The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 245 - Up to Date



Setelah cukup lama tinggal bersama, Lian mengetahui dari penjelasan Sheyan jika Granite Convert Sanctuary terdiri atas tiga tingkat mulai lantai terendah, menengah, hingga paling tinggi. Kualitas tanaman dan Demonic Beast tiap lokasi meningkat seiring menanjak posisinya, meski demikian menurut Bing Lian pribadi kediaman Yao Sheyan tidak memiliki ancaman berbahaya di sekitarnya.


Yao Quon sang Alchemist Bachelor sendiri tentu menempati Granite Convert Santuary teratas yang ditumbuhi banyak Spirit Herb maupun Magical Plant luar biasa berumur ratusan tahun, kurang lebih begitulah kesimpulan Lian usai mendengar cerita – cerita Sheyan kepadanya. Bing Lian sempat memikirkan kemungkinan kalau sarang Demonic King Beast elang menyebalkan itu juga pasti dekat – dekat sana.


Jaraknya pun beragam, kaki Adamantine Peak dengan lantai terendah terpisah hampir dua ribu kilometer. Dilanjutkan tiga ribu kilometer menuju menengah, sampai terakhir lima ribu kilometer untuk mencapai puncak, jika seluruhnya dihitung maka ketinggian total Adamantine Peak berada pada kisaran sepuluh ribu kilometer dari permukaan.


‘Aku tak pernah menghitungnya dulu, namun sekarang aku mengerti mengapa dapat berkutat mati – matian demi memanjat gunung terkutuk ini. Wajar Guru melarangku melanjutkannya padahal telah setengah jalan ketika pertama kali melakukannya’


Batin Lian membayangkan dirinya saat masih Forging Qi nekat berlatih memenuhi ekspektasi Mask Sage tetapi malah ditegur. Tiga hari berlalu sejak pertemuan mereka, Lian memilih tidur sementara di gudang penyimpanan Sheyan yaitu lokasi dia bangun sehabis diselamatkan, terkadang Bubu datang menemaninya.



Ia makin menyayangi binatang kecil tersebut begitu diberitahu oleh Yao Sheyan kalau Bubu yang membawanya terbang setelah mereka menemukannya, Lian memutuskan berlatih selagi menunggu kepulangan Alchemist Bachelor. Karena mampu memakai Qi kembali Bing Lian mulai menghubungi kenalan – kenalannya dengan mengirimkan pesan berbekal salah satu koleksi miliknya.


Sheyan dan Bubu bertukar pandang suatu pagi menyaksikan Bing Lian mengeluarkan beberapa lembar kertas campuran warna hitam putih sehingga membentuk corak mirip zebra, Lian melipat – lipatnya cekatan hingga membentuk bangau kemudian menanamkan isi kepalanya.


Benda itu kebetulan adalah ciptaan Bing Lian hasil modifikasinya terhadap Tallisman, dia menyebutnya Heron Invincible Messanger. Penasaran, Yao Sheyan hendak mencari tau apa sebenarnya barang tadi. Namun pertanyaan miliknya segera terjawab usai Bing Lian melemparkannya ke udara.



Seketika masing – masing mengepakan sayap lalu berubah menjadi seekor bangau, Bubu kegirangan terus coba mengejar mereka. Waktu baru bergerak sekitar satu kilometer semuanya perlahan tembus pandang bak lenyap tertelan bumi, Bubu terjatuh sebelum sempat menangkap mainan menarik baginya itu. Si burung mungil menoleh ke sana kemari sedih tersadar jika seluruhnya menghilang tanpa bekas.


Yao Sheyan cukup terkesan serta masih penuh rasa ingin tau terutama sebab baru pertama kali melihat sesuatu seperti barusan sampai meminta deksripsi detailnya kepada pemuda tersebut. Lian mengatakan Heron Invicible Messanger dia pakai buat berkomunikasi secara lebih efektif, kemampuan kamuflasenya pun membantu meminimalisir peluang disadap oleh orang – orang tidak bertanggung jawab.


“Lalu kau membubuhkan pesan menggunakan cara apa? Mustahil tulisan bukan? Mengingat ukurannya kecil sekali”


“Aku menanamkan dalam bentuk pikiran, kurang lebih mekanismenya hampir sama seperti telepati. Bedanya aku dapat mengirimkannya tanpa terbatas jarak maupun waktu”


“Hebat....kau membeli ini di Noble Treasure Shed?” Sheyan mengambil selembar lalu memutar – mutarnya.


“Mmm....? Kenapa kau tidak mencoba mencarinya saja ke sana semisal mampir pada kesempatan berikutnya?”


