My Culun CEO

My Culun CEO
#1 0 1



Seorang gadis cantik turun dari pesawat yang membawanya kembali ke tanah air. Ia sudah memutuskan untuk akhirnya kembali ke tanah kelahirannya dan akan melanjutkan bisnisnya di tanah air.


"Selamat datang, Nona!" sapa seorang pria yang akan mengawal si nona.


"Iya, Farsh! Kau sudah siapkan apartemen untukku?"


"Namaku Fardhan, Nona, bukan Farsh!"


"Ish! Aku lebih suka memanggilmu Farsh! Itu terdengar lebih keren."


Pria bernama Fardhan itu memutar bola matanya. Jika bukan karena tuannya meminta untuk menjemput si nona muda, maka ia tak sudi untuk meladeni si nona muda yang manja ini.


"Baiklah, terserah Nona saja. Tuan Radit meminta saya untuk membawa Nona ke rumahnya."


Gadis yang tak lain adalah Rizka Hanggawan hanya bisa menatap kesal kearah orang suruhan kakaknya itu.


"What?! Tinggal dengan kak Radit? Again? Nope! Aku tidak suka dengan cara istrinya yang selalu menceramahiku! Lebih baik aku tidur di kolong jembatan saja dari pada harus tinggal disana!" kesal Rizka.


"Ya sudah! Saya hanya menjalankan perintah saja. Terserah nona mau mengikuti saya atau tidak! Kalau begitu saya permisi!"


Fardhan berbalik arah dan meninggalkan Rizka sendiri.


"Hei, tunggu!" Rizka mengejar langkah Fardhan yang panjang itu. Ia hanya menggertak saja namun ternyata Fardhan benar-benar meninggalkannya.


"Farsh!" Rizka mencekal lengan Fardhan. Pria itu menatap Rizka tajam.


"Ada apa lagi, Nona? Bukankah Nona bilang ingin tinggal di kolong jembatan? Kalau begitu..."


"Tidak, Farsh! Aku tidak serius saat mengatakannya. Baiklah, aku akan ikut denganmu!" Rizka menunjukkan senyum terbaiknya di depan Fardhan.


Pria itu hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Rizka segera menarik koper besarnya mengikuti langkah Fardhan.


...***...


Malam harinya, Rizka makan malam bersama Radit dan juga Nadine. Kali ini Nadine tak banyak bicara karena Radit sudah mengingatkannya untuk tidak berdebat dengan Rizka.


Usai makan malam, Radit mengajak Rizka untuk mengobrol di ruang keluarga. Nadine hanya menyimak perbincangan kakak adik sepupu itu dalam mode diam.


"Jadi, kau sudah yakin akan menetap di Indonesia?" tanya Radit.


"Iya, Kak. Bukankah gedung HG Grup sudah hampir selesai pengerjaannya. Dan kurasa aku lebih baik berkarir disini saja," jawab Rizka penuh percaya diri.


"Baiklah, kalau begitu bersiaplah untuk menerima proyek-proyek baru disini."


"Hmm? Maksud kakak?" Rizka mengerutkan dahinya.


"Ini! Ada Ford Company dan juga More Trans!" Radit menunjukkan berkas profil dua perusahaan besar itu.


"Tunggu, tunggu! Ford Company? Apa kakak tidak salah? Bukankah itu adalah perusahaan milik..."


"Mantan calon tunanganmu?" cegat Radit. "Rizka, dalam bisnis kau harus mengesampingkan urusan pribadimu. Kenapa dulu kau tidak menerima perjodohan ini saja?"


"Kakak!" protes Rizka.


"Sudahlah! Kakak yakin kedua perusahaan ini akan menjadi rekan bisnis yang menguntungkan untukmu. Dan kau tahu kan, Ford Company juga memiliki divisi periklanan. Aku yakin kita bisa mendapatkan promosi yang bagus nantinya."


"Yang dikatakan kakakmu itu benar. Kesampingkan masa lalumu dengan Damian. Dan mulailah melangkah maju. Jika kau memang serius untuk meniti karir disini, maka ikuti saran dari kakakmu," sahut Nadine.


Rizka hanya diam dan tak menjawab. "Mungkin apa yang dikatakan oleh kak Radit ada benarnya juga. Lagipula bukankah aku sudah berteman dengan Damian?" batin Rizka.


...***...


-Avicenna Grup-


Harvey mendatangi ruangan Nathan. Sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Tuan!"


"Hmm, ada apa?" Nathan masih fokus dengan layar datarnya.


"Gedung HG Grup pengerjaannya sudah hampir selesai. Saya dengar nona Rizka juga sudah kembali kemari. Kabarnya dia ingin berkarir disini."


Nathan mengalihkan pandangannya kearah Harvey. "Baiklah! Mana laporannya? Sudah lama aku tidak mengurus proyek ini. Kau mengawasinya dengan baik, bukan?"


"Ini, Tuan!" Harvey menyerahkan sebuah berkas pada Nathan.


"Oke! Kau aturlah jadwal untuk bertemu dengan Rizka," titah Nathan.


"Tidak perlu! Aku sudah disini!" sapa Rizka yang tiba-tiba masuk ke ruangan Nathan. "Maaf jika aku tidak mengetuk pintu lebih dulu."


Rizka berjalan menghampiri Nathan dan Harvey. "Hai Nate! Hai Harvey!"


Nathan dan Harvey masih diam karena terlalu syok dengan kedatangan Rizka.


"Ada apa dengan kalian? Oh ya, bagaimana kabarnya mas Tarjo?"


"Oh, silakan duduk, Nona Rizka. Nona mau minum teh atau kopi?" tawar Harvey.


