The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 128 - Kebencian



Sore keesokan harinya Long Yawen berjalan melewati lorong – lorong istana Black Dragon Empire sambil membawa sebuah keranjang yang biasa digunakan orang untuk piknik, ia memang sudah memesan ke para pekerja di sana supaya menyiapkan perlengkapan tersebut.



Kepalanya masih pening akibat kena omel semalaman oleh kedua orang tuanya, Long Guanting dan Teng Xinyi silih berganti menceramahinya tanpa henti. Jika saja Long Heiyan tidak datang Yawen tak pernah membayangkan kapan penderitaan itu bakal berakhir.


Setiap berpapasan semua segera membungkuk memberi hormat kepadanya, sang Black Dragon Princess cuma mengangguk terus mengangkat tangan tanda melihat. Selagi sibuk mengunyah sebagian bekalnya dia menemukan dua anak seumurannya tengah duduk menikmati matahari yang hampir tenggelam.


“Senior Tie? Jangan banyak tingkah, tak usah menghiburku kalau kau sendiri dihajar habis – habisan” Feng Ai menatap lelah gerakan aneh pemuda di hadapannya.


“Hah!? Junior Feng apa kau buta? Lihat aku sangat sehat dan fit! Long Yawen hanya berun—“


“Yo? Bagaimana keadaan kalian?”


“WOAAATAO!!!”


Tie Mu buru – buru berbalik usai mendengar suara Long Yawen kemudian memasang kuda – kuda siap tempur meski badannya telah diselimuti keringat dingin. Tentu saja ia panik sebab rombongan sekte mereka masih akan bermalam sekitar tiga hari lagi dan dia bicara dengan begitu angkuhnya tepat depan muka gadis yang menghajarnya tanpa kesulitan berarti.


“Kau baik – baik saja Saudara Tie?”


“Glek! Eh? Tuan Putri kami sedang mengevaluasi hasil pertandingan kemarin kok, bukan membahas dirimu sungguh!” kata Tie Mu menelan ludah berat mencari alasan sembari perlahan mencoba melindungi wajahnya menggunakan tangan.


“Oh....”


“Pfftt!?”


“Kau sendiri Saudari Feng?”


“Saya sudah lebih baik sejak mendapat perawatan, terima kasih atas perhatiannya Tuan Putri” Feng Ai segera memberi salam.


“Tidak perlu sungkan, serta tolong berhenti memanggilku begitu”


Long Yawen melambaikan tangan juga memasang wajah malas, saat ia masih bicara secara kebetulan perhatiannya dicuri oleh gerombolan peziarah yang meletakan bunga pada dekat patung di area halaman istana. Karena Yawen terdiam cukup lama, akhirnya Tie Mu maupun Feng Ai menegurnya.


“Ah? Maaf aku melamun, tangkap. Terimalah sebagai bentuk penyesalan atas sikap kurang mengenakanku kemarin”


“Bakpao daging?” celetuk Tie Mu memiringkan kepala setelah menangkap lemparannya.


“Ya, aku membuatnya sendiri jadi jangan terlalu berharap akan rasanya hahaha. Berkunjunglah lagi kapan – kapan, kalian ternyata cukup menarik. Dah....”


“Saudari Long?”


“Hmm?” Yawen menghentikan langkahnya sembari menoleh usai dipanggil.


“Kami berdua belum seberapa dibandingkan anak – anak jenius lainnya di sana, kalau kau benar – benar bosan. Kenapa tak mencoba mampir ke Dataran Tengah”


Mendengar tawaran Tie Mu gadis tersebut memejamkan mata lalu mengelus – elus dagunya, sudah berapa kali memang Long Heiyan menawarkan hal ini. Apalagi ketika adanya berita penjalahan dimensi kota Hoerju, namun Yawen belum bersedia karena merasa tempat itu tidak semenarik cerita orang – orang padahal dirinya sendiri tak pernah bermain ke situ.


“Nanti saja deh, aku kurang tertarik hahaha. Tapi pasti kupertimbangkan saranmu”


“Eh? Tunggu sebentar, memangnya apa yang bisa membuatmu akan mengunjungi Dataran Tengah? Kalau mau bertarung meskipun mungkin agak sulit menemukan Cultivator generasi muda sehebat kau pasti banyak ingin bertukar ilmu denganmu lho”


“Justru itu, sekarang sih aku hanya tertarik kepada dua orang saja. Dan salah satunya memang berada di sana tapi cepat atau lambat kami juga pasti ketemu” jawab Long Yawen sambil berkacak pinggang.


“Siapa mereka?”


