
Selagi menunggu Bing Lian menyelesaikan pekerjaannya, Yao Sheyan bersama Bubu mengurus kebun mereka di tengah terik matahari. Saat mengelap peluh dari keningnya perhatian Sheyan teralihkan oleh sebuah benda bersandar dekat salah satu pohon, dia menghampirinya kemudian langsung mengenalinya sebagai pedang yang digunakan Lian bertarung sebelumnya.
“Oi Lian!? Jangan menaruh senjata berbahaya sembarangan!”
“Mmm? Ah maaf, tapi dia tidak membahayakan kok” sahut Lian lanjut memotong sayuran tanpa menoleh.
“Apa maksudmu? Kau menghabisi lusinan Red-Eye Ox dengan memakainya!?”
“Itu hanya sebatang kayu biasa yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai pedang, kalau tak percaya periksa saja sendiri”
“Hah....”
Yao Sheyan menaikan sebelah alisnya ragu lalu berbalik, secara hati – hati gadis tersebut mencoba menyentuhnya tetapi berkat Bubu melintas mengejar seekor capung Sheyan kehilangan keseimbangan dan menggapainya untuk dijadikan alat bantu agar tidak terjerembab jatuh.
Mukanya langsung mengkerut menemukan ucapan Lian benar adanya, barang panjang sekitar telapak tangannya sekarang sungguh terbuat dari kayu bahkan bukan Magic Plant atau Spirit Herb tertentu, ‘Bagaimana caranya dia bertarung berbekal rongsokan ini?’.
Yao Sheyan yang masih penasaran membawanya menuju teras rumah kecilnya, ia duduk di sana mengamati benda itu seksama sembari memutar – mutarnya sesekali. Bing Lian melihat aksinya terus tersenyum tipis sebelum menegurnya pelan.
“Nona Yao? Pernahkan kau mempelajari soal ilmu pedang?”
“Apa aku perlu menjawabnya?” Sheyan membalas tau sekali Lian cuma mengetes dirinya.
“Hehehe....baiklah biar aku jelaskan sedikit supaya wawasanmu makin luas dan tak hanya berputar pada pengetahuan mengenai bidang Alchemist”
“Oh? Sekarang kau mau berperan layaknya seorang guru? Hebat sekali kau mau mengguruiku”
“Dalam kemampuan berpedang, makin mahir kau menggunakannya maka akan muncul berbagai tahapan luar biasa sebagai pertanda tingkat pemahamanmu yang bertambah. Ada Cultivator tertentu bahkan mampu menebas musuhnya tanpa berbekal benda tajam sekalipun” kata Lian mengabaikan komentar pedas cucu sang Medicine Pillar.
“Konyol....”
“Mengingat kau menghabiskan hampir seumur hidupmu terkurung di sini, aku memaklumi kau sulit mempercayainya”
“Untuk apa kau berlatih jika pada akhirnya tidak butuh memakainya?”
“Pola pikirmu salah, justru semakin ahli seorang pendekar pedang. Maka ia bisa mengalahkan musuhnya bahkan tanpa perlu mencabut senjatanya. Contohnya seperti ini....”
SYUUU!!!
Kejadian berikutnya terjagi begitu cepat hingga Sheyan menahan napasnya, Bing Lian memutuskan sehelai rambutnya kemudian mengalirkan Qi kepadanya. Helaian tadi segera mengeras terbungkus campuran energi angin, besi, dan petir sekaligus. Lian melemparkannya santai tapi dampaknya sangat menakjubkan.
Meski terkesan asal – asalan juga tidak melihat ke arah mana melepaskan serangannya, benda ramping nan tajam yang sekarang lebih mirip jarum tersebut melintas tepat depan mata Yao Sheyan. Mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter saja, lajunya kencang sampai sulit diikuti serta mirip sambaran kilat.
SYUU!!! JDARRR! SRRRTTT....!!!
“BUUUU!!?”
Bubu memekik ngeri sebab capung buruannya baru tewas tertancap oleh rambut Lian, barang itu menempel kuat pada dahan pohon mati cukup dalam. Hawa panas melapisinya hingga menyebabkan asap tipis mulai membumbung, Sheyan berdiri terus menjatuhkan pedang kayu milik Bing Lian usai menyaksikan seluruh insiden barusan.
“Kurang lebih begitulah caraku ketika bertarung di Pos Pertama sebelumnya” Bing Lian menutup penjelasannya sambil mengelap kedua tangannya.
Selain karena penguasaan terhadap ilmu pedang, Yao Sheyan juga takjub akan bagaimana Lian menerapkan sekaligus mencampur perubahan unsur alam dengan mudahnya. Sebagai Alchemist dia tau tindakan ini bukan termasuk suatu hal sederhana, dua saja membutuhkan upaya setengah mati apalagi tiga. Saking mahir si pemuda, Sheyan mulai merasa ia sedang diajari orang selevel kakeknya.
