
“A....hahaha halo semuanya” Yawen tertawa lemah terus melambai meski masih terangkat seperti anak kucing akibat cengkraman kuat ayahnya pada kerah jubah miliknya.
Semua terperangah tanpa mampu berkata apa – apa, sekarang jelas bagi mereka bagaimana cara gadis misterius tersebut dapat membelah tanah serta menghancurkan jalan di persimpangan sebelumnya. Cuma Long Yawen seorang satu – satunya anak seusia segitu bisa melakukannya, walau Cultivator sekalipun bakal kesulitan jika tidak mempunyai keahlian tinggi.
Seluruh penduduk segera berlutut memberi hormat usai melihat keberadaan Long Guanting, beberapa saat berselang pasukan Black Dragon Empire lain tiba dengan berbaris rapi. Perhatian langsung teralihkan kepada laki – laki yang menaiki seekor Demonic Beast serigala putih raksasa.
“Yang Mulia! Anda tak perlu repot – repot turun, akan saya urus sisannya. Silahkan kembali menuju istana, anda pasti lelah”
“Hmm? Tenangkan dirimu Komandan, aku hanya ingin melihat cucuku. Lagi pula meski sudah berumur aku masih cukup bertenaga kok. Apa menurutmu aku sepayah itu?” tanya Long Heiyan berjalan mendekat sembari melambaikan tangan santai.
“B...bu...bukan begitu Yang Mulia! Mana berani saya”
Kedatangan Black Dragon King menyebabkan suasana mencekam, udara berubah menjadi berat terutama bagi Wu si saudagar kaya. Jantungnya hampir copot ketika mengetahui anak yang ia perintahkan tangkap merupakan Long Yawen, perasaanya makin kacau usai melihat gadis tersebut menatapnya dengan senyum lebar.
“Ayah? Aku kemari untuk menjemput Yaya, kalau tidak Xinyi bakal tambah mengomel. Sejak menghubungi kemarin dia terus – terusan bercerita perihal masalah ini”
“Aku tau Guan, simpan penjelasanmu. Sekarang katakan cucuku, apa kau bersenang – senang? Hehehe....”
“Sangat kek! Tetapi aku sedikit kesal sebab seseorang bersikap agak kurang ajar kepadaku hiks!” Yawen menyahut antusias pura – pura bersedih.
“Sungguh....aku sedikit penasaran siapa yang berani melakukannya? Wu Tu? Bagaimana menurutmu? Kalu terlihat sedikit tegang?”
DEG....!!!
Tuan Wu hampir pingsan mendengar namanya dipanggil, mulutnya bergetar hebat mencari kata – kata tepat sayangnya suaranya tak sanggup keluar. Pandangan Long Heiyan memberi kesan layaknya tengah diawasi oleh hewan buas di ruang pengadilan, saat semua menunduk ketakutan Heiyan mengangkat sebelah alisnya menemukan kalau seorang bocah laki – laki babak belur cukup bernyali menatapnya lekat – lekat.
Padahal ucapan Yawen tadi masih ambigu meskipun sama – sama memojokan Wu Tu, pertama atas tindakan semena – menanya meminta prajurit Black Dragon Empire menangkap putri kerajaan mereka sendiri dan tindakan budaknya yang berani mengajak berkelahi Long Yawen.
Hebatnya Arata nampak tidak gentar sama sekali, bahkan tatapan masing – masing bertautan hampir semenit lamanya sebelum Heiyan tersenyum akibat mengingat seseorang. Black Dragon King menunggu jawaban, Wu Tu masih punya akal supaya tak berbohong sebab mengetahui Divine Sense milik Long Heiyan sangat luar biasa. Kalau sampai mencoba mencari pembenaran dia takut ternyata Heiyan telah menyaksikan seluruh kejadian sejak lama, sekarang harapannya hanya menyalahkan Arata tetapi sayang nyalinya benar – benar ciut.
“Y...Ya...Yang Mulia saya—“
“Hehehehehe....kau punya budak lumayan menarik di sini. Siapa namamu nak?”
“Eh?”
“Arata....nama saya Arata. Yang Mulia”
“Mmm? Nama itu? Kau bukan berasal dari Benua Huawai rupanya? Aku berharap yang terbaik untukmu, Wu Tu? Bersyukurlah kau memilikinya sehingga aku akan melupakan kejadian ini”
“APA!?” teriak Long Yawen jelas sekali mengharapkan hal lain dari kakeknya.
“Terima kasih banyak Yang Mulia! Aku bakal lebih hati – hati mulai sekarang”
“Kakek!?”
“Yaya? Bagaimana rasanya pertama kali kalah atas anak seusiamu? Hentikan protesmu, kalau tidak salah kau juga seharusnya mempunyai hutang? Selesaikan dulu atau jangan pulang ke istana, aku pamit duluan” Heiyan memperingati cucunya lalu berbalik pergi diikuti hormat setiap penduduk sekitar sana.
“Ugh...!?”
