
Para korban kutukan Medusa yang memutuskan mengikuti Bing Lian dan kawan – kawan pulang ke dunia nyata berbaris rapi di hadapan Yao Sheyan, bersiap untuk ritual pencabutan. Sheyan mengarahkan telapaknya persis seperti Rajanaga Xiulong sebelumnya, dia terdiam cukup lama sambil mengernyitkan dahi tanda berusaha fokus terhadap kekuatan barunya.
Namun lima menit berselang belum ada apapun terjadi hingga mereka semua saling bertukar pandangan, Rajanaga mendekatinya terus menanyakan apakah Yao Sheyan baik – baik saja atau mempunyai masalah serius. Sheyan memegangi lehernya berbekal lengan satunya lalu tertawa canggung.
“Ahahaha....aku tidak tau cara memakainnya....maaf”
“Hah!?” teriakan heran segera berkumandang.
“Kok begitu? Bukankah kau juga termasuk pewaris....shhh....Petrified Gaze?”
“Benar sih....tapi milikku selama ini aktif dengan sendirinya, lagi pula kebanyakan digunakan cuma membuat orang jadi batu”
“Sheyan? Matamu sekarang bahkan tengah dalam mode Petrified Gaze” Mingwang memberitahunya.
“Sungguh?—M....ma....maksudku aku tau sayangnya—“
“Wahai Ular Pengutuk Langit, Tundukan Pandanganmu Terhadap Eksekutor Pilihan Surga....Bangkitlah....”
TRINGGG....!!!
Usai mantra barusan terdengar, Sheyan tiba – tiba merasakan Qi membeludak keluar melalui sekitar matanya. Cahaya terang keunguan mulai memancar dari sana serta telapaknya, perlahan individu pada hadapan gadis tersebut mengalami transformasi besar – besaran.
Bagian badannya yang mempunyai kemiripan dengan ular menghilang. Antara lain pupil, sisik, lidah, dan masih banyak lagi. Ia pun berteriak gembira terus berbalik untuk berpelukan disambut oleh teman – temannya sementara perhatian orang tersisa dicuri sosok asal datangnya bacaan istimewa tadi.
“Apa?” celetuk Bing Lian selesai menguap cuek menyadari dirinya dipelototi para hadirin.
“Bagaimana—lupakan.....selanjutnya!”
Yao Sheyan memilih mengabaikan momen janggal itu takut kemampuannya bakal menghilang jadi buru – buru fokus menarik kutukan dari rombongan. Terdapat banyak peluang bertanya ke Lian tetapi kesempatan emas mengontrol penuh Petrified Gaze belum tentu terulang dalam waktu dekat.
Sebenarnya hanya Rajanaga Xiulong juga Mingwang memahami arti mantra yang dirapalkan Bing Lian, Sheyan bersama individu sekitar hanya mendengar bunyi asing mirip tersedak. Semua akibat Lian mengucapkannya menggunakan Archaic Word atau lebih dikenal sebagai bahasa Beast kuno.
‘Dasar tukang pamer....’ keduanya membatin sedikit kesal.
Alasan mereka bersikap demikian adalah karena kekuatan terkandung dalam mantra Bing Lian begitu kuat sampai – sampai jika diarahkan menuju petinggi Dao Realm layaknya Rajanaga Xiulong belum tentu masing – masing bisa menolak perintahnya.
Sehingga setelah dipikir – pikir kembali, wajar saja pria ini berhasil menaklukan para pembawa bencana kemudian mengubah kelimanya menjadi Hewan Suci miliknya, masih sebuah misteri dari mana Lian mempelajari teknik efekftif menghadapi Beast tersebut.
Saat gilirannya datang, Kirka menangis haru melihat pantulannya pada genangan air. Kondisinya sudah kembali normal bahkan awet muda berkat kutukan Medusa, dengan penampilannya sekarang mustahil Bing Lian tak mengenalinya.
Sebab kebanyakan memakai jubah lusuh nan kotor, Lian mengeluarkan setumpukan pakaian pemberian Jin Chyou ketika kunjungan ke Xintong. Dia berbelanja terlalu berlebihan dan memberikan yang kurang disukainya kepada Lian walau ditolak berkali – kali.
Menurut Bing Lian ketimbang memenuhi Galaxy Ring mendingan ia membagikannya supaya berguna untuk orang lain, terlebih akan bahaya kalau mereka keluar Dao Realm cuma berbekal kain seadanya menghadapi iklim ekstrem wilayah Theotopia Empire dalaam keadaan bukan seorang berkekuatan super lagi soalnya kutukan Medusa akhirnya dihapuskan.
Yao Sheyan kelelahan hingga hampir jatuh pingsan usai mengurus anggota terakhir, untung Kirka sigap menangkapnya agar tidak terjerembab. Lian lalu mengarahkan masing – masing menaiki punggung Mingwang walau kebanyakan nampak sedikit ngeri kala si pari raksasa merendahkan ketinggian terbangnya, sementara yang lainnya masih sibuk Bing Lian menghampiri Rajanaga untuk berpamitan.
