The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 292 - Inspeksi



“Yao She—“


JLEBBB....!!!


“Berani sekali kau mengalihkan pandanganmu dariku....” bisik Lian dingin setelah berhasil menancapkan pedangnya menembus leher Medusa melalui samping.


“Ugh....oek....terkutuk kau Ice—”


“Berisik”


SRAT....!!! BRUKKK....!!!


Rambut – rambut ular Medusa yang hendak mengigit Bing Lian langsung berhenti bergerak begitu kepalanya terlepas kemudian jatuh menggelinding pada tanah, Lian berhasil memenggalnya sebelum turun dari pundaknya mendekati Sheyan. Terdengar bunyi benda berat terjatuh sewaktu fisik sang Dao Beast tersohor tumbang, menyaksikan gugurnya puan mereka. Para anak buah Medusa berlarian menyelamatkan diri.


Tapi ada beberapa memilih menyerah dan terduduk lesu terutama pemilik luka – luka bakar akibat Purple Flame, nampak tidak perduli akan nasib ke depannya entah dibunuh atau dibiarkan hidup oleh pihak musuh. Lian memanggil Flying Sword dalam Galaxy Ring buat mengejar anggota tersisa karena dapat menimbulkan kekacauan jika sampai kabur.



“Kau baik – baik saja?”


“Umm....walau masih sedikit pusing, terima kasih. Kalau bukan karenamu mungkin aku tetap dikontrol Medusa” Yao Sheyan menunduk malu.


“Hehehe....kau ini bicara apa? Kaulah yang hebat mampu melawan balik pengendali pikirannya, aku cuma memberimu sedikit dorongan”


Muka Sheyan panas sekali ketika Bing Lian menepuk lembut bangga rambutnya hingga gagal mengangkat wajah untuk waktu cukup lama. Lian memperhatikan sekeliling demi memastikan kondisi Kirka serta Bubu. Meski menderita cedera kelihatannya nyawa masing – masing tak terancam, tiga jenderal Medusa bertahan hidup juga duduk tanpa menunjukan gelagat mencurigakan.


“Nee....Lian?”


“Hmm?”


“Bisakah kau berhenti? Ini agak memalukan....”


“Ahh.....ahahaha.....maaf, kebiasaanku. Oh iya coba lihat kemari” kata Lian buru – buru melepasnya terus mengeluarkan cermin.


Yao Sheyan mendongak dengan pipi merah padam namun ekspresinya cepat berubah begitu memandang pantulan dirinya dalam kaca. Pupil runcing mirip reptil miliknya telah hilang total, usai menyadari fakta barusan Sheyan menyentuh kedua bola matanya dan menangis haru akibat merasakan seluruh beban dosa maupun kekangan hidupnya akhirnya terangkat.


“Hiks....uhhh....”


“Hehehe....selamat ya, kerja bagus....”


“K....ki....kita menang?” Yao Sheyan bertanya masih sambil tersedu – sedu.


“Iya....”


“HUAAA.....!!!”


Sheyan memeluk erat pemuda dihadapanya sebagai bentuk rasa syukur, ia melepaskan semua campuran perasaan sedih, senang, dan lega pada tangisannya. Bing Lian membalas pelukannya sembari mengusap – usap rambutnya, pasti berat sekali bagi gadis semuda Yao Sheyan menghadapi takdir mewarisi Petrified Gaze ditambah harus kehilangan orang tuanya pikir Lian sehingga membiarkannya bersandar sejenak ke pundaknya.


Suaranya memenuhi ruang tahta sekaligus menarik perhatian setiap individu sekitar sana, Bubu menghampirinya sudah dalam wujud kecilnya sekali lagi berniat mengurangi kesedihan gadis tersebut. Kirka pun ikut siuman lalu tersenyum bahagia atas keberhasilan mereka mengalahkan Medusa.


><


Yao Sheyan mengobati Bubu, Kirka, beserta jenderal – jenderal Medusa tersisa tanpa banyak berkomentar, suasana hatinya nampak sangat baik setelah kutukan miliknya dihapuskan. Sesuai arahan Bing Lian, Kirka mengeluarkan tahanan – tahanan manusia Medusa.


Beberapa kondisinya parah sekali sampai membutuhkan perawatan pertama dari Sheyan, walau demikian jumlah terselamatkan hanya sekitar lima puluh jiwa. Dia berencana mengangkut masing – masing pulang menuju dunia nyata, usai mendengarnya mereka bertukar pandang khawatir.


