The Rebirth Of Ice Emperor S2

The Rebirth Of Ice Emperor S2
Chapter 250 - Mata Terkutuk



BRAKK!!!


“Kau melihatnya?”


“Eh?” Bing Lian terkesiap akibat kemunculan Sheyan dengan ekspresi pucat pasi.


“Aku bertanya padamu apa kau melihat ke dalam ruangan rahasiaku?!”


“A..ak..aku hanya tidak sengaja mengintip karena terbuka ketika lewat jadi kupikir kau menyimpan garamnya di—“


“Pergi....” Yao Sheyan berbisik pelan, wajahnya menunduk tertutup aura gelap.


“Ngomong – ngomong Nona Yao, kau sebelumnya berkata tak punya bakat seni. Tapi menurutku keahlihan memahat patungmu luar biasa. Kelihatannya sungguh nyata”


“KUBILANG ENYAH DARI HADAPANKU...!!!”


BLAARR.....!!!


Mendengar bagaimana penekanan terakhir Lian sewaktu berbicara menyebabkan Yao Sheyan lepas kendali, ia mengayunkan kuat tangannya hingga membuat Bing Lian terhempas jauh sekaligus merusak hampir setengah bagian pondok miliknya.


Lian terpental sembari berusaha melindungi matanya, kakinya gesit menyentuh tanah kembali namun dorongan kuat angin terus menjauhkan tubuhnya dan memaksa terciptanya garis terseret besar menghiasi lokasinya berpijak. Bubu nampak terkejut menyaksikan kerusakan parah tersebut kemudian berusaha menyelamatkan diri menghindari berbagai material yang jatuh bertebaran.


“Cih....!?”


Bing Lian berdecak kesal terlebih menyaksikan Sheyan mulai berlari kabur entah kemana, Lian mengutuk kebodohannya dengan berbicara kasar kepada si gadis. Harusnya dia menggunakan pendekatan lembut ketimbang menekannya secara frontal lalu malah menimbulkan makin banyak kekacauan, Bing Lian mengeluarkan Ruler Clock Zone untuk memperbaiki seluruh kehancuran berbekal memutar balikan waktu.


“Bubu? Ayo kita harus mengejarnya” panggil Lian sebelum bergegas berangkat.


“Bu!”


Bubu pun terbang mengikutinya, dalam perjalanan benak Bing Lian dipenuhi pikiran soal kejadian tadi. Sekarang informasi pemberian Jin Chyou juga Xue Yi mengenai kepemilikan Yao Sheyan atas Gift Bizzare Eyes terbukti benar, masalahnya meski sudah mengetahui soal tipenya adalah petarung. Lian tidak menyangka bakal yang itu, parahnya lagi nampaknya hingga saat ini Sheyan belum mampu mengendalikannya.


“Kenapa harus mata terkutuk tersebut.....”


Bing Lian menggeleng – gelengkan kepala sadar betul mengeluh tak ada gunanya kemudian mempercepat lajunya melacak keberadaan Yao Sheyan, alasan mengapa dia menolak berburu serta jarang bersosialisasi dengan orang lain walau mempunyai sifat ceria dan senang bergaul makin jelas bagi Lian. Fakta barusan membuat dirinya merasa kewajiban menolong Sheyan bertambah besar.


Pencarian mereka berjalan kurang lancar sampai – sampai Bing Lian berharap telah memiliki Divine Sense, dia bertanya kepada Bubu kira – kira kemana Sheyan pergi semisal tengah ingin menyendiri ketika keduanya berhenti sejenak. Bubu kelihatan berpikir keras lama lalu menunduk murung karena sama – sama tidak mengetahui jawabannya.


Sebab kekurangan petunjuk akhirnya terpaksa Lian maupun Bubu berkeliling Pos Kedua Granyte Convert Sanctuary yang berukuran seluas lebar Adamantine Peak itu sendiri hingga kepayahan, selain melelahkan tentunya menghabiskan banyak sekali waktu. Bing Lian berandai – andai semisal mempunyai kesempatan lebih lama menjelajah sekitar sebelumnya mungkin masih ada peluang ia berhasil tetapi kini usahannya sungguh sia – sia.


Hampir tiga jam berjalan tanpa arah layaknya orang tersesat terus harapan kian menipis, Lian bersama Bubu berkumpul dekat sebuah sumber air untuk minum usai berpencar mencari petunjuk. Masing – masing memasukan beberapa teguk buat membasahi tenggorokan hingga sebuah getaran hebat terjadi, pada salah satu arah kawanan burung berpencar seolah menghindari sesuatu.



Keduanya bertukar pandang sesaat sebelum mengangguk, mereka berlari secepat mungkin sampai tiba di suatu lokasi berbentuk lekukan luar biasa besar. Sumber datangnya aura mengerikan tersebut tepat memancar dari pusat atau tengah area, Bing Lian segera memutuskan turun dengan berseluncur cuma berbekal kakinya.


