
‘Nona Yao?’
‘Hmm....?’ balasnya ketus.
‘Coba kau letakan dirimu di posisinya, menurutmu bagaimana perasaanmu semisal permintaan tolongmu ditolak? Dia juga korban kutukan sepertimu lho....’
Begitu mendengar Bing Lian berkata demikian Yao Sheyan tertegun, dia memperhatikan Kirka sekali lagi dari ujung rambut hingga kaki. Nampak badannya bergetar layaknya orang mengigil saat kedinginan atau ketakutan, pandangan Sheyan mulai terbuka perlahan.
Benar kata Lian, kalau keduanya bertukar tempat Yao Sheyan mungkin sudah tidak tahan mengalami penderitaan gadis itu. Semua kenalannya telah tiada terus mesti mengabdi kepada sang dalang seluruh kemalangan sepanjang hidupnya bukanlah suatu hal mudah. Pastinya Kirka lebih dahulu serta mengetahui sulitnya mewarisi Petrified Gaze.
Usai dipikir – pikir lagi misal misi mereka gagal kali ini, penampilan Sheyan pun akan berubah makin mirirp Dao Beast terkutuk tersebut. Entah rambutnya nantinya berdesis maupun kulitnya ditumbuhi sisik yang mana saja menyebabkan bulu kuduk Yao Sheyan berdiri tegak padahal cuma membayangkannya sejenak.
Akhirnya akibat timbul rasa senasib sepenanggungan Sheyan menggapai lengan Kirka, awalnya Kirka terkejut karena tiba – tiba ada tangan menggandengnya. Namu begitu melihat tatapan ramah Yao Sheyan ia secara suka rela mengikuti arahannya bersembunyi di belakang punggungnya bersama Bubu.
Lian tersenyum tipis menyaksikan tingkah si Violet Alchemist Princess, nampaknya Yao Quon berhutang lagi kepadanya. Bing Lian berani bertaruh selesai petulangan menuju Dao Realm gadis itu bakal jauh lebih dewasa nan matang dalam segala aspek kehidupannya kelak, Lian kembali berfokus terhadap pertarungan menghadapi Medusa juga kelompoknya.
“Masih ada diantara kalian ingin ikut?”
“JANGAN BERCANDA....!!!”
Medusa kesal sekali hingga melupakan ketakutannya sebentar, pengkhianatan Kirka menumbuhkan keraguan ke setiap pengikutnya. Soalnya bila orang dianggapnya paling setia saja meninggalkannya apalagi anggota lain yang alasan utama kepatuhannya hanya sekedar keselamatan nyawa. Medusa bisa menyadari beberapa jenderalnya sempat tergiur namun sebab jaraknya terlampau dekat dengannya tak berani mengikuti jejak Kirka.
'Aku harus melakukan sesuatu'
“Baiklah....kalau begitu cara mainmu aku ladeni, siapapun mampu menyerahkan kepala bocah sombong di sana akan kuhadiahi kebebasan terus dikembalikan menuju dunia nyata”
“Penipu....” Sheyan berdesis pelan sambil menyipitkan matanya.
“Kau salah.....”
“Hah? Apa maksudmu? Kau sebenarnya dipihak siapa sih?”
“M...ma...maaf, aku cuma mau kau tau Yang Mu—maksudku....Medusa tidak pernah mengingkari ucapannya” bisik Kirka sedikit terbata – bata.
Informasi Kirka sepertinya akurat, sebab sesudah Medusa mengatakannya ada perubahan sikap dari para bawahannya. Pandangan masing – masing dipenuhi semangat mendambakan hari kebebasan mereka, Yao Sheyan dan Kirka memperhatikan Bing Lian menunggu responnya. Namun dia malah hanya menggaruk – garuk kepalanya tanpa kelihatan tertekan, anehnya justru perilaku santainya makin membuat musuh ragu menyerang.
“Padahal kalau kalian menyingkir lalu membiarkanku membunuhnya bukannya jauh lebih mudah ya? Kalian bahkan tak perlu repot – repot membahayakan nyawa sendiri”
“HIHIHI.....TERUSLAH MERACAU TIKUS KECIL! ANAK BAU KENCUR LAYAKNYA DIRIMU PIKIR PUNYA KESEMPATAN HAH!?”
“AHHH....DASAR LAMBAT! MENYINGKIR! JIKA RAGU MAKA BERIKAN SAJA UNTUKKU HADIAHNYA YANG MULIA! HAHAHAHAHA....!!!”
“HABISI DIA! YERCIZATH!!!”
“Berisik....kenapa harus teriak – teriak sih? Jarak kita terpisah bahkan kurang dari sepuluh meter woi” Bing Lian menutupi telinganya heran.
Salah satu jenderal Medusa menerjangnya dengan tangan siap mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke arah leher Lian. Sheyan, Kirka, maupun Bubu memekik memperingati tapi Bing Lian malah mengeluarkan bulu merah keemasan pada Galaxy Ring. Ia menjepitnya sekitar jari tangan kanannya kemudian mengarahkannya dekat bibir.