><
“Kau tidak apa – apa Bubu?”
“Bu!?”
Sekitar sepuluh menit kemudian Lian membawakan dua mangkuk ke hadapan mereka, Yao Sheyan dan Bubu bertukar pandang belum berani menyentuhnya sampai Bing Lian ikut duduk bersama. Menyadari tingkah aneh masing – masing Lian memiringkan kepala bingung.
“Kalian kenapa?”
“Hiiyyy!? Eeee....silahkan lebih dulu”
“Tenanglah, aman kok. Ini tak mengandung racun, lagi pula ekspresi kalian sulit berbohong saat lapar”
“Enak saja! Glek! Aku tidak pernah menuduhmu lho....dasar” protes Sheyan buru – buru mengelap air liurnya.
Sejak aroma masakan Bing Lian menyusupi hidungnya, Yao Sheyan kepayahan menyembunyikan perasaan laparnya. Perutnya mulai bergemuruh meminta untuk diisi hingga dia terpaksa menekannya kuat – kuat, Bubu pun sama namun dirinya harus mematuhi instruksi dari Sheyan.
“Baiklah kalau kau bersikeras, slurp....lihat?” Lian mengangkat bahunya terus menyeruput sesendok sup daging Red-Eye Ox.
GLEK! WUSH!
Usai menyaksikan Lian menyantap masakannya, tanpa menunggu lama keduanya bergegas menikmatinya seakan orang belum pernah makan selama seminggu. Bing Lian hanya tertawa menyaksikan tingkah konyol mereka, cukup dengan suapan pertama rasa curiga Sheyan meletup bagaikan balon.
Hilang bersih tak meninggalkan sisa, awalnya dia ragu mengkonsumsi pemberian Lian kemudian memaksa Bubu melakukan hal serupa sebab beberapa kejanggalan belakangan. Perbuatan pemuda itu ketika berburu di Pos Pertama Granyte Convert Sanctuary menjadi dasar utamanya, kehebatan Bing Lian memunculkan pikiran bahwa ia sebenarnya seorang Cultivator berbahaya serta memiliki tujuan masih samar – samar menemui kakeknya.
Terutama akibat Yao Sheyan tidak pernah menemukan nama atau sosok berciri – ciri mirip sepertinya dalam daftar orang – orang berpeluang datang berkunjung pemberian Alchemist Bachelor meskipun sudah memeriksanya berulang kali, makanya walau tinggal cukup lama bersama Sheyan mulai mencurigai Lian. Namun semuanya sirna disapu kelezatan kuah kaldu pada mangkuknya.
“Enakkkk.....iyakan Bubu!?”
“Bu!”
“Syukurlah kalian menyukainya, ambilah sendiri jika mau—“
WUSH....!!!
Mereka bahkan telah melesat menuju kuali buat menambah sebelum Lian selesai bicara, Bing Lian cuma menggeleng – geleng lalu lanjut membersihkan sup di hadapannya sendiri. Lian terkesan melihat betapa antusiasnya Sheyan dan memutuskan bertanya apakah dia belum pernah memakan masakan berbahan dasar hewan atau lebih mewah lagi yaitu daging Demonic Beast padahal dirinya merupakan cucu Cultivator ternama.
“Slurrppp....nyam tentu saja sudah! Nyam nom....nyum tapi lama sekali sejak terakhir kali nyam....”
“Bukankah kau terkadang turun untuk mengunjungi kota buat berbelanja kebutuhan? Mengapa tidak mampir ke restoran terus menikmati hidupmu”
“Aku hanya turun sebentar, lagi pula keperluan kami biasanya berupa alat – alat bercocok tanam. Makanan di sinikan berlimpah jadi buat apa aku membelinya?” sahut Yao Sheyan memasang ekspresi bingung atas pertanyaan Lian yang seolah jelas sekali jawabannya.
“Terserah deh, menurutku sedikit kurang asin. Boleh aku meminta garam milikmu”
“Umm...jangan jadi anak manja dan ambilah sendiri pada ruangan bagian belakang rumah”
Bing Lian memutar – mutar bola matanya enggan merusak suasana hati bahagia gadis tersebut, diapun dengan patuh memasuki kediaman Sheyan. Awalnya semua berjalan normal hingga Lian menemukan sebuah pintu terbuka sedikit, walau ada lambang silang merah terpampang menghiasinya Bing Lian tetap mengintip karena penasaran. Perlahan pandangannya melebar menemukan barisan banyak sekali patung aneh berwujud mulai dari manusia hingga Demonic Beast berbagai ukuran. Sebelum sempat menyelidiki lebih jauh gerakan cepat juga bunyi keras mengagetkannya.
Special Ramadhan Up (29/30)
Ch.249 (331)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 82 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).