
KRIETTT....!!!
“Hmm?”
Long Heiyan mengangkat kepala dari kumpulan kertas laporan yang tengah dirinya baca ketika suara pintu berderik terdengar, Yawen diikuti kedua orang tuanya memasuki kamar sang Black Dragon King. Tatapan mata gadis itu dipenuhi tekad sementara ayah maupun ibunya terlihat berusaha menghentikannya.
“Yaya!? Mana sopan santunmu?! Masuk begitu saja!? Hey!”
“Pikirkan baik – baik sekali lagi atas keputusanmu tadi”
“Ada apa ini?” Heiyan bertanya sembari berdiri menyaksikan diskusi sengit ketiga anggota keluarganya.
“Kakek....”
Long Yawen berlutut mengabaikan semua ceramah Long Guanting dan Teng Xinyi, mau tidak mau mereka juga harus menunduk saat Long Heiyan bangkit dari kursinya. Yawen menarik napas panjang sebelum mengadahkan kepala ingin menyampaikan isi hatinya.
“Kau perlu sesuatu cucuku?”
“Ayah? Yaya cuma—“
“Pada perang berikutnya....izinkan aku ikut sekali lagi” potong Long Yawen gesit agar ibunya tak bisa beralasan.
“Ohh...lebih cepat ketimbang perkiraanku, kenapa kau tidak duduk manis lalu menunggu panggilanku saja? Tentu, lakukan sesukamu”
“Tetapi....aku ingin sebuah imbalan”
“Yaya!?” Guanting menarik tangan putrinya namun ia tak bergeming sedikitpun.
“Menarik, meski agak tiba – tiba mari dengar apa permintaanmu”
“Berikan aku dana untuk menebus beberapa budak, tabunganku tidak cukup melakukannya”
DEG!
Mendengar ucapan barusan Long Heiyan tertegun, mengingat bocah laki – laki yang beberapa lalu ditemuinya sewaktu kembali dari medan perang serta kawan lamanya. Entah mengapa sekilas wajah keduanya memang mempunyai kemiripian, teman Black Dragon King ini pernah ditanyai oleh dirinya tentang harta.
><
‘Saudaraku? Bagaimana kalau kau pindah ke Southern Thousand Island kemudian membangun sebuah sekte? Aku akan menyediakan tanahnya—oh oh oh aku tau! Kerajaan saja! Dengan seluruh aset milikmu itu bukanlah hal mustail’
‘Hehehe...jangan konyol Senior Long, aku tak bisa meninggalkan Dataran Tengah. Saudara saudariku dan orang – orang di sini membutuhkanku. Lagi pula aku tidak berminat’
‘Tch....!? Dasar membosankan....lalu kau mau apakan semua hartamu? Kau belum menikah dan mempunyai keturunan, nanti diwariskan kemana? Tak sedikit juga individu – invidividu penting berhutang padamu ingat?’
‘Hmm mungkin aku bakal membagi ratanya kepada Black Dragon Empire, Red Phoenix Empire, Blue Tortoise Empire, serta White Tiger Empire hehehe....’
‘Kami berempat? Buat apa? Kami tidak kekurangan kau tau....kata – katamu sedikit melukai hatiku Saudaraku’
‘Hihihi bukan begitu Senior Long, anggap saja pemberianku adalah bayaran’
‘Hah?’
‘Sebagai gantinya....kalian berempat harus menghapuskan perbudakan di Southern Thousand Island....bagaimana?’
‘Kau terkadang suka mengajukan hal aneh ya? Mustahil – mustahil....jika dihapuskan ekonomi keempat kerajaan bakal berantakan, mereka dibutuhkan untuk menstabilkan situasi. Bahkan berbekal seluruh kekayaan milikmu belum tentu dapat menebus semuanya’
‘Ahahaha kalau demikian aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi! Namanya juga usaha Senior hehehe....’
‘Aku tak mengerti jalan pikiranmu, kenapa kau bersikeras sekali mengenai masalah ini?’
‘Karena....seharusnya semua orang berhak untuk merdeka kemudian menentukan nasib mereka sendiri’
><
“Hihihi....hehehe.....HUAHAHAHAHA.....!!!”
Long Heiyan tertawa terbahak – bahak sampai mengeluarkan air mata, entah itu bahagia atau sedih hanya dia seorang yang tau. Malam tersebut udara kerajaan bergetar akibat gelaknya, Long Guanting bersama istri maupun anak perempuannya bingung harus merespon apa.
“Kakek baik – baik saja?” celetuk Yawen mulai khawatir akan kewarasan pria di hadapannya.
“Baiklah kuturuti keinginanmu”
“APA!?”
“Aku siap memberikanmu sebuah Spirit Stone setiap kali kau mengalahkan seseorang di perang berikutnya, tentu hadiahnya bisa lebih banyak atau sedikit tergantung pangkat orang yang berhasil kau tangani. Setuju?” Heiyan mengajukan tawaran terhadap cucunya tanpa memperdulikan protes kedua orang tua anak tersebut.
