
Nathan kembali ke rumah dan disambut oleh Sheila dari balik pintu. Wajah lelahnya ia sembunyikan ketika melihat senyum manis sang istri tercinta.
Sheila langsung memeluk Nathan dan memberinya semangat. Ya, kini mereka sudah membuat kesepakatan jika mereka sudah berada di rumah ketika jam makan malam tiba.
"Kamu mau mandi dulu?" tanya Sheila.
"Iya. Kamu masak apa hari ini?" Nathan mencium aroma lezat dari arah dapur.
"Aku masak gurame asam manis. Aku sudah siapkan air hangat untukmu mandi."
Mereka berdua berjalan bersama menuju kamar mereka. Dengan telaten Sheila melepaskan dasi di leher Nathan lalu jas juga kemejanya.
"Sepertinya sangat lelah ya!" ucap Sheila yang melihat raut wajah Nathan yang nampak berkerut.
"Hmm, begitulah."
"Rendamlah tubuhmu dengan air hangat, setelah itu kita makan malam bersama." Sheila mengecup singkat bibir Nathan kemudian berlalu.
Usai membersihkan diri, Nathan menghampiri Sheila yang sedang menata makanan di meja makan. Sheila pulang ke rumah pukul lima sore dan langsung bergegas menyiapkan segalanya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan jadi istri yang lebih baik untuk Nathan.
Mereka berdua makan dalam diam. Sesekali Sheila melirik wajah suaminya yang nampak memikirkan banyak hal.
Setelah bersantap malam, Nathan menuju ke ruang TV dan menonton acara berita bisnis. Sheila mengupas buah dan memotongnya kecil lalu ia bawakan untuk Nathan.
"Lihatlah dia!" ucap Nathan dengan menunjuk arah TV.
"Hmm? Ada apa dengannya?" tanya Sheila.
Saat ini di televisi sedang membahas mengenai Damian Ford, seorang pebisnis muda yang handal dan memiliki kharisma yang berbeda untuk kaum hawa.
Sheila duduk di sebelah Nathan dan menyuapkan sepotong buah apel ke mulut Nathan.
"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Sheila lagi.
"Tadi siang kami baru saja bertemu. Aku sangat tidak suka dengan senyumnya! Lihat itu gayanya! Menyebalkan!" kesal Nathan.
Sheila tertawa kecil. "Ehem! Sepertinya Nathan Avicenna sedang kalah saing nih ceritanya?" goda Sheila.
"Katakan padaku! Bukankah AJ Grup juga bekerjasama dengan Ford Company? Kamu pasti sudah bertemu dengannya kan?"
"Eh?!" Sheila cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Nathan. Sheila menimang-nimang apakah ia harus bercerita jika dirinya sudah bertemu Damian jauh sebelum mereka menjalin kerjasama.
"Dia tidak bertindak macam-macam denganmu kan?" tanya Nathan.
"Hei, Tuan Su! Kenapa bicara begitu? Kami hanya..."
"Hanya apa?"
Sheila berpikir sejenak. Oke! Sudah diputuskan! Dia harus jujur.
Sheila duduk menyamping menghadap Nathan. "Tuan Su..."
"Hmm, apa yang ingin kau katakan?"
"Sebenarnya..." Sheila bercerita panjang lebar awal mula pertemuannya dengan Damian Ford.
Nathan nampak menjadi pendengar yang setia. Sedikit pun ia tak memberikan respon pada apa yang diceritakan oleh Sheila. Ia malah memperhatikan ekspresi wajah istrinya saat bercerita dengan jujur. Nathan tahu Sheila jujur.
Sheila terhenti. Ia menyudahi ceritanya. "Tuan Su?" Sheila memanggil Nathan karena pria itu tidak memberi respon.
Nathan menarik tubuh Sheila dalam dekapannya. "Aku tahu semuanya, Shei. Aku sudah tahu!"
"Hmm?" Sheila bingung.
"Kau tahu, aku selalu memantaumu lewat Danny," ucap Nathan yang kini jujur.
"Hah?!"
"Aku sudah tahu jika Damian sepertinya memiliki rasa terhadapmu."
Sheila diam dalam dekapan suaminya. Ia mendongak melihat wajah Nathan yang masih fokus pada layar TV.