Tepat sebelum tebasan mengenainya, Lian meniup benda tadi pelan mirip lilin ulang tahun. Awalnya sekilas cuma memunculkan percikan kecil seperti korek, namun detik berikutnya sebuah kobaran api berwarna putih menyala tiba – tiba menampakan wujudnya sehingga memaksa semua individu melindugi matanya karena silau.
Serentak Baixian beserta empat sosok lain menoleh ke arah datangnya pancaran energi familiar tersebut, Chyou kebingungan saat Baixian dalam bentuk naga kecilnya melayang mendekati jendela seakan mencari – cari sesuatu. Nun jauh pemandangan Adamantine Peak yang menjulang tinggi mencuri perhatiannya.
“Bukan dasar bodoh....aku mana mencuci baju!”
“Lalu?”
“Ada seseorang baru saja menyalakan White Flame, Zhuque? Tidak....seharusnya kalau itu si tukang judi ceroboh perasaan tadi datang dari selatan bukannya utara. Jangan – jangan....sebenarnya apa sih dilakukan oleh Tuan menyebalkanku saat mengunjungi kenalannya!?” gerutu Baixian kesal sembari mengelus – elus dagunya berpikir keras.
><
Ujung bulu yang ditiup oleh Bing Lian terbakar kemudian merambat cepat hingga habis tanpa sisa dan mengeluarkan semburan api menakjubkan sebagai gantinya, tapi cukup melihatnya saja siapapun dapat mengetahui itu bukanlah suatu hal sembarangan.
Kobaran putih ini sangat pekat juga memberi kesan sebaiknya jangan berani – berani mendekatinya, namun Yercizath selaku target sekaligus orang berada tepat di depan Lian mustahil menghindar dan langsung terpapar. Teriakan kesakitan melengking terdengar memenuhi ruang tahta.
Dia menggeliat maupun menggelinding pada tanah mencoba memadamkan api menyelimuti tubuhnya sayang usahanya tak membuahkan hasil, para rekannya memilih menghindar ketimbang menolong karena merasa ngeri jika nanti hawa panas barusan ikut menyulut pakaian mereka.
Akhirnya kurang dari satu menit raga Yercizath menghilang seutuhnya, hangus sampai ke tulang – tulang bahkan tidak meninggalkan secarik kain serta kulit pun sekitar lokasi terakhirnya berada. Semua menelan ludah menyaksikan momen spektakuler becampur mengerikan tersebut termasuk Yao Sheyan.
Ia terpesona atas kehebatan White Flame, tingkatannya jauh diatas Purple Flame miliknya. Alasan mengapa Sheyan berpikir demikian adalah meski Purple Flame efektif menghadapi makhluk – makhluk gaib layaknya Dao Beast, Yao Sheyan cukup yakin Purple Flame tidak sanggup melenyapkan mereka tanpa tersisa.
Sebuah hal wajar sebenarnya soalnya spesialisasi Purple Flame terletak pada pengolahan pil bukan pertarungan, dia baru pertama kali menyaksikan perubahan jenis elemen api macam begitu. Seingatnya saat Yao Quon menjelaskan tentang topik mengenainya, sang Alchemist Bachelor hanya menunjukan tahapan Golden Flame sehingga Sheyan berpikir itulah yang paling tinggi tingkatannya.
Usai menelaah baik – baik, terdapat faktor lain sehingga Yao Sheyan cukup percaya diri akan pandangannya terhadap White Flame. Sebelumnya sewaktu menggunakan Purple Flame buat menghalau barisan musuh, Medusa menebas jurusnya demi menetralisir keadaan. Sementara ketika giliran Lian, Medusa nampak sama ketakutannya bahkan terkesan ikut menjauhi anak buahnya.
Sekarang tekanan berbalik lagi kepadanya, instingnya memberitahu Medusa kalau situasi ini sangat membahayakan. Dia sungguh tidak menyangka bocah ingusan yang ia sempat anggap penipu bisa mengeluarkan White Flame asli, Medusa terpaksa berhati – hati mengambil tindakan selanjutnya sebab tak punya petunjuk apakah Bing Lian masih menyimpan kejutan lain dibalik lengan jubahnya.
‘Api Phoenix sungguhan!? Apa jangan – jangan identitasnya benar – benar—‘
“Kenapa? Mana kesombonganmu tadi Medusa?”
“Ugh....kau!?” Medusa berdesis marah.
“Apa akhirnya kau mengerti keadaannya?”
“Kau harusnya sudah mati....berhenti mengganggu hidupku manusia sialll....!!!”
“Hehehe....wah wah wah, kasar sekali. Sepertinya ini waktunya memperlihatkan padamu kalau pikiranmu sebelumnya salah total, harusnya kau justru panik bukan malah senang aku kelihatan begini mendatangimu. Itu berarti aku cukup percaya diri menghadapimu walau dengan kemampuan terbatas” ujar Lian lirih memanggil sebilah pedang dari Galaxy Ring untuk menemaninya.
Ch.288 (395)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 107 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).