The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 289 - Requisite



Seluruh jenderal Medusa secara tanpa sadar segera mundur satu langkah seiring mendekatnya Bing Lian, mereka cukup pintar tak mencari masalah dengan orang berbahaya tersebut setelah melihat bagaimana nasib Yercizath beberapa saat lalu. Dan ini jelas merupakan pembangkangan langsung terhadap perintah Medusa.


“Dasar tidak berguna....! Kalian cari mati hah!?”


Medusa membentak semuanya kesal sembari mengancam siapapun menolak arahannya bakal mati di tangannya, dia menggapai leher salah seorang hingga membiru untuk menunjukkan jika dirinya bersungguh – sungguh. Terjadilah dilema dalam hati masing – masing, namun sejujurnya kebanyakan lebih memilih tewas jadi batu atau tecekik ketimbang terbakar api putih misterius Lian sebelumnya.



Keringat dingin mulai membasahi sisik – sisik Medusa, ia tau sumber masalahnya terletak pada trauma efek kemunculan White Flame makanya para bawahannya sangat ketakutan. Sadar hanya merugi jika membunuh pengikutnya, Medusa melemparkan wanita tadi sampai menabrak tembok juga terbatuk – batuk hampir kehabisan napas.


Dia akhirnya bangkit seutuhnya terus mengeluarkan pedang pusaka yang menghiasi keenam lengannya, wujud Medusa begitu mengintimidasi. Tingginya sekitar sepuluh meter disertai bagian bawah badan berupa reptil melata panjang, ujung ekornya mengeluarkan bunyi derik menghanyutkan.


Biasanya siapa saja pernah mendengar alunan ini cuma akan mengingat kilatan sisik berwarna hijau kemudian kehilangan nyawa mereka tanpa sempat bereaksi, sementara ukuran musuhnya sendiri tidak mencapai pinggangnya. Tapi anehnya kelihatan sangat tenang meski dihadapannya ada monster setengah ular haus darah.


“Baiklah, nampaknya tak ada pilihan selain aku yang mengurusnya. Maka dari itu buatlah diri kalian berguna dengan menangani penyusup – penyusup tersisa, mengerti!” bentak Medusa mengerling gusar.


Melihat secercah harapan sekaligus jalan keluar kebuntuan masing – masing, jenderal – jenderal Medusa segera mengepung tempat Yao Sheyan, Kirka, dan Bubu berada. Semuanya jauh lebih memilih terkena Purple Flame si gadis dari pada terbakar White Flame pemuda berambut putih serta dihabisi brutal oleh sang puan.


Ketiga target sigap mengambil posisi tempur terutama Sheyan, api keunguan sekali lagi perlahan melapisi telapaknya siap menyambut serangan melalui berbagai arah. Awalnya ia hendak menyuruh Kirka mundur sembari menyerahkan Unseen Robe agar mantan pelayan Medusa itu dapat berlindung.


Tetapi Kirka menolak mentah – mentah usulan Yao Sheyan lalu malah berdiri tepat disebelahnya, menjadi seorang abdi Dao Beast kuat selama bertahun – tahun bukan berarti dirinya tidak memiliki kemampuan bertarung. Kirka memutuskan menemani Yao Sheyan untuk menghadapi mantan rekan – rekannya.


Muncul keraguan antara mereka saat mengetahui Kirka ikut membantu soalnya beberapa mengetahui kemampuannya tak boleh diremehkan. Medusa banyak mengajarinya teknik mengingat sebelumnya ia disematkan julukan bawahan terloyal pemilik utama Petrified Gaze tersebut.


Bubu juga kelihatan antusias, walau kecil dia tetaplah seekor Demonic Beast yang menyayangi tuannya. Ketika merasakan ancaman Bubu meregangkan ototnya sehingga kuku – kukunya memanjang, cukup dengan kilauannya saja siapapun dapat memahami betapa tajamnya anggota tubuh makhluk berbulu mirip unggas itu sampai – sampai sekilas lupa akan wujud menggemaskannya.


><


“Nampaknya rencana licikmu di belakang sana bakal sulit terlaksana ya?” Lian berkomentar santai.


“Tutup mulutmu manusia hina! Aku masih belum percaya omong kosongmu tentang Ice Emperor!”


“Hadeh....”


Bing Lian menggaruk – garuk pipinya bingung bagaimana harus merespon ucapan barusan, meski telah diperingati maupun merasakan sendiri aura mengerikan pria di hadapannya Medusa bersikeras menolak pengakuan identitas Lian atas dasar informasi dunia nyata.