"Siapa yang tidak menyukaimu, hmm? Kau cantik, pintar dan sangat menarik. Tapi sayang, kau sudah ada yang punya!"
Sheila terkekeh mendengar pernyataan Nathan.
"Dia mengajakku makan malam, Nate. Tapi aku menolaknya."
"Oh ya? Nekat juga ya dia! Dia juga mengajakku makan malam."
Sheila terlepas dari dekapan Nathan. "Tuan Su, bagaimana jika..." Sheila membisikkan sesuatu di telinga Nathan.
"Kau yakin?" tanya Nathan.
Sheila mengangguk mantap. Dan Nathan mengedikkan bahunya.
"Terserah kau saja, Shei..."
...***...
Hari ini Damian nampak tidak bersemangat. Setelah semalam terjadi perdebatan antara dirinya dan ayahnya. Damian memilih menyerahkan semua pekerjaan pada Josh dan malah pergi untuk menemui kakeknya.
Damian memang lebih suka bercerita pada kakeknya. Dan hanya dia saja yang membuat Damian menjadi lebih tenang.
"Tumben Tuan Damian datang jam segini?" tanya Celia ketika bertemu dengan Damian.
"Iya. Aku sedang bosan. Apa boleh aku bertemu kakek?" tanya Damian diiringi senyum manis maut khasnya.
"Tentu saja boleh. Mari silakan! Kakek Anda sedang bermain catur dengan teman-temannya."
Celia mengantar Damian menuju ruang tengah panti.
"Kakek!" sapa Damian.
"Whoah! Damian, cucuku! Kau datang, Nak!" Wajah Joseph berbinar senang mendapat kunjungan dari cucunya.
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Kek. Mari Tuan Damian!" Celia pamit undur diri setelah membantu Joseph untuk duduk di taman panti bersama Damian.
"Ada apa? Bukankah seharusnya kau berada di kantor?" tanya Joseph yang tahu jika cucunya pasti sedang ada masalah.
"Aku berdebat lagi dengan Jonathan. Aku tidak tahu jika dia kembali kesini," ucap Damian tertunduk.
Joseph menghela napasnya. "Mau sampai kapan kalian terus bertengkar begini?"
Joseph mengerti bagaimana perasaan cucunya. Karena dulu dirinya juga begitu menjaga Jonathan dengan baik. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Jonathan malah membantah dan berujung dengan pertengkaran yang tak pernah berakhir.
"Orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Maafkan kakek karena sudah membuat ayahmu seperti ini. Dulu kakek juga keras terhadap ayahmu. Hanya ibumu saja yang mampu memahami Jonathan."
Damian terdiam. Sungguh ia ingin berdamai dengan semuanya.
"Mulailah semuanya dari awal, Nak. Kesampingkan egomu!"
"Andai saja aku bisa, Kek."
"Bisa! Kau lihat itu?"
Damian mengikuti arah jari telunjuk Joseph.
"Celia? Kenapa dengannya?" tanya Damian.
"Dia juga berdamai dengan masa lalunya dan memulai hidup baru. Menurutmu, apa dia cantik?"
Damian menatap horor kearah kakeknya. "Apa maksud kakek? Kakek menyukai gadis muda itu?"
PLETAK!
Satu pukulan mendarat di kepala Damian. Pria itu meringis mendapat pukulan dari kakeknya.
"Ini saatnya kau membuka hati, Nak. Kakek menyukai gadis itu. Dia sangat perhatian sama seperti mendiang ibumu."
Damian memutar bola matanya malas.
"Maaf, Kek. Tapi aku menyukai gadis lain!" tegas Damian.
"Hmm? Benarkah? Kalau begitu kau harus segera mengenalkannya pada kakek." Joseph menaik turunkan alisnya yang sudah memutih.
"Ish, kakek! Aku belum sejauh itu dengannya!"
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponsel Damian. Ia membulatkan mata membaca pesan yang ternyata dari Sheila.
"Kek! Aku pergi dulu ya! Malam ini aku akan berjuang untuk mendapatkan hatinya!" ucap Damian dan segera berlari meninggalkan Joseph.
"Dasar anak muda!" Joseph geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya.
...***...