><
“Sungguh!? Aku ingin sekali bertemu dirinya! Hati jadi tenang jika mengingat masa depan Black Dragon Empire ada di tangannya”
“Pas sekali! Mungkin ini adalah hari keburuntunganmu! Kudengar pasukan mereka baru tiba ke pelabuhan Mianqiu”
Begitulah kurang lebih isi perbincangaan para pedagang maupun pengunjung pasar selama seminggu terakhir yang didengar oleh Arata, awalnya ia mencoba melupakannya namun karena intensitasnya terus bertambah jadi semakin sulit mengabaikan kabar – kabar burung tadi.
Arata kepikiran usai menelaah kisah – kisah Long Yawen menguasai medan perang bagaimana cara budak sepertinya mampu mengalahkan Cultivator sekaligus putri mahkota kerajaan tersebut, memikirkannya malah mengakibatkan ia bergidik ngeri membayangkan sikap kurang ajar dirinya ketika menantang Yawen dulu. Kalau mengetahui identitasnya sejak awal pasti Arata akan memberikan Nikuman dagangannya dengan senang hati.
“Fyuh....akhirnya selesai. Karung terakhir....”
“Oi?! Arata!”
“Hmm?” gumam Arata selagi merenggangkan badan pegal miliknya.
Dia berjalan menghampiri bos tempatnya bekerja berpikir kalau laki – laki paruh baya itu mempunyai keluhan atas pekerjaanya, tetapi muka Arata langsung berubah putih bak susu basi saat tersadar ada sekitar lima prajurit Black Dragon Empire tengah menunggunya.
“Kau yang bernama Arata? Ikut kami”
“Eh? Benar sih—tu..tungg...tunggu dulu! Apa – apaan ini!? Aku tidak melakukan kesalahan atau kejahatan apapun! Bos!? Teman – teman!? Tolong jelaskan kepada mereka!”
Namun kenalan – kenalan Arata hanya mampu menunduk patuh melihat ia diringkus oleh orang – orang tadi, Arata diseret kasar ditambah lagi semua teriakannya tidak diberi respon. Ratusan pasang mata mulai menoleh akibat keributan ini, Arata mulai berhenti meronta ketika menyasikan ada sosok lain ikut dibawa bersamanya.
“Arata?”
“IBU!? SUMPAH BU AKU TAK PERNAH MELAKUKAN SESUATU! AKU SUDAH BERJANJI MENJADI ANAK YANG BAIK, HEY JANGAN KASAR PADANYA SIALAN!”
“Tenangkan dirimu nak, ibu tau semuanya bukan salahmu” Hiwa mencoba menenangkan putranya.
Mendengar perkataan sang ibu barulah Arata agak menurut, dia lebih tenang apalagi setelah disandingkan dengan Hiwa. Pasukan menggiring keduanya menuju jalan yang familiar bagi mereka, tepat pada pintu masuk sebuah bangunan besar bertempelkan palang Wu House nampak seorang gadis berdiri diapit oleh dua sosok tinggi mengerikan.
“Kau....”
“Tunjukkan rasa hormatmu kepada Tuan Putri!”
BUAKH!!!
“Ugh!?” desis Arata meringis kesakitan begitu menerima tendangan pada kaki bagian belakang demi memaksanya berlutut.
Long Yawen menatap masing – masing silih berganti lalu mengangguk, yang membuat Arata dan Hiwa benar – benar tegang sekarang adalah penampilan Black Dragon Princess. Dia sedang mengenakan zirah hitam gagah namun terselimuti darah teramat banyak, bahkan hanya mata kanan saja bagian wajahnya belum tertutup cairan merah kental tersebut.
“Mari masuk....”
Pengawalnya segera mengiyakan terus membuka pintu sementara pasangan ibu anak tadi mengekor di belakangnya dipegangi oleh prajurit – prajurit tukang menjemput sebelumnya, ternyata dalam Wu House telah berbaris panjang satu batalion dibawah komando Yawen.
Pada ujung jalan terlihat Wu Tu gemetaran bermandikan keringat dingin menyaksikan kondisi tempat usahanya, terlebih saat Long Yawen masuk roh Wu Tu kelihatan hampir meninggalkan raganya. Ia segera berlutut begitu Yawen sampai di hadapannya.
“HAMBA MOHON AMPUM ATAS TINDAKAN KURANG AJAR WAKTU ITU TUAN PUTRI! HAMBA SUNGGUH CEROBOH TIDAK MENGENALI ANDA! SAYA BERJANJI TAK AKAN MENGULANGINYA LAGI”
“Hah? Kau ini bicara apa? Aku kemari bukan untuk menuntut balas kejadian tersebut” Yawen menatapnya heran.
“Eh? Lalu ada apa gerangan anda kemari? Hmm? Arata!? Hiwa!? Kalian mengusik Tuan Putri lagi!? Beraninya! Serahkan hukuman mereka pada saya Tuan Put—”
“Tidak, bukan begitu juga. Aku kemari untuk menebus keduanya”
“Hmm? M..ma...maaf bisa anda ulangi? Pendengaran saya sepertinya sedikit bermasalah”
BRRR....!!!
“Sungguh? Jika demikian bagaimana kalau kucabut saja dua cuping yang menghiasi kiri dan kanan kepalamu? Jangan membuatku bicara berulang – ulang pak tua....” bisik Long Yawen dingin menyebabkan semua kesulitan bernapas akibat auranya merembes keluar.
Ch.134 (155)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 21 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).