
Setelah sepakat melaksanakan ide gila tersebut, mereka melakukan persiapan selama tiga hari tiga malam. Paginya Lian mengajarkan kepada Yao Sheyan tentang hal – hal dasar yang harus diketahuinya saat nanti berada di Dao Realm serta sihir – sihir berguna kala situasi mendesak.
Meski awalnya kurang senang juga bertanya – tanya mengapa harus mendengar pengarahan Bing Lian karena notabene keduanya merupakan anak seumuran, nyatanya penjelasan – penjelasannya sangat mudah dimengerti. Sheyan merasakan bukan hanya mengenai ekspedisi saja tapi kemampuan kultivasinya ikut mengalami perubahan akibat saran – saran darinya.
Jika terus begini sebentar lagi tidak mustahil sang Violet Alchemist Princess berhasil menembus Forging Qi tingkat 15, malamnya sementara Yao Sheyan istirahat Bing Lian bakal berdiskusi dengan Yao Quon mengenai tata cara membuka gerbang menuju Dao Realm.
Dia mengulanginya setiap hari tanpa lelah, sampai – sampai Yao Quon memintanya untuk rehat sejenak akibat takut berdampak buruk terhadap kesehatanya. Yao Quon sendiri tak punya masalah kebugaran sebab merupakan Nascent Soul, sayangnya Bing Lian pada kondisi sekarang belum tentu mampu mengimbanginya.
Lian cuma terkekeh geli kemudian mengatakan supaya Yao Quon tenang saja, sejak masih menjadi bocah petani di Windless Height Valley ia sudah membiasakan diri tidur sebentar bahkan kadang sejam saja karena sebatang kara mengurus perkebunannya. Makanya fisiknya lumayan tangguh terlebih usai berlatih ilmu kultivasi.
Sewaktu menerangkan agar Sheyan sebaiknya jangan jauh – jauh dari sisinya ketika mereka sudah sampai, gadis tersebut tiba – tiba bertanya kalau memang Bing Lian bisa membawa orang lain ke Dao Realm kenapa ia memilih mengajak Yao Sheyan bukannya malah Alchemist Bachelor.
Siapa tau dengan kekuatan kakeknya bakal lebih mudah menaklukan atau setidaknya memaksa Medusa mencabut kutukan mata dirinya, Bing Lian menatapnya sebentar lalu berujar wajar Sheyan berpikir demikian. Akan jauh lebih efektif kalau meminta bantuan Nascent Soul lain menjaga jalan keluar dan berangkat ditemani Yao Quon.
Namun kenyataanya tak sesederhana itu, misal melakukan usulan Yao Sheyan barusan kondisinya jauh lebih rumit sebab hawa keberadaan Yao Quon yang termasuk Twenty Supreme Entities nantinya bakal menarik perhatian sosok – sosok berbahaya. Niat awal ingin menemui Medusa malah dapat berubah jadi perburuan terhadap Alchemist Bachelor.
Alasannya adalah di Dao Realm, kemunculan Qi kuat menandakan ancaman sehingga penghuni – penghuninya punya pandangan harus dilenyapkan secepatnya. Beda kasusnya kalau Lian hanya bersama Sheyan, dua anak Forging Qi tentu sulit mengusik para makhluk – makhluk Dao Realm bahkan cenderung diabaikan.
“Berarti kau dan Ayahmu pun begitu? Didatangi oleh mereka?”
“Eh? Tidak, malah agak mustahil berpapasan dengan beberapa”
“Kok begitu?” celetuk Yao Sheyan penasaran.
“Kayaknya....segan atau mungkin bisa dibilang takut”
Bing Lian mengingat ketika pertama kali membuat kontrak kemudian berkunjung ke Dao Realm, hampir semua menghindarinya akibat aura Demon sekitar tubuhnya berkat tumbuh besar dalam naungan Mao Peng. Kecuali seekor kambing kecil menjengkelkan yang selalu menghisap pipa tembaga.
Lian harus bertarung demi memperoleh kepercayaanya hingga Hao Ren sendiri ikut terkejut menyaksikan dirinya pulang ditemani Dao Beast tersebut, soalnya identitas aslinya ternyata cukup sentral. Yaitu salah satu pelopor terbentuknya hubungan antara Manusia dengan Beast dalam bentuk perjanjian sekaligus penguasa Dao Realm.
Mulai sejak pertemuan tadi Bing Lian melalang buana terus dikenal petinggi – petinggi Dao Relam dan mendapat izin khusus menjelalah di sana, sayangnya kebersamaan mereka tak bertahan lama karena keduanya dipisahkan maut. Butuh waktu lama sekali bagi Lian menjalin kerja sama lagi sesudah kehilanganya, tepatnya saat mengurus kelima Hewan Suci miliknya.
‘Mengapa kau menangis bocah bodoh?’
