
Urat pelipis Medusa berkedut mendengar panggilan tadi, dia memperhatikan sekali lagi bocah itu baik – baik dari ujung rambut hingga kaki mencoba mengingat – ingat di mana pernah bertemu atau setidaknya ciri – ciri kenalannya yang mirip dengannya.
Soalnya hanya segelintir orang saja mengetahui sebutan sebelumnya, Yanqiu merupakan nama asli sekaligus pemberian langsung ayah dan ibunya sejak dilahirkan. Namun ketika diusir oleh Rajanaga ia mengubahnya menjadi Medusa sebagai simbol kalau sekarang berdiri sendiri tanpa ada kaitan bersama kelompok petinggi Dao Realm tersebut.
Seharusnya berdasarkan kali terakhir panggilan Yanqiu tergiang, cuma individu senior diantara senior mempunyai informasi mengenai masalah barusan. Terlebih fakta dirinya adalah seorang manusia makin menambah rasa curiga Medusa, mustahil bagi keturunan serta sosok memiliki hubungan bersama korban – korbannya dahulu tau tentang Yanqiu.
“Siapa kau....?” desisnya pelan memiringkan kepala.
“Kau tak mengenaliku? Jahatnya....”
“Nak...ini bukan tempat untuk bermain – main....” salah satu jendralnya menggeram menyaksikan sikap kurang ajar Bing Lian.
“Bagaimana ya? Tapikan harusnya aku yang marah karena dilupakan, kenapa malah sebaliknya?”
“Yang Mulia!? Izinkan hamba mencabik – mencabik penyusup keparat itu”
“Sebentar Leshtrayata....”
Para bawahannya bertukar pandang heran atas tanggapan tenang Medusa, soalnya ia terkenal sangat brutal nan mudah tersulut emosinya berdasarkan pengalaman – pengalaman mereka. Namun khusus terhadap pendatang tersebut Medusa kelihatan berhati – hati sekali, padahal bukan saja menerobos tanpa izin tetapi dia juga menghabisi begitu banyak anggota – anggota berharganya yang sudah dikumpulkan mati – matian.
“Kau berkata kita seharusnya saling mengenal?”
“Iya, kecuali kau terlalu tua makanya agak pikun”
“Bocah....aku cukup yakin ini merupakan pertemuan pertama bahkan terakhir kita sebab kau bakal tewas tak lama lagi” Medusa bicara dengan nada kurang senang ditambah menantang.
Jenderal – jendral Medusa menggangguk setuju, memang itulah Medusa sang pemimpin masing – masing. Lebih banyak bertidak ketimbang bicara omong kosong. Bagi sudut pandang kebanyakan, Lian hanya tengah mengulur – ulur waktu supaya masih bisa bernapas beberapa menit kedepan. Sayang dugaan ini terbukti salah total karena Bing Lian masih berdiri santai disitu sembari melipat tangan.
“Sungguh? Apa boleh buat jika demikian? Meski agak kurang seru baiklah. Biar kuberi kau sedikit petunjuk”
Awalnya Medusa menggeleng – geleng enggan lanjut meladeni ucapan tanpa dasarnya, namun usai Lian melakukan gerakan mengusap wajah sederhana. Jantung Medusa serasa berhenti berdetak sepersekian detik, warna pipnya secepat kilat berubah mirip susu basi.
Tentu pengikut – pengikutnya sekitar ruang tahta menyadari perubahan ekspresi majikan mereka tapi belum paham alasan Medusa pucat pasi, sebuah topeng keemasan baru saja muncul menghiasi muka Bing Lian. Dia mengeluarkannya dari dalam Galaxy Ring, salah satu koleksi yang dulu sering dirinya gunakan menyembunyikan penampilan aslinya.
Bentuknya khas sehingga mustahil direplika, mulai corak emas sebagai perlambangan derajat tinggi sampai aksesoris tanduk dan taring panjang pemberi kesan sangar maupun mengintimidasi. Lian sengaja mengenakannya ketika awal – awal berkeliaran di Dao Realm sesuai arahan Dao Beast pertamanya, yaitu dikarenakan umurnya masih sangat belia serta lemah.
Demi memperoleh pengakuan sekaligus tidak dianggap remeh, dia harus punya sesuatu keunikan supaya penghuni – penghuni Dao Realm mengenalinya juga tau sedang berurusan dengan lawan yang salah. Maka terciptalah benda ikonis bernama Golden Oni Mask, seiring meningkatnya sepak terjang Bing Lian pada dimensi ini makin terkenalah benda tersebut sampai – sampai muncul rumor tentang peristiwa perburuan iblis emas tiap bulannya. Kalau telah ditargetkan, kau akan diburu walau bersembunyi ke neraka sekalipun.
