
“K...ka...kau keparat! Beraninya kau membuat masalah dengan kami di wilayah kekuasaan Yang Mulia Medusa! Menyerang anggotanya sama saja memilih mati!”
“Sungguh? Namun aku masih sehat – sehat saja tuh” Bing Lian bertingkah memeriksa tubuhnya sendiri seolah mencari luka fatal yang mampu menyebabkannya tewas.
“Ugh....serang....!!!”
Tindakannya sukses memancing amarah ketua penjaga lalu membuat ia berteriak memerintahkan bawahannya menyerbu Lian, secara beriringan sekitar lima puluh pasukan menerkamnya berbekal senjata masing – masing. Saat berlari tudung jubah mereka terjatuh menunjukan wajah – wajah berhiaskan sisik ular.
Bahkan ada juga beberapa memiliki setengah badan berupa ekor panjang seperti binatang – binatang melata, Bing Lian sengaja agar disergap demikian karena cukup percaya diri akan kemampuannya dan hendak menyelesaikan semuanya seefektif mungkin.
Soalnya energinya tidak boleh habis di sini mengingat masih ada musuh – musuh jauh lebih kuat menanti dalam markas Medusa, serangan bergerombol bakal mempermudah dirinya mempersingkat waktu pertarungan. Sembari memberi arahan supaya Yao Sheyan yang sedang bersembunyi dalam Unseen Robe mundur sedikit menjauhi area berbahaya.
Lian memasang kuda – kuda rendah, tangannya diposisikan membentuk cakar harimau. Mata Sheyan melebar penasaran, setaunya Bing Lian adalah pendekar pedang. Ini merupakan kali pertama gadis tersebut menyaksikan Lian akan bertarung hanya menggunakan tangan kosong.
“Tiger Claw Fifth Style – Cloud Ripple Pattern”
“Jangan – jangan....Body Refining?” gumam Yao Sheyan pelan.
Ketika hantaman sudah mustahil dihindari, dua pengguna tombak paling depan kaget bukan main akibat kemunculan tiba – tiba Bing Lian di hadapan mereka padahal sebelumnya jaraknya masih lumayan jauh. Lian mencengkram kuat lengan pakaian masing – masing, para korban menyadari bahaya terus mencoba melepaskan diri.
Sayangnya peganganya terlampau kuat atau dapat dibilang tak bergeming sedikitpun, Bing Lian menarik keduanya mendekat dengan cepat hingga kepala penjaga Medusa barusan menubruk otot tangannya kemudian terjerembab jatuh disertai hidung berdarah.
Cairan merah itu mengguyur wajah dua sosok tadi hingga berubah warna, belum sempat bangkit dan merasakan sakit berkepanjangan. Lian mendaratkan bogem bagai kilat yang sukses menyebabkan otak mereka berceceran kemana – mana, sembari membersihkan darah sekitar pipinya Bing Lian menunjukan gestur menantang berbekal gerakan jarinya.
“Selanjutnya....” ucapnya lirih.
Tetapi usai menemukan kedua rekannya tewas dalam kurun waktu tergolong singkat, semuanya menghentikan langkah lalu menelan ludah berat mulai ragu – ragu. Pertanyaan apakah telah mengganggu orang salah perlahan memenuhi benak rombongan itu, posisinya kian sulit. Maju mengantar nyawa, mundur dihukum mati. Tidak ada pilihan rasional ketika situasi begini.
Sang ketua pun merasakan tekanan pandangan meremehkan Lian, namun demi menjaga martabatnya sebagai pemimpin sekaligus mengobarkan semangat anak buahnya. Dia berteriak penuh tenaga untuk mengingatkan lawanya seorang diri, meski kuat pasti mempunyai batasan.
Sehingga bukan mustahil pasukan berisikan kurang lebih lima puluh orang tersebut bisa keluar menjadi pemenang, baru saja anggota – anggotanya mengangguk menyetujui ucapannya juga bertukar pandangan hendak menyerbu kembali. Bing Lian merebut tombak musuh terakhirnya terus melemparnya acak.
SYYUUUU...!!! JLEBB!
Udara berdesing seolah terlewati peluru dan akhirnya menghilang selesai senjata – senjata kiriman Lian menancap pada kepala korban berikutnya, warna muka semuanya menghilang seketika sebab Bing Lian berjalan santai menghampiri rombongan sambil menggemertakan tulang belikatnya yang agak pegal.
KRETAK! KRETEK!
“Jika tidak mau maju, bagaimana semisal aku saja mendatangi kalian hmm?”
Bagi penjaga pintu masuk markas Medusa, gabungan suara tadi terdengar seakan pertanyaan Dewa Kematian tengah membawa rantai untuk mengikat jiwa jahat menuju neraka. Karena insting bertahan hidup, walau tau hampir pasti mati kalau menyerang seluruhnya memutuskan mengeluarkan raungan perang kemudian menyerbu.
