The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 190 - Raja Naga Putih Gunung Jianghou



“Kekuatanmu nampak lebih stabil....” celetuk Lian melirik sekilas pria di sampingnya.


“Heh!? Kau menyadarinya?”


“Ah...sepertinya sekarang kau bisa mempertahankan wujud dewasamu lebih lama, tapi jangan lupa kenakan jubah buat menutupi tandukmu”


“Tanpa perlu kau beritahu pasti kulakukan....” balas Baixian masih mendongak puas.



Bing Lian menghela napas panjang bersumpah kalau tadi melihat hidung Baixian memanjang saking sombong dan bangga dengan keadaanya sekarang. Lian memperhatikan sekelilingnya penuh perasaan campur aduk, setelah perbuatan Baixian menghabisi beberapa pengawal kerajaan situasinya menjadi agak rumit.


Apa lagi terdapat banyak sekali saksi mata, akibat adanya sensasi dipelototi Bing Lian akhirnya menoleh kemudian menemukan Taeral. Ekspresi ketakutan pada wajahnya langsung membuat Lian tau beban pikirannya, ia memberikan sedikit anggukan supaya menenangkan orang itu sebelum bergerak mendekati Raja juga putrinya.


Tidak ada satupun individu dalam ruangan berani melakukan sesuatu bahkan bernapas keras saja mereka segan, Baixian mengekor di belakang Bing Lian sekaligus mendengarkan penjelasan mengapa bisa sampai kemari. Dia cukup tercengang saat tau banyaknya peristiwa telah dilalui Tuannya selama tertidur.


“Kau serius!? Aku hanya memejamkan mata lima menit dan begini jadinya?!”


“Lima menit dengkulmu, kau pikir aku tidak mempercepat waktu yang berjalan dalam Earth Gods Teapot?” Bing Lian mendengus jengkel.


“Naga tak punya deng—bukan itu masalahnya! Terus bagaimana Chyou?”


“Aku meninggalkannya di Frozen Swan River, dia aman di sana. Kau benar – benar ingin dijual kepadanya ya? Sampai khawatir dan bertanya begitu?”


“Jangan ngomong seenaknya! Aku tidak sudi kau jadikan barang transaksional ya!” kata Baxian dengan urat pelipis berkedut kesal.


“Menurutmu kalau aku meminta delapan ratus juta Spirit Stone sebagai gantinya apakah harganya pantas?”


“Lian!? Kau—“


Lian tertawa menyaksikan wajah memerah akibat naiknya emosi Baixian lalu menghindari cengkraman tanganya, namun disela – sela bercanda mereka Bing Lian mengingatkan tuk terakhir kali seberapapun cemasnya Baixian terhadap dirinya. Jangan pernah lepas kendali seperti sebelumnya apalagi sampai mengamuk secara membabi buta, jika masih bertindak demikian Lian berkata dia bakal turun tangan langsung.


“Kau mengerti?”


“Iya – iya....” Baixian menyahut sembari membuang muka, perlahan tatapanya tertuju ke arah punggung Tuannya mengingat momen pertemuan pertama keduanya.


><


Seorang pria bertanduk dengan pakaian campuran antara zirah perak dan kain mewah berbaring pada lantai serta menopang dagunya menggunakan telapak tangan, santai nan tenang menikmati suasana senja hari itu meski bau darah maupun kayu terbakar memenuhi udara.



Ia membersihkan giginya berbekal serpihan kayu pipih terus menguap, sedikit mengantuk akibat kekenyangan. Kemunculan bunyi keras ditambah Qi kurang wajar akhirnya mencuri perhatiannya, ketika menoleh dia menemukan pemuda berambut putih menghampirinya. Meski auranya aneh si laki – laki masih cukup percaya diri dapat mengatasi pendatang baru ini.


“Apa maumu bocah?” tanyanya dingin.


“Kaukah Raja Naga Putih Gunung Jianghou?”


“Aku bertanya lebih dahulu, kau sebaiknya menjawab dan bukan membalasnya dengan pertanyaan lain idiot”


“Begitukah? Semisal membahas tata krama di sini berarti kalau demikian aku punya hak sama untuk tak memberimu jawaban bukan?” pemuda sebelumnya menyahut sambil tersenyum.


“Tikus kecil kau....”


“Oh iya bagaimana keadaanmu? Sesudah menghancurkan kerajaan berukuran sedang ini sekaligus menghabisi seluruh penduduknya yang merupakan manusia dan para Demon penjajahnya dalam waktu singkat?”


BAMMM...!!!


Tanpa aba – aba sang pria berpakaian mewah bangkit didorong angin kemudian melepaskan pukulan penuh tenaga menuju penganggu tersebut, sayangnya serangan barusan ditepis semudah mebalikan telapak tangan. Pertarunganpun pecah selama kurang lebih hampir tiga hari tiga malam sampai akhirnya Raja Naga Putih Gunung Jianghou memutuskan mundur lalu pulang ke rumahnya.


Sadar musuhnya bukan sosok sembarangan serta berbeda dari kebanyakan lawanya selama ini menyebabkan ia menarik diri dahulu demi membuat strategi, tetapi perasaan amanya sirna ketika orang persis sama muncul kembali di kaki Gunung Jianghou hingga membuatnya menjerit ngeri, “Kau!? Bagaimana caranya kau sampai kemari?”.


