
“Yang Mulia!”
“Hmm?”
Panggilan lebih mirip teriakan barusan menyebabkan seseorang dalam kelambu tempat tidurnya terpaksa bangkit, dia mereganggkan tubuhnya sejenak sebelum membuka tirai menggunakan ekornya terus menemukan salah satu bawahan paling terpercaya miliknya membungkuk hormat dengan tubuh berkeringat dingin akibat desisan marah rambut – rambut wanita tersebut yang berwujud gerombolan ular.
“Ada perlu apa sampai kau teriak – teriak mengganggu waktu istirahatku Kirka?”
“Mohon ampuni kelancangan hamba Yang Mulia Medusa, tapi ini kondisi darurat. Kami membutuhkan kehadiran anda sekarang....”
“Sebaiknya bukan suatu hal konyol atau kupastikan kau menerima akibatnya” bisik Medusa lembut tapi sedingin es.
“Mana berani saya!”
Menyaksikan reaksi Kirka, Medusa tau kalau dirinya sedang sungguh – sungguh. Meski kelihatan kurang dapat diandalkan, Kirka merupakan anak buah terloyal menurutnya sebab tidak mempunyai sedikitpun keinginan berontak terhadapnya. Jadi mustahil gadis itu bergurau dengan cara membangunkannya.
Seperti kebanyakan pengikutnya, Kirka pun awalnnya meratapi nasibnya harus tinggal menjadi pelayan Medusa dan harus rela menerima kutukan yang mengubah fisiknya sedikit demi sedikit makin jauh dari kata Manusia normal pada umumnya. Namun seiring berjalannya waktu perlahan nampaknya dia mulai berdamai juga menerima keadannya sekarang.
Lalu patuh mentaati Medusa selama ratusan tahun belakangan bahkan bisa dibilang sangat penuh penghormatan sampai seolah lupa mengenai siapakah pelaku utama sampai dirinya berakhir terjebak di Dao Realm.
Medusa mengenakan gaunnya kemudian memerintahkan Kirka memimpin harus pergi kemana, Kirka menundukan kepala sekali lagi terus berjalan lebih dulu. Bayangan masing – masing bergerak mengerikan ketika keduanya melintasi lorong berpenerangan obor – obor redup, suasana begitu nyaman bagi Medusa terlebih energinya masih penuh akibat baru saja selesai istirahat.
Sesampainya pada ruang singgasana ternyata telah banyak wajah – wajah dikenalnya menanti, semua segera berbaris rapi sambil bertekuk lutut menyambut sang ratu. Ketika akhirnya duduk, Medusa memperhatikan satu per satu raut tegang para jenderal penasaran. Dia belum menemukan petunjuk tentang apa gerangan masalah harus dituntaskan hingga membutuhkan campur tangannya.
“Aku terkesan seluruh petinggi pasukanku hadir, kalian membutuhkan sesuatu?”
“Y...Ya...Yang Mulia...”
“Bicara lebih jelas Yercizath”
“Baik! Eeee....saya sedikit bingung bagaimana memulainya tapi intinya kita sepertinya sedang diserang”
“Hah? Kau bercanda? Oleh siapa? Tidak mungkin Rajanaga bukan?” Medusa mengernyitkan dahi.
“Itu masalahnya Yang Mulia, kami belum memiliki informasi lebih lanjut”
“Ckk!? Terus kok bisa kau mengambil kesimpulan tadi!?”
“S...so...soalnya ada laporan jika gerbang markas di permukaan sudah dijebol, terlebih hampir semua anggota dinyatakan gugur” ucap Yercizath cepat menatap panik rekan – rekannya seakan meminta tolong.
Mendengar penjabaran pria tersebut Medusa termenung, seingatnya ia menempatkan kurang lebih seratus orang bersiaga sekitar lokasi kejadian entah menjaga pintu masuk maupun memantau gerak – gerik mencurigakan supaya menanggulangi penyusup. Seharusnya misal pecah pertempuran pastinya kegaduhannya bakal sampai cepat atau lambat ke telinga jenderal – jenderal miliknya.
Namun situasinya malah terbalik, mereka cuma menemukan mayat – mayat bergelimpangan. Berarti ada dua kemungkinan, pertama musuh berjumlah banyak sehingga mampu menyergap sekaligus menuntaskan pengikutnya secepat kilat. Sementara posibilitas satunya lagi si pelaku cukup lihai bertarung serta mempunyai kekuatan di atas rata – rata.
“Syiseka?”
“Hadir Yang Mulia”
“Apakah belakangan ada pergerakan mencurigakan kelompok – kelompok besar dekat wilayah kita?” Medusa menyeletuk sembari mengelus dagunya.
“Tidak Yang Mulia, kalau sungguh terjadi saya pasti langsung melaporkannya kepada anda”
Pikiran Medusa kian ruwet mencari kira – kira siapakah dalang dibalik kejadian ini, mendapat informasi barusan menyadarkan Medusa orang itu bergerak sendiri. Soalnya mustahil bagi pasukan kuat nan banyak bisa menyerbu tanpa terdeteksi, berarti jawaban paling mendekati adalah lawan mereka bukan sosok sembarangan.
