The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 138 - Terima Kasih



“Hmm? Mukamu pucat sekali? Baru pertama kali ya?” goda Yawen tersenyum meremehkan.


Arata menatapnya ketir sembari menyatukan kedua tangan, tidak bisa menghentikan kakinya sendiri untuk terus mengetuk papan kayu kereta tempat keduanya berada. Saat ini pasukan Black Dragon Empire pimpinan Long Yawen tengah menuju arah barat untuk menghalau bala bantuan Red Phoenix Empire di sebelah sana.


Yawen membawa sekitar dua ribu orang pasukan termasuk Arata dan rerkrutan – rekrutan baru Dragon Warrior lain, keputusan tersebut dilakukan setelah mendengar kalau prajurit Red Phoenix Empire yang dikirim juga masih pemula. Tujuannya agar mereka dapat belajar sekaligus mengetahui bagaimana suasana sesungguhnya medan pertempuran.


“Sedikit....”


“Tenanglah nanti kau pasti terbiasa, awalnya memang begitu”


“Apa kau pun merasa tegang saat pengalaman pertamamu?” Arata bertanya dengan suara bergetar.


“Aku? Sejujurnya aku malah mengantuk kalau tidak menemukan lawan sepadan. Hoaammm....bahkan sekarang pun sama, gawat....jangan – jangan ini pertanda musuhnya kurang berkualitas”


“Semisal terjadi sesuatu kepadaku, aku berharap kau bersedia membantu ibuku”


Long Yawen mengangkat sebelah alis ketika tiba – tiba Arata bersujud kepadanya, nampaknya pemandangan sewaktu ibu serta teman – temannya mengantarkan kepergian dirinya sambil memasang ekspresi khawatir di pelabuhan benar – benar mempengaruhi mental bocah itu.


Yawen sengaja memilih satu pedati bersama Arata ketimbang jenderal perang lainnya supaya keduanya dapat berbicara normal. Namun ia tak menyangka Arata malah menempelkan kepalanya ke lapisan bawah kereta kuda.


“Lakukan sendiri, enak saja main perintah. Kau pikir aku siapa? Berani sekali kau menyuruh Putri Mahkota kerajaanmu”


“Ini bukanlah suruhan, tetapi lebih tepatnya permohonan. Belakangan....aku merasa dia agak kurang fit dan mudah panik”


“Kalau begitu situasinya hentikan omong kosongmu, lakukan yang terbaik kemudian pulang dengan senyuman lebar ke pelukan beliau” Yawen bersungut – sungut jengkel.


“Terima kasih....”


Yawen berdecak kesal sehingga urat pelipisnya berdenyut – denyut mendapatkan kalimat tersebut, Arata duduk kembali tenang sambil menutup mulutnya. Sadar betul meskipun kata – katanya kasar juga menohok, sang putri sedang menyemangatinya walau tidak mampu bicara jujur layaknya kebanyakan orang pada umumnya. Sayup – sayup suara besi beradu dari luar mulai menyusupi telinga masing – masing, Long Yawen segera bangkit meminta pasukanya bersiap tanpa pernah berpikir kalau itulah momen kebersamaan terakhir mereka berdua.


><


“UAGGGH!?”


Yawen melibas barisan pasukan berzirah merah berbekal Oathbreaker Machete, meski terkenal dirinya selalu menjadi sasaran utama bagi lawan sewaktu berperang. Cukup banyak orang tamak berpikir akan muncul sebuah kesempatan Black Dragon Princess lelah sehingga dapat ditaklukan, hadiah yang ditawaran untuk kepalanya jelas sangat menggiurkan.


Nyatanya Long Yawen selalu terlihat bugar entah berapa lama pertempuran bakal berlangsung berkat kemampuan Unlimited Recharge miliknya, sayangnya para pemula biasanya tidak mempunyai informasi penting ini.


“Hyaaa!”


SRAT!


“Ugh!?” desis Arata akibat luka panjang menghiasi bagian depan tubuhnya.


“Mampus ka—argh!?“


“Jangan mati, dasar bodoh”


Yawen datang tepat waktu menyelamatkan Arata dengan membelah dua pria yang hampir menghabisinya, dia mengangguk kemudian mematuhi perintah Long Yawen agar mundur dahulu membalut cederanya.


Kejadian itu cukup sering terulang sehingga merepotkan Yawen, selain harus mengawasi Arata karena cemas. Gadis tersebut juga harus mengamati jalannya perang, memberi arahan kepada pasukan, termasuk berduel menghadapi beberapa lawan tangguh secara bersamaan. Bahkan jenderal paling berpengalaman bakal kewalahan jika mengerjakan deretan tugas berat barusan berbarengan.


Untungnya satu jam berselang Arata kelihatannya mulai menemukan performa terbaiknya, dia berhasil mengalahkan sekumpulan musuh terus mendesak salah satu sisi pertahanan Red Phoenix Empire ditemani batalionnya. Gerakan menusuk kelompok Arata akhirnya menyebabkan Yawen menginstruksikan pasukanya menyerbu habis – habisan walau sempat diperingati ada kemungkinan jebakan oleh bawahannya.


“Kita harus memanfaatkan kesempatan ini, cepat selesaikan biar mengurangi kemungkinan serangan balik dari mereka!” Long Yawen berteriak terus memimpin anak buahnya sebagai garda terdepan.