“Hmm? Apa seharusnya aku tidak bisa?”


“Ahh....semua bawahamu telah aku urus, tinggal kita berdua saja sekarang” ujar si pemuda berambut putih berjalan mendekatinya sembari membawa barang aneh menghiasi tangannya.


“TIDAAKKKK!!! PERGI! MENJAUH DARIKU!!!”


“Jangan begitu dong, aku cuma mau bicara dan meluruskan masalah kita lho. Oh iya untuk pertanyaanmu mengenai kenapa aku dapat sampai kesini biar aku jawab, katakan saja beberapa otoritas hebat Dao Relam cukup mengenalku. Hehehe....”


Kurang lebih seperti itulah pembicaraan terakhir mereka seingat Raja Naga Putih Gunung Jianghou sebelum dirinya dikurung dalam sebuah Spirit Tools mengerikan, di dalamnya banyak sekali sel – sel tahanan khusus membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya. Begitulah kisah takluknya Divine Beast bengis tersebut.


Hari demi hari berlalu, anggota pada penjara pun ikut bertambah entah berapa lama waktu sudah terlewat sampai mereka sendiri lupa bagaimana rupa sinar matahari, namun uniknya pelaku penangkapan selalu berkunjung tiap punya kesempatan sembari memberikan cerita juga arahan. Sampai suatu saat ketika keganasan masing – masing perlahan berkurang ia berpesan.


“Aku akan memberikan sesuatu hal berharga sesuai janjiku, kebebasan serta hadiah istimewa. Mulai sekarang aku menamai kalian Baixian, Qinglong, Zhuque, Xuanwu, dan Hubai. Aku berharap dengan nama itu kalian....bisa menjadi lebih baik”


><


“Kau....memang tidak pernah berubah ya?” celetuk Baixian tersenyum tipis dibalik tudung kepalanya menatap punggung pemuda di hadapannya penuh rasa hormat.


“Hmm? Kau mengatakan sesuatu?”


Baixian hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Lian seolah berpura – pura tak mengerti apa yang bicarakannya, Bing Lian mengangkat kedua bahunya cuek sebelum mempercepat langkahnya menghampiri Raja beserta Putri kerajaan Fairy Snow.


Aincrad menatap masing – masing ngeri terutama Baixian, dia merangkul Eva agar tidak keluar dari jangkauannya. Dalam kondisi begini sangat penting menjaga supaya anak perempuanya tersebut tetap baik – baik saja. Aincrad mencari cara bagaimana mengeluarkan Eva hidup – hidup dan dapat meneruskan garis keturunan mereka.


Kepanikan pada wajahnya disadari oleh Bing Lian sehingga laki – laki itu memperlihatkan telapaknya tanda kalau ia datang secara damai tanpa maksud melukai atau apapun, “Tenanglah, lihat? Aku cuma mau bicara, maaf soal prajuritmu. Baixian sedikit emosi jadi sampai begitu kejadiannya”.


“Jangan salahkan aku!? Menurutmu respon seperti apa harus kutunjukan saat baru keluar malah dikepung sekelompok Fairy Snow bersenjata lengkap!?”


“Anda....Raja Naga Putih Gunung Jianghou?” Aincrad bertanya dengan napas tercekat.


“Eh? Kau mengenaliku? Lalu kenapa berani sekali cari – cari masalah—tunggu sebentar. Setelah kuperhatikan baik – baik mukamu cukup familiar, hmm....?”


“Dia adalah putra Raja Karibou”


“Ahhh....!? Benar, bagaimana kabar ayahmu? Apa dia sudah bisa pipis secara baik dan benar? Phuahahaha—maaf“ tawa Baixian segera menghilang menyadari lirikan tajam Tuannya.


“Hadeh....kumohon kata – katanya tak usah dimasukan hati ya Pangeran, atau seharusnya kupanggil Yang Mulia buat sekarang”


“Jika demikian....berarti anda.....benar – benar....”


“Huumm.....aku Bing Lian, kita pernah bertemu sebelumnya. Walau mungkin kau lupa soalnya itu terjadi saat kau masih amat kecil” Lian tersenyum ramah kepadanya.


“Aku...—“


BUMMM....!!!


Sewaktu mulut Aincrad masih bergerak bimbang mencari kata tepat, ledakan Qi tiba – tiba terjadi dekat mereka. Untungnya Baixian cukup gesit membentuk mantra tangan buat melindungi ketiganya, Eva putri Aincrad menjerit dengan mata juga mulut mengeluarkan aura kehitaman yang memberikan perasaan negatif ke segala penjuru.


“Eva?!”


“Baixian? Hentikan pergerakannya”


“Energi ini....Black Graveyard Sect lagi!? Oh ayolah kau harus memberi mereka pelajaran ketika punya kesempatan. Dasar pengguna – pengguna mayat sialan!” umpat Baixian jengkel terus menciptakan dinding tenaga dalam tembus pandang demi mengurung gadis barusan.


Ch.190 (250)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 60 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).