Jika betul Ice Emperor bertahan hidup mustahil organisasi sekelas Noble Treasure Shed atau Emperors Alliance Sect tidak bergerak, bahkan Black Dragon King dari Southern Thousand Island juga kelihatan anteng – anteng saja padahal keduanya terkenal sebagai sahabat dekat ratusan tahun lalu.


“Biar kubongkar kebohonganmu sekarang tikus kecil! Six Head Pounce....!”


Medusa mengayunkan keenam lengannya serentak usai memainkan senjatanya agar merusak konsentrasi lawan, menyerang melalui arah berbeda secara berbarengan diharapkan membuat korban telat bereaksi sebab biasanya akan timbul kepanikan ketika seseorang dihadapkan dalam situasi berbahaya layaknya demikian.


Ia tersenyum penuh kemenangan karena berpikir bulu Phoenix sebelumnya benar – benar cuma sekedar gertakan, kelihatannya bocah itu memakai simpanan terakhirnya sehingga mustahil mengeluarkan White Flame lagi. Sejujurnya berkat barang tersebut Medusa mulai memperhitungkan kalau sebenarnya musuhnya sungguh ada kaitannya dengan Ice Emperor, terlebih dia juga mengetahui soal nama aslinya. Tetapi hanya sebatas kenalan semata.


TRANG!!!


“Apa?!”


Medusa terkesiap kaget Lian berhasil meghentikan jurusnya tanpa kesulitan berarti, ujung pedang Bing Lian sukses menutup jalur gerak Six Head Pounce. Medusa berusaha mendorong sekuat tenaga sayangnya tak membuahkan hasil, tangan keduanya gemetar dalam posisi terkunci satu sama lain.


Ini hal cukup mengejutkan bagi Medusa soalnya terdapat perbedaan praktik teramat jauh antara mereka, jadi sangat memalukan menurutnya ditahan oleh anak Forging Qi atau paling banter tahap awal Foundation Realm begitu mudahnya.



Medusa harus akui senjata Lian cukup berkualitas sampai bisa meladeni kerasnya enam pusaka kembar miliknya pribadi, Bing Lian memejamkan matanya sambil tersenyum lalu menyeletuk pelan. “Medusa? Sepertinya kau terlalu jauh terikat dengan dunia nyata sampai lupa dari mana dirimu berasal, sekarang kutanya baik – baik. Apakah kau pernah melihat para petinggi mengucapkan salam perpisahan atau pemakaman bagiku?”.


DEG!


“HAAAAAAAA......!!!”


Medusa mengeluarkan teriakan layaknya orang gila terus menyerang secara membabi buta menghancurkan area sekitarnya. Gerakannya gesit hingga menyebabkan sekilas pertarungan keduanya terlihat sekelebat berupa desiran angin ditambah percikan api ketika pedang masing – masing beradu.


Perkataan Lian tadi sukses memberikan tekanan mental terhadap Medusa, benar meski sudah ratusan tahun ia sama sekali tidak pernah menemukan petinggi – petinggi Dao Realm menangisi kematian Bing Lian padahal dia merupakan salah satu manusia paling dihormati di sana.


Medusa kian frustrasi akibat belum satupun tebasanya mendarat pada kulit pemuda itu, sementara Lian sendiri tertawa – tawa senang membelokan sekaligus menghindari setiap ayunan musuhnya. Lama kelamaan karena dampak duel mereka terlampau luas malah memaksa ruang gerak orang – orang sekitar bertambah sempit.


“Hah....hah....hah....!”


“Ada apa? Kau lelah?”


“BIADAB....!!!” umpatnya kesal kembali menerkam.


“Hahaha....ayolah....kita tau keahlianmu bukan dalam kemampuan berpedang”


“Memang!”


Tiba – tiba Medusa mengubah posisi yang semula hendak menebas malah menjerat Bing Lian berbekal ekor miliknya, ia menarik Lian mendekatinya dan memegangi kuat pundak serta kepalanya. Mata Medusa menyala terang mengeluarkan cahaya ungu siap menyoroti sinar pembatu kepada bocah tengik tersebut.


“Bu!?”


“LIAN!?” Sheyan memanggil panik.


“Hehehehe.....sekarang kena kau!”


“Kau lupa ya? Peraturan pertama pengaktifan kutukan Petirified Gaze adalah membuat kontak mata. Harusnya kau malu diingatkan oleh targetmu tau....hihihi”


“Kalau demikian—“


SRAT!


“Lamban” ujar Bing Lian berhasil lepas usai menyayat ekor bersisik Medusa masih sambil terpejam supaya menangkal rencana lawannya.


Ch.289 (395)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 106 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).