
Mendengar namanya dipanggil serta merasakan penyusup memasuki kesadarannya, Shiva membuka mata sudah bersiap menyerang mental siapapun orang yang cukup bodoh berani memegang dirinya. Saat baru saja hendak memberontak tiba – tiba rantai sekitarnya berhenti menegang, ia membelalak menemukan pria familiar di hadapannya.
“Bing Lian....? Tidak....Netroq? Apa – apaan ini?”
Shiva memiringkan kepala heran, mustahil baginya salah mengidentifikasi sosok tersebut adalah Ice Emperor. Tetapi sensasi kegelapan pekat menyelimuti tubuhnya dan tekanan kuat barusan jelas – jelas mengingatkannya dengan Demon King, sebuah kekuasaan absolut milik sang penguasa malam.
Kilas balik cepat mengenai pertemuan pertama mereka menyebabkan Shiva bergidik pelan, dia mengingatnya seolah kejadianya baru terjadi kemarin. Saat seorang Demon muda cukup angkuh berani mencurinya dari pemilik sebelumnya terus menjelma sebagai Tuan ke sembilan ratus sembilan puluh delapan dirinya.
Sewaktu berhadapan langsung Netroq menghampirinya cuek lalu mengajaknya bicara tanpa terganggu sama sekali akan upaya Shiva menghisap Qi juga mengambil alih kendali tubuhnya. Makanya Shiva segera paham jika Netroq memiliki suatu potensi hebat yang membuatnya tak mungkin mampu menembus pertahanan alam bawah sadarnya sekeras apapun mencoba.
“Namamu Shiva bukan?”
“Siapa kau sebenarnya?”
“Ahh...nampaknya bahkan sebuah pedang berakal tidak memahami konsep tanya jawab rupanya”
“Apa kau bilang!?”
“Nee....? Pak tua ini berkata kau sulit dijinakan tapi di mataku kau cuma seorang gadis kelaparan, bagaimana kalau kau ikut bersamaku? Aku berjanji kau bakal makan enak setiap hari....hehehe”
Senyuman ditambah tawa jahat itu menyebabkan Shiva terkesima, selama hidup sebagai Demon ataupun setelah dijadikan senjata. Kesempatan tadi adalah pertama kalinya ia terpesona oleh seseorang sampai bersedia secara suka rela patuh mengikuti perintahnya, selesai sepakat Netroq melepaskan belengu rantai pengikat Shiva kemudian menjadikannya pedang favoritnya.
Bersama keduanya bertransformasi menjadi mimpi buruk untuk lawan – lawannya entah Demon, Manusia, atau ras – ras lainnya tak ada pernah membuat kombinasi ini gentar. Dalam waktu sebentar satu per satu benua mulai ditaklukan lalu munculah pengikut – pengikut setia baru sampai membentuk suku Demon paling mengerikan yang bangsanya sendiri berusaha menjauhinya. Shiva merupakan seorang saksi hidup atas sebuah kisah lahirnya sang Pangeran Kegelapan.
><
“Shiva?”
“I...iy...iya? Apa maumu?” bentaknya agak terbata – terbata menanggapi panggilan pemuda berambut putih itu.
“Pinjamkan aku kekuatanmu”
“B...ba...baik....”
Sahutnya pelan sebelum meraih juluran tangan Bing Lian, seketika rantai pada tubuhnya melebur usai membagi Qi miliknya dengan Lian. Meski kesadarannya menolak keras, perasaan familiar akan keberadaan jantung Mao Peng menyebabkan ia tidak bisa menolak.
“Akh....!? N...Nas...Nascent Soul?”
Baixian mengalami kesulitan bernapas ketika secara perlahan Hawa Jahat Continental Eater merembes usai dipegang oleh Bing Lian. Untungnya Night Raven Cloak langsung aktif menyerapnya agar tetap cuma berdampak dalam ruangan tempat mereka berada, disitulah Baixian tersadar jubah hitam baru Lian juga nampaknya cukup istimewa dan merupakan alasan utama kenapa orang – orang tak mendeteksi energi ras Demon berbahaya ini.
Mata Baixian melebar ngeri karena praktik Bing Lian sekarang benar – benar kabur, dia seolah menempati perbatasan antara puncak Core Formatioan serta awal Nascent Soul. Sulit dibayangkan semisal berhasil membentuk Immortal Foundation lalu Lian memasuki mode tersebut akan seperti apa praktiknya kelak.
Bing Lian sendiri tentu merasakan lonjakan abnormal kultivasinya sehingga cuma selang beberapa detik dia melepaskan genggaman terhadap Shiva. Wanita itu segera tertarik mundur dan terantai lagi selesai Lian menghentikan kontak dengannya, sebelum sempat berteriak murka akibat Bing Lian keluar dari mode Demon tadi.