Takutnya nanti sulit beradaptasi dan berbaur bersama manusia normal, terlebih penampilan semuanya sangat tak biasa. Kurang lebih begitu aspirasi ketiga jenderal Medusa, Lian menjelaskan kalau ia mengerti. Tetapi belajar banyak lebih baik ketimbang harus menetap dalam Dao Realm tanpa seorang tuan, mereka bakal jadi sasaran empuk penghuni – penghuni lainnya.


“Lagi pula Dao Realm bukan tempat untuk kalian”


“Ia benar teman – teman, kita pasti bisa. Jika warga menolak interaksi dengan kita mari ciptakan desa sendiri” seru Kirka mendukung usulan Bing Lian.


“Caranya?”


“Eh....eeee....aku juga masih belum kepikirkan mengenai jawabannya. Namun tak ada salahnya mencobakan?”


Akhirnya meski berat hati nampaknya ucapan Kirka meruntuhkan pertahanan terakhir mereka, Lian tersenyum puas menyaksikan kejadian barusan dan berpendapat jika perempuan tersebut punya jiwa pemimpin bagi rekan – rekannya. Sesudah persiapan selesai, Bing Lian memasukan jasad Medusa ke Galaxy Ring miliknya lalu memimpin rombongan keluar markas.


“Haruskah kau membawanya begitu?” Yao Sheyan bergidik sedikit melirik Lian sebab si pemuda berambut putih menenteng kepala Medusa dengan santainya. Sebenarnya semua pasang mata memperhatikan tindakannya.


“Bu....”


“Ah....ini? Cuma jaga – jaga saja misal dibutuhkan sebagai bukti”


“Maksudnya?”


“Jangan terlalu dipikirkan, kalian semua sebaiknya mempersiapkan mental. Aku merasa bakal ada inspeksi mendadak”


“Hah?”


Sheyan mengangkat kedua bahunya heran menyaksikan senyum misterius Bing Lian, ia lanjut menggendong Bubu yang sebelah matanya diperban usai terkena sayatan Medusa. Sepertinya kondisi Bubu mustahil kembali layaknya sedia kala namun Yao Sheyan masih bersyukur peliharaanya masih berhasil diselamatkan walau sempat panik karena adanya racun pada senjata Medusa, untungnya Kirka mempunyai penawarnya.


Saat baru menginjakan kaki ke permukaan, tubuh masing – masing mendadak merasakan tekanan Qi luar biasa. Punggung mereka seolah dijatuhkan batu seberat ratusan ribu ton hingga kesulitan bernapas serta hampir pingsan, untungnya itu hanya berlangsung satu mili detik karena Bing Lian sigap membentuk pelindung agar anggota rombongan selamat.


“Hah....apa – apaan tadi!?” gumam Sheyan cepat.


Sewaktu hendak bertanya kepada Lian, Yao Sheyan memperhatikan kalau si pemuda berambut putih tengah mendongak. Ia pun menyadari orang – orang sekelilingnya melakukan hal sama dengan wajah pucat pasi, bingung dia akhirnya ikut menatap menuju titik serupa.


Hatinya langsung mencelos, jantungnya seakan terjun bebas hingga dasar perut. Timbul perasaan takut yang sempat dirinya rasakan ketika tiba pertama kali di Dao Realm, mulut Sheyan bergetar maupun bergerak – gerak tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun.



Perasaan bahagianya sukses mengalahkan Medusa dan bebas dari kutukan menguap tanpa sisa karena pada hadapan mereka sekarang terdapat seekor ular berukuran tak masuk akal. Dia melingkari Ancient Serpent Valley sekaligus menutupi langit malam Dao Realm, setiap bergerak sisik hijaunya menimbulkan gempa – gempa kecil menghiasi pijakan kelompok Lian.


Saking besarnya Yao Sheyan menduga makhluk tersebut mampu melilitkan badannya ke Adamantine Peak cukup mudah, pemandangan mengerikan ini dapat mengakibatkan manusia paling berani sekalipun terkencing – kencing. Bing Lian berjalan keluar barisan supaya fokus ular tadi cuma mengarah kepadanya.


Ia kelihatan tenang bahkan sempat memerintahkan semua buat diam dahulu, selang beberapa detik datang seekor ikan pari terbang menjemputnya. Lian menaiki punggung Mingwang untuk mendekati sang monster, tidak membutuhkan waktu lama baginya berdiri sejajar menghadap reptil seukuran gunung barusan.


“Sssshhh....aku merasakan banyak hal....dalam wilayah kekuasaanku. Entah White Flame, hawa jahat, serta kematian keturunanku. Ternyata kau rupanya dalangnya, ssshhh....Bing Lian....”


“Yo? Senang bertemu lagi, bagaimana kabarmu? Rajanaga?” Lian menyapanya dengan senyum khas.


Ch.292 (397)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 105 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).