My Culun CEO

My Culun CEO
#136 - Tak Seindah Harapan



Waktu sudah menunjukkan pukul enam petang. Freya menutup mulutnya yang menguap. Ia membereskan berkas yang ada di atas mejanya.


Lalu mengambil tas dan bersiap untuk pulang ke rumah. Diluar ruangannya, Vicky sudah sigap menunggu Freya.


"Kita pulang, Bang!" ucapnya.


"Baik, Nona." Vicky berjalan di belakang Freya.


Sementara itu, di balik dinding kokoh yang ada disana, Damian menatap kepergian Freya bersama dengan pengawalnya.


"Hah! Kapan Freya bisa lepas dari pengawal itu? Lagian Edo itu aneh. Kenapa juga harus mempekerjakan dia sebagai pengawal Freya." sungut Damian.


"Itu karena tuan Edo ingin melindungi adiknya dari Tuan!" sahut Josh yang sedang membantu Damian melepaskan aksesoris yang dipakainya seharian ini.


Kini Damian sudah berada di apartemennya bersama dengan Josh. Asistennya itu sengaja datang karena harus melaporkan kondisi perusahaan selama di tinggal oleh Damian.


Damian merebahkan diri di sofa sambil memijat kepalanya.


"Tolong kau panggilkan tukang pijat. Badanku rasanya remuk karena bekerja keras!" perintah Damian.


"Salah Tuan sendiri. Ini laporan hari ini, silakan Tuan cek dulu."


"Letakkan saja di ruang kerjaku. Aku akan mengeceknya nanti. Cepat carikan tukang pijat untukku!"


"Iya iya, Tuan. Akan saya carikan!" Josh meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Sementara itu, Freya baru tiba di rumahnya. Ia disambut oleh Liliana.


"Kamu pasti lelah, sayang. Mama sudah siapkan makan malam. Mandilah dulu lalu turun untuk makan malam."


"Iya, Ma. Terima kasih. Bang Edo sudah pulang, Ma?"


"Belum. Sepertinya dia ada janji makan malam dengan Rizka. Ah, mama jadi pengen cepat-cepat mereka menikah. Mereka sangat cocok kan?"


Freya tersenyum. "Iya, Ma. Mereka sangat cocok. Aku keatas dulu ya!"


Liliana mengangguk. Freya menaiki tangga menuju kamarnya. Tubuh lelahnya ia benamkan dalam bathup yang berisi air hangat.


Matanya terpejam agar bisa merileksasikan pikirannya. Namun tiba-tiba bayangan pria culun dan sederhana yang membawakannya makan siang tadi melintas dalam otaknya.


Freya menggeleng cepat. Ia segera keluar dari bathup dan keluar kamar lalu menuju meja makan dimana Liliana sudah ada disana.


"Makanlah yang banyak, Nak." Liliana menyerahkan piring untuk Freya.


"Terima kasih, Ma."


Freya melahap sedikit demi sedikit makanan di piringnya.


Liliana melirik kearah putrinya yang seakan tidak bersemangat.


"Ada apa, Nak?" tanyanya.


"Ah, tidak apa, Ma."


"Kamu pasti lelah bekerja ya. Kalau begitu harusnya kamu tidak perlu memaksakan diri. Kamu tidak harus setiap hari berangkat ke kantor. Lagipula perusahaan ini adalah milik papamu."


Freya menghentikan makan malamnya. "Aku melakukan ini karena aku ingin dan atas kemampuan sendiri, Ma. Bukan karena embel-embel keluarga besar ini." Suara Freya terdengar meninggi.


"Freya... Mama tidak bermaksud..."


"Maaf Ma. Aku sudah kenyang. Aku akan kembali ke kamar."


Freya beranjak dari kursinya dan menuju kamarnya. Sementara Liliana menghela napas. Ia merasa sangat bersalah karena sudah salah bicara pada Freya. Liliana segera meraih ponselnya dan menghubungi Edo agar segera pulang ke rumah.


