
Yao Quon awalnya emosi dan ingin membentak orang iseng tadi, tapi begitu dia menyebut nama Bing Lian akal sehatnya kembali normal. Apalagi amarahnya segera menurun drastis akibat penampilan sang gadis, ia mempunyai wajah luar biasa cantik yang mungkin belum ditandingi oleh siapapun pernah ditemui Yao Quon sebelumnya.
Mungkin satu atau dua Ten Guardian Lantern mendekati tingkatannya tapi masih ada perbedaan cukup kentara, terlebih hiasan rambut serta gaun indahnya makin membuat dirinya nampak sangat rupawan. Kulitnya bersih cenderung bersinar, mata biru maupun rambut putihnya mampu menghipnotis semua pria supaya jatuh cinta terhadapnya. Namun entah mengapa menurutnya usai memperhatikan baik – baik perempuan tersebut memberi kesan mirip seperti ketika Yao Quon berjumpa pertama kali dengan Lian.
“Eeee....Tuan? Kau baik – baik saja? Maaf sudah mengagetkanmu, aku mengira kau pemilik rumah ini”
“Ah? Tidak apa – apa” jawab Yao Quon terburu – buru saat lawan bicaranya mulai melambaikan tangan depan wajahnya sebab dirinya melamun.
“Fyuh...syukurlah, aku pikir kau terkena semacam serangan jantung. Bikin takut saja”
“Sebenarnya dugaanmu ada benarnya sih”
“Eh? Kau sakit? Wajahmu merah sekali lho” dia bertanya sembari mendekat.
“K...ka....kalau berkenan bolehkah aku mengetahui namamu?”
DEG! DEG! DEG!
Yao Quon cukup percaya diri dengan kemampuannya menggaet hati lawan jenis, ia bukan lagi bocah dungu yang bisa mudah dipermainkan wanita. Ditambah setelah menjadi Cultivator wajahnya juga kian tampan, hampir tidak ada hari rumahnya di Weadalia Empire absen dikunjungi untuk mengajaknya menikah akibat jabatan dan penampilannya. Tetapi tekanan perempuan ini sungguh berbeda, cukup mendekat saja jantung Yao Quon sudah berdetak cepat sulit terkontrol bahkan membuatnya takut akan meledak.
“Oh....Bai Wen, salam kenal”
“Bai Wen? Indah sekali....aku Yao Quon senang bisa berkenalan”
“Umm....halo” sahut Bai Wen mengangguk manis.
“Ngomong – ngomong Nona Bai? Apakah kau punya hubungan khusus dengan Seoris Kingdom? Namamu mengingatkanku ke pewaris tahta—“
“Itu memang aku hehehe....”
“Eh?”
“Aku Bai Wen, anak semata wayang Raja Seoris Kingdom”
“MAAFKAN KELANCANGAN HAMBA TUAN PUTRI!” Yao Quon segera bersujud meminta ampun.
Dia buru – buru menghapuskan pikiran konyolnya tentang menjalin hubungan bersama gadis cantik tersebut, Bai Wen terkejut menyaksikan responya kemudian mencoba menolongnya berdiri kembali namun tiap ia mendekat Yao Quon mundur selangkah dan lagi menempelkan dahinya menuju lantai hingga keduanya keluar rumah melakukan hal serupa. Bing Lian mengangkat sebelah alisnya kebingungan menyaksikan tingkah aneh mereka saat tiba pada kediamannya.
Lian tertawa lepas sesudah mendengar semuanya, perlahan Yao Quon seolah bertemu kembali dengan dia yang dulu. Bai Wen pun ikut tersenyum karena beberapa pertemuan terakhir merasa sedih melihat Bing Lian murung memikirkan sesuatu namun selalu menolak menceritakannya. Akhirnya Lian mengenalkan masing – masing.
“Sarjana Yao murid Tetua Gao? Aku pernah menemuinya ketika dia datang mengobati kakekku ketika aku masih kecil lho”
Entah mengapa sejak mendengar Lian memanggilnya demikian, Putri Bai Wen juga mengenakan panggilan serupa terhadapnya terus mengakibatkan Yao Quon merasa kurang nyaman. Bing Lian serta Yao Quon mulai bertukar cerita setelah berpisah cukup lama ditemani oleh Bai Wen yang sesekali ikut berkomentar sambil mendengarkan.
Lian kelihatan menggigit bibir bawahnya pahit usai mengetahui Gao Xuegang telah meninggal, walaupun tak seterkejut Bai Wen. Sepertinya dia telah memprediksinya begitu tau Yao Quon lah datang membantu ke medan perang dan bukannya pria tua tersebut, Bing Lian meminta maaf belum sempat mengunjunginya beberapa waktu belakangan.