><
“Bohong....ini mustahil....kau sudah mati hampir lima ratus tahun yang lalu....”
“Nampaknya kau akhirnya mengigatku” ujar Lian kembali menunjukan wajahnya setelah dengan gerakan elegan menghapus topeng tersebut.
Medusa memperhatikanya sekali lagi secara seksama sembari menelan ludah berat, tebakannya benar entah penampilan, suara, mata, senyum, rambut, semuanya membawa dirinya balik ke masa beberapa ratus tahun lalu saat seorang pria seratus persen mirip mendatanginya.
Terlebih yang bersedia bergabung bersama Medusa bakal dibawa menuju Dao Realm sehingga Petrified Gaze berpindah lagi. Terus begitu hampir satu dekade sampai Ice Emperor memutuskan mengambil tindakan, Medusa mengenalnya sebagai sosok hebat terutama disebabkan hubungan baiknya dengan petinggi – petinggi termasuk Rajanaga Xiulong.
Menolak juga bukan pilihan bagi Medusa ketika kejadian soalnya dia masih membangun kekuatannya, sementara Bing Lian amat tersohor dan mempunyai banyak julukan contohnya Ice Emperor dan Majestic Tamer. Semisal disandingkan, Medusa cuma seekor nyamuk dihadapan naga perkasa.
Apalagi momen tersebut belum lama berselang sejak penangkapan para pembawa bencana olehnya sendirian, tentu Medusa enggan mencari masalah terhadap orang sehebat tadi kemudian memutuskan patuh. Menantangnya secara frontal sama saja bunuh diri, ia dapat menghabisinya tanpa perlu bersusah payah atau mungkin hanya membutuhkan hitungan detik.
“Kau tewas usai bertarung melawan Demon King.....bagaimana mungkin....kau....”
“Mengapa sangat terkejut? Jadi maksudmu kau lebih suka dan berharap aku sungguh mati?”
“Ugh....itu....” Medusa membuka mulutnya terbata – bata, badannya gemetar hebat sampai kesulitan bicara.
Ini adalah sebuah pemandangan baru untuk bawahan – bawahan Medusa, soalnya si wanita berambut ular dikenal tangguh bahkan terkesan angkuh selama memimpin mereka. Sedikit sekali individu dapat memberinya tekanan sebesar tadi, segelintir seperti Rajanaga Xiulong misalnya. Namun meskipun demikian dia tak pernah menunjukan kelemahannya depan anak buahnya agar menjaga wibawanya sebagai majikan.
“Kau kelihatan cukup percaya diri dengan informasi milikmu”
“T...ta...tapi bahkan Emperors Alliance Sect menganggap kau telah tiada”
“Ya benar, memangnya aku pernah menyangkalmu?” balas Bing Lian menaikan sebelah alisnya.
“T...te...terus siapa kau!?”
Seiring berjalannya diskusi makin timbul rasa penasaran besar terhadap identitas pemuda berambut putih tersebut. Tidak hanya Medusa, yang lain pun ikut bertanya – tanya mengenai jati dirinya yang sebenarnya. Kirka selaku pelayan Medusa kelihatan terkejut melihat Lian seolah bertemu kawan lama, sayangnya fokus Bing Lian masih tertuju seratus persen menuju sang ratu.
“Jadi maksudmu...karena alasan itu kau berani melanggar janjimu kepadaku? Sebab mengira aku wafat?”
“Hiyy....!?” seluruh bulu kuduk Medusa berdiri tegak ketika Bing Lian menyipitkan mata.
“Namun kau beruntung, aku kemari bukannya ingin menagih masalah itu. Jangan takut hehehe....”
“Apa? Kau...sedang bergurau dan mencoba membuatku lengah ya!?”
“Aku bersumpah, aku datang demi membantu seseorang” kata Lian memberi kode ke belakang punggungnya.
Tiba – tiba keluar gadis berambut ungu dari udara kosong, dia menggendong seekor binatang berjenis unggas. Sejak mencapai lokasi, tatapan tajamnya selalu melekat pada Medusa penuh kebencian. Merasa akhirnya punya kesempatan membalas segala kekacauan diperbuatnya selama ini menyebabkan ketakutan Yao Sheyan hilang bak debu tertiup angin.
Ch.284 (390)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 106 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).