
Saat berjalan di antara batu – batuan hijau sekitar sana kenangan Lian mulai kembali satu per satu, yaitu ketika Hao Ren sengaja membawanya ke Adamantine Peak ratusan tahun lalu untuk menempa fisiknya. Memang bukan sudah rahasia umum kalau Mask Sage sedikit lebih memperhatikan Bing Lian ketimbang murid – muridnya yang lain.
Terlepas dari status Lian merupakan pewaris sah Seoris Kingdom, anak itu mempunyai segudang bakat sehingga sayang jika tidak dikembangan secara maksimal. Sebagai tempat khusus penangkal penggunaan Qi serta berupa tebing curam Adamantine Peak menjadi lokasi alami buat menguatkan otot tubuh.
Bing Lian mengingatnya seolah baru terjadi kemarin, bagaimana dirinya ketika berusia sekitar lima belas tahun diminta mendaki gunung tertinggi di Benua Huawai tersebut. Meski telah memulai praktik kultivasi mustahil bagi seoarang anak remaja menaikinya terlebih tanpa mampu menggunakan Qi sama sekali.
Lian harus memanjat hampir enam bulan sambil berusaha menghindari hewan – hewan pemangsa terutama jenis burung karena kekuatan yang terlampau jauh sementara Hao Ren terbang menantinya di puncak, bisa dibilang momen tadi adalah salah satu latihan paling menyiksa pernah dihadapinya.
Namun Bing Lian tak sekalipun protes, walau hujan, angin, salju, bahkan petir menyelimuti Adamantine Peak dia terus bergerak secara bertahap. Pelan tapi pasti sampai badannya sewaktu pulang benar – benar terlatih dan sanggup menguasai setiap bagian sekaligus menyatukan Body Refining terbaik Benua Huawai yaitu Four Form of Guardian Deities dengan cukup mudah pada masa mendatang.
Sayangnya Lian gagal menyelesaikannya kemudian terlebih dahulu dijemput oleh Hao Ren ketika masih setengah perjalanan, kata Mask Sage hanya berbekal kemampuannya kala itu mustahil Bing Lian dapat menjalani ujian pendakian tersisa maka akhirnya mereka memutuskan pulang menuju Seoris Kingdom. Tetapi Lian membayar hutang tadi saat telah sukses membentuk Immortal Foundation demi menyempurnakan ketahanan fisiknya.
Lalu malah berubah menjadi rutinitas tahunan baginya sesudah memperoleh gelar Ice Emperor bersama Kelima Hewan Suci miliknya melakukan perlombaan adu paling cepat mencapai puncak Adamantine Peak. Ia nampak duduk santai di atas batuan hijau sebelumnya sembari tertawa akibat kekonyolan masing – masing sebelum bunyi geruduk disusul gempa mulai terasa.
BRRRR....! ROAAAARRR....!!!
Lian menoleh terus menemukan sesosok Demonic Beast bertanduk lebar berlari kencang ke arahnya siap menyeruduk, Bing Lian segera sigap menghindari tapi musuh ikut berbelok layaknya peluru kendali. Sadar jika berlari maka masalah tidak punya ujung, Lian diam menjulurkan tangannya menanti makhluk tersebut tiba.
BAAMMMMM....!!! BRRR....!!!
Suara keras terdengar waktu kepala monster itu beradu dengan telapak Bing Lian, dia terdorong mundur beberapa meter jauhnya namun badannya tak bergeming. Sebentar saja laju si Demonic Beast bertambah pelan dan akhirnya terhenti olehnya, Lian menekankan tengkoraknya menuju bawah sehingga meninggalkan bekas panjang di tanah.
Ia berhasil menaklukannya padahal kekuatan Demonic Beast barusan hampir mirip dengan Baixian saat ini, hanya berbekal tenaga fisik murni tanpa bantuan Qi sama sekali. Sebelum musuhnya sempat menggeram lama serta memberontak, Lian menghantamnya menggunakan siku hingga tewas.
Bing Lian bersenandung pelan sambil mengeluarkan pedangnya, dia memotong daging makhluk itu menjadi bagian – bagian kecil untuk tambahan perbekalan mendaki. Sewaktu mengeluarkan Core miliknya, secara cepat kandungan benda tadi terserap oleh kristal – kristal hijau sekitar sana.