Edo segera berpamitan pada Rizka begitu mendapat telepon dari sang mama. Ia mengecup sekilas bibir Rizka kemudian berlalu.


Rizka hanya menatap kepergian Edo dengan helaan napas. Ia sangat mengerti kondisi keluarga Edo terlebih soal Freya. Pasti tidak mudah bagi Freya untuk menerima keluarga barunya. Terlebih ia sama sekali tidak ingat apapun tentang masa lalunya.


"Kau harus bersabar, Rizka. Kau tahu jika Edo sangat menyayangi keluarganya. Jika kau mencintai Edo, maka kau juga harus mencintai keluarganya." gumam Rizka.


Edo mengendarai mobilnya dengan cepat hingga ia tiba di kediaman Moremans dan langsung menemui sang mama yang sedang menunggunya di ruang keluarga.


"Ma..." Edo duduk disamping Liliana dan menggenggam kedua tangan wanita paruh baya itu.


"Maafkan mama, Edo. Mama bersalah pada Freya. Bagaimana ini?" Liliana nampak menangis terisak.


Edo segera membawa tubuh Liliana kedalam dekapannya. "Ma, tenangkan diri mama dulu. Lalu ceritakan semuanya pelan-pelan saja."


"Mama bersalah, Edo. Mama sudah salah bicara."


Liliana menceritakan semua masalah yang terjadi antara dirinya dan Freya.


Edo memahami sikap yang diambil oleh Freya. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan sang mama. Karena pastinya Liliana tidak tahu jika Freya masih belajar untuk menerima keluarga barunya.


Tak ingin Liliana bertambah depresi, Edo mengantarkan wanita itu ke kamarnya lalu meminta Liliana untuk meminum obat penenang miliknya. Setelah Liliana terlelap, Edo keluar dari kamar ibunya dan menuju kamarnya.


Edo melirik kamar Freya yang tertutup. Ia hanya bisa menghela napas berat. Ia tak bisa memaksakan Freya untuk cepat menerima semua ini.


Edo masuk ke dalam kamar lalu membersihkan diri terlebih dahulu. Ia merebahkan tubuh lelahnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan yang membuatnya menarik sudut bibirnya. Itu adalah penggilan dari Rizka.


"Halo," sapa Edo.


"Kamu belum tidur?"


"Belum, ini baru mau. Kamu sendiri?"


"Aku ingin meneleponmu lebih dulu sebelum tidur."


Edo tersenyum.


"Dia baik-baik saja."


"Jangan marah pada Freya. Aku yakin ini masih berat untuknya. Kalian harus lebih bersabar menghadapinya."


"Iya. Terima kasih ya. Rasanya menenangkan memiliki seseorang untuk berbagi."


"Sama-sama. Sebaiknya kamu tidur."


"Hmm, kamu juga ya. Bye!"


Panggilan berakhir. Edo menghembuskan napas lega.


"Ternyata begini rasanya memiliki seseorang disamping hidup kita." gumam Edo kemudian memejamkan matanya dan bersiap pergi ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Freya berangkat lebih pagi dari biasanya. Saat ini ia tidak ingin bertemu dengan kakak maupun ibunya. Ia ingin sendiri dulu.


"Haaaaah!" Freya menghirup udara pagi yang sejuk dari atap gedung More Trans.


Pastinya tidak pernah terbayang jika dirinya adalah putri keluarga kaya. Matahari baru saja menampakkan sinarnya, dan Freya memejamkan mata merasakan hangatnya mentari pagi yang menerpa tubuhnya.


"Semuanya masih terasa sulit bukan? Terkadang melakukan sesuatu tidak sesuai hati akan membuat hari kita menjadi buruk."


Sebuah suara membuat Freya menoleh.


"Udin?" gumam Freya.