Medusa menggeram kesal, padahal ia telah berjuang keras untuk tak mengusik petinggi – petinggi dengan fokus ke operasi di luar Dao Realm. Mengapa tiba – tiba muncul individu kuat mencari masalah terhadap kelompoknya batin Medusa dalam hati, sehabis diam cukup lama Medusa tersentak usai memperkirakan langkah berikutnya dari ancaman baru tersebut.
“Adakah diantara kalian memastikan keadaan pos penjagaan kedua yang dekat tangga?”
“Berapa lama sejak terakhir kau memeriksa!?”
“Eh? Sekitar sepuluh menit la—“
BLAARRR....!!! WUSSHHH!!! JDAAARRR!
Sebelum jenderalnya selesai bicara, secara mengejutkan pintu emas ruang tahta roboh akibat hantaman keras. Salah seorang pengawal kekar yang ditugaskan mengawasi keadaan di luar terkapar tidak berdaya, kondisinya kritis hampir kehilangan nyawanya begitu dihempaskan kemari sebagai alat pendobrak.
“Apa – apaan—“
“Aku kecewa sekali, setidaknya kalau tak mampu menyediakan bawahan tangguh. Seharusnya kau minimal memilih yang sopan....”
Kata – kata lirih ini menarik perhatian seisi ruangan, semua segera bersiaga mengamati siapa sebenarnya pendatang di balik kepulan debu. Bunyi langkahnya sedikit tertutupi suara benda berat menggesek lantai batu, saat akhirnya muncul mata mereka membelalak menyaksikan pemuda manusia berambut putih mungil tengah menyeret pengawal pintu masuk ruang tahta satunya lagi dengan cara menjambak kepalanya.
><
“Maaf mengganggu rapat menyenangkan kalian, aku cuma ingin mengembalikan sesuatu” ujar Bing Lian santai melemparkan raga anak buah Medusa sembarangan.
Hal paling mengesankan tentunya bagi setiap penghuni di sana sebab ukuran badan Lian puluhan kali lebih kecil ketimbang lawannya, bagaimana mungkin dia mampu mudah mengangkutnya tanpa nampak kesulitan sedikitpun.
Bing Lian lupa telah menghabisi berapa manusia ular saking banyaknya menghadang ketika menuju ke situ, sejak melumpuhkan para prajurit pos kedua dekat tangga dirinya terus bertarung demi mencari ruang tahta. Ternyata ucapan syukur Sheyan mengenai sederhananya sarang Medusa terbukti salah, bagian dalamnya rumit sekali.
Banyak persimpangan ditambah jalan berliku – liku yang pada akhirnya ternyata tidak mengarah kemana – mana atau buntu. Untungnya bagian sana lebih terang berkat obor, sulit dibayangkan semisal harus menemukan lokasi ini berbekal merayap memegangi dinding akibat indra pengelihatan terbatas.
Lian mulai menganalisis situasi, ada dua belas orang pihak seberang sedang berdiskusi dalam ruang tahta. Kekuatannya berkisar antara Foundation Realm Mid-Stage sampai Nascent Soul Late-Stage yaitu Medusa itu sendiri, Bing Lian cukup terkejut dia belum mencapai tingkatan Nascent Soul Great Circle-Stage dalam kurun waktu lima ratus tahun.
Keterbatasan gerak hanya menjalin kontrak bersama manusia biasa kelihatan mempengaruhi perkembangannya, Bing Lian menajamkan pendengaran untuk mendeteksi keberadaan Yao Sheyan. Perempuan tersebut berada tidak jauh dari belakangnya diam terpaku, detak jantungnya tidak karuan sejak sampai.
Lian berasumsi sekarang pasti Sheyan menatap penuh dendam terhadap wanita ular betangan enam yang duduk menghiasi singgasana. Keadaanya lumayan sulit menurut Bing Lian, ia membutuhkan sedikit keberuntungan selain kemampuan bertarung jika terpaksa menghadapi mereka serempak apalagi ditambah melindungi Yao Sheyan. Tetapi mari kesampingkan kemungkinan terburuk tadi lalu mencari celah bernegosiasi.
“Manusia? Maksudnya penyebab segala kekacauan adalah dirinya?”
“Kalian menunggu apa? Habisi dia....” perintah Medusa menyadari peluang menangnya terbuka lebar walau masih waspada atas kekuatan tersembunyi bocah itu.
“Sebentar.....aku kemari hanya mau bicara. Kalau orang – orang kalian tak lebih dulu menyerang aku juga mana sudi meladeninya, aku cuma melakukan tindakan perlindungan diri”
“Heh? Kau membuang – buak waktu saja, kau berkata demikian karena hendak mengumpulkan kembali energimu yang terkuras demi mencapai—“
“Jangan terlalu jahat begitu dong terhadap kenalan lamamu....Yanqiu” Lian tersenyum santai sengaja menekankan kata – kata terakhirnya karena tau bakal menarik perhatian Medusa.
DEG!
Ch.283 (387)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 104 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).