“Kau yakin ssshhh....tak mau diantar?”
“Ahhh....jangan repot – repot, kau punya banyak urusah jauh lebih penting dari mengurus kepulangan kenalan lama”
“Kau pahlawan dimensi ini, kalau bukan aku mana shhh....sudi menawarkan jasaku hadeh....” kata Rajanaga menghela napas.
“Hahahaha kau berlebihan....oh iya Rajanga? Bolehkah aku mengajukan permintaan?”
“Tentu....namun aku harus...shhh.....mendengarnya dulu baru mau menyanggupi”
“Tolong rahasiakan keberadaanku terutama dari Yanjing maupun Saudari She” Bing Lian menempelkan jari ke bibirnya sendiri.
“Keparat tengik....kau lupa pembicaraan terakhir kita ssshhh....supaya kau—“
“Aku ingat kok, hanya saja situasinya agak rumit”
“Kalau aku shhhh.....menolak?” tanya Rajanaga Xiulong menaikan sebelah alisnya.
“Cih....sshhhh jadi ini ancaman....?”
“Terserah kau mau menganggapnya apa hahahaha....”
“Sssshhhh.....boleh kutau alasannya?”
“Mmmm....bisa dibilang aku sedang menyiapkan pertemuan kembali yang pantas” Lian menyahut sembari menoleh sekaligus menjulurkan ujung lidahnya.
><
Akhirnya rombongan berangkat pulang dengan menumpang terbang diatas Mingwang, beberapa mengalami hal hampir serupa seperti Sheyan saat pertama kali melakukannya. Untungnya Bing Lian menciptakan medan area agar semuanya dapat bertahan dan tidak terhempas akibat kecepatan gerak Mingwang.
Apalagi sekarang semuanya hanyalah manusia biasa selepas kutukan Medusa dihapuskan dari masing – masing orang, Yao Sheyan merasakan matanya telah balik ke kondisi sedia kala karena tak mendapat sensasi Qi menggebu – gebu layaknya kesempatan terakhir.
Namun ia masih lemas sebab memaksa penggunaan Petrified Gaze tanpa henti padahal belum terbiasa, Sheyan memperhatikan Lian yang tengah duduk bersila sambil terpejam. Ingin sekali dia menegur tetapi buru – buru mengurungkan niatnya soalnya tau harusnya pemuda tersebut jauh lebih lelah ketimbang dirinya.
“Kau butuh sesuatu?”
“Eh?” Yao Sheyan tersentak kaget mendengar pertanyaan barusan.
“Ada apa?”
“Tidak....dasar sok tau....”
“Terus mengapa kau memandangiku setajam itu Nona Yao?”
“Dari mana kau—“
“Hanya orang pingsan yang mungkin tak menyadarinya” timpal Bing Lian dengan nada datar sehingga menyebabkan urat saraf Sheyan berdenyut kesal merasa diremehkan.
“Bohong....kau pasti punya metode membangkitkan Divine Sense sebelum mencapai Foundation Realm”
“Haruskah aku membalasnya menggunakan kalimatmu sendiri beberapa waktu lalu? Dasar sok tau...”
Yao Sheyan mengembungkan pipinya jengkel kemudian menyerah melawannya berdebat karena paham betul Lian bakal mudah membalikan segala komentarnya dan pastinya jauh lebih nyelekit. Sehabis diam sejenak Sheyan mengutarakan pikirannya, perbincangan tersebut cuma terdengar oleh Mingwang karena sisa – sisa kelompok lain berada cukup jauh di belakang keduanya.
Lian akhirnya melek terus meliriknya, entah apa alasannya badan Sheyan terasa kaku diperlakukan demikian. Dia menggigit bibir bagian bawahnya marah atas perasaan mati kutunya saat ini, namun jika gagal melewati tembok pembatas antara masing – masing Yao Sheyan tau nantinya akan sulit berkembang walau sadar konsekuensi bahwa dirinya kelak memiliki hutang budi berlebih terhadap pemuda berambut putih itu.
“Kau ingin aku mengajari mantra yang kuucapkan sebelumnya?”
“Ya, karena tidak mungkin selamanya kau ada ketika aku butuh mengaktifkan kekuatan mataku” Yao Sheyan membalas tegas meski harus menelan ludah berat.
“Boleh saja, namun syarat dan ketentuan berlaku”
“Eeeee.....bisa kau jelaskan agak lebih terperinci?”
“Pertama, kau harus mempelajari Archaic Word. Ini adalah faktor paling sentral juga penting soalnya sulit sekali disebabkan tidak ada sedikitpun literatur pembelajarannya kecuali kau dibimbing oleh Beast tingkat tinggi” jawab Lian mengacungkan jari telunjuknya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Cari tau sendiri, jangan malas....gunakan sedikit sel – sel otakmu. Aku bukan buku petunjuk berjalan murah yang rela cuma – cuma memberitahumu segala hal”
“HAH!?” Yao Sheyan berseru naik pitam mendengar balasan konyol begitu.
Ch.296 (405)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 109 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).