Muka Yawen memerah saking kesalnya, pertama harapannya agar Wu Tu maupun Arata mendapat hukuman gagal terealisasikan. Kedua, sang kakek yang selalu meyanjungnya selama ini memberikan sindiran menyakitkan untuk kali pertama dalam hidupnya di hadapan banyak sekali penonton.
“Ayah? Hiks....”
“Apa?” tanya Guanting malas begitu anaknya memasang wajah memelas.
“Tolong bayarkan dulu ya? Nanti aku ganti....kumohon”
“Pemintaan ditolak, kenapa harus Ayah mengganti segala perbuatanmu? Gunakan tabunganmu sendiri, enak saja! Selain diceramahi istri kau berharap aku membereskan masalahmu juga?”
“Tapi....uangku hampir habis karena berkeliaran seminggu, hehehe....” Yawen tertawa pelan sembari menunjukkan kantung uangnya yang kosong melompong.
Akhirnya Long Guanting terpaksa membayar seluruh kerusakan akibat perbuatan putri semata wayangnya tersebut kemudian memberikan Arata haknya, semua tak mempercayai pengelihatan mereka dan hanya bisa melongo lama saat melihat Long Yawen diseret pulang dengan jeweran keras Guanting menghiasi telinganya.
><
Seminggu berselang kejadian memalukan sekaligus menyebalkan itu Yawen lagi – lagi menyelundup keluar istana, bertekad membalas Arata atas segala rasa malu yang dirinya terima. Hampir tiap malam Long Yawen selalu bermimpi buruk sejak kalah pada perlombaan mereka.
Hal lebih mengesalkan lagi sekarang banyak orang menertawakan Yawen usai mendengar kisah bagaimana Guanting menyeretnya pulang, bahkan beberapa brengsek menjulukinya putri telinga merah.
‘Awas saja! Kalau lagi senggang kupatahkan tulang kalian!’ batinnya menahan amarah.
Ia melintas dengan menggunakan jubah menutupi kepalanya seperti sebelum – sebelumnya, tapi saat ini bukan karena menghindari pujian penduduk melainkan tidak ingin mendapat ledekkan orang – orang.
Akhirnya Long Yawen tiba pada sebuah lapangan tempat biasanya anak – anak kota Mianqiu bermain, ia menemukan muka – muka tak asing lalu memutuskan mendekat. Mendengar suara langkah kaki masing – masing menoleh.
“Oi kalian? Di mana bocah itu?”
“Hiyy!? Tuan Putri” mereka langsung berlutut serentak”
“Apa – apaan ini!? Hentikan – hentikan! Jangan bersikap mencurigakan begitu! Aku bisa – bisa ketahuan nanti!!!” Yawen mendesis menyuruh mereka berdiri.
“Ah? Maafkan kami, Tuan Putri? Anda mencari Arata?”
“Ahh siapa lagi?”
Teman – temannya saling menatap sebelum menceritakan semuanya kepada Long Yawen, ternyata sejak kejadian tersebut Arata fokus membantu ibunya mencari uang sehingga sudah cukup lama sejak menyempatkan diri bertemu mereka.
Usai mendapat penjelasan serta kemungkinan di mana keberadaan Arata, Yawen berangkat ke sana. Ia merasa cukup janggal mendengar kabar ini karena seingatnya ayahnya telah membayar seluruh hutang bakpao miliknya.
“Hey?”
“Hmm? Kau?!” seru Arata terkejut melihat kemunculan Yawen dari bayang – bayang gang tempatnya bekerja.
“Ssst!? Kecilkan suaramu!”
“Ahh? Ada perlu apa?”
“Ayo berlomba sekali lagi, berikutnya aku pasti tidak akan kalah!”
Arata melebarkan mata, jelas sekali nampak perasaan ingin menghiasi pandangannya mendengar tantangan barusan. Namun pada akhirnya dia cuma menunduk terus menolak pelan, melanjutkan mengangkut beberapa karung besar ke punggungnya untuk dibawa menuju gudang.
“Maaf, mungkin lain kali”
“Kenapa kau kelihatan sangat putus asa? Bukankah Ayahku telah menggantikan hutangku kepadamu bahkan memberimu lebih?” Long Yawen masih tidak paham mengapa anak laki – laki tersebut malah makin banyak pekerjaan.
“Karena....Wu Tu mengambil semuanya”
“Apa kau bilang?! Mana bisa begitu!”
“Tetapi memang demikian kenyataanya, dia merebutnya dengan alasan perbuatanku yang merugikannya. Oleh sebab itu....aku harus bekerja keras lagi mengumpulkan dana supaya bisa memerdekakan kami. Aku permisi....masih banyak pekerjaan menunggu”
“Hey tungg—“ panggil Yawen mencoba menghentikannya, namun sosok Arata sudah menghilang menggendong tumpukan karung berisi berbagai macam barang di atas punggungnya.
Ch.133 (155)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 22 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho, Ciao!).