Yao Sheyan berdecak kemudian mengembungkan pipi kesal mendengar jawaban ambigu begitu sehingga memutuskan melupakannya, selang dua hari Lian dikejutkan oleh kepulangan Heron Invincible Messanger miliknya. Anehnya waktunya berdekatan sekali.


Mereka membawa balasan berupa surat, Bing Lian mencari yang bertuliskan nama Yin Nuan sang Old Matriach White Crow Sect tetapi menghindari tiga buah nampak tebal bahkan bertuliskan tinta merah dengan tertanda pengirim Lu Xiulan, Yin Kiew, dan Jin Chyou. Ada juga kiriman Yin Wuya, Yin Jiang, bahkan Tan Minjie pun ikut tersusun rapi.


Lian menelan ludah berat kemudian bersiul sembari berpura – pura tak melihat pesan para gadis, sehabis membuka balasan Yin Nuan dia menaikan sebelah alisnya kemudian tersenyum. Yin Nuan mengucapkan syukur Bing Lian telah mencapai kediaman Yao Quon sekaligus berterima kasih atas kerja kerasnya.


Yin Nuan berharap Lian tidak keberatan menunggu kepulangan Alchemist Bachelor, tapi bukan itulah penyebab dirinya senang melainkan informasi jika Lu Xiulan maupun Tan Minjie ternyata sudah berhasil menjadi Cultivator Foundation Realm, walau cuma berhasil membentuk Earth Foundation. Menurut Bing Lian hal barusan adalah prestasi tersendiri mengingat keduanya bukan berasal dari keluarga Cultivator.


Sekalipun mereka berbakat, terkadang sumber daya berpengaruh besar sebagai pembeda. Yin Kiew sendiri makin mantab mengikuti ujian kenaikan tingkat, motivasinya kian bertambah besar akibat pencapaian junior - juniornya. Lian menoleh ke surat – surat tersisa penasaran, namun segera mengurungkan niatnya menyadari tulisan merah horor mirip darah milik ketiga anak perempuan tersebut.


Membayangkan harus membaca isi panjang lebar dengan kebanyakan omelan saja cukup menyebabkan kepalanya pening, Lian lanjut memeriksa surat Patriach dan Grand Elder sektenya yang menanyakan kabar maupun menyemangatinya bertugas.


><


“Du....dudududu...dududu....mmm.....mmmm....”


SRAK!


Langkah Bing Lian terhenti mendadak akibat mendengar senandung familiar mencapai telinganya, sekalipun merdu dan indah entah mengapa bulu kuduknya berdiri. Persis layaknya di malam pertama kali dia mendengarnya, berhenti mengeringkan rambutnya sehabis mandi Lian mencari sumber datangnya suara barusan.


Tidak membutuhkan waktu lama baginya menemukan Sheyan di kebunnya memotong beberapa ranting pohon terus menanam benih – benih baru pada tanah sambil masih asyik menyanyi, Bubu menguap dekat situ namun langsung berdiri merasakan kehadiran Lian.


““Du....dudududu...dududu....hmm? Apa? Kau perlu sesuatu?”


“Kau....jadi kau yang melakukannya?” ujar Bing Lian heran mengerjap berkali – kali.


“Apa maksudmu? Bicara lebih jelas”


“Aku pernah mendengarnya”


“Hah? Laguku?”


“Iya, saat memanjat Adamantine Peak”


“Mustahil....kau pasti mengkhayal, mana bisa. Jaraknya terlampau jauh, sekarang kau mau diam di sana menontonku bekerja atau mendekat supaya semua ini lebih cepat selesai?”


“Tidak tidak tidak, aku yakin sekali itu kau. Aku berani bertaruh cuma dirimu yang mengeluarkan senandung tanpa makna begitu”


“Kau sebenarnya mendatangiku untuk memuji suaraku atau mengajak berkelahi sih?” Yao Sheyan menatapnya dengan urat pelipis berkedut kesal.


Bubu menatap keduanya silih berganti sebelum menghilang entah kemana menghindari perselisihan antara mereka, waktu tidur siangnya bisa terganggu jika harus mengikuti perdebatan Bing Lian melawan Sheyan. Malam harinya Lian masih penasaran mengapa bisa mendengar nyanyian Yao Sheyan beberapa waktu lalu, sayangnya belum ada jawaban masuk akal bagaimana semuanya dapat terjadi. Setidaknya demikianlah menurut pedanpatnya.


Special Ramadhan Up (25/30)


Ch.245 (330)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 85 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).