
Dia berhenti ketika hendak mendatangi Bing Lian lebih dekat akibat kesal, namun setelah dipikirkan baik – baik Yao Sheyan menyadari alasan Lian berkata demikian untuk kebaikannya. Dan bagaimana mungkin dirinya berangan – angan terlepas dari kebergantungan terhadap Bing Lian jika sesudah diberitahu masih ingin lebih.
Tindakan konyolnya nampak bagaikan seekor anak anjing menggigit tangan orang yang memberinya makan, diberi hati malah meminta jantung. Sheyan menunduk marah atas sikap kekanak – kanakannya, Bing Lian sebenarnya mempermudah tujuannya supaya dapat bebas memakai Petrified Gaze. Lian menghela napas panjang menonton perubahan emosi gadis remaja tersebut, seberbakat apapun Yao Sheyan tetap tak mengubah fakta ia merupakan Cultivator muda penuh kelabilan.
“Butuh masukan?”
“Hmm?” Sheyan mengangkat pandangannya linglung.
“Semisal tidak punya literasi buat belajar, gunakan kakekmu bodoh. Kau lupa ya? Bukankah kau cucu seorang jenius bernama Alchemist Bachelor?”
DEG!
Benar juga, ucapan Bing Lian serta gesturnya mengetuk pelipis membuka pandangan Sheyan. Ada secercah cahaya agar mampu mempelajari Archaic Word dan itu adalah Yao Quon, seharusnya dengan mempertimbangkan umur maupun kecerdasannya Medicince Pillar pasti bisa mengajarinya.
“Siapa yang kau panggil bodoh sialan....”
“Masih bertanya? Kalau gagal berkembang bersiaplah mendengarku menyebutmu demikian sepanjang hidupmu” balas Lian cuek.
Meski terkesan ketus keduanya tersenyum sebab saling memahami masing – masing, bagi Bing Lian sudah tiba waktunya pendekatan terhadap Sheyan berubah. Dia butuh kerja jauh lebih keras untuk mengejar pesaing – pesaingnya karena selama ini terkukurung di Granite Convert Sanctuary, menggemblengnya secara kasar menurut Lian merupakan metode paling efektif. Beberapa meter jauhnya Bing Lian mulai mendeteksi letak gerbang ciptaan Yao Quon berada.
><
Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Mingwang juga anak – anaknya, terakhir Bing Lian dipaksa berjanji bakal wajib mengabari si pari raksasa setiap mengunjungi Dao Realm. Selesai bayangan Mingwang makin jauh menghilang dalam gelapnya malam, Lian memimpin rombongan menuju tembok Qi tipis.
Bentukya agak berbeda dengan gerbang pada sisi seberang yang lebih mirip lubang di langit kemudian siapapun hendak pergi dilemparkan menuju ke sana, sementara pemandangan kali ini baru cocok disebut sebagai pintu. Yao Sheyan memperhatikan lokasi titik barusan lalu celingak – celinguk.
Sayangnya tidak menemukan tanda – tanda keberadaan pohon tempat monster kunang – kunang terakhir, bertambah besarlah tanda tanya dalam benaknya mengapa dapat terlempar begitu jauh dari di mana dia seharusnya keluar. Pantas saja Lian kewalahan mencarinya.
Yao Sheyan sesungguhnya semangat sekali mau cepat – cepat menemui kakeknya terus mengabarkan soal keberhasilannya mencabut kutukan Medusa bahkan mengambil alih kekuatan Dao Beast tersebut sepenuhnya, namun ketika mengingat sensasi memuakan teleportasi kemari perlahan Sheyan menjauhi tembok Qi tadi sedikit ragu.
“Kalian sedang apa? Ayo jangan malu – malu” celetuk Bing Lian menyentuh punggung Sheyan.
“Eh?”
“Hitungan ketiga ya....!? Satu....”
“T...tu...tunggu sebentar Lian!? Aku—“
“Dua....”
“Hiyyyy!?”
“Tiga! Lepas landas! Wohooo....!!!”
SREKKK....!!!
Bing Lian mendorong semua anggota kelompok memasuki gerbang serentak menggunakan cara licik menggeser tanah tempat mereka berpijak sembari berseru gembira sementara yang lain menjerit ngeri, tak menyangka akan menerobos begitu menyebabkan siapa saja gagal mengantisipasi perasaan mual berpindah dimensi.
Sheyan selaku orang terdepan paling mendertia, soalnya baru saja selesai menikmati terombang – ambing oleh portal dia harus menerima kenyataan pahit dihadapannya lalu menjerit kembali. Ternyata jalan masuk dirinya, Lian, maupun Bubu masih sama seperti saat ketiganya berangkat.
Sehingga sekarang masing – masing terjatuh kencang dari ketinggian hendak menghempas tanah Pos Kedua Granite Convert Sanctuary, buruknya lagi mustahil menghindar sebab terdapat sekitar tiga puluh individu keluar berbarengan serta berdesak – desakan melalui lubang kecil.
