The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 187 - Emberfrost



Perjalanan mereka ternyata cukup panjang, Bing Lian ingat sejak matahari terbit hingga tenggelam masih belum ada tanda – tanda rombongan mengurangi kecepatan karena hampir sampai tujuan. Akhirnya ia memutuskan bermeditasi walau sayangnya kemampuan tubuhnya menyerap Qi tertahan oleh borgol tanaman penghias pergelangan tangannya sekarang.


Lian kembali membuka matanya saat merasakan kalau ketinggian terbangnya mulai menurun, dia melirik ke sana kemari mencari bukti berdirinya sebuah peradaban sekitar sana namun hanya menemukan warna putih dan pohon – pohon cemara sejauh mata memandang.


Puncak Adamantine Peak juga nampak dari situ, tetapi disebabkan memang tingginya yang luar biasa mustahil memperkirakan lokasi tempatnya saat ini dengan gunung berkilauan bagai berlian tersebut. Letak rumor paling kuat di mana Yao Quon sang Alchemist Bachelor bermukim.


Usai mendarat mulus kemudian menginjak tanah sekali lagi, Bing Lian bangkit merenggangkan badan. Pantatnya terasa pegal duduk seharian tetapi tingkahnya langsung direspon todongan tombak serta pedang oleh para Fairy Snow pembawa matras.


Meskipun demikian dia masih mampu bersikap santai menganalisis sekelilingnya penuh seksama, Lian tentu mengerti wilayah ini memenuhi kategori sebagai habitat tinggal Fairy Snow. Namun buat Spirit Beast cerdas seperti mereka menunjukan terang – terangan kerajaanya pasti merupakan tindakan teramat bodoh.


Menyembunyikan lokasi kawanananya dilakukan untuk pertahanan diri semisal ada yang mau menyerang dan mengurangi gangguan dari pihak luar entah itu Manusia atau Spirit Beast lainnya. Kalau praktiknya tak ditekan Bing Lian pasti dapat menemukan letak sihir pengalihannya dengan mudah sayang saja kondisinya kurang memungkinkan.


“Turunkan senjata kalian” terdengar suara tegas berbicara.


“Hmm?”


“Bing Lian, kita akan segera memasuki wilayah kerajaan”


“Baguslah” responya pada Taeral, si Jenderal berjalan mendekatinya sambil menatap serius. Anak – anak buah langsung memasang sikap siaga menandakan betapa tinggi rasa hormat mereka ke sosok tersebut.


“Aku....cuma ingin berterima kasih atas semua pertolonganmu di Frozen Swan River”


“Jangan sungkan, lagi pula kau setuju membantuku dalam rencana ini. Kenapa kau terlihat seperti bakal melihatku tuk terakhir kali? Atau kau sebenarnya tidak senang pulang buat menemui cucumu?”


“Bukan....aku sungguh bersyukur kau memberi aku serta menantuku kesempatan itu. Tetapi selesai menyerahkanmu kepada Yang Mulia Raja....aku tak bakal mempunyai kekuatan atau hak lagi buat menyelamatkanmu. Jadi begini penawaran terakhirku.....”


Taeral mengagetkan seluruh pasukannya begitu mengutarakan pikiran melepaskan satu – satunya tahanan perang mereka lalu menanggung konsekuensi dieksekusi seorang diri oleh Raja. Lian tersenyum mendengarnya sekaligus menyaksikan ketulusan juga rasa balas budi tinggi seekor Spirit Beast terhadap manusia, musuh bebuyutan yang sangat ingin disingkirkan bangsanya.


“Pfft?!”


“Kau pikir aku tengah bercanda?” Taeral bertanya kurang senang menyaksikan reaksi terkekeh Bing Lian.


“Tidak, hanya lucu saja menerima tawaran demikian dari seorang yang hendak membunuhmu beberapa hari lalu, jangan bercanda kau sudah membawaku jauh – jauh kemari. Aku tak punya niatan sedikitpun pulang dengan tangan kosong, namun kuhargai perhatianmu”


Lian menjulurkan tanganya, Taeral melihat silih berganti antara muka pemuda tersebut dan telapaknya. Dia tau ini merupakan salah satu cara ras manusia menunjukan pertemanan, gagal menemukan keraguan dalam mata Bing Lian akhirnya Taeral menyerah. Sadar mustahil mengubah ketentuan dari pria berambut putih di hadapannya.


“Semoga.....beruntung”


Ucapnya pelan menyalami Lian, untuk pertama kali dalam hidupnya menunjukan keramah tamahan kepada makhluk perusak nan hina bernama manusia. Bing Lian mengangguk puas terus sebelum Taeral berbalik memintanya membuat penampilannya nampak lebih berantakan, bagi Lian kondisinya sekarang kurang pas memerankan sosok tahanan perang.


Ia mengajukan agar Taeral menghajarnya beberapa kali atau kalau memang merasa kurang enak sebaiknya menyuruh para anak buahnya saja melakukannya, bukannya menurut setelah berpikir sebentar Taeral malah memunggut tumpukan salju kemudian menimpukan semuanya menuju kepala Bing Lian kemudian mengacak – acaknya sehingga rambutnya berantakan sekaligus menutupi wajah.


