
TUING! TUING! TUING!
Bing Lian, Yao Sheyan, dan Bubu bertukar pandang usai menemukan tiga Dao Beast berwujud ikan pari tengah bermain – main dengan melompat di atas jamur – jamur berukuran sedang yang menghiasi tanah sekitar hutan.
Mereka memiliki warna terang serta kelihatan bahagia sekali sampai – sampai tidak menyadari kehadiran sosok asing mendekat, Bubu nampak senang menemukan teman kemudian hendak berlari menghampiri. Tetapi Lian buru – buru menghentikannya karena dapat menimbulkan kepanikan.
Sayangnya tindakan tadi menimbulkan bunyi keras akibat salah satu meginjak ranting pohon kering hingga patah, mengetahui ada hal tak beres masing – masing Dao Beast pari mengakhiri kegiatannya terus bergegas menghilang dari pandangan.
“Bubu....?”
“Bu....” Bubu menunduk menyesal mendapatkan tatapan jengkel Lian.
“Kau hendak melakukan apa?”
“Menunjukan kita bukanlah ancaman”
“Alasannya?” celetuk Sheyan penasaran.
“Sebab mereka bisa mempertemukan aku dengan kenalan tersebut, ayo kalian ikut. Agar kita dianggap tidak menyembunyikan apapun”
Akhirnya atas perintah Bing Lian rombongan kecil itu keluar persembunyian sekaligus mendekati lokasi terakhir pari – pari sebelumnya bermain jamur trampolin, Lian mampu merasakan jika ketiganya masih berada sekitar situ mengamati hati – hati dirinya bersama kedua rekannya.
Bing Lian pun duduk disusul Yao Sheyan yang tengah menggendong Bubu, perlahan Lian mengeluarkan potongan Sharp Azure Pineapple dalam Galaxy Ring dan meletakannya sejauh lima meter. Berharap para Dao Beast barusan bakal tergiur oleh makanan lalu menampakan wujudnya sekali lagi.
Sepuluh menit terlewat belum ada tanda – tanda hingga Lian berdecak kesal karena harus memikirkan cara lain buat menemui temannya namun sewaktu hendak bangkit seekor pari mungil berwarna kuning muncul melalui balik bayang – bayang rindangnya hutan. Ia mengendus – endus pemberian Lian sembari melirik mereka ragu – ragu.
Bing Lian perlahan mengangkat tangannya juga menunjukan kalau telapaknya bersih sebagai pertanda dia tak punya maksud jahat, usai merasa cukup aman atas gerak – gerik manusia berambut putih tersebut dia pun memakan potongan Sharp Azure Pineapple tanpa beban. Selang sebentar teman – temannya pun ikut menyusul.
Lian menghela napas lega sebelum memberikan acungan jempol kepada Sheyan, tidak lupa Bing Lian menunjuk bergantian antara matanya sendiri dengan si unggas dalam pelukan gadis itu seolah berkata ‘Aku mengawasimu, jangan macam – macam atau kukirim kau pulang. Mengerti?!’.
Bubu langsung mengangguk dongkol nan murung selagi kepalanya dielus Yao Sheyan, tetapi semangatnya kembali secepat hilangnya sesudah Lian melemparkannya potongan Sharp Azure Pineapple lainnya.
“Bu!”
“Dasar murahan....” komentar Sheyan menggeleng heran menyaksikan sikap peliharaannya sayangnya Bubu tetap cuek selagi memperoleh makanan enak.
Ketiga pari tadi mengeluarkan suara senang usai menghabiskan buah pemberian Bing Lian, mereka kelihatan sangat menyukainya sebab pada dasarnya di Dao Realm mustahil menemukan santapan selezat Magic Plant berupa nanas biru berduri tersebut.
Kebanyakan memang Dao Beast hanya mengkonsumsi Qi sehingga mereka sangat kegirangan sekarang. Menyadari keputusannya telah tepat, Lian mengeluarkan lebih banyak lagi dalam genggamannya supaya menarik perhatian sekaligus membuat masing – masing mendekat.
Rencananya pun berhasil, belum sampai lima menit Lian maupun Sheyan dikelilingi pari – pari kecil barusan yang mengajak mereka bermain entah dengan cara bertengger menghiasi atas kepala atau kejar – kejaran bersama Bubu mengelilingi kelompok itu.
“Hahaha.....kalian lucu sekali, Lian? Boleh aku membawa satu pulang?”
“Kau ini bicara apa? Mereka Dao Beast, buat kontrak dulu sana” Bing Lian menggaruk – garuk pipinya karena merasa seperti tengah menonton Jin Chyou memeluk wujud naga cebol Baixian. Dia tidak paham mengapa anak perempuan selalu tertarik terhadap makhluk bertampang imut.