Lian cuma tersenyum menyambut kedatangan mereka dengan hangat, dia bergerak mirip roh gentayangan di sela – sela pria berjubah cokelat. Melepaskan pukulan maupun tendangan yang mengincar titik – titik vital berbekal tenaga luar biasa besar, bunyi pertemuan antara tulang serta kulit memenuhi sekitar.
BAK! BUK! KRAK! BAK! BUK! BEK! BOK! KRAKKK!!! DUARRR....!!!
><
Yao Sheyan juga Bubu hanya bisa melongo menonton pembantaian satu pihak tersebut, walaupun terkesan sadis nan sedikit mengerikan. Sheyan merasa si pemuda berambut putih begitu memukau bermandikan darah lawannya sampai dia harus menggeleng – geleng heran bertanya mengapa dapat berpikiran konyol layaknya barusan.
Sempat terbersit sekilas dalam benaknya mungkinkah berkat Body Refining miliknya?, soalnya pergerakan Bing Lian penuh aura dominasi seorang Raja yang bahkan ikut menghipnotis beberapa anak buah Medusa hingga terpana. Wibawanya nampak sangat jelas, tapi saat menyerang luar biasa mematikan mirip pembunuh bayaran.
Dia tak segan mengincar bagian terlemah serta sentral contohnya mata, tenggorokan, dada, dan lain – lain dengan kekuatan setara gerombolan ratusan ekor gajah marah. Atau bisa jadi bayangan tadi cuma merupakan pembelaan diri Yao Sheyan saja sebab sesungguhnya sudah mulai tertarik kepada Lian.
BUAKH....!!! WUSSHHH!!!
Ketua penjaga pintu menelan ludah berat sewaktu salah satu anggota sekaligus orang terakhirnya terhempas melewatinya sangat kencang kemudian menabrak gerbang masuk markas hingga roboh, angin bekas tiupan sebelumnya melukai pipinya sampai mengeluarkan darah segar.
Sementara pria di hadapannya tertekan, Bing Lian membersihkan bercak – bercak merah yang menghiasi tubuhnya sembari mendekat. Menyadari mustahil menang, ia pun bersujud memohon ampun bahkan sebelum Lian bicara lebih jauh.
“Oi kau—“
“Tuan! Maaf atas kelancangan saya! Anda pasti tamu kehormatan Yang Mulia! Seharusnya saya tau....”
Mendengar ucapannya Lian berhenti sebentar mengangkat alisnya sedangkan ketua penjaga berdoa tulus dalam hati demi keselamatannya, selang sepersekian detik Bing Lian lanjut melangkah sembari mengangguk – angguk seolah membenarkan, “Kan aku bilang hendak membuat kontrak, kalian malah menertawakanku”.
“Ya Tuan sekali lagi aku minta maaf!”
“Seharusnya bicara lebih cepat, jadi bawahan – bawahanmu tidak perlu mati konyol”
“Saya mengerti, untuk bentuk balas budi izinkan saya mengantar anda ke ruang tahta”
“Terserah kaulah, ayo....” Lian sengaja mengeraskan suara agar Sheyan mengikutinya.
Yao Sheyan menangkap pesannya lalu bergegas, namun di tengah – tengah perjalanan dia terpaksa terdiam dulu akibat rasa perih tiba – tiba sekitar bola matanya, ia mengerang pelan terus menyebabkan Bubu khawatir. Begitu perlahan pandangannya kembali normal, Sheyan memperhatikan gerak – gerik mencurigakan laki – laki ular dekat Lian berada.
Dia menyeringai lebar terus segera berusaha menggapai pundak Bing Lian ketika pemuda itu telah memunggunginya, cahaya keunguan persis milik Sheyan nampak tengah berkumpul menyelimuti wajah si ketua siap ditembakan dalam jarak mustahil untuk dihindari oleh target. Yao Sheyan panik lalu keluar Unseen Robe hendak memperingati adanya bahaya, tetapi detik berikutnya kata – katanya menguap begitu saja.
“LI—“
“HAHAHA...MATI—“
BUAKHHH....!!!
“Kau pikir trik murahanmu bakal berfungsi padaku? Bukankah aku sudah tanya sejak awal? Kenapa kalian tertawa? Apanya yang lucu sih?” gumam Bing Lian usai melepaskan sepakan memutar cepat hingga kepala orang sebelumnya menghilang entah kemana.
Ch.281 (385)
Penasaran kelanjutannya? Jika ingin membaca 104 chapter lebih cepat tau harus kemana bukan? ^^
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui K********a\, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000\,- saja\, pembayaran dapat dilakukan via Gopay\, Ovo\, Transfer Bank\, juga Alfarmart (btw update di sana juga lebih cepat lho\, Ciao!).