Banyak tanaman berubah warna juga mengeras seperti batu menghiasi sekelilingnya namun dia tak perduli lalu melanjutkan perjalanannya, mengabaikan semua peringatan samar – samar barusan. Ia akhirnya berhenti usai menemukan sesosok manusia bernapas cepat sambil meringkuk menutup wajahnya.


“Bu!”


“Bubu!? Jangan kemari!?”


“Nona Yao? Kami datang ingin membantu” Bing Lian mencoba menenangkannya.


“Pergilah! Kau tidak mengerti! Aku tak mau melukai kalian berdua!”


“Tapi—“


Langkah mendekat Lian makin menyebabkannya tertekan kemudian mengeluarkan teriakan putus asa, saat gadis itu berhenti menutupi mukanya matanya memancarkan cahaya ungu terang ke angkasa. Kawanan burung melintas langsung kocar – kacir karena beberapa ekor bertransformasi menjadi batu lalu hancur lebur akibat jatuh menghantam bumi.


Begitu pandangan Yao Sheyan mulai turun mengitari sekitarnya, Bubu mendorong Bing Lian demi menyelamatkannya namun Lian pun merespon cepat menariknya menggunakan benang agar terhindar dari serangan mengerikan tadi. Sebuah mantra emas yang menempel pada masing – masing pelipis Sheyan perlahan nampak terbakar habis dan lenyap tanpa sisa, sang pemasang segel segera mendongak menyadari ada hal tak beres di kediamannya dan buru – buru terbang untuk pulang.


><


“Bubu tunggulah sebentar, aku akan mencoba menenangkannya atau segalanya bakal bertambah parah”


“Bu!”


Bubu mengangguk sembari menguatkan cengkramannya ke tanah agar tidak terhempas sebab tubuh Yao Sheyan mengeluarkan angin kuat akibat perputaran Qi kencang melapisi sekitarnya. Bing Lian perlahan berdiri terus secara bertahap langkah demi langkah menghampiri gadis tersebut, Lian melindungi matanya supaya tetap mampu melihat meski hembusan bercampur berbagai material layaknya debu juga kerikil berseliweran memenuhi udara.


Sheyan masih menjerit menatap langit sehingga sinar Gift Bizzare Eyes miliknya beradu dengan atap Pos Kedua Granite Convert Sanctuary , untung berkat batuan hijau itu seluruh pancaran berbahaya ini terserap sekaligus tak membahayakan makhluk hidup lain seperti binatang dan tumbuhan.


Pemandangannya begitu memilukan karena Yao Sheyan memekik tanpa henti bagaikan hewan buruan tertangkap lalu menjerit putus asa buat mempertahankan kewarasannya. Perlahan air matanya mulai membasahi pipinya di tengah situasi sulit barusan, namun panggilan samar – samar berusaha mencapai dirinya.


“Nona Yao!? Kau mendengarku!? Hey Yao Sheyan?”


“Lian....? Hiks kuhomon berhenti....hiks jangan kemari....atau kau nanti bakal membatu layaknya setiap orang yang pernah kusayangi....” isaknya tidak berani menoleh menuju arah datangnya suara Bing Lian.


“Tenang.....semua pasti baik – baik saja, aku datang untuk membantumu....percayalah”


“Aku hanya merusak segalanya....hiks....”


“Sheyan tatap aku....”


Setelah Lian membujuknya terus menerus akhirnya Yao Sheyan memberanikan diri mengubah arah pandangannya perlahan, saat tatapan keduanya bertemu menjadi momen pertama kali Bing Lian melihat mata ungu mematikan tersebut pada kehidupan ini.



Dia pernah melakukan hal serupa dulu sekali jadi tak benar – benar terkejut, anehnya meski cahaya kiriman Yao Sheyan menyorotinya. Liah masih tetap bisa bergerak padahal Bubu sendiri sudah mencari posisi lebih aman, sambil melangkah Bing Lian membacakan sebuah syair dengan bahasa asing yang tidak dimengerti oleh Sheyan. Arti bagian awalnya kurang lebih sesuai isi pikiran Lian adalah, “Wahai Ular Pengutuk Langit, Tundukan Pandanganmu Terhadap Eksekutor Pilihan Surga....”.


Sakit kepala maupun sinar pembatu Sheyan perlahan berkurang seiring berjalannya waktu hingga habis sama sekali, matanya kembali normal tanpa memiliki corak – corak misterius. Bing Lian tiba di hadapannya masih membentuk mantra berbekal sebelah tangan, Lian menunduk sampai posisi masing – masing sejajar.


“Lihatkan? Aku bilang apa?”


“B...ba...bagaimana....kau?—” Yao Sheyan hendak bertanya namun terlanjur pingsan akibat kelelahan, Bing Lian menangkapnya tepat waktu sebelum terjatuh kemudian membawanya pulang ditemani oleh Bubu.


Special Ramadhan Up (30/30)


Author Note :


Done ya?! Izin libur seminggu dulu dan jadwal update bakal kembali seperti sedia kala. Thank You, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidzin Wal Faidzin semua....!!! Bye-bye!



Ch.250 (332)


Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 82 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).