
Perjalanan praktik Yao Quon terbilang mulus, dia bahkan berhasil membentuk Heaven Foundation padahal termasuk orang yang terlambat memulai kulitivasi. Biasanya jika sudah berusia di atas sepuluh tahun baru mempelajari ilmu Cultivator akan sukar memperoleh hasil maksimal, namun berkat bakatnya Yao Quon mampu mencapai tingkatan tertinggi Foundation Realm tersebut bahkan sebelum gurunya meninggal.
Dalam prosesnya ini Yao Quon tersadar jika semua arahan Bing Lian selama mereka menjadi tabib magang menemani Gao Xuegang selama kurang lebih enam bulan benar – benar berpengaruh besar. Gao Xuegang sendiri heran akan kecepatan menyerap penjelasan Yao Quon, seolah bocah itu pernah mempelajarinya dahulu dan tinggal mempraktikannya saja sesuai perintahnya.
Karena hal tadi rasa bersalah Yao Quon semakin tumbuh mengingat dirinya sempat berpikir buruk mengenai Lian, seiring berjalannya waktu dia mulai menganggap Bing Lian sebagai guru keduanya walau secara tak resmi disebabkan segala jasa si pemuda berambut putih kepadanya. Wawasan Yao Quon perlahan meluas mengenai dunia Cultivator, begitu mendapat penjelasannya gurunya Yao Quon hampir muntah darah medengar betapa pentingnya posisi Lian.
Meski tentu sudah menduga, dia tidak menyangka kalau Bing Lian orang teramat penting. Ketika Yao Quon awal berlatih, Lian bersama saudara – saudaranya berada pada puncak Forging Qi bahkan beberapa telah membentuk Heaven Foundation. Hebatnya lagi mereka bersepuluh merupakan murid manusia paling kuat menurut Gao Xuegang di Benua Huawai serta pengisi garda terdepan dalam pertempuran menghadapi bangsa Demon.
Usai mengetahuinya Yao Quon mempunyai mimpi bisa bersanding menemani sosok – sosok hebat tersebut makanya sangat termotivasi juga antusias menjalani latihan keras pemberian Gao Xuegang. Cukup puas menyaksikan keberhasilan anak murid tidak disangka – sangka miliknya dan mulai berpikir jika keduanya memang berjodoh, Gao Xuegang menyampaikan pesan – pesan untuk Yao Quon mendekati akhir hayatnya.
Pertama, selepas memberinya pemakaman layak. Yao Quon harus menunggu setahun penuh apakah ada orang datang mencari keberadaanya karena sebenarnya sudah cukup lama Gao Xuegang memutuskan hubungan dengan dunia luar kecuali terhadap Seniornya yaitu Mask Sage, misal hal ini tak terjadi maka Yao Quon bebas melakukan apapun sesuka hatinya.
Kedua Gao Xuegang menyerahkan sebuah lentera, sewaktu benda tadi mengeluarkan cahaya sekaligus menunjukan titik tertentu karena dapat mengeluarkan gambaran peta menghiasinya. Yao Quon wajib datang ke sana membantu pihak yang memanggil menggunakan alat itu.
“Aku mengerti Guru, namun sebagai gantinya bolehkah aku mengajukan satu permintaan?” Yao Quon menganggukan kepala sendu.
“Uhuk! Uhuk! Katakan saja, selagi masih dalam kemampuanku pasti kupenuhi. Tapi maaf mungkin mengenai harta aku sedikit buruk akibat kecanduan berjudi waktu muda”
“Kalau bisa....tolong bertahanlah sebentar lagi lalu lihat aku mencapai tingkat Pill Grandmaster”
“Hehehe....uhuk! Bocah sial....kau tau kesempatanku tersisa enam bulan bukan? Mengapa kau malah membicarakan omong kosong demikian?” balas Gao Xuegang terkekeh lemah.
Pill Grandamaster sendiri adalah tahapan terakhir seorang Alchemist yang menunjukan dia menguasai sekitar lima ribu resep pil maupun mampu membuat Heaven Pill, yaitu obat dengan tingkat kerumitan luar biasa entah dari bahan atau proses pemasakannya. Menurut Gao Xuegang selaku satu – satunya Pill Grandmaster di Benua Huawai muridnya mustahil menembus tingkatan tersebut, bukan karena Yao Quon tak memiliki kapabilitas melakukannya tapi sisa umurnya pribadi terlalu mepet.
Tiga bulan berselang, Yao Quon membuktikan perkatannya. Dia bahkan menciptakan Heaven Pill berkualitas Superior-Grade di mana berarti khasiatnya bisa diserap sebesar sembilan puluh persen dan mengandung kadar racun amat sedikit. Sehingga akhirnya Gao Xuegang menghembuskan napas terakhirnya sembari tersenyum lebar, selepas menguburkan gurunya Yao Quon meneteskan air mata sebab kehilangan sosok panutan begitu perduli kepadanya mungkin melebihi ayah di kampung halamannya.