“Tian Xiaoye dari Twin Sword Mountain....serta gadis keparat Red Phoenix Empire”


“Eh? Kau bilang apa?” Tie Mu berusaha mendengarkan lebih baik sebab suara Yawen menjadi sangat kecil pada saat mengucapkan kalimat kedua.


“Hey!? Kau—ah....dia mau kemana sih buru – buru begitu?”


Tie Mu terduduk lesu di sebelah Feng Ai kemudian menatap pemberian Yawen, sejujurnya setelah melakoni duel melawannya Tie Mu merasa kasihan terhadap anak perempuan itu. Dia memang sangat luar biasa dan jenius tetapi sayangnya Long Yawen seperti seekor kura – kura yang hanya mengetahui isi cangkangnya, nyawanya bisa terancam kalau bertemu orang – orang hebat di luar Southern Thousand Island dengan ilmu berbagai rupa serta bersifat licik.


Individu layaknya Yawen sulit bertahan hidup pada dunia Cultivator yang kejam terus berumur panjang apalagi memiliki sikap keras kepala sekaligus memegang teguh ideologinya, mengapa Tie Mu berpikir demikian karena dia tau kebanyakan Cultivator tingkat tinggi adalah kumpulan individu bernasip mujur mampu bertahan hidup melewati era invasi Demon. Bukannya para orang hebat, banyak sekali jagoan lebih mumpuni kemampuannya malah tewas saat menghadapi seleksi alam termasuk guru kakeknya yaitu Mask Sage.


“Ternyata dia....tak seburuk pikiran kita ya Senior, kenapa kau bersikeras mengajaknya? Jangan – jangan Senior menyu—“


“Jangan konyol, kau kira gila ya? Aku bakal mati kalau menikahi Long Yawen, lagi pula perempuan sepertinya di luar jangkauanku. Aku cuma ingin mempertemukannya kepada kenalan berwajah mirip dengan patung di sana, kupikir hanya dirinya seorang yang mampu mengubah pola pikir Long Yawen”


“Eh...? Senior punya kenalah sehebat itu?” tanya Feng Ai memasang ekspresi kurang percaya.



“Apa maksudmu? Nyam....kok aku jadi kesal y—GILA! BAKPAO INI ENAK SEKALI!”


><


“Tuan Putri semoga anda sehat selalu”


Para penjaga dan peziarah langsung menyambut Long Yawen sesampainya di hadapan patung yang bertuliskan Ice Emperor menghiasi bagian bawah kakinya. Yawen tersenyum lalu berterima kasih kepada mereka semua sampai menyebabkan keributan saking hebohnya pengunjung melihat idolanya secara langsung.


Tanpa memperdulikan suara kericuhan akibat perbuatannya Long Yawen mendongak menatap wajah patung tersebut. Mata, hidung, alis, bibir, maupun ekspresinya membuat Yawen benar – benar muak. Ia langsung merogoh keranjangnya sambil menggertakan gigi, ketika orang – orang berpikir dia juga akan menaruh bunga Yawen malah melemparkan sebuah tomat tepat menuju muka si patung.


JPLAK!


“OHH!?”


“Tuan Putri apa yang kau lakukan!?”


“Grrr....seandainya kau tidak pernah ada....dia pasti masih hidup....”


“Bisakah kau tidak membuat masalah sehari saja? Hargailah, kau pikir boleh bersikap demikian kepada sahabat kakekmu?” Long Guanting muncul entah dari mana menegur putrinya.


“Bertemu saja belum pernah, apa perduliku?”


“Yaya? Tak kenal maka tak sayang....”


“Ayah pikir cerita tentangnya juga syair Kaisar Es dan Raja Naga Hitam belum cukup mempengaruhiku untuk memujanya?” balas Yawen jelas sekali kali ini tak mau mengalah.


“Nona muda....siapa yang mengajarimu bicara begitu padaku?”


“Lagi pula berhenti bersikap seolah Ayah mengenalnya, dia telah lama mati bahkan sebelum Ayah lahir....”


“Hey kau mau kemana!? Kembali kemari!”


Long Yawen melenggang pergi seolah tidak mendengar panggilan Guanting, laki – laki tersebut memijat – mijat keningnya pusing. Meski tak memberi jawaban, melihat dari sikapnya Long Guanting nampaknya mengetahui gerangan kemana tujuan putrinya itu.


“Sudikah anda menerima maafku menggantikannya? Wahai Ice Emperor?” Long Guanting terenyuh sembari mendongak ke arah patung tersebut bersamaan dengan datangya Tie Mu dan Feng Ai karena mendengar keributan.


Ch.128 (145)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 17 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K**********\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).