
Bing Lian memperhatikan kedua rekannya menghampiri bagian Adamantine Peak berbentuk mirip sumpit usai dibuat sedemikian rupa oleh Alchemist Bachelor, Lian tidak bisa membayangkan berapa lama waktu serta ketekunan yang diperlukan Yao Quon saat melakukannya. Sheyan dengan santai membentuk mantra tangan kemudian menyentuhnya pelan.
“Kau sedang apa?”
“Lihat saja, jangan banyak tanya” sahutnya malas.
Bing Lian mengangkat bahunya enggan berdebat, selang hitungan detik sebuah segel menunjukan diri cukup lama. Cahayanya lumayan terang sampai mengakibatkan ketiganya melindungi mata masing – masing, sewaktu mau protes kata – kata Lian tertelan kembali karena muncul pintu masuk seukuran manusia normal pada lokasi tempat Yao Sheyan memegang.
“Ayo....”
“Apa – apaa—“
“Kau bilang mau mencari binatang buruan? Kan aku memberitahumu kalau di tingkat menengah kebanyakan hewan peliharaanku jadi kita bakal menuju lantai terendah, tentu maksudnya bukan kaki gunung Adamantine Peak ya”
“Caranya?” Bing Lian memiringkan kepalanya bingung.
“Makanya ayo masuk....”
“Woaaa....!”
Lian yang kelihatan ragu – ragu segera ditarik Yao Sheyan, ia harus rela tangannya diseret sementara Bubu ikut mendorong punggungnya melalui belakang. Masih mencoba mencerna situasinya Bing Lian akhirnya sekali lagi bertanya, “Apa ini sebenarnya Nona Yao?”.
“Lift raksasa....”
“HAHHH!?”
><
Begitu melewati pembatas terakhir Bing Lian terdiam mengamati sekitarnya, dia benar – benar telah berada di dimensi berbeda. Pemandangan sekelilingnya tak nampak layaknya dalam sebuah gua melainkan langit malam berbintang, masih linglung Yao Sheyan menegurnya terus menunjuk arah depan.
Letak suatu alat sederhana mirip katrol menanti kedatangan mereka, bentuknya cukup unik sebab terbuat dari semacam gabungan sulur – sulur tanaman dengan tambahan papan kayu sebagai pijakan. Lian melepaskan diri buru – buru sementara Sheyan juga Bubu menaikinya dahulu lalu menoleh seolah menanyakan mengapa dia behenti.
“Kenapa? Kau tidak mau ikut?”
‘BUKAN ITU MASALAHNYA!’
Bing Lian sangat ingin berteriak demikian namun mengurungkan niatnya sebelum berhati – hati naik, jantungnya terasa hampir copot akibat muncul gerakan mengerikan ketika akhirnya dia ikut berdiri di sana. Sheyan senang sekali menyaksikan dia tertekan, perasaanya tadi terlihat jelas dari ekspresi senyum jahil miliknya.
“Kau siap?” celetuknya makin menyeringai lebar.
“Tergantung, kau hendak—“
“Melakukan ini!”
Yao Sheyan berseru semangat lalu memukul papan memakai telapak tangannya, seluruh area memperlihatkan visual turun mengerikan. Semua bintang – bintang sebelumnya melesat berseliweran meninggalkan ketiganya, Sheyan melirik puas sayangnya ekspresi santai Bing Lian langsung membuatnya dongkol.
Karena sejak awal Lian sudah mengetahui kalau dia, Yao Sheyan, maupun Bubu tengah berada dalam sihir Ruang dan Waktu. Mustahil dirinya terkena jebakan konyol Sheyan, lift tersebut tetap diam stabil meski nantinya mereka berpindah ke lokasi lainnya. Satu – satunya hal bergerak pada benda unik itu adalah sulur – sulur tali pengikat bagian atasnya.
“Hebat ya? Time-Space Magic”
“Kok—“
“Aku masih tenang? Tentu saja, kau berharap apa? Aku menjerit seperti gadis cengeng kemudian melompat ke pelukanmu?” Bing Lian menjawab dengan nada mengejek terdengar jelas.
“Ugh....”
“Bu!”
“Biar kutebak, ini juga karya kakekmu?”
“Begitulah....” balas Yao Sheyan malas sambil memeluk Bubu, dia kelihatan murung usai hiburannya dihancurkan sampai – sampai Lian merasa bersalah. Harusnya ia berpura – pura bodoh lebih lama pikirnya.
Membiarkan si gadis terduduk cemberut, Bing Lian lanjut menganalisis lift khusus tersebut. Mengingat jika sebenarnya berada dalam Adamantine Peak, Lian tidak heran Yao Quon mampu mempertahankan sihir ruang dan waktunya selama – selamanya. Kandungan Qi gunung tertinggi Benua Huawai itu pasti memenuhi kebutuhan tenaga buat mewujudkannya.
Uniknya bahan utama yang dia pergunakan adalah Magic Plant, faktor lokasi menyebabkan upaya memakai Spirit Tools sia – sia. Makanya demi mengakalinya Alchemist Bachelor memasang tanaman rambat ini setelah mengetahui kalau batuan hijau Adamantine Peak cenderung membagikan energinya kepada para tumbuhan.
“Luar biasa....” Lian menggeleng – geleng pusing membayangkan jika Yao Quon mengikis bagian dalam pilar dari dasar hingga puncak untuk menciptakannya.
