
“Egh....”
Lian mengerang sebelum berhenti memanjat, dia duduk sebentar pada akar tanaman sebelum mengeluarkan botol air buru – buru ingin membasahi tenggorokannya. Tapi saat berusaha menghilangkan dahaga malah hanya terdapat tiga tetesan terjatuh ke lidahnya.
Ia berusaha menekannya kuat supaya keluar namun hasilnya nihil, Bing Lian terduduk lemas mengumpat kebodohannya tidak membawa lebih banyak persediaan minuman. Nampaknya sebab sudah cukup lama tak menaiki Adamantine Peak lagi kemampuan memperkirakan kebutuhan untuk ekspedisinya sedikit berkurang.
Sekarang Lian dilanda kebingungan, cuma ada awan putih sejauh mata memandang petanda hujan belum akan datang dalam waktu dekat. Tanah di bawah tak terlihat, tujuan pun sama saja. Akhirnya karena situasi rumit demikian dia memutuskan menetap dulu mengumpulkan tenaga seraya berharap mendung segera tiba.
Bing Lian duduk bersila mengatur napas agar kepalanya tetap mampu berpikir jernih, ingatannya perlahan kembali pada suara senandung malam hari itu. Entah telah berapa lama terlewat sejak kejadian tersebut, Lian sekarang hanya memiliki dua pembagian masa yaitu ketika matahari bersinar dan tenggelam.
Selain keduanya dia sama sekali buta mengenai waktu, sebenarnya nyanyian kemarin membuatnya sedikit penasaran tentang rahasia di balik Adamantine Peak. Mengapa bisa muncul bunyi dari dalamnya hingga Lian sempat berpikir jika sebenarnya isi gunung ini kopong, namun seharusnya mustahil akibat Adamantine Peak terdiri atas batuan hijau penyerap Qi sebelumnya.
Mungkinkah terjadi perubahan besar selama lima ratus tahun belakangan sepeninggal dirinya?, sepertinya jawaban segala pertannyan barusan bakal jelas usai dia menemui Alchemist Bachelor. Seminggu berlalu hujan tidak kunjung menghampiri sampai membuatnya frustrasi akibat kekurangan cairan.
Usai mencari sisa embun pada daun sekitar sana Bing Lian balik menuju tempatnya berlindung terus memutuskan tidur biar mempunyai sedikit cadangan tenaga memanjat besok, dengan kelopak mata berat ia perlahan terbangun karena suara keras.
Awalnya Lian mengira itu suara perutnya yang lapar namun begitu dia dengarkan seksama terdapat irama tertentu layaknya kepakan sayap, akhirnya ia memunculkan kepala dari lubang persembunyiannya mencari apapun dalang semua keributan barusan.
Karena suasana sudah mulai gelap ia harus memicingkan mata penuh konstentrasi, aneh meski suara tersebut kian mendekat Bing Lian masih belum menemukan sumbernya. Ketika memutuskan celingak – celinguk buat terakhir kali bulu kuduknya menegang memperingatkannya tentang kedatangan bahaya.
WUSH! WUSH! WUSH! KIAKKK!!!
Hampir saja semisal terlambat sepersekian detik menarik kepalanya, Lian bakal disambar oleh seekor Demonic King Beast seukuran gajah dewasa. Kekuatan makhluk ini jelas mencapai Nascent Soul makanya tak terpengaruh aura intimidasi jantung Demon milik Bing Lian.
Dia mempunyai empat sayap serta bulu berwarna hitam gelap, pantas Lian kesulitan menemukannya akibat kamuflase sempurna dengan langit malam. Si elang memekik lalu mencoba menerkam mangsa barunya lagi.
BLAR! BLAR! BLAR!
“Woaaa....!? Tunggu sebentar unggas manis, aku hanya tulang belu—sialan seandainya tidak sedang lelah aku pasti menjadikanmu sate brengsek!” umpat Bing Lian menghindari cakar tajam Demonic King Beast itu.
Lian memilih menyelinap ke celah – celah sempit sadar mustahil baginya menang bertarung tanpa menggunakan Qi melawan musuh sekuat demikian, elang tersebut kian menyerbu secara membabi – buta kesal targetnya selalu berhasil lolos sampai menyebabkan beberapa bongkahan batu berjatuhan.
“Hey!? Bisakah kita membicarakannya baik – baik!?”
Pertanyaan Bing Lian malah dibalas tusukan paruhnya, untung Lian cukup cekatan bersembunyi lagi sebelum menelan ludah melihat lokasi dirinya berada sebelumnya telah bolong. Demonic King Beast berwujud burung elang ini terbang berputar – putar mengelilinginya seakan menyatakan pantang pulang sampai sukses menjadikan Bing Lian sebagai santapannya.
