menyetujui Revolusi Beast serta tujuh lainnya masih berniat menjaga hubungan dengan manusia, menyisakan satu suara terakhir sebagai penentu.


Sorot setiap pasang mata langsung tertuju ke pria berambut putih yang memiliki telinga panjang, ia perlahan melek menyadari pandangan menunggu rekan – rekannya. Keputusannya bakal menentukan kemana arah Benua Huawai akan berputar kelak.


“Payah!” umpat Wave Rider kesal mendelik menuju para pemilih ingin hidup berdampingan bersama manusia.


“Fairy Snow? Jawabanmu....”


“Aku....belum memutuskannya, berikan aku waktu sebulan lagi untuk berpikir. Saat ini aku sedang banyak urusan”


Fairy Snow menunduk memberi hormat sebelum berdiri hendak meninggalkan lokasi, dia merupakan sosok tertua di Fifteen Peak Catastrophes sehingga tak ada yang cukup berani menantang maut menolak permintaanya. Begitulah kurang lebih pikiran mereka sampai laki – laki berkulit gelap menyeletuk.



“Sun Ghost? Jika kau mau bertarung tidak perlu memprovokasiku, maju sini” Fairy Snow menghentikan langkahnya terus menoleh, secara perlahan seluruh ruangan terselimuti oleh aura dingin.


“Kalau kau bukan pengecut? Mengapa marah pak tua?”


“Cukup! Sun Ghost hentikan!” peringat Fishman Prince.


“Aduh.....bertengkarlah di luar hey!? Jangan malah dalam rumahku sialan!!!”


Menyaksikan Bat General mengacak – acak rambutnya frustrasi, Fairy Snow menarik kembali pancaran Qi miliknya kemudian memlilih mengabaikan saja tanpa meladeni kata – kata tajam Sun Ghost. Dia segera melenggang menjauh, berbekal satu ayunan tangan terciptalah sebuah portal misterius siap membawanya.


“Aku mempunyai rakyat yang perlu dilindungi, orang sepertimu mana mengerti bocah tengik” Fairy Snow menoleh sinis lalu menghilang dari pandangan.


><


“Yang Mulia!? Anda sudah kembali? Selamat datang....”


“Mmm? Kenapa kau nampak pucat begitu?”


Fairy Snow memiringkan kepala penasaran melihat salah seorang bawahannya kesulitan mencari jawaban, orang tadi tak berani menatap langsung wajah sang raja dan memilih menunduk. Dia berusaha menenangkannya sekaligus memintanya menceritakan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


“Tuan Putri....terkena sedikit masalah....”


Mendengar kabar barusan tatapan Fairy Snow berubah tajam, dengan cepat pria berambut putih nan panjang tersebut berangkat untuk melihat anak semata wayangnya. Sesampainya di ruang perawatan telah berkumpul para tabib terbaik kerajaan demi menolong si putri.


Mereka segera bertekuk lutut memberi hormat dengan tubuh gemetar hebat sewaktu Fairy Snow memasuki kamar, ia menghampiri gadis yang tergeletak lemah di atas kain sutra. Perlahan Fairy Snow membelai lembut pipinya penuh sayang, jelas sekali menahan amarah akibat ekpresi kesakitan perempuan itu.


“Ayah....” erangnya pelan.


“Aku di sini....kenapa kau bisa sampai begini putriku?”


“Lukanya nyeri.....kumohon tolong aku....”


Fairy Snow mengangkat selimut milik anaknya kemudian menemukan luka cukup panjang menghiasi pundak kiri hingga perutnya, cukup sekali lihat Fairy Snow dapat menyadari ada suatu hal janggal. Energi gelap merembes keluar dari bekas tebasan tadi.


‘Qi hitam....beraninya’ Fairy Snow membatin hampir menghabisi seluruh orang pada lokasi tersebut kecuali putrinya.


Berbekal kemampuannya ia menarik sebagian kutukan yang menggerogoti badan gadis itu, barulah warna wajahnya perlahan membaik terus dapat tertidur. Fairy Snow meminta para pengawal menjelaskan detail mengapa kondisnya jadi seperti ini.


Ternyata saat Tuan Putri mereka pergi berkeliling mengumpulkan Spirt Herb maupun Magic Plant, muncul seorang Cultivator manusia menyerang secara tiba – tiba. Sayangnya dikarenakan selalu meminta privasi sewaktu beraktivitas membuat bala bantuan terlambat melindungi si gadis.


Fairy Snow lalu menanyakan apakah bawahannya membunuh pelaku, masing – masing menggeleng dan memberitahu kalau mereka sengaja menangkap kemudian memenjarakannya agar Fairy Snow sendiri menentukan nasip dirinya.


Akhirnya Fairy Snow berangkat melihat sang tahanan menuju sel bawah tanah khusus yang terbuat dari es. Di sana nampak wanita berpakaian serba putih telah ditutup matanya bahkan kaki serta tangannya dirantai oleh sihir khas ras mereka, Fairy Snow memerika sosok barusan terus terdiam saat mendapati lambang sekte pada seragam orang tersebut.


“Frozen Swan River? Tidak kusangka anggotanya sendiri berani melanggar perjanjian damai, siapkan pasukan. Hancurkan sekte kurang ajar itu sampai rata dengan tanah....”


-The Omniscient Ice Lotus Prince Book Arc Status Begin-


Ch.156 (192)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 36 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).