Udin alias Damian menghampiri Freya dan menyerahkan secangkir teh hangat untuk Freya.


Gadis itu menatap tangan Udin yang memegangi secangkir teh.


"Minumlah ini!" ucap Udin.


Freya menerima secangkir teh pemberian Udin.


"Terima kasih," ucap Freya.


"Setelah meminumnya, Nona harus segera kembali ke ruangan Nona. Akan terjadi kehebohan jika Nona tidak segera kembali." Udin pun berlalu pergi meninggalkan Freya.


Freya mengulas senyumnya lalu meneguk teh pemberian Udin.


Lima belas menit kemudian, Freya kembali ke ruangannya. Dan benar saja, Vicky dan Aisha sudah menunggunya disana.


"Nona! Nona dari mana saja? Saya mencari Nona!" cemberut Aisha.


"Nona baik-baik saja?" tanya Vicky.


Freya mengangguk. "Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya mencari udara segar saja. Sebaiknya kalian kembali bekerja!"


Aisha dan Vicky memberi hormat kemudian keluar dari ruangan Freya.


Freya menuju meja kerjanya. Matanya tertuju pads bungkusan yang ada di atas meja. Ia celingukan siapa yang sudah menaruhnya disana.


Freya membuka bungkusan itu yang ternyata sebuah roti lapis. Freya tersenyum tipis.


"Apakah itu kamu?" gumam Freya. Ia lalu melahap roti lapis itu dengan lahap. Ya, pagi tadi kebetulan ia belum sarapan.


Dari kejauhan, seseorang memperhatikan Freya yang sedang menyantap roti lapis pemberiannya. Siapa lagi kalau bukan Damian.


"Bersemangatlah, Freya. Aku akan selalu ada untukmu..." gumamnya dalam hati.


Sore harinya, Freya sengaja pulang lebih awal karena ingin menemui Liliana dan meminta maaf pada wanita yang sudah melahirkannya itu.


Freya berlarian menuju kamar Liliana dan bersimpuh di kaki wanita itu.


"Mama! Maafkan aku, Ma..." Freya terisak.


"Maafkan mama juga, Nak. Mama juga bersalah." Liliana ikut terisak.


Freya menggeleng. "Freya yang salah!" Gadis itu memeluk Liliana.


Pemandangan mengharukan itu disaksikan oleh Edo yang ikut larut dalam suasana sendu itu. Ia menghampiri kedua wanita yang amat dia sayangi itu dan memeluknya.


"Apapun yang terjadi, kamu tetaplah adik abang yang paling abang sayangi. Jangan memikirkan apapun meski kamu belum mengingat masa lalumu."


"Iya, bang. Maafkan aku ya." Mereka bertiga berpelukan dan saling terisak melepas sebuah kerinduan.


#


#


#


Esok paginya, Liliana menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya. Freya terus mengulas senyumnya dan mengambilkan sarapan untuk kakaknya.


"Abang harus makan yang banyak. Bukannya hari ini abang punya banyak agenda meeting?"


"Hmm, kamu juga ya! Makan yang banyak."


Freya mengangguk lalu menyantap sarapannya dengan lahap.


Liliana tersenyum lega melihat kedua buah hatinya makan dengan lahap.


"Oh ya, bagaimana dengan kabar Damian? Kenapa kamu tidak pernah bertemu lagi dengannya? Kondisinya sudah pulih juga kan?" Pertanyaan Liliana membuat Freya terdiam.


"Entahlah, Ma. Mungkin dia sedang sibuk. Kurasa dia baik-baik saja."


Edo melirik Freya yang nampak menunduk.


"Jika kamu memang mencintai Damian, maka akui saja, Frey. Abang akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu. Asalkan kamu bahagia. Abang tahu Damian banyak menyakitimu di masa lalu. Tapi abang yakin dia ingin berubah menjadi lebih baik. Abang hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian." gumam Edo dalam hati sambil menatap Freya sendu.