“Puas?”


“Yaaa....baiklah aku terima, setidaknya badanku tidak harus membiru juga nyeri akibat dipukuli. Ide bagus hahaha.....” puji Lian tertawa pelan.


“Heh, aku mendoakan hasil terbaik untukmu. BUKA PEMBATASNYA!!!”


Akhirnya perintah Taeral berkumandang, para Fairy Snow barisan terdepan mengangguk lalu mengarahkan telapak tangan menuju suatu arah. Sebuah cahaya kebiruan memancar melalui sana, perlahan dinding transparan mulai menghilang menunjukan sebuah pemandangan menakjubkan kastil es raksasa yang dikelilingi tembok tinggi.



Bing Lian diseret langsung oleh Taeral, dia mengikatkan benang Qi ke gembok Lian kemudian menariknya sementara sisa pasukan berjalan mengapit kedua sisinya sehingga membentuk semacam karavan. Ketika hampir mencapai dinding terluar, pintu gerbang membuka sendiri dengan tertarik menuju dalam tanah.


Akibat bahan dasar utama bangunan – bangunan mereka adalah salju, hampir hanya ada warna putih sepanjang mata memandang. Bing Lian memperhatikan sekelilingnya antusias melalui balik rambut yang terurai menutupi wajahnya terus menyeletuk, “Tempat ini....tidak berubah banyak ya?”.


“Kau pernah kemari sebelumnya?” Taeral menoleh jelas terkejut mendengar kalimat tadi.


“Eh? Ahahaha kau bicara apa Jenderal? Apa aku nampak setua itu? Lagi pula bocah sepertiku mana mungkin punya kesempatan berinteraksi bersama kalian para Spirit Beast”


Taeral menatapnya penuh keraguan namun akhirnya kembali berfokus memperhatikan jalan di depan, perkataan Lian ada benarnya. Mustahil baginya mendatangi lokasi tempat tinggal kawanan Fairy Snow tanpa bantuan orang lain, seingat Taeral kunjungan terakhir manusia kesitu telah terjadi ratusan tahun lalu dan Bing Lian tentu tak nampak berusia sedemikian panjangnya.


Sayangnya pemikiran tersebut sangat dangkal, Lian berusaha menahan tawanya menyaksikan kepolosan sang Jenderal padahal dia sebenarnya cukup tau menahu soal kerajaan ini bahkan mengetahui nama kotanya yaitu Emberfrost.


Terdapat pohon cemara istimewa menjulang tinggi menghiasi tengah – tengahnya sebagai ciri khas utamanya, setelah mendapat laporan kedatangan pasukan Taeral beberapa prajurit Fairy Snow kelihatan menyambut sekaligus memberi jalan kepada mereka.


Karena perbuatan itu perhatian seluruh penjuru kota mulai terarah menuju rombongan, tidak ada bedanya dengan saat kelompok pahlawan membawa penjahat pulang untuk dihakimi layaknya pada peradaban ras manusia. Cuma perbedaannya para penontonya merupakan peri – peri berkulit pucat disertai telinga panjang.


Ketika menyadari aroma dan makhluk apa Bing Lian sebenarnya penduduk – penduduk Emberfrost mengeluarkan suara desisan marah, bahkan terang – terangan mengumpat menggunakan bahasa sendiri tanpa mengetahui kalau sang tahanan memahami artinya. Kurang lebih isinya antara lain.


“Pancung kepalanya!”


“Demi Tuan Putri!”


“Manusia hina! Beraninya kau menginjakan kakimu kemari!”


Taeral sebagai satu – satunya orang yang paham keseluruhan situasi berkeringat dingin lalu mempercepat langkahnya, dia bahkan tidak menceritakan pada anak buahnya mengenai rencana Lian meluruskan kesalahanpahaman antar kerajaan Fairy Snow juga Frozen Swan River.


Mengetahui betapa mengerikannya kemampuan Bing Lian sebenarnya membuatnya waswas jika sampai mengakibatkan ia tersinggung. Untungnya Lian bersikap cuek seolah hanya mendengar anjing menggonggong, bahkan sikapnya tidak berubah banyak saat mereka memasuki istana terus menuju ruang tahta.


Terdapat cukup banyak sosok menunggu di sana contohnya pengawal – pengawal, bangsawan, seorang gadis Fairy Snow berambut hitam memancarkan aura gelap yang mencuri perhatian Bing Lian, dan Raja itu sendiri. Duduk penuh kharisma pada singgasana terbuat dari es miliknya.



“Apa maksud semua ini? Taeral?” tanyanya lembut namun nadanya menusuk bagaikan belati.


Taeral beserta seluruh pasukannya bertekuk lutut, Lian masih berdiri sendirian soalnya masih berpura – pura tidak mengerti bahasa mereka. Taeral menarik napas panjang tegang berdoa supaya bawahan – bawahannya dapat mengikuti skenarionya kemudian menceritakan kisah fiktif untuk menyalahkan tahanan perang di sampingnya.


Ch.187 (245)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 58 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).