
“Eh? Kau perlu sesuatu Nona Yao? Mengapa kau keluar persembunyian?”
“Ah.....”
Sheyan menurunkan tangannya bingung sendiri menjelaskan alasan kekhawatiran tanpa dasarnya beberapa saat lalu, dia sempat mengira ketua penjaga barusan akan mengubah Lian menjadi batu menggunakan Petrified Gaze miliknya sendiri.
Namun ternyata pemuda tersebut jauh lebih cepat merespon seolah sudah mengira sejak awal bakal diserang melalui belakang, kemampuan analisisnya memang sangat luar biasa bahkan cenderung mengerikan menurut Yao Sheyan. Soalnya meski sekilas kelihatan seumuran, Sheyan memperhatikan perbedaan jauh antara mereka.
Bing Lian mempunyai pengalaman atau jam terbang tinggi sekali, ini dapat disaksikan dengan aksi – aksi hebatnya selama keduanya bersama. Yao Sheyan mulai berpikir apakah jika tidak mengasingkan diri di Granite Convert Sanctuary ia seharusnya sekuat bocah itu, tetapi akhirnya menghela napas panjang sebab tau menyesalinya sekarang tak ada gunanya.
Padahal hampir semua anak berbakat pada generasinya pasti berpendapat serupa misal bertemu Lian dikarenakan keistimewaanya, yaitu jiwa Cultivator berusia ratusan tahun yang bersemayam aman dibalik tubuh remaja asal White Crow Sect. Seorang petani biasa nan misterius diluar logika berhasil menjadi murid Grand Elder sekte tadi kurang dari satu dekade bergabung, pencapaian gila untuk sosok tanpa latar belakang keluarga kultivasi sedikitpun.
Untungnya informasi barusan hanya diketahui segelintir individu saja, kalau sampai tersebar tentunya nama Lian dipastikan mengisi posisi teratas sebagai target bagi mayoritas kelompok – kelompok kuat entah kerajaan atau sekte. Semua berlomba – lomba menariknya ke pihak masing – masing, berbekal perjodohan maupun pilihan terakhir semisal ia sudah memutuskan kemana bergabung. Dihabisi karena dapat menimbulkan ancaman dimasa mendatang.
Yao Sheyan memunggut Unseen Robe kemudian berjalan mendekati Bing Lian, menyadari wajah datarnya Lian berkeringat dingin terus menelan ludah berat. Mencoba mengingat – ingat apakah dirinya melakukan kesalahan beberapa menit sebelumnya, jangan – jangan ada penjaga terpental terkena tinjunya mengenai mereka.
“Nona—“
“Tidak....”
“Iya?”
“Kau membereskan seluruhnya secara sempurna, jadi tak usah minta maaf atau merasa bersalah”
“Lalu mengapa dirimu—“
“Aku mau memperingatimu soal sergapannya, tapi kau tanggap dan cakap sekali menangani situasi” gumam Sheyan menunduk, ia sedikit kesal kenapa malah tersipu malu padahal dialah yang tengah memuji di sini.
“Kau khawatir? Manisnya....terima kasih ya hehehe”
“Huh!? Jangan terlalu percaya diri, aku hanya mulai merasa nampaknya keputusan menyerahkan keselamatanku kepadamu bukanlah ide buruk. Lagi pula seharusnya tugasmu kan memang begitu?”
“Bubu!!!”
“Iya....tenanglah, aku juga tidak melupakanmu kawan. Selama bersamaku kalian pasti kulindungi” Bing Lian membalasnya usai Yao Sheyan menghidar dari pandagangannya sekali lagi.
Lian berbalik hendak berangkat ke destinasi berikutnya, jalannnya terbuka lebar akibat gerbang roboh terkena salah seorang penjaga hasil pukulan Lian. Entah kebetulan atau sengaja, Sheyan merasa Bing Lian menyamakan langkahnya sehingga jarak mereka tak terlampau jauh sehingga gadis tersebut mampu memegangi bagian belakang jubah miliknya. Tanpa disuruh maupun diizinkan Yao Sheyan menggapainya mirip anak takut kehilangan orang tuanya sewaktu berpergian menuju lokasi penuh sesak dan nyatanya Lian memang tak protes menanggapi tindakannya.
><
“Di sini lembab dan gelap banget.....”
“Bu....”
“Aku bahkan tidak dapat melihatmu Bubu....”
“Sebaiknya perhatikan langkahmu....” kata Bing Lian memperingatinya.
