
“Tetua Gao—woaaaa....!?”
SRATTT....!?
Panggilan antusias Bing Lian dengan cepat berubah menjadi teriakan terkejut sebab pergelangan kedua kakinya tiba – tiba terjerat tali yang datang entah dari mana kemudian menggantungnya terbalik di satu dahan pohon. Dia meronta – ronta demi mencoba melepaskan diri sayang hasilnya nihil.
Pria tua tersebut menghela napas lalu bangkit perlahan layaknya orang teramat ringkih menghadapinya, mirip seperti sosok takut misal bergerak heboh tulang – tulangnya bisa patah. Ia sampai ke depan Lian terus memukul – mukul jidat si pemuda menggunakan tongkat berjalan miliknya.
TUK! TUK! TUK!
“Berani sekali kau membuatku menunggu Bing Lian....”
“Aduh! Aduh! Aduh! Tetua!? Janji kita masih setengah jam lagi! Aku bahkan belum terlambat!” protes Lian menggeliat mirip ulat menghindari ayunan kakek barusan namun sialnya pukulan miliknya terlampau akurat.
“Tetap saja, bisa – bisanya kau membiarkan seorang Senior sendirian menanti dalam sebuah hutan belantara”
“Hah? Anda mengigau!? Jalur ini banyak dilalui pedagang tau!?”
“Diam jika sedang diberitahu!”
“Awww!?”
Yao Quon menatap heran pemandangan tadi karena sempat melihat bagaimana aksi menakjubkan Bing Lian menaklukan bandit beranggotakan hampir lima puluh laki – laki dewasa, sulit percaya ia sekarang tengah dihajar sosok ringkih yang membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan.
Puas memberinya pelajaran akhirnya dia mengalihkan fokusnya menuju Yao Quon, spontan Yao Quon mundur ketakutan tetapi perkataan berikutnya langsung menyebabkan dirinya terenyuh. Pria tua tersebut menjulurkan lengannya sembari bicara lembut, “Sini serahkan sisanya padaku, dia terluka bukan?”.
Yao Quon mengangguk dan segera menyerahkan gadis dalam gendongannya supaya bisa diperiksa, sesudah bengong lama menyaksikan orang dipanggil Tetua Gao itu menganalisa sekaligus menumbuk tanaman – tanaman tertentu beraroma khas sebagai obat oles sekitar perut pasiennya Yao Quon tersentak kaget karena Bing Lian ternyata dari beberapa menit sebelumnya memanggil meminta tolong dibantu turun.
Mengikuti intruksi Lian, Yao Quon mematahkan batang tempat tali pengikat kakinya menggantung. Dia melakukan gerakan akrobatik sebelum menggerutu Qi nya disegel akibat benda terkutuk barusan, selagi melepaskan diri Bing Lian mulai menceritakan identitas Tetua Gao atau yang bernama asli Gao Xuegang.
Menurut penuturan Lian, Gao Xuegang merupakan ahli ilmu medis terkemuka juga sahabat dekat gurunya. Saking hebatnya beliau pernah mengurus sendirian pengobatan ratusan ribu pasukan selama sebulan ketika perang melawan bangsa Demon terjadi ratusan tahun lalu, setiap mendengar mereka disebutkan Yao Quon bergidik ngeri tanpa henti.
Meski para idealis Weadalia Empire menolak keberadaan tidak masuk akal berupa kultivasi, tetap saja peringatan soal invasi Demon disiarkan sebab makhluk – makhluk ini sungguh ancaman nyata bukan hanya kepada Cultivator melainkan seluruh Benua Huawai.
Setelah kondisi si gadis stabil Bing Lian memberitahu agar menunggu sampai dia siuman dahulu, sebenarnya terdapat cara – cara lain lebih efisien menyembuhkannya namun mengharuskan penggunaan Qi, mengingat ia hanya manusia biasa hal itu kurang memungkinkan dilakukan.
Keesokan harinya anak perempuan tadi sadar kemudian berterima kasih ke semuanya terutama Yao Quon sebab mengingat jelas bagaimana heroiknya pemuda tersebut melompat melindunginya, Yao Quon buru – buru menggeleng terus mengabarkan jasa Bing Lian jauh lebih besar karena tanpa bantuannya mustahil keduanya keluar hidup – hidup dari masalah kemarin.
Bing Lian cuma tertawa kemudian meminta izin Gao Xuegang mengantarkan mereka menuju kota setelah mendengar kalau sang gadis masih memiliki orang tua, ternyata ia hanya ikut serta dalam rombongan dagang paman maupun bibinya. Gao Xuegang mendengus kesal dan memberikannya waktu tiga hari yang Lian sanggupi cukup mudah.