Malam harinya, Damian sudah siap dengan setelan jasnya dan juga menyemprotkan wewangian khas berbau maskulin. Hatinya sungguh berbunga karena Sheila menerima undangannya untuk makan malam berdua.
Damian sudah menunggu dengan jantung yang terus berdebar di sebuah private room resto yang disepakati dengan Sheila. Tangannya mulai berkeringat. Baru kali ini Damian merasakan sesuatu yang berbeda terhadap seorang wanita.
Di sisi lain, Sheila tiba di resto jepang kesukaannya bersama dengan sang suami. Ya, sebaiknya semua drama ini mereka akhiri. Mereka sudah sepakat akan mengumumkan pernikahan mereka di depan publik.
Sheila berjalan dengan memeluk lengan Nathan yang berdiri di samping kanannya. Mereka berjalan menuju sebuah private room yang sudah ada Damian disana. Sebenarnya ada sedikit rasa tidak tega jika harus mematahkan hati Damian. Namun sekali lagi, Sheila tak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan Nathan di kemudian hari.
Damian sangat gembira ketika pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok Sheila disana. Wajah yang berbinar senang kini berganti muram setelah melihat Sheila tidak datang sendiri.
"Selamat malam, Tuan Damian!" sapa Sheila.
Damian masih diam tak percaya. Ia memperhatikan gerak gerik yang dilakukan Sheila dan Nathan.
"Selamat malam, Tuan Damian. Tidak kusangka kita bisa bertemu lagi!" Kini Nathan yang bicara.
Damian menelan ludahnya kasar. Ia bertanya-tanya apa hubungan Sheila dan Nathan.
"Tuan Damian, kenalkan ini Nathan. Pasti kalian sudah saling mengenal, bukan?" ucap Sheila.
"Dia adalah suamiku," lanjutnya.
"Hah?! Su-suami?" lirih Damian dalam keterkejutannya.
...***...
Makan malam berakhir dengan rasa kecewa amat dalam yang dirasakan Damian. Tubuhnya berjalan gontai keluar dari restoran. Sebelumnya Nathan dan Sheila telah lebih dulu pergi.
Damian melajukan mobilnya menuju ke sebuah klub malam. Sepertinya para pria sangat suka dengan alkohol yang memabukkan ketika hatinya dilanda kegundahan.
Satu jam berada di dalam klub membuat Damian akhirnya seakan melayang entah kemana. Ia keluar dari sana dan kembali menyetir dengan kondisi yang tidak stabil.
Namun Damian masih bisa menguasai dirinya. Ia melajukan mobilnya perlahan dan berencana menuju pulang ke rumah. Namun diperjalanan, Damian merasa perutnya bergejolak hingga membuatnya harus keluar dari mobil dan turun di pinggir jalan.
Damian memuntahkan seluruh isi perutnya. Rasanya benar-benar melegakan, menurutnya.
Di sebuah mini market, Vania baru saja selesai berbelanja kebutuhan mendesak yaitu pembalut, hehe. Di seberang jalan, Vania melihat seorang pria yang sedang muntah-muntah di samping mobilnya.
Vania mengenali sosok pria itu. Karena merasa pria itu sudah baik terhadap dirinya, maka Vania menghampiri orang itu.
"Tuan Damian!" panggil Vania yang membuat Damian menoleh.
Vania mengernyit bingung. Ia pikir bosnya ini sakit, tapi ternyata hanya mabuk. Tercium aroma alkohol yang menyengat.
"Tuan mabuk?" tanya Vania yang melihat tatapan sayu Damian.
"Sheila! Apakah kau Sheila?" racau Damian.
"Hmm?" Vania mengernyit bingung.
"Sheila! Aku jatuh cinta pada pandangan pertama tapi kenapa kau menghancurkan hatiku..." racauan Damian semakin tak jelas.
Vania menggeleng pelan. Ia memutuskan untuk menghubungi Josh agar bisa menjemput Damian.
Saat sedang mencari nama Josh di kontak ponselnya, Vania terkejut karena Damian menarik tubuhnya lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Vania.
#bersambung...
*Yang kangen dengan Sheila dan Nathan, ni kukasih kemesraan mereka berdua 😬
*Khilapnya bang Dami 😬😬
Waaah bang Dami sampek kebayang kissing sm Sheila tuh 😅😅