Kelompok kecil tersebut menuruni tangga yang kelihatannya akan membawa mereka menuju area bawah tanah, ternyata dibalik gerbang penuh penjaga terakhir terdapat jalan panjang menurun menembus kegelapan. Mungkin hampir sepuluh menit sejak memasuki gua atau apapun tempat itu disebutnya Sheyan sudah tak melihat lagi cahaya asal lubang ketiganya datang.
Soalnya selain nampak tanpa memiliki ujung, barisan anak tangganya juga memutar – mutar rumit. Untungnya tidak bercabang pikir Yao Sheyan, semisal masih harus memilih persimpangan walau Lian kelihatan santai karena tau arahnya kepala Sheyan pasti pusing sekali.
“Terlalu riskan....”
“Apa maksudmu?”
“Ada alasan mengapa orang – orang suruhan Medusa membuat terowongan ini gelap gulita”
“Jelaskan....aku mana mengerti jika kau cuma berkata demikian” Yao Sheyan berdecak kesal.
“Ular punya kecenderungan sensitif terhadap cahaya, kalau menuruti permintaanmu barusan kita akan menjadi sasaran empuk. Ditambah respon ikut melambat akibat sempitnya ruang gerak serta penurunan fungsi indra.
Sementara pihak musuh punya daya tempur penuh mengingat memang begini habitat asli tempat tinggal para ular jadi – jadian itu, meski dugaan tanpa dasar aku juga curiga terdapat beberapa sihir bakal terpicu aktif jika kita gegabah bertindak”
Usai memperoleh pencerahan Sheyan menunduk dongkol mengutuk dirinya mengusulkan sesuatu yang dapat membahayakan teman – temannya, setelah dipikir – pikir hal mendasari kata – kata Lian masuk akal. Setaunya reptil – reptil melata terutama ular sesungguhnya mempunyai kelemahan besar.
Jarak pandang mereka buruk nan terbatas, makanya demi menutupinya masing – masing melihat menggunakan aroma dengan perantara unik yaitu lidahnya. Itulah mengapa binatang tersebut menjulurkanya secara berkala terus punya posibilitas tinggi menyerang tiba – tiba kalau mendapati cahaya.
Tentunya ruang gelap merupakan tempat nyaman bagi pengikut – pengikut Medusa, Sheyan pun baru mengingat ajaran Yao Quon soal jenis – jenis sihir. Terdapat kategori tertentu mampu terpicu melalui sinar atau bunyi seakan – akan memiliki semacam sensor, karenanya dia mulai tambah hati – hati dalam melangkah.
“Kau pun harusnya merasakannya bukan Sheyan?”
“Apanya?
“Setiap Petrified Gaze milikmu kambuh, hampir pasti pada keadaan terlindung dari cahaya matahari” sahut Bing Lian.
DEG!
Perkataanya tepat sasaran, bagaimana mungkin ia terlambat sekali menyadarinya. Ketika ditemukan kakeknya dia berada di rumah keluarga kandungnya, saat insiden bersama anak – anak desa mereka dikepung dalam naungan rindangnya pepohonan hutan, kemudian sewaktu Bing Lian menemukan korban – korban membantunya terakhir dia lepas kendali sembari mengurung diri ke tempat persembunyiannya.
Tentunya semua hal tersebut bukan kebetulan semata, karena tengah membahas topik tadi. Sheyan akhrnya menyeletuk mengenai kejadian sebelumnya di mana Lian hampir terkena sergapan ketua penjaga gerbang. Matanya terasa panas ketika tatapan masing – masing saling beresonansi.
“Aku pernah bilang bukan jika datang kemari kemampuan Gift Bizzare Eyes punyamu melemah, soalnya Medusa membagi kekuatannya ke semua bawahan terpercayanya. Sehingga fokus kontrolnya terbagi – bagi,
Contohnya si pria itu, untungnya walau kondisi Dao Realm selalu malam terus meningkatkan persentase Petrified Gaze milikmu terpicu. Tekanannya tidak separah di dunia nyata, bahkan menurutku ada kemungkinan kau mampu melawan balik pengaruh Medusa” Lian berkomentar.
“Sungguh?”
“Secara teori sih—berhenti”
Bing Lian merentangkan sebelah tangan mendadak supaya sosok dalam Unseen Robe dekatnya jangan bergerak, ia memberi kode setelah merasakan sesuatu menanti tak jauh dari belokan terakhir jalan mereka. Sembari menempelkan jari sekitar bibir Lian mengendap – endap untuk mengintip situasinya.
“Bagaimana?” celetuk Sheyan penasaran.
“Eureka....”
Ch.282 (386)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 104 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).