“Hahahaha....bersiaplah untuk tabrakan....!”
“Bu....!!!”
“Tidakkk.....!!!” Yao Sheyan memekik ngeri sambil merangkul Lian erat – erat.
“WOAAAAA....??!!”
Bing Lian menangkapnya terus menambah lajunya supaya lebih depan, berbekal kemahiran dalam pengendalian sihir. Pemuda berambut putih itu menciptakan seluncuran es raksasa agar setiap anggota rombongan tak terluka, terakhir dia mengeluarkan kain misterius berungsi layaknya trampolin untuk titik mendarat dari Galaxy Ring miliknya. Satu – satunya selamat tanpa bantuanya hanyalah Bubu karena Demonic Beast mungil tersebut langsung terbang menggunakan sayapnya.
“Aduh....”
“Mmm?”
“Hahahaha....bukankah tadi sangat menyenangkan Sheyan?” tanya Lian melihatnya sudah membuka mata usai mendengar bunyi pantulan.
“APA KAU BILANG!? BIAR KUBERITAHU YA LAKI – LAKI SINTING!”
“Ah....bisakah setidaknya kau turun dulu, kakiku kewalahan menopang—“
“Maksudmu aku berat sialan!?” Sheyan makin naik pitam dan menarik kerah jubahnya kesal.
“Sebentar....jangan berontak atau kita bakal jatuh!
“Tidak akan jika aku membantingmu dahulu!”
“Eh? Ada hal aneh”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Bukan begitu....hanya saja kemana perginya Senior Yao? Harusnya ia selalu berjaga di sinikan?” gumam Bing Lian serius menunjuk lokasi terakhir mereka berdua melihat Alchemist Bacelor duduk bersila.
“Hah?”
><
Bing Lian memberikan sebuah Spirit Tool berbentuk tenda berjumlah lima kepada Kirka dan teman – temannya, mereka diminta mendirikan semuanya sekitar gubuk milik Yao Sheyan sementara keduanya mencari Yao Quon ke Pos Ketiga Granite Convert Sanctuary atau bisa juga disebut puncak Adamantine Peak.
Masing – masing melongo takjub atas pemberian Lian, soalnya meski ukuran luar nampak biasa – biasa saja sehingga kebanyakan berpikir harus mengizinkan para gadis beristirahat di sana. Ternyata sewaktu dibuka, bagian dalam benda itu cukup luas untuk diisi lima sampai tujuh orang.
Terlebih udara segar berkat melimpahnya Magic Plant serta Spirit Herb makin menambah antusiasme kelompok tersebut. Bing Lian, Yao Sheyan, ditambah Bubu segera menuju lift hendak naik menuju tingkat berikutnya walau sebenarnya sangat kelelahan.
Perasaan letih ini bahkan menyebabkan Sheyan terkantuk – kantuk sampai membutuhkan bantuan mengaktifkan sihir pilar dihadapannya. Tetapi dia memaksakan diri karena cemas terhadap kakeknya, selagi Yao Sheyan bersama Bubu menguap. Lian sendiri penasaran sejauh mana perubahan terjadi pada permukaan tertinggi Benua Huawai itu usai ditinggali Yao Quon.
‘Apakah masih sama seperti ingatanku?’
Berdasarkan memorinya Lian membayangkan tanaman – tanaman langka yang mampu bertahan di segala medan dan sumber mata air istimewa dengan kandungan Qi luar biasa hingga tidak membeku oleh dinginnya udara. Selain hal tadi, Bing Lian memikirkan kira – kira apa penyebab Yao Quon melanggar perintahnya menjaga pintu gerbang.
Ia bukan tipe mudah melawan arahan terutama dari orang dihormati layaknya Lian, pasti terjadi sesuatu cukup mendesak sampai memaksanya meninggalkan posnya. Begitu pintu terbuka ternyata punggung Yao Quon telah siap menyambut ketiganya, melihatnya Sheyan maupun Bubu bersemangat kembali terus memanggilnya.
“Bu!”
“Kakek!? Kami pulang! Hahaha”
“Senior Yao? Kena—“
Pertanyaan Bing Lian terhenti, akhirnya saat keluar dia menyadarinya. Sebelumnya waktu masih di bawah ia gagal mendeteksi keadaan akibat Pos Kedua mempunyai atap, namun sekarang begitu menatap langit secara langsung kepingan terakhir dalam benaknya sudah lengkap. Yao Sheyan memiringkan kepala bingung Alchemist Bachelor tak merespon panggilannya.
Selesai mendongak barulah mata Sheyan terpaku, matahari mempunyai kobaran unik mengitari sekelilingnya hingga membentuk semacam sayap serta ekor menyala terang bagaikan burung terbakar. Menakjubkannya lagi, awan langit berubah hitam kemudian bersatu padu menciptakan naga raksasa yang meraung seolah menantang sang sumber kehidupan.
“Jadi ini alasannya rupanya? Fenomena Alam tumpang tindih....” Lian tersenyum dengan ekspresi tertarik.
Ch.297 (406)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 109 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).