“Kalau demikian sepulagnya ajari aku ya!? Hehehe”
“Kau punya Kakek angkat luar biasa hebat kenapa malah minta ke aku?”
“Diakan sibuk, aku segan mengganggunya” sahut Sheyan cemberut.
“Hah....kau tau Nona Yao? Ucapanmu tadi mengkonfirmasi jika kau tidak perduli sama sekali kalau merepotkan diriku”
“Tentu”
“Ahhh....sudahlah lupakan, kawan kecil?” panggil Lian melirik pari yang mendiami atas kepalanya.
“Nue?”
“Bisakah kalian mengantarku menemui Mingwang?”
Bing Lian dan Yao Sheyan jalan menembus hutan bersebelahan mengikuti ketiga pari serta Bubu yang bergerak gesit sekali melewati celah – celah sempit tanaman belukar. Lian sekali lagi memunculkan bola Qi sebagai penerangan agar tidak tersandung akibat banyak sekali material – material menghiasi permukaan tanah di sana.
“Nue!?”
“Kau yakin keputusan ini tepat?” Sheyan melirik pemuda itu soalnya merasa kian jauh masuk ke dalam hutan misterius tersebut. Seiring waktu pohon maupun jamur raksasa jaraknya makin berdekatan sampai langit tidak nampak bagi keduanya.
“Umm....”
“Kenapa kau bisa tenang sekali sih?”
“Firasat mungkin” sahut Lian santai.
“Memang hubungan mereka dengan kenalanmu kira – kira apa?”
“Kemungkinan besar keturunan, tapi nanti kita lihat demi memastikan semuanya”
Sebelum sempat bertanya lebih banyak soal teman Bing Lian, tiba – tiba keduanya terpaksa berhenti karena para pengantar melakukan hal serupa. Tiga pari duduk menunggu kedatangan Lian juga Sheyan, sesampainya seakan berkata supaya masing – masing menunggu pada titik barusan dengan menepuk – nepukan sirip. Para pari mengeluarkan suara lengkingan tinggi.
“Nue................!?”
Yao Sheyan dan Bubu yang tak siap menghadapi cara komunikasi barusan harus menutup telinga sembari mengenyitkan dahi pusing, sementara Lian sendiri masih kelihatan santai. Itu berlangsung sekitar lima menit, kemudian begitu selesai suasana menjadi sangat hening.
“Kalian....setidaknya beri peringatan kalau ingin berbuat demikian!?” Yao Sheyan protes.
“Bu! Bu! Bu!”
Namun ketiganya mengabaikan perkataan gadis tersebut terus melompat – lompat senang layaknya anak – anak pada umumnya menuju suatu arah yang sejak beberapa menit lalu Lian secara misterius menoleh ke sana. Sheyan bertukar pandang heran bersama Bubu, ketika Bubu hendak menyusul teman barunya Bing Lian memegangi tengkuknya mirip induk kucing menggendong bayinya.
“Bu?”
“Jangan dulu Bubu, bahaya kalau kau terlalu dekat” peringat Bing Lian serius.
“Hah? Kau bicara soal—“
“Nueeee.....!? Mama! Mama! Mama!”
BRRRR.....!?
Ucapan Yao Sheyan segera terpotong usai pijakan rombongan bergetar hebat, mungkin salah satu gempa paling besar pernah ia rasakan selama hidupnya. Untungnya kala hampir terjatuh Lian berhasil menggapainya kemudian menariknya supaya mendekat, perasaan cemas Yao Sheyan pun menurun drastis dalam dekapan Bing Lian.
Tetapi momen tersebut tak berlangsung lama sebab dirinya maupun Bubu langsung mematung ngeri begitu tanah di hadapan mereka perlahan terangkat ke udara, saat melayang seutuhnya barulah terlihat semacam makhluk berukuran teramat besar nan panjang. Bentuk kepala depanya lebar mirip ikan pari namun tubuhnya memanjang sekaligus menyatu sampai ekor.
Empat bola mata kehijauan mengerjap mengamati sosok – sosok di hadapannya, hal paling menyebabkan Sheyan serta Bubu ketakutan setengah mati adalah kenyataan bahwa hutan yang ketiganya jelajahi selama ini merupakan punggung hewan raksasa tadi. Jamur – jamur sebelumnya membuat badannya memliki corak garis bercahaya penuh aura intimidasi.
“Mama! Mama! Mama!”
GLEK!
“Apa – apaan....” Yao Sheyan bicara lemah sambil menelan ludah berat.
Ch.275 (375)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 100 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).