Lian sigap memasukan kembali Continental Eater menuju Galaxy Ring, menarik napas panjang lalu balik ke posisi duduknya. Mengabaikan Baixian yang masih terengah – engah sembari merangkak di lantai, si naga menggeleng – gelengkan kepala tidak habis pikir bagaimana Tuannya dapat bertukar sesuka hatinya amat mudah juga kelihatan santai menanggapi semuanya.
“Hebat sih namun bebannya berat sekali....”
“Bisakah kau tak bicara seolah kejadian tadi bukanlah apa – apa?! Hah....hah....hah”
“Akukan telah memberitahumu kalau hanya ingin mengetesnya saja, aku tidak berencana memakainya terus menerus sebab risikonya terlalu besar”
“Ugh....terserah kaulah, masih syukur kau masih hidup Tuan bodoh” celetuk Baixian kesal.
“Hehehe....mustahil aku meninggalkan cacing kecilku sendirian lagikan?”
“Berisik!”
“Sekitar tiga puluh jam mungkin, perangnya sudah pecah beberapa saat lalu”
“Sungguh? Jika demikian ayo cepat berdiri, kita punya sedikit urusan” Lian bangkit hendak berangkat meninggalkan ruangan.
“Hah? Memangnya apa?”
“Membebaskan Hui’er dari penderitaanya”
><
Bing Lian bergerak lincah meninggalkan kediaman Matriach kemudian melacak keberadaan Qi orang – orang yang dicarinya sementara Baixian berlari menyusulnya di belakang. Suasana Frozen Swan River sungguh sepi karena kebanyakan anggota sedang bertarung mengorbankan jiwa maupun raga menghadapi invasi Black Graveyard Sect. Sangat berbeda dibanding kali pertama Lian datang kemari.
“Tolong perjelas maksudmu membebaskan Bing Hui”
“Hmm? Tentu memutus kontaknya dengan Gui Dong, dengan kata lain menghancurkan salah satu Undead Monarch miliknya”
“Bukankah kau sebelumnya berkata tidak mau ikut campur dalam pertempuran ini sebab takut dideteksi olehnya? Berbekal kemampuan barusan sih aku tak ragu kau mampu melakukannya tapi identitasmu nanti bagaimana?” seru Baixian meliriknya aneh.
“Justru aku akan memakai itu supaya Saudara Gui mustahil mengenaliku”
“Hah? Tunggu dulu! Sebentar, kita mau kemana? Jalan keluarnya menuju arah sebaliknya oi?”
“Ada persiapan terakhir dibutuhkan baru aku dapat memasuki medan perang” Bing Lian melanjutkan langkahnya cuek mengabaikan gerutu – gerutu Baixian.
Lima menit berselang keduanya tiba pada kamp darurat letak para penghuni Seed Repository Village bersama murid – murid pemula Frozen Swan River berada, siap dibawa kabur kapan saja saat diperlukan. Wajah beberapa kelihatan ketakutan juga menutup telinga berusaha menghilangkan perasaan buruk akibat suara gempuran, tangisan, dan teriakan dari luar.
Saking paniknya tidak satupun menyadari kedatangan mereka, mata Lian akhirnya berhasil menemukan pintu menuju ruangan lokasi orang yang dicarinya berada. Ia mengetuknya tiga kali kemudian langsung masuk tanpa menunggu jawaban.
TOK! TOK! TOK!
“Eh?”
“Halo Matriach Wang? Matriach Dian?”
“Woaaaaa!?”
Wang Yue juga Dian Wenji melonjak kaget karena kemunculan tiba – tiba Lian, masing – masing fokus mengamati jalannya pertempuran dengan Divine Sense sampai tak menggubris sekitarnya. Butuh waktu sesaat bagi dua wanita tersebut memperhatikan pemuda tadi sebelum menyeletuk pelan, “Tuan Muda Bing?”.
“Maaf mengejutkan kalian Matriach”
“Kenapa anda ke sini? Perlu sesuatu? Atau kau ingin minta bantuan buat melarikan diri?”
“Ahhh....kalian baik sekali, namun aku kemari bukan untuk itu melainkan menyampaikan sebuah pemikiran”
“Hah?”
Baixian ikut masuk mendengarkan diskusi, sebab perhatian kedua Matriach berfokus kepada Bing Lian mereka nampaknya tidak punya alasan buat protes atas keberadaanya mengingat naga barusan adalah Dao Beast milik Lian. Semua diam sementara Lian bicara menjelaskan langkah demi langkah rancangan menghadapi krisis Frozen Swan River.
Ekspresi Baixian, Wang Yue, dan Dian Wenji yang awalnya tenang perlahan menegang. Sebelum satupun sempat mengumandangkan keberatannya Lian mengangkat tangan supaya seluruh ruangan sepi senyap lalu berkata lirih, “Aku berani menjamin kemenangan di tangan kita kalau memanfaatkan solusi ini serta berhasil melaksanakannya tanpa kesalahan sedikitpun....silahkan putuskan sendiri nasib sekte kalian”.
Ch.217 (295)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 78 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).