Lian perlahan berjongkok demi menggali tanah sekitarnya, cuma sebentar saja upayanya langsung terhenti sebab sudah menemukan batu serupa tertimbun di sana. Memang barang inilah penyebab mengapa Adamantine Peak disebut lokasi penangkal Qi, masih misterius sejak kapan atau dari mana mereka berasal namun yang jelas seluruh wilayah gunung tersebut mengandungnya.
“Kalian tidak pernah berubah....” celetuk Lian menyentuhnya lalu merasakan energinya dihisap, anehnya sesudah melukannya batuan barusan malah mengekstrak semuanya menjadi asupan bagi tanaman – tanaman sekitarnya. Makanya Bing Lian berpendapat ada hubungan antara keberadaan kristal hijau ini dengan tumbuh suburnya Spirit Herb dan Magical Plant di Theotopia Empore.
><
“Ahh....lama tak berjumpa kawan lama....” Bing Lian bergumam sembari tertawa lemah usai mendongak untuk mengamati kemegahan Adamantine Peak.
Bing Lian sekali lagi mereggangkan anggota badannya, sebenarnya dia menghabiskan hampir sehari penuh melakukan pemanasan baru mendekat demi bersiap naik. Banyak sekali kerangka serta bangkai Demonic Beast tercecer akibat perbuatannya, ia menarik napas panjang kemudian mulai melesat.
Gerakannya cukup gesit mirip monyet berpindah pohon, sebab tidak tau pasti sampai kapan perjalanan ini berlangsung dengan kemampuannya sekarang. Lian mencoba mempertahankan kecepatannya meskipun muncul Demonic Beast jenis burung, ular, dan kera sesekali mengganggunya.
Bing Lian bakal menghabisi mereka berbekal lemparan batu sekencang peluru sebelum kembali fokus memanjat, cukup mudah melakukannya mengingat mengalahkan masing – masing hanya perlu menjatuhkan semuanya dari ketinggian.
Sebulan berselang cuaca mulai berubah tak menentu, berganti antara terkadang turun hujan, salju, angin topan, serta sengatan panas matahari terik dalam kurun waktu singkat. Suatu malam Lian tengah duduk istirahat di tepi lubang dangkal pada sisi Adamantine Peak, ia berpegangan kuat ke tanaman – tanaman rambat sekitarnya agar dapat bereaksi ketika kejadian tidak diinginkan terjadi.
Karena sejak tiba kemampuan memakai Qi miliknya sudah tersegel, Lian jadi membutuhkan makan maupun tidur seperti manusia biasa. Perbedaanya dia dapat bertahan lebih lama tanpa dual hal tersebut, hampir tiga puluh hari terjaga ditambah diberi sapaan ramah oleh alam akhirnya menyebabkan matanya berat.
Bing Lian sedikit bersandar lalu tertidur pulas, entah berapa lama terlewat tapi dia tersentak bangun terkejut akibat mendengar suara senandung. Lian hampir terperosok sebab melonjak tadi, untung pegangannya cukup kuat lalu sukses menyelamatkannya.
Selesai menarik diri lagi ke dalam lubang sebelumnya, Bing Lian menempelkan telinganya menuju dinding sembari memasang baik – baik indera pendengarannya. Dia yakin sekali kalau tidak sedang bermimpi atau berhaluniasi, namun selang beberapa menit Lian perlahan meragukan penilaiannya.
Ia berdecak kesal kemudian mengeluarkan makanan dan minuman, apakah kepalanya mulai bermasalah disebabkan kekurangan energi. Memang riskan telat buat mengisi perut saat dalam situasi begini pikirnya sampai sekali lagi suara lembut barusan mencapai tempatnya berada.
“WOAAA....!!!”
Lian menjerit kaget mengira ada semacam arwah gentayangan juga hantu penghuni tempat itu mengganggunya, namun tak lama Bing Lian langsung bersikap cuek. Mengapa bisa dia takut kepada hantu padahal sempat bertarung melawan Black Graveyard Sect kemarin, sungguh konyol hingga dia sendiri malu dibuatnya. Untung tidak ada yang melihat batinnya.
Bing Lian mencoba mendeteksi kembali arah datangnya maupun apa gerangan penyebab lantunan tersebut, setelah menutup mata sebentar memang ada semacam derik kayu diselingi senandung menghiasi udara.
KREK! KREK! KREK!
“Du....dudududu...dududu....mmm.....mmmm....”
Special Ramadhan Up (16/30)
Ch.236 (322)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 86 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).