Lian juga berencana berpisah dengan Yao Quon di sana, perjalanan masing – masing singkat namun berkesan. Yao Quon ikut terharu saat pasangan muda itu menangis tersedu – sedu mampu berjumpa lagi putrinya padahal menganggapnya sudah tewas sambil berusaha merelakan kepergiannya. Akhirnya demi menghindari keributan maupun pemberian balas budi, Bing Lian mengajaknya pergi meninggalkan lokasi.
“Apa kau melihat wajah bahagia mereka Pahlawan Bing?” tanya Yao Quon antusias.
“Umm, tentu. Baiklah Sarjana Yao sepertinya kita—“
TAP....!!!
Langkah Bing Lian terhenti seketika, saking asyiknya bicara Yao Quon baru menyadari telah meninggalkan Lian cukup jauh hampir sepuluh meter. Pas akhirnya menoleh ia memiringkan kepala bingung terus menegurnya, pemuda tersebut nampak tercerahkan sesaat kemudian balik bertanya lirih, “Sarjana Yao? Apa kau tertarik mendalami ilmu kultivasi?”.
><
Sebab merasa selama hidupnya cuma berperan layaknya pecundang, Yao Quon mengiyakan pertanyaan Bing Lian. Keduanya akhirnya mampir membelikan jubah baru untuk Yao Quon sebelum berangkat lagi ke lokasi Gao Xuegang menunggu dalam keadaan bersih nan rapi, sesampainya sang pria tua menaikan sebelah alis seolah mempertanyakan tentang keberadaan Yao Quon tapi tak mengungkapkannya.
Mulailah sebuah pengalaman luar biasa yang Yao Quon mustahil lupakan sepanjang hidupnya meski hampir lima ratus tahun lebih terlewati, mereka berdua mengikuti Gao Xuegang berkelana menuju berbagai tempat. Bertugas kurang lebih mirip asisten atau tabib sedang melaksanakan magang.
Selama itu juga Lian mengajarkan satu demi satu dasar – dasar kultivasi kepada Yao Quon namun belum sampai tingkat mempraktikannya, ia cuma menerangkan pengetahuan umum tentangnya. Dalam waktu singkat diperjalanan muncul perbedaan kentara antara Bing Lian dan Yao Quon.
Setiap membuka gerai pengobatan gratis pada tiap lokasi, pos milik Lian akan segera diserbu pengunjung untuk meminta ditangani sementara Yao Quon hanya diisi individu berumur serta orang – orang malas mengantri penanganan Bing Lian. Wajar saja karena Bing Lian lebih terkenal cerdas nan akurat mengerjakan segala sesuatu sedangkan Yao Quon meski menyukai pekerjaanya, terbilang minim wawasan ketimbang Lian.
Namun dirinya tidak pernah mengeluh atau sekalipun merasa iri terhadap prestasi temannya tersebut, sebab Lian sendiri bukan tipe suka berlagak bahkan cenderung rendah hati. Tetapi lama kelamaan Yao Quon merasa ditipu soalnya walau hampir tiga bulan pergi bersama, Lian belum menunjukan cara memakai Qi padanya.
Sampai suatu malam saat besoknya berniat pamit, dia secara tak sengaja mendengar pembicaraan antara Bing Lian bersama Gao Xuegang. Yao Quon berpura – pura tidur sembari memasang tajam – tajam telinganya.
“Bagaimana menurut anda? Meski belum sempurna bukankah lumayan menjanjikan? Dia pun memiliki kecenderungan menolong cukup besar”
“Bing Lian? Aku memanggilmu kemari selain untuk mengantarkan pesanan Senior Hao adalah menurunkan ilmu Alchemist kepadamu” terdengar jelas Gao Xuegang membenci ide barusan.
“Tapi Tetua Gao....aku tidak berbakat dalam Alchemist ingat? Dantian satu elemen milikku, kau hanya membuang – buang waktu”
“Lalu mengapa kau bepikir bocah itu lebih pantas dibandingkan dirimu?”
“Dia punya keinginan belajar tinggi, tak ada salahnya dicoba” Lian menanggapinya santai.
“Yao Quon BUKAN seorang Cultivator”
“Namun ia BISA menjadi Cultivator berbekal arahan darimu”
“Mustahil aku mengangkat murid yang bahkan tidak mampu membuat pil!” geram Gao Xuegang kesal karena sadar berdebat menghadapi Bing Lian sama halnya menyusuri labirin tanpa ujung.
Ch.256 (347)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 91 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).