Rizka duduk di sofa ruangan itu. Nathan berdiri dan ikut duduk di sofa bersama Rizka.


"Lama tidak berjumpa, Nate. Bagaimana kabar istrimu?" tanya Rizka berbasa basi.


"Emh, Sheila baik. Kau sendiri? Kudengar kau akan menetap disini!"


Rizka mengangguk. "Iya, aku akan melanjutkan bisnis HG Grup. Tadinya memang aku ingin menetap disana. Tapi, kurasa tinggal di negeri sendiri lebih baik." Rizka mengulas senyumnya.


Mereka berbincang masalah pekerjaan dan bisnis. Tatapan Rizka kini berbeda terhadap Nathan. Meski dalam hati ia masih menyukai Nathan, namun kini rasa itu hanya sebatas kekaguman saja.


Setelah satu jam berbincang, Rizka pamit undur diri karena ia harus menemui Radit di kantornya. Rizka berjalan dengan anggunnya dan menyapa seluruh karyawan yang di temuinya.


"Wow! Wow! Aku tidak menyangkan kau akan menampakkan batang hidungmu disini lagi, huh?!"


Suara seorang pria yang Rizka kenali membuat gadis itu memutar bola matanya malas.


"Damian? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rizka sinis.


"Astaga, Nona! Bukankah kita sepakat akan jadi teman. Jangan jadi galak begitu dong!" Damian menaikturunkan alisnya.


"Kau ingin menemui Nathan?" tanya Rizka.


"Tentu saja. Kami sedang mengerjakan proyek bersama."


Rizka manggut-manggut. "Mungkin ini yang dimaksud dengan Kak Radit. Damian kini berpengaruh dalam berbagai bisnis. Makanya dia menyuruhku untuk bekerjasama dengannya," batin Rizka.


"Hei, apa kau sedang bernostalgia, huh?" ledek Damian.


"Tidak! Aku datang kesini karena ada urusan bisnis," tegas Rizka.


Damian mengedikkan bahunya. "Kau ini menyedihkan sekali. Kau menyukai pria yang sudah beristri!" Damian geleng-geleng kepala.


"Apa katamu?! Kau sendiri juga bodoh! Kau menyukai istri orang!"


"Wah! Tahu dari mana kau?" Damian tidak terima.


"Tentu saja aku tahu!" ejek Rizka balik.


"Sudah, sudah! Tuan Damian, kita sudah terlambat," lerai Josh yang bosan dengan sikap kekanakan Damian dan Rizka.


"Baiklah! Kalau begitu sampai jumpa lagi, Nona bucin!" Damian melangkah pergi meninggalkan Rizka yang masih kesal.


...***...


Satu minggu telah berlalu sejak insiden pertemuan tak sengaja dua bibir antara bibir Vania dan bibir Damian. Vania menjalani aktifitasnya seperti biasa. Bahkan kini ia jarang bertemu dengan Damian karena pria itu begitu sibuk mengurus berbagai proyek.


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, namun Vania masih berkutat dengan pekerjaannya. Beberapa teman seruangannya mengajaknya untuk makan siang bersama, namun ia menolak.


"Kalian duluan saja! Aku akan menyelesaikan ini lebih dulu!" ucap Vania.


"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu ya!" Dua karyawan wanita melambaikan tangan pada Vania. Kini Vania mulai memiliki teman meski bukan teman dekat.


Vania kembali fokus ke layar datar yang ada di depannya. Pekerjaannya mulai banyak akhir-akhir ini karena Damian menerima banyak proyek baru.


BRAK!


Seseorang menggebrak meja kerja Vania. Vania yang sedang menunduk sontak mendongakkan wajahnya.


Matanya membola ketika mengetahui siapa sosok yang kini ada di depan matanya.


"Tuan Damian?" batin Vania.


Damian menatap lekat wajah Vania. "Kenapa kau tidak ikut makan siang dengan rekan kerjamu?"


"Ah, itu ... itu ... karena saya harus..." Entah kenapa Vania terbata ketika menjawab pertanyaan Damian.


"Kau diberi waktu satu jam untuk beristirahat! Maka lakukanlah! Jangan sampai kau sakit karena terlambat makan siang. Dan orang-orang akan mengira jika Damian Ford adalah bos yang kejam karena tidak memberi waktu pada bawahannya untuk sekedar makan siang."


Damian bicara panjang lebar masih tepat di depan wajah Vania. Gadis itu mematung memandangi bibir Damian yang terus bicara.


"Oh, Tuhan! Bibir itu! Bibir itu yang telah merenggut ciuman pertamaku! Kenapa dia begitu dekat? Dan ada apa dengan jantungku? Dia begitu dekat denganku dan membuatku..." batin Vania meronta.


Damian yang terus bicara tiba-tiba juga terdiam. Ia memandangi wajah Vania yang terus mendongak menatapnya. Posisi mereka sangat dekat. Bahkan kini Damian menatap bibir yang sudah membuatnya kehilangan ciuman pertamanya. Ia bahkan tidak merasakan apapun saat itu, hanya saja...


"Semua itu terasa manis..." batin Damian.


Mata mereka saling beradu. Baru kali ini Damian sadari jika mata milik Vania sangatlah indah. Mata yang selalu tersembunyi di balik kacamata itu ternyata mengundangnya untuk mendekat.


Entah apa yang dirasakan oleh Vania, namun kini mata gadis itu terpejam seolah-olah memberikan sebuah sinyal untuk Damian. Pria itu tersenyum ketika melihat mata indah itu tertutup. Ia pun mulai mengikis jarak diantara mereka.


#bersambung