‘Apa salahnya sedih kehilangan seorang teman?’
‘Siapa bilang aku sudi berteman idiot? Aku ini....Tuanmu ingat? Hihihi....’
“Dasar kambing tua....semoga jiwamu beristirahat dengan tenang. Hehehe” Bing Lian berguman sendiri pelan kemudian menyebabkan Yao Sheyan memiringkan kepala sebab merasa pemuda itu mengatakan sesuatu.
><
Hari penentuan akhirnya tiba, Yao Sheyan walaupun telah mempersiapkan diri sebaik – baiknya tetap merasa tegang. Dia sedikit heran serta iri melihat Lian masih mampu memakan sarapannya tenang sementara perutnya mual tidak karuan, Bing Lian hanya mengangkat bahu bingung menerima tatapan sinis darinya.
KRAUS! KRAUS!
“Nyam...nyam...apa? Sebaiknya kau mengisi bahan bakarmu soalnya nanti di sana makanan tak cocok untuk Manusia”
Sheyan mendengus kesal kemudian menggigit sepotong kecil buah apel dan langsung mengakibatkan bulu kuduknya berdiri akibat kurang nyaman ditambah lidahnya terasa pahit sekali. Selesai kegiatan barusan ketiganya bergegas menuju tanah lapang luas, lokasi ini sengaja dipilih soalnya memadai sebagai tempat membuka gerbang.
“Tenanglah Tuan Muda, selagi bukan sosok sekuat Tuan Baixian pada kondisi puncaknya aku lumayan percaya diri menangulanginya sembari menjaga jalan pulang kalian” balas Yao Quon tersenyum santai.
“Aku mengerti, jangan sampai lengah ya?”
“Tentu....”
Selagi Lian bicara bersama Yao Quon, Sheyan meletakan Bubu dekat situ kemudian memintannya menunggu hingga mereka pulang. Yao Sheyan berjanji memberinya makanan daging enak setelah kembali, Bubu menggerak – gerakan ekornya senang mirip anak anjing patuh meski satu – satunya hal dia pahami dari kata – kata Tuannya cuma soal santapan lezat menantinya jika menjadi anak baik.
Walau pada akhirnya Bubu menunduk sedih ketika Yao Sheyan berbalik pergi sambil melambai ke arahnya, menyadari Bing Lian juga Sheyan sudah siap diposisinya Alchemist Bachelor memulai proses pembukaan sesuai instruksi Lian sebelumnya.
Ia melukai telapaknya lalu membentuk mantra tangan cepat nan rumit, sementara menunggu. Tau gadis disebelahnya tegang usai mendegar degup jantungnya Lian pun meggandengnya supaya tenang. Merasakan hangatnya cengkraman Bing Lian perlahan mengurangi gemetar Yao Sheyan, Yao Quon menuntaskan pekerajannya dengan menghentak keras tanah menggunakan tangannya.
Secara cepat garis merah yang merupakan darahnya menyebar membentuk formasi lingkaran besar berhiaskan huruf – huruf kuno mengelilingi kedua remaja tadi, begitu pelontarnya selesai Yao Quon buru – buru duduk bersila sembari menempelkan masing – masing lengannya demi menstabilkan Qi buatanya.
Perlahan garis – garisnya menyala terang mirip bintag di langit malam kemudian memembakan energi yang membelah udara atas kepala mereka. Nampak sobekan besar seperti mulut menganga muncul seolah meminta diIsi, Lian mengangguk puas menyaksikan kinerja Yao Quon. Bakatnya memang pantas dijuluki sebagai salah satu Twenty Supreme Entities.
“Bagaimana Nona Yao?”
GLEK!
“Itu....pintunya?” Sheyan bertanya balik pelan sekali layaknya cicit tikus menatap lubang hitam tanpa ujung tersebut.
“Benar, terlambat buat ragu sekarang. Aku memberimu kesempatan berpikir sebelumnya dan kau menyanggupinya bukan?”
“N..na...namun—“
“Baiklah, aku tau kau sudah tidak sabar lagi. Senior Yao kami berangkat!” seru Lian mengacungkan jempol.
“Dimengerti, hati – hati kalian berdua”
Yao Quon selanjutnya mengaktifkan formasi sebelumnya sehingga badan Bing Lian maupun Yao Sheyan perlahan bertranformasi jadi cahaya, sementara Lian tertawa gembira Sheyan kelihatan panik sekaligus mual sampai akhirnya mereka melesat menuju jalan masuk Dao Realm.
“Geronimo....!!! Wohooo...!!!
“KYAAAAA....!!!”
“Hehehe....semoga beruntung Pahlawan Bing, aku lupa membawa catatan perjalananku. Bubu? Dapatkah kau mengambil—eh? Kemana perginya makhluk itu?” Yao Quon bergumam heran sambil celingak – celinguk penasaran.
Ch.272 (375)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 103 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).