“Kakekku memang jenius”
“Hmm soal apa?” tanya Sheyan mengangkat sebelah alisnya.
“Mendengar nyanyianmu! Ingat? Aku pernah cerita bukan? Kau pasti sedang memakai lift pas kejadian”
><
Yao Sheyan menatapnya aneh, dia baru pertama kali mendengar ada seseorang dapat terhubung dengan bagian dalam lokasi tempat mereka sekarang karena seharusnya dimensi antara keduanya berbeda. Sekalipun orang itu menempelkan telinganya dan berfokus terhadap tindakannya, meski kemungkinannya sesungguhnya tidak nihil.
Siapa tau kakeknya membuat modifikasi khusus sehingga hal demikian bisa terjadi, tetapi mengingat hanya segelintir individu gila seperti Bing Lian yang mencoba mendaki Adamantine Peak. Pengakuan soal masalah ini jadi sangat sedikit lalu sulit dibuktikan.
“Namun mustahil....”
“Kenapa?”
“Sebab terakhir kali aku mengunjungi kota hampir tiga bulan lalu.....” Sheyan memberitahunya.
“Apa!?”
Berikutnya giliran wajah Lian memucat, ia perlahan duduk sebelum berpikir. Dalam perhitungan kasarnya, Bing Lian mengira memanjat kurang lebih selama satu bulan terus mulai kehilangan gambaran mengenai waktu. Dia selalu mengira dirinya benar, setelah memperoleh pencerahan Lian nampaknya mulai paham mengapa surat Jin Chyou setebal esai karya para sarjana Weadalia Empire.
Gadis itu pasti mengamuk karena baru dihubungi padahal Bing Lian memintanya mempersiapkan ujian kenaikan tingkat secepat mungkin, Lian harus mempertimbangkan membuka kirimannya tapi membayangkan uraian kekesalan di dalamnya saja sudah berhasil menyebabkan sakit kepala. Satu – satunya harapan miliknya adalah Baixian mampu mengendalikan situasi.
Secara kebetulan seekor naga kecil pada bangunan mewah kota Jinguan bersin – bersin lalu menggerutu akibat cuaca dingin, dua gadis dekatnya bertanya apakah ia sakit atau apa lalu dibalas cuek berbekal ayunan lengan mungilnya.
“Paling cuma perlu adaptasi” jawabnya usai membuang ingus menggunakan tisu.
><
“Oi? Kita hampir sampai”
“Eh?” teguran Yao Sheyan menyadarkan Bing Lian dari lamunannya.
Lian baru menyadari sekelilingnya berhenti, pintu sederhana katrol yang mereka naiki terbuka mengizinkan ketiganya keluar. Sheyan memimpin rombongan menuju cahaya kecil di kejauhan, Bubu terbang penuh semangat kemudian menjadi urutan pertama mencapai Pos Pertama Granite Convert Sanctuary.
Begitu menginjakan kaki ke sana Bing Lian menaikan sebelah alisnya kagum, kondisinya benar – benar jauh berbeda ketimbang tempat tinggal Yao Sheyan. Lantai berikutnya tertata rapi dan sebagian bentuk utamanya merupakan padang indah penuh sumber mata air, sedangkan lokasi masing – masing berada sekarang dipenuhi pohon – pohon tinggi maupun bunga raksasa dengan aroma beraneka macam.
Sebuah definisi sempurna bagi hutan hujan tropis, Lian bahkan mulai mengira - ngira apakah sebelum diurus Yao Sheyan kondisi Pos Kedua juga seliar demikian awalnya. Anak perempuan itu buru – buru menyusul Bubu berhiaskan wajah sumeringah.
“Woaaah!? Luar biasa, sudah lama sekali aku mau menjelajahi serta melihat Spirit Herb maupun Magic Plant di sini”
“Memangnya kau jarang berkunjung kemari?”
“Ya....bisa dibilang, soalnya kemampuan bertarungku payah. Demonic Beast Pos Pertama sangat agresif jadi aku dianjurkan jangan sering – sering kemari, lagi pula mustahil meminta kakek menemaniku bukan?” Sheyan berjongkok tertarik melihat bunga berwarna hijau terang.
“Bagus, dan kau mengajak aku buat datang”
“Kan kau orang pertama yang mengatakan hendak berburu!”
“Menunduk.....”
Yao Sheyan terkesiap Lian telah berdiri tepat di belakangnya lalu mendorong lembut kepalanya, bunyi keras terdengar dekat pijakan keduanya. Lubang besar bekas hantaman segera menghiasi tanah, Bing Lian secara mengejutkan melakukan gerakan tarikan terus menebas udara kosong.
SRATTT.....!
Guyuran darah segar memancar ke berbagai arah tapi pelindung tipis sukses mengamankan keduanya, selang beberapa saat tubuh terbelah Demonic Beast sejenis bunglong terkapar. Lidah panjangnya nampak dipelintir oleh Lian sebelum dirinya menarik barusan, Sheyan menelan ludah berat menyaksikan bagaimana pemuda berambut putih tersebut menangani sergapan tadi.
“Keputusanmu tepat, aku memang butuh sedikit olahraga.....” celetuk Bing Lian membersihkan cairan merah pada senjatanya berbekal hentakan pelan menuju tanah.
Special Ramadhan Up (27/30)
Ch.247 (330)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 83 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).