
Sebutan Majestic Tamer sebenarnya hanya pernah dinobatkan kepada dua orang saja dalam sejarah Benua Huawai, pertama adalah seorang Cultivator hebat yang mengontrol pergerakan Beast dengan dominasi kekuatan sehingga begitu ditakuti. Terlebih saat itu Demon masih berkeliaran dan menjadikan kaum mereka juga sebagai sasaran empuk.
Lalu sosok berikutnya murid Majestic Tamer sebelumnya namun perbedaanya dia melakukan pendekatan secara berbeda, pria ini menyatukan Lima Dewa Mata Angin sekaligus mengubah masing – masing menjadi pengikut atau abdi setia baginya. Hal tadi membuat posisinya sebagai Tuan kelimanya disegani seluruh Beast pada masanya.
Hebatnya dia perlahan memperoleh kepercayaan makin besar setelah membantu krisis – krisis akibat invasi Demon kemudian berperan layaknya perantara penyambung lidah antara Beast serta Manusia. Bahkan beberapa ikut bertarung di sisinya menghadapi pasukan Demon King untuk membalas budi atas jasa – jasanya.
“Maksudmu? Perannya kurang lebih mirip Raja Naga Hitam dari Southern Thousand Island sekarang?” celetuk Bat General.
“Benar, bahkan bisa dikatan serupa. Sebab dia memang mencoba menggantikan Majestic Tamer karena keduanya adalah sahabat dekat sejak dulu, namun meski kuat....kesannya berbeda. Ada suatu hal misterius dalam kepribadian Majestic Tamer yang membuatnya dihormati dan aku tidak mengetahuinya.....kharisma mungkin”
“Kau terdengar begitu mengenalnya”
“Ya....soalnya kami pernah bertemu, waktu aku masih berupa tunas kecil menyedihkan terbungkus oleh lautan kobaran api” Forest Enchantress menatap tanganya sendiri mengenang memori tersebut.
><
Pria berambut putih terbang menembus awan berbekal kecepatan tinggi, ia berhenti sembari masih melayang di udara kemudian menutup mata demi berkonsentrasi penuh mengaktifkan Divine Sense miliknya. Usai menemukan gambaran tanah gosong terbakar dia melanjutkan perjalanannya menuju ke sana.
Sesampainya laki – laki barusan menatap sendu area sekitar, semua hangus dan rata dengan tanah. Ia melangkah hati – hati sebelum menepuk pundak gadis terduduk lesu menangisi keadaan lokasi bekas pertempuran menghadapi bangsa Demon itu.
“Saudari Hua?”
“Kakak Pertama? Hiks?! Hutannya hancur huhh....seluruh usaha kita sia – sia.....haaa....”
Bing Lian membalas pelukan Hua Zhenya sekalian membiarkan perempuan tersebut melepaskan kesedihannya, Lian tetap diam tanpa berkata apapun walau pundaknya kian basah terkena air mata. Ketika mencoba mengamati tempat yang seharusnya dipenuhi daun hijau nan rindang barusan sekali lagi, Bing Lian tersadar sebelum melepaskan saudari seperguruannya.
Zhenya terenyuh hendak bertanya namun Lian sudah buru – buru melesat menerobos sisa kobaran api menyala cukup besar, Hua Zhenya terkesiap terus memanggilnya panik. Untungnya tak lama dia keluar kembali memawa seonggok tanah berhiaskan sepucuk tanaman dengan daun menghitam hampir mati.
“Kakak Pertama?! Kau baik – baik saja!?”
“Umm, tenanglah” jawab Bing Lian berbekal hentakan pelan menghilangkan seluruh sisa hawa panas di sekelilingnya”
“Kenapa tiba – tiba—“
Belum sempat Hua Zhenya mengorek informasi lebih jauh, Lian berlutut lalu mulai menggali dan menempatkan rapi benda di tanganya tadi baru menoleh sembari tersenyum. Zhenya memiringkan kepala belum memahami maksudnya.
“Aku ingin Saudari Hua berhenti bersedih, dengan satu tunas ini kuharap akan terbentuk hutan jauh lebih besar juga indah ketimbang sebelumnya. Hehehe....”
“Senior Bing? Hiks....”
Terharu mendengar perkataanya, Hua Zhenya merangkul si tanaman sekaligus menglirkan Qi murni berelemen kayu. Tangisannya seolah menjadi sumber air yang menghilangkan dahaga setiap tumbuhan, saking terbawa suasananya Zhenya malah mengalirkan energi kehidupan berlebih terhadapnya sampai membuat Bing Lian langsung menghentikannya tepat waktu.
“Cukup Saudari Hua, kau nanti kehabisan tenaga”
“Kakak Pertama....aku....”
“Saat semua kembali normal, mari berjanji datang kemari melihatnya bersama lagi? Oke?” Lian menjulurkan tangan hendak membantu gadis tersebut berdiri selesai membungkus tunas barusan berbekal piramida es.
