The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 132 - Revealed



SRAK!


“Aku menang!” seru Yawen mengangkat tinggi – tinggi kain di tangannya.


“Woohooo....! Pendaratan sempurna! Huahahaha....apa kau bilang? Matamu bermasalah ya?” Arata bertanya balik usai melayang turun perlahan berbekal selimut raksasa layaknya parasut.


“Eh?”


Keduanya segera melongo sambil terdiam ketika melihat bendera yang masing – masing genggam ternyata robek menjadi dua bagian. Long Yawen serta Arata merentangkan miliknya terus membandingkan dengan pegangan lawan, sekilas nampak panjang maupun lebarnya persis sama. Hal ini membuat urat pelipis mereka berkedut kesal mengingat semua perjuangan mendapatkannya.


“Pemenangya aku! Aku lebih dulu menyentuhnya!”


“Enak saja! Lihatlah! Jelas – jelas bagian punyaku lebih banyak ketimbang dirimu!” bantah Arata tidak mau kalah.


“Hah!? Kau buta atau apa!? Lagi pula orang curang sepertimu tak pantas dipercaya! Perlombaan adil dari mananya!? Jebakan – jebakan sialan tadi memangnya bisa terpasang sendiri? Dasar penipu!”


“Kau bil—gadis bodoh perlukah aku membelikanmu cermin!? Kau lupa alasan semua ini terjadi karena kau membeli Nikuman tanpa membayar hah!? Siapa yang mengajarimu tata krama sampai berani meneriaki orang penipu? Penipu!”


“Apa!? Kan aku bilang nanti pasti membayarnya sialan! Kau sendiri tidak sabaran dan malah mengajak bertengkar!” Yawen menarik kerah pakaian anak laki – laki tersebut naik pitam mendengar ucapannya.


“Heh!? Lalu kau berharap aku percaya? Kepada seorang Cultivator yang memakai kekuatannya melawan manusia biasa kemudian protes dicurangi akibat beberapa jebakan tikus? Harusnya kau malu terkena mainan anak – anak begitu cebol!”


Disebabkan perdebatan tiada akhir, mereka setuju pergi ke salah satu tukang jahit dekat sana demi memintanya mengukur robekan bendera milik masing – masing. Keduanya memutuskan bagaimanapun hasilnya nanti pihak manapun harus menerimanya karena dianggap sudah adil, selesai melakukan tugasnya penjahit tua itu mendorong satu kain lebih panjang sekaligus mengumumkan pemenangnya.


“Yesss....!!! Wohoo....!!! Huahahaha makan debuku gadis keras kepala! Aku menang melawan Cultivator!”


“Ugh....sial” geram Long Yawen kemudian meminjam meteran pria paruh baya tersebut terus harus mengakui fakta jika ternyata memang robekan Arata sekitar enam puluh persen dari ukuran asli benderanya.


“Hahahahaha.....aku pemenang! Dan kau pecundang! Fyuh....puas sekali segala usahaku seminggu terakhir berbuah manis, sekarang mari bicarakan perjanjian k—“


Kesenangan Arata hilang secepat kedatangannya, ekspresinya menjadi kaku diikuti wajah memucat sewaktu gerombolan besar datang mendekati dirinya dan Long Yawen. Dari tampang mereka sangat terlihat kalau kelompok ini mendekat dengan tujuan kurang bersahabat apalagi semuanya datang melalui arah dua rute perlombaan sebelumnya.


“Ketemu! Kemari kalian bocah – bocah tak tau diuntung!”


“Hmm?” Yawen menoleh cuek belum menyadari situasinya, agak heran mengapa banyak orang menghampirinya sambil melotot marah.


“Gawat! Aku harus kab—“


“Berhenti disitu....Arata”



Gerakan Arata yang ingin menyelinap sekalian menyembunyikan mukanya berbekal tudung jubah terhenti seketika mendengar suara barusan, dia menoleh terus menemukan pria paruh baya tersenyum sinis padanya. Nampak wanita muda cantik serta teman – teman Arata di sampingnya tengah dipegangi oleh para prajurit Black Dragon Empire.


“Ibu....? Kawan – kawan!?” ujar Arata melebarkan mata ngeri.


><


“Arata!?”


“Arata kamu....bukankah ibu telah memberitahumu untuk merelakan uang itu?” ibunya menggeleng – gelengkan kepala.


“Kau mau kemari....atau mereka yang akan menanggung akibatnya!?”


Ancaman barusan menyebabkan Arata tidak mampu berkutik lagi, diikuti tatapan penuh kebencian banyak penonton dia perlahan berjalan mendekat. Tanpa aba – aba si pria langsung menamparnya hingga terjatuh lalu menghajarnya habis – habisan.


BAK! BUK! BEK!


“Budak tak tau diuntung! Kau pikir siapa harus menanggung seluruh ganti ruginya hah!? Pendatang keparat! Mau menebus dirimu dan ibumu kau bilang!? Kalau begini terus seratus tahun sekalipun mustahil bagimu merdeka bodoh!”


“Akh! Ukh! Oek!”