Lian berdecak mencari jalan keluar dari kondisinya sekarang, terlebih tubuhnya tengah letih sebab kekurangan cairan dan tenaga. Situasi diperburuk bunyi kepakan sayap seekor predator menantinya keluar layaknya tikus dalam sarang, setelah mengamati sebentar Bing Lian memperoleh ide cemerlang.
Kecepatan terbang makhluk tersebut nampaknya dapat dimanfaatkan olehnya, perlahan Bing Lian mengendap – endap naik menuju posisi lebih tinggi. Ketika berada sekitar sepuluh meter dari titik elang tadi melayang, Lian memperlihatkan kehadirannya sembari menyiapkan Galaxy Ring.
“Oi?! Bahan kemoceng!?”
“KIAAAKKK!!!”
Sang Demonic King Beast segera melesat ketika menemukan Bing Lian terekspos tidak terlindung apapun, Lian memancingnya dengan menjulurkan lidah tanda mengejek. Tepat sebelum dia sampai Bing Lian mengeluarkan potongan daging Winged Crystal Lizard yang didapatkannya pada dimensi kota Hoerju kemudian melemparkannya sekuat mungkin menuju angkasa.
Menemukan makanan lezat terpampang dihadapannya menyebabkan elang itu langsung merubah target, Lian langsung memanfaatkan kesempatan barusan menjerat kakinya berbekal benang khusus dan terbawa terbang tinggi meninggalkan cepat tempat persembunyiannya.
“HAHAHAHA....WOHOOOO!!!” teriaknya puas walau tak tau seberapa lama ataupun jauh dirinya mendapatkan tumpangan gratis ini.
><
Bing Lian mengikat kuat pergelangannya supaya tidak terlepas lalu terjun bebas menghempas bumi, nyatanya meski sudah mendapatkan umpan Lian. Demonic King Beast tersebut masih terus melanjutkan perjalanan menandakan jika kemungkinan besar sarangnya berada di puncak Adamantine Peak.
Tiupan angin makin menyebabkan Lian mengantuk tetapi mengingat kondisi cukup riskan dia berusaha keras agar terjaga, ia lupa berapa lama waktu terlewat yang jelas kesadarannya mulai normal sangat cahaya matahari mengintip melalui sekitar cakrawala pertanda pagi hampir tiba.
Ketika masih menikmati pemandangan indah barusan, secara mengejutkan gerakan si elang mendadak berubah tajam sampai menyebabkan badan Lian terlempar karena tidak siap. Sewaktu mencoba meraih benang sekitar lengannya benda tadi putus tanpa aba – aba.
“Oh...Sial—woaaaa....!?”
Bing Lian terhempas tak beraturan, ia buru – buru memutar otaknya walaupun dunia tengah berseliweran cepat pada pengelihatannya. Lian masih mencari – cari barang berguna dalam Galaxy Ring sekaligus mampu digunakan di wilayah Adamantine Peak saat perlahan merasakan tubuhnya menembus semacam membran tipis transparan.
Masih bingung atas kejadian tadi, Bing Lian menyadari kalau dia mampu mengumpulkan Qi kemudian dengan serentak Raven Night Cloak menyelimuti sekujur kulitnya meski belum diperintahkan dan Suprise Cube muncul tepat waktu menopang kakinya buat menjadi pijakan.
Lian menghela napas panjang bersyukur sukses menyelamatkan diri walau masih bertanya – tanya kenapa gerangan dia tiba – tiba dapat memakai tenaga dalam, begitu memperhatikan sekitar barulah semuanya terjawab. Sebuah padang rumput luas dipenuhi Magic Plant dan Spirit Herb menyambutnya.
Bahkan sekilas Bing Lian menemukan hawa kehadiran kecil entah Demonic Beast atau Spirit Beast hidup damai sekitar sana, dia melongo heran sebelum mengusap – usap matanya mengira ini adalah mimpi juga mungkin ia telah mati lalu mencapai surga dengan ajaib.
Saking bingungnya Lian lupa memperhatikan suplai energi terhadap Suprise Cube hingga benda tersebut mengecil kemudian membuatnya terjerembab ke lumpur. Sialnya Raven Night Cloak seolah memang tidak mau kotor meninggalkan tubuhnya kembali menuju tempat aman nan nyaman ruangan penyimpanan Galaxy Ring.
BRUAKKK...!!! BYURRR!!!
“Puh! Puh! Puh! Jubah sial....awas kau ya...” Bing Lian berbisik usai mengeluarkan tanah dari mulutnya.
“Hmm...kau dengar sesuatu barusan Bubu?”
“Bu!”
“Suara? Haruskah aku minta to...” Lian perlahan terlelap saking lelahnya beberapa hari belakangan, hal terakhir yang diingatnya adalah sebuah cahaya lentera datang menghampirinya.
Special Ramadhan Up (17/30)
Ch.237 (322)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 85 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).