Yao Quon meyuruhnya jangan terlalu memikirkannya karena dari awal gurunya memang tau sisa umurnya tidak banyak jadi sengaja mengasingkan diri. Bing Lian lalu menjelaskan kalau posisi keduanya sekarang sama karena Hao Ren juga sudah wafat, sekarang jelas bagi Yao Quon alasan Lian kelihatan sedikit berbeda dari sosok ceria dikenalnya ketika pertama bertemu.
Ternyata seiring pertukaran informasi, Yao Quon baru mengerti lentera warisan Gao Xuegang adalah pemberian Mask Sage. Masing – masing terhubung satu sama lainnya sebagai alat komunikasi, Lian sekarang memegang pasangannya. Maka bisa disimpulkan jika sebenarnya pesan buat mendatangi lokasi perang dikirim olehnya, sebuah perubahan besar baru terjadi di mana murid – murid meneruskan peninggalan para gurunya.
Ketiganya tertawa puas sampai Yao Quon harus pergi mengingat tugasnya selesai, dia akan datang lagi jika Lian membutuhkan. Sayang Yao Quon tidak pernah menyangka momen barusan merupakan kesempatan terakhir dirinya melihat Bing Lian dan Bai Wen tersenyum serta saling bersenda gurau bersama – sama.
><
“Terima kasih Tabib Yao! Berkatmu putraku dapat berjalan kembali”
“Senang bisa menolongmu Tuan”
Yao Quon tersenyum ramah lalu mencoba menghentikan laki – laki tua itu mencium kakinya, dia menolak pemberianya namun terus dipaksa juga diancam tidak akan mau pergi meninggalkan lokasi kalau Yao Quom belum mau mengambil hadiah darinya. Sehingga dengan agak terpaksa Yao Quon menerima sekarung emas yang sebenarnya kurang berguna baginya pribadi.
Beberapa pasienya belakangan selalu melakukan hal demikian walau tertera jelas dekat tempatnya menerima orang jika jasanya gratis, Yao Quon menjadikan perilaku gurunya dulu sebagai kebiasaan yaitu berkeliling menawarkan pengobatan secara cuma – cuma. Mungkin karena kebetulan tengah berada di kota besar penduduknya sedikit gengsi kalau dibantu tanpa membayar.
Saat menutup gerai sederhana hanya berbekal kain sebagai alas duduk miliknya, Yao Quon melihat gerombolan terbentuk tak jauh darinya. Dia menggeleng – gelengkan kepala berpikir kali ini pengumuman berita kejahatan perselingkuhan lagi bakal dikumandangkan sebab kemarin pun demikian, terkadang masalah sepele begitu menarik perhatian kebanyakan warga.
Ketika melintas meski sama sekali tidak tertarik, kemampuan indera pendengaranya meningkat tajam sejak menjadi Cultivator terutama akibat mempunyai Divine Sense sehingga ucapan si penyampai pesan mencapai telinganya. Langkahnya langsung terhenti sembari menjatuhkan tas tabib sederhana buatannya usai mengetahui isi kabar yang disampaikan.
“PENGUMUMAN! PENGUMUMAN! PENGUMUMAN PENTING UNTUK SEMUA WARGA! SEORIS KINGDOM TELAH JATUH! SEKALI LAGI KUTEKANKAN! SEORIS KINGDOM TELAH JATUH! RAJA, RATU, DAN PUTRI MEREKA TEWAS!”
BRAK! WUHS!!!
“Eh? Tabib Yao?”
“Hey kau! Menyingkirlah! Kami sedang melakukan tugas pen—oek!?”
“Hentikan omong kosongmu....” desis Yao Quon mencekik pria tadi lalu menyebabkan para penduduk terkejut pemuda berpenampilan baik juga sopan tersebut ternyata bisa bersikap demikian.
“Ukh....tolong....aku kesulitan bernapas....akh...ampuni aku”
“Beritahu aku siapa yang menyuruhmu menyampaikan berita bohong ini, biar kuberi dia pelajaran”
“Uhuk! Uhuk! Uhuk! Tuan Pendekar aku cuma menerima perintah atasan, sungguh! Kasihani aku huhuhu” ia terisak ketakutan memegangi leher kebasnya akibat cengkraman Yao Quon, teman – temannya sudah berlarian mencari tempat aman.
“Kau berani menjamin kebenaran beritamu?”
“Aku bersumpah atas nama leluhurku! Begitulah informasi tersebar sekarang, kau boleh memeriksanya ke kota lain!”
“Pasukan Demon mana sanggup menyerang Seoris Kingdom? Mereka memiliki Ten Guardian Lantern sialan! Kau pikir saja bagaimana mungkin aku tak meragukan kata – katamu?!” bentak Yao Quon naik pitam.
“Bukan Demon, ada sekitar dua puluh sekte tersohor Benua Huawai membentuk aliansi demi menggulingkan Kerajaan itu”
Ch.260 (355)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 95 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).