“Hiks....apa gunanya menjadi Alchemist hebat...? Ugh....jika akhirnya tetap tidak bisa berbuat apa – apa demi menyelamatkan orang terkasihnya....” isaknya berlutut diguyur oleh hujan lebat.
><
Sesuai wasiat Gao Xuegang, Yao Quon menetap selama setahun sekitar pemakaman milik sang guru yang diketahui beberapa kenalannya sebagai kediaman tersembunyinya. Tetapi sampai akhir tidak ada satupun muncul mencarinya sehingga kabar kematian Gao Xuegang hanya disimpan sendirian oleh Yao Quon.
Suatu ketika Yao Quon melewati sebuah hutan lalu dikepung segerombolan perampok, melihat tangkapan potensial itu mereka tak dapat menahan diri. Walau kelihatan cuma tabib keliling, penampilan Yao Quon bersih sehingga nampak bagaikan sosok pantas buat diambil harta bendanya.
“Hmm?”
Yao Quon menghentikan langkahnya sembari mengangkat sedikit topi lebar yang menghiasi kepalanya, ekspresinya tetap tenang meski setiap individu di sana membawa berbagai senjata layaknya pisau, golok, juga pedang. Tanpa terasa dia terkekeh geli kalau mengingat betapa lemahnya ia beberapa tahun sebelumnya terus diselamatkan oleh Bing Lian kurang lebih pada situasi serupa.
Menganggap sudah diremehkan, kelompok bandit tadi maju menikamnya serentak. Gerakan masing – masing sangat lambat menurut pandangan Yao Quon, pesan Gao Xuegang sewaktu ditanya mengapa ahli pengobatan mempelajari teknik bertarung perlahan terlintas kembali dalam benaknya.
‘Untuk melindungi diri tentunya, dan terkadang mencegah itu lebih baik ketimbang mengobati bukan? Ingatlah baik – baik Quon....’
Sehabis tersenyum Yao Quon melemparkan topinya, secara ajaib barang tersebut berputar melesat mengelilinginya dilapisi Qi campuran elemen angin maupun besi. Selesai satu putaran Yao Quon menangkapnya kemudian memasangnya lagi sambil lanjut berjalan, sekitar sepuluh langkah berselang kepala mereka terlepas dari lehernya sekaligus memancurkan darah teramat banyak.
Melihat seorang perampok menggunakan pakaian khas Weadalia Empire, Yao Quon akhirnya memutuskan berkunjung ke tempat penuh kenangan itu tapi sekarang dalam keadaan sungguh berbeda. Bukan hanya manusia, Yao Quon pun sesekali menghabisi para Demon saat kebetulan berpapasan dengannya.
Sesampainya di Weadalia Empire Yao Quon mengikuti tes sarjana kembali, ternyata pada prosesnya terdapat beberapa kenalan yang seangkatan bersamanya dulu telah menjadi penguji. Masing – masing mengenalinya terus berniat membodohinya, sayangnya kali ini situasinya tak sama.
Berbekal segala kemampuan barunya Yao Quon berhasil terpilih sebagai lulusan terbaik walau dihalangi menggunakan berbagai macam cara mulai hal sepele hingga keji. Namun Yao Quon mulus melewatinya tanpa lecet sedikitpun, setahun bekerja dia ditunjuk menjabat penasehat sekaligus tabib kerajaan oleh Raja akibat kinerja luar biasanya.
Kabar barusan cukup mencengangkan sebab dengan demikian Yao Quon adalah orang luar Weadalia Empire pertama yang memegang dua jabatan penting pada satu waktu, tapi dia menolaknya sopan sambil memberi wejangan kepada pemimpinnya kalau negeri itu masih mempunyai sikap rasialisme mustahil mereka bakal maju. Maka sejak perkataanya stigma buruk Weadalia Empire terhadap pendatang asing sirna selama – lamanya menyaksikan kehebatan sang Alchemsit Bachelor.
Puas memberikan perubahan baik di lokasi tersebut, Yao Quon hendak berkelana mencari tujuan baru tetapi sebelum meninggalkan Weadalia Empire kabar tewasnya Mask Sage beredar kemana – mana dan memberikan perasaan mencekam mengingat dia merupakan poros utama perlawanan menghadapi Demon. Akhirnya Yao Quon memutuskan menetap sebentar demi mengumpulkan informasi sampai suatu hari tiba – tiba lentera peninggalan gurunya menyala terang.
Ch.258 (351)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 93 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).