Melihat prajurit Black Dragon Empire maju tak kenal takut apalagi kebuasan putri mahkotanya menyebabkan para musuh mundur berlarian pontang – panting, di tengah pertarungan Long Yawen mendengar kabar kalau pimpinan pihak seberang telah menampakan diri.


“Tuan Putri? Penerus Red Phoenix Maiden berjarak sekitar sepuluh meter dari kita”


“Sungguh!? Pengamatan yang bagus! Cepat hubungi kakek atau ayah”


“Dimengerti!” jawab jendralnya sebelum menghilang.



Benar saja tidak lama usai informasi tadi tersebar, Yawen melihat sosok anak perempuan sepantaran dia mengenakan cadar merah memasuki medan perang. Makin antusiaslah Long Yawen saat menyaksikan Arata bersama kelompoknya menuju ke sana, ingin cepat – cepat menyusul.


TRENG!


“Dia sepertinya mengincar santapan utama, tujuannya boleh juga untuk seorang pemula hehehe. Mulutmu cerewet sekali” Yawen melirik malas lawannya sesudah menangkis ayunan pedang orang itu.


“Ap—“


SRAT!


Detik berikutnya laki – laki malang barusan kebingungan dunia di matanya terbalik akibat dipenggal secepat kilat oleh Long Yawen, sampai ia terlambat menyadari nyawanya melayang. Yawen buru – buru membalikan badan hendak menyusul Arata namun malah menjadi saksi sebuah pemandangan mengerikan, batalion tersebut telah berguguran sedangkan Arata yang berdiri terakhir lehernya baru saja ditembus kobaran api dari ujung jari gadis bercadar sebelumnya.


“ARATAAAA!!!”


><


Tanpa memperdulikan sekitar Long Yawen melesat menghampiri tubuh lunglai Arata, menghabisi semua penghalang baginya dengan ganas. Dia terduduk memegangi anak laki – laki tersebut sambil bergetar hebat mencari pil penyembuh, kondisinya teramat parah. Banyak terlihat garis hitam menghiasi kulit Arata seakan sarafnya hangus terkena suhu tinggi.


“Idiot! Idiot! Idiot! S...se...sebentar! Kau harus memakan—“


Arata menghentikan tangan Yawen yang tengah merogoh kantung obat – obatannya terus menggeleng pelan, ia menggerakan bibir untuk berbicara sayangnya tidak ada suara keluar. Long Yawen akhirnya mendekatkan telinganya mengikuti arahan Arata.


“Mo...hon ban...tuannya....glek! Terima....kasih....atas sega...lanya....Yaya” bisik Arata lemah mengelus pipi Yawen sebelum berhenti bernapas.


“Uhhh....hiks....HUAAAAAAA!!!”


Tangis Yawen pun pecah, sembari memeluk erat jasad di tangannya dia berteriak sekuat tenaga ke arah atas. Seolah mengutuk langit akan tragedi mengenaskan itu, Qi nya meluap tak terkendali ditambah hawa membunuh pekat ikut menyertainya.


“Tunggu dulu....aku—“


“HONG SHUREN.....!!! KUBUNUH KAU DASAR BIADAB!!!” Long Yawen menerjang tanpa membiarkan gadis barusan sempat bicara.


Dia mennggapai Oathbreaker Machete lalu berputar cepat mengincar lawannya, dalam sekejap mata bilah golok tadi cuma berjarak satu senti dari Hong Shuren. Tetapi datanglah seorang pria berambut merah menghentikan serangan Yawen hanya berbekal satu jari dan segera melepaskan sepakan mematikan sebagai balasan menuju wajah musuhnya.



Untungnya Long Guanting tiba tepat waktu menghalau bahaya dengan tendangan lainnya sehingga energi keduanya malah terbang tinggi menyebabkan lubang besar terhadap awan raksasa bahkan hampir membuatnya hilang tak bersisa.


“Kau masih lihai seperti biasanya ya Guanting?”


“Jika mau bertarung....carilah lawan sepadan Hong Shi”


“Ahahaha....kalau begitu sebaiknya kau peringati putrimu, aku cuma menjalankan tugas melindungi Yang Mulia” balas si pria berambut merah memberi hormat.


“LEPASKANNN!!! AKU HARUS BALAS DENDAM!”


“Yaya!?”


“AARRRRGGGGHHH!!! TUNGGU SAJA KAU GADIS SIAL!!!”


Guanting terpaksa menghilangkan kesadaran Yawen akibat terus memberontak saat menjauhi kedua petinggi Red Phoenix Empire tersebut, ini juga sesuai perintah telepati ayahnya. Beberapa menit kemudian Long Heiyan muncul sehingga Hong Shi langsung waspada, menghadapi Long Guanting jauh berbeda dibandingkan melawan Black Dragon King. Dia sendiri tak yakin mampu meladeni orang berjuluk Cultivator terkuat Benua Huawai itu meski hanya satu dua pukulan.


“Guan? Bawa cucuku serta jasad para prajurit kita kembali, pastikan mereka mendapatkan pemakaman layak”


“Baik, anda sendiri?”


“Ada yang harus kubicarakan sebentar, jangan khawatir” Heiyan berjalan melewati keduanya sambil memasang wajah serius.


Ch.138 (160)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 22 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).