“Tuan Wu! Tolong hentikan! Jangan pukul putraku! Hiks...kumohon....”


“Baik....Tuan...hiks ampuni kami....huhuhu....” sahut perempuan tersebut terisak sekaligus menahan sakit akibat rambutnya yang ditarik, muka cantiknya berlumuran air mata tentu menarik rasa iba banyak orang.


Bukan seperti putranya sang biang masalah, Saionji Hiwa adalah wanita baik hati serta terkenal akan parasnya. Ia seorang pembantu di kediaman keluarga saudagar bernama Wu, pria ini memang cukup berada dan diketahui mempunyai ratusan budak dalam genggamannya.



Sejujurnya tidak sedikit laki – laki ingin menebus Hiwa kemudian mempersuntingnya meski beranak satu, namun Hiwa tak berkenan jika harus pergi tanpa membawa Arata. Hal itu menyebabkan semuanya memilih mundur sebab membayar dua budak asal luar Benua Huawai terlalu berat bagi mereka. Wajar karena Wu sendiri membeli keduanya dengan harga setinggi langit pada lelang pasar budak, tentu dia hanya rela melepasnya minimal sepuluh kali lipat biaya aslinya.


Melihat kondisi mengenaskannya sekarang mulai menimbulkan rasa simpati terutama bagi pedagang – pedagang pasar tempatnya sering berbelanja, tapi seberapa besarpun niat membantu semuanya cuma dapat berdiam diri.


Arata memegangi perutnya yang nyeri sambil menutup muka, berusaha menyembunyikan tangisnya sekaligus perasaan tidak berdaya ketika ibunya diperlakukan demikian. Long Yawen mengamati seluruh kejadian dalam diam, ia melipat lengan terus menghela napas.


Bingung harus melakukan apa agar setidaknya mengurangi kesengsaraan pasangan ibu dan anak itu, meskipun merupakan putri kerajaan Yawen kesulitan menolong. Begitulah peraturan perbudakan di Southern Thousand Island, majikan memiliki hak penuh terhadap miliknya. Benar – benar boleh diperlakukan layaknya hewan ternak maupun barang dagangan.


“Lalu kau!? Kenapa diam saja di sana!? Cepat berlutut kemari juga! Katakan siapa tuanmu!”


“Mmm? Kau bicara padaku?” Long Yawen menaikan sebelah alis sembari menunjuk dirinya sendiri.


“Glek! Psst!? Tuan Wu!? Sebaiknya kalau dia jangan—“


“Apa sih tarik – tarik!? Aku harus tau siapa pemiliknya supaya ganti ruginya bisa dibagi dua. Prajurit tangkap dia!”


Mengabaikan peringatan penonton, pria tersebut memerintahkan agar Yawen diringkus. Kurang dari lima menit suasana menjadi sunyi sebab Long Yawen melumpuhkan selusin suruhan Wu semudah membalikan telapak tangan, barulah Wu tersadar tengah berurusan dengan seorang Cultivator muda meski heran kenapa budaknya dapat meyinggung orang seberbahaya itu.


“Ugh....kau”


“Aku bukan budak sialan, apa kuhajar saja wajah menyebalkanmu untuk mengurangi rasa kesalku?”


GRATAK! GRATAK! GRATAK!


“Hiyyy!?”


Semua langsung mundur ketakutan terutama Wu, dia segera bersembunyi di belakang orang – orangnya. Prajurit lainnya bergerak cepat mengelilingi Yawen dengan menghunus tombak serta pedang begitu menyaksikan rekan – rekannya dikalahkan, Long Yawen cuma menguap kemudian menggemertakan buku – buku jarinya.


“Ada apa ini!? Kenapa ramai sekali!? Beri jalan!”


“Eh? Komandan?” kata pemimpin prajurit usai kedatangan pria berzirah hitam.


“Kau sedang apa? Cepat menyingkir bodoh! Rombongan Black Dragon King baru pulang dari medan perang!”


Seketika kepanikan terjadi, mereka buru – buruk membersihkan jalan seolah melupakan kejadian tadi. Para pedagang menutup gerai masing – masing demi menyambut sang Raja. Sementara di tengah kerumunan Yawen perlahan mundur hati – hati akibat punya perasaan buruk apalagi setelah melihat kedatangan komandan barusan.


“Gawat! Gawat! Aku harus—aduh!? Hei!? Lihat – lihat dong kalau jal—Yah....“ Yawen menoleh kesal tetapi segera membeku sewaktu menyadari sosok yang ditabraknya.


“Nona muda, kita harus bicara. Merusak fasilitas umum, kabur dari istana hampir seminggu, membuatku diceramahi ibumu sejak disambut di pelabuhan. Kau siap menerima konsekuensinya bukan? Yaya?”


“Wawawawa.....”


Gadis tersebut berusaha melarikan diri namun Long Guanting sudah memegangi jubah miliknya, karena memberontak perlahan tudungnya pun terbuka. Mata semua penduduk langsung membelalak begitu mengetahui wajah dibalik penutup barusan.


“PUTRI MAHKOTA....LONG YAWEN?!! EHHH....?!”


Ch.132 (150)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 18 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).