Sihir Bing Lian ini akan bertambah besar mengikuti pertumbuhan tanaman itu, fungsinya seperti rumah kaca yang melindunginya dari ancaman luar. Hua Zhenya meraih telapak Lian sekaligus menghapuskan sisa air matannya sambil tersenyum manis, “Ummm!”.
“Kau pasti tengah memikirkan hal jorok ya?”
Lamunan Lian segera buyar mendengar komentar tadi, kenangannya bersama Hua Zhenya meletup hilang tanpa bekas. Dia menghela napas kemudian menoleh ke arah suara sebelumnya berasal, Yao Sheyan menatapnya jijik dengan wajah mengkerut.
“Menurutmu hal aneh apa yang dapat dipikirkan seseorang saat hendak memanen buah – buahan di atas pohon?”
“Entahlah, aku mana tau isi kepala anak laki – laki” sahut Sheyan mengangkat kedua bahunya.
“Makanya kau harus lebih banyak bersosialisasi, siap?”
“Aaaa!”
Bing Lian mengguncangkan cabang – cabang pohon dekatnya sehingga buah – buahnya perlahan berjatuhan satu per satu, Yao Sheyan dan Bubu telah menunggu sembari membawa keranjang untuk menangkap seluruh persediaan makanan mereka tersebut.
“Cukup?” Lian bergelantungan terbalik menggunakan kakinya melihat petugas di bawah.
“Yaaa! Hehehe”
Akhirnya Bing Lian menjatuhkan diri sekaligus melakukan gerakan akrobatik sewaktu turun, tepat sebelum hampir menghempas tanah ada sekumpulan angin berhembus mengurangi kecepatan lajunya sehingga tidak membuatnya cedera.
“Terima kasih sudah membantuku megumpulkan hasil panen” seru Yao Sheyan menunjukan isi melimpah keranjangnya.
“Sama – sama.....”
“Jadi? Kenapa kau terdiam tadi Tuan Teratai Es?”
“Kau berharap aku sudi menjawabnya kalau kau memakai panggilan konyol ini?”
“Baiklah – baiklah maafkan aku oke? Maukah kau menceritakannya padaku Lian?”
“Bukan urusanmu, tampang memelasmu tak berfungsi untukku” Bing Lian membuang mukanya cuek.
“Cih! Berarti benarkan kau membayangkan hal kotor!? Makannya enggan memberitahu!”
“Terserah kau sajalah, aku memang tidak pernah memahami jalan pemikiran perempuan”
“Apa maksud kata – kata—hey tunggu! Dengarkan aku saat bicara!”
><
“Menurutku sebaiknya kita mengikuti saran Fairy Snow”
“Aku setuju dengan Forest Enchantress. Tidak ada gunanya jika memaksa Revolusi Beast tapi harus mengorbankan banyak nyawa orang – orang kita”
“Jangan berlagak Fishman Prince, sejak awal kau memang termasuk kelompok yang menolak ide ini bukan?” cibir Sun Ghost sinis.
“Kau benar, aku pernah mengabari soal eksistensi Beast misterius berkekuatan luar biasa di perairan sebelumnya. Ada beberapa saksi percaya dia merupakan Ratu Kirin Biru Danau Leidian, salah satu Divine Beast anggota Lima Dewa Mata Angin”
“Tapi seharusnya ia telah mati bertarung melawan Raja Iblis, bahkan bangsanya sendiri berkata demikian. Belum tentu Majestic Tamer sialan itu sungguh masih hidup, termasuk para pengikutnya” Wave Rider ikut mengemukakan pendapat nampak bersikeras ingin berperang.
“Cukup, diskusi selesai. Hasil pengambilan suara adalah mutlak”
Coral Bishop bicara datar dan sukses menetralisir perdebatan hampir timbul antara kedua pihak, masing – masing terdiam lalu saling menundukan kepala hormat. Satu per satu meninggalkan gua kediaman Bat General, si wanita bersayap kelelawar melambai senang. Hatinya berbunga – bunga akibat tidak ada benda – bendanya jadi korban keliaran rekan – rekannya tersebut.
Tetapi tanpa disangka – sangka, sehabis acara terjadi sebuah pertemuan lain antara tiga Fifteen Peak Catastrophes yaitu Sun Ghost, Little Jackal, beserta Wave River. Kedua perempuan barusan menghampiri pria bekulit gelap yang tengah memandangi matahari terbit.
“Kau mau membicarakan apa sampai mengirim telepati kepada kami?”
“Kalian berdua merupakan perwakilan setuju Land Threat dan Ocean Heart atas Revolusi Beast bukan?”
“Jangan banyak basa – basi langsung saja ke intinya”
“Aku punya ide, mari temui sosok diduga Ratu Kirin Biru Danau Leidian ini buat memastikan kebenaran soal keberadaan Tuannya. Jika kuat, ajak dia bergabung bersama kita. Namun kalau lemah lalu ternyata bukan sang Divine Beast legendaris, ayo habisi” usul Sun Ghost menatap mereka sambil menyeringai lebar.
Special Ramadhan Up (24/30)
Ch.244 (327)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 83 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).