My Culun CEO

My Culun CEO
#132 - Tekad Damian



Setelah kedatangan Freya hari itu ke rumah sakit, sejak itu pula Freya tidak lagi menjenguk kakaknya di rumah sakit. Ia menyibukkan diri dan larut dalam pekerjaan.


Hingga suatu hari seseorang datang dan ingin menemuinya. Dia adalah Nita.


Dengan sisa keberaniannya, Nita datang menemui Freya dan bersimpuh di depannya.


"Tolong maafkan aku, Nona Freya. Aku benar-benar menyesal sudah menyakitimu." Nita tak malu untuk berlutut di depan Freya.


"Bangunlah! Aku tidak suka kau bersikap seperti ini!" ucap Freya.


"Aku tidak akan bangun sebelum Nona memaafkanku..." kukuh Nita.


"Aku sudah memaafkanmu. Lagipula, semua itu sudah berlalu. Aku sudah melupakannya. Untuk apa kau melakukan semua ini?" tanya Freya jengah.


"Aku tidak mau kehilangan pekerjaan, Nona. Keluargaku sangat membutuhkan aku sebagai tulang punggung keluarga. Aku harus tetap bekerja di Ford Company."


Freya saling tatap dengan Vicky. Rasanya Freya mengingat masa lalunya yang sulit bersama keluarga Tanuja. Bagaimanapun juga, Freya tidak akan melupakan jasa kedua orang tua Vicky.


"Bangunlah! Kau bisa bekerja disini jika kau mau. Keluarlah dari Ford Company dan bergabunglah bersamaku.


Mata Nita membola. "Benarkah, Nona?" Nita menyeka air matanya.


"Iya. Aku rasa bayang-bayangmu disana hanya akan membuat Damian bertambah murka. Sebaiknya kau bekerja disini saja."


"Terima kasih, Nona. Terima kasih!" Nita memegangi kedua tangan Freya. Namun sedetik kemudian, Vicky datang menghalau.


"Jaga perilakumu, Saudari Nita!" bentak Vicky.


"Ma-maaf..."


"Pergilah! Dan kembali lagi besok untuk bekerja disini."


"Baik, Nona. Sekali lagi terima kasih." Nita pamit undur diri.


"Nona, kenapa nona menerima wanita itu? Bisa saja kan dia ... kembali menjahati nona?" tanya Vicky heran.


"Entahlah, bang. Aku seakan melihat diriku yang dulu. Aku merasa kasihan padanya. Itu saja!"


Freya kembali melangkah dan duduk di kursi kebesarannya.


"Bukankah seseorang tidak boleh lupa dari mana mereka berasal?" ucap Freya.


"Tapi Nona bukanlah orang dari kalangan biasa seperti kami..."


Freya tersenyum. "Tidak. Aku menghargai semua kehidupanku. Baik yang dulu maupun sekarang."


"Nona Frey!" Si cempreng Aisha tiba-tiba nyelonong masuk ke ruangan Freya.


"Eh, ada si tampan Mister V," goda Aisha pada Vicky.


"Saya permisi dulu, Nona!" Vicky memberi hormat kemudian keluar.


"Ah, tidak seru! Nona, bagaimana nona bisa betah dengan pria seperti dia?" tanya Aisha penasaran.


"Kau ini mikir apa? Dia hanya seorang pengawal. Cepat katakan ada apa?"


"Oh ini, Nona. Janji dengan dokter Diana sudah saya buatkan. Sore ini Nona bisa menemui beliau," jelas Aisha.


"Oke! Terima kasih. Ada lagi?"


"Ini laporan perkembangan proyek yang sedang dilakukan oleh tuan Edo. Dengan Grup HG dan..." Aisha menjelaskan panjang lebar tentang pekerjaan yang harus dipegang Freya selama Edo sakit.


Setelah menjelaskan semuanya, Aisha pamit undur diri. Freya memandangi kartu nama yanh diberikan Aisha tadi.


Itu adalah kartu nama dokter Diana. Freya ingin segera mengingat tentang masa lalunya. Ia ingin lebih yakin jika dirinya memang putri keluarga Moremans, meski hasil tes DNA sudah menunjukkan itu.


"Aku harus mengingat semuanya! Semua hal di masa lalu. Aku harus ingat!" tekad Freya.


#


#


#


Di rumah sakit, Liliana datang menjenguk keadaan putranya dan Damian yang sudah mulai membaik.


"Syukurlah kalian sudah membaik. Dokter bilang tiga hari lagi kalian sudah boleh pulang." ucap Liliana.


Damian menatap Liliana. "Emh, Tante..."


"Ada apa Damian? Oh, masalah ini kalian jangan khawatir. Karena tante tidak memberitahu ayah Edo dan juga ayahmu. Tamte harap asistenmu juga bisa dipercaya untuk tidak mengatakan apapun."


"Tante tenang saja! Josh adalah yang terbaik!" jawab Damian.


Liliana mengelus dadanya. Ia sangat takut jika kejadian yang menimpa Samuel menimpa putranya juga.


"Maafkan aku, Ma. Aku janji aku tidak akan melakukan hal ini lagi." Edo menggenggam tangan Liliana.


"Tante..." panggil Damian.


"Ada apa, Damian? Sepertinya ada hal yang ingin kamu sampaikan."


Dengan memakai tongkat, Damian turun dari brankarnya.


"Eh, Damian? Kamu mau kemana?" tanya Liliana bingung.


Tanpa Liliana duga, Damian malah menghampiri dirinya.


"Tante..."


Liliana melirik Edo dan dibalas dengan sebuah anggukan oleh pria itu.


"Aku ingin meminta restu darimu. Aku menyukai Freya. Bahkan lebih dari suka. Aku mencintai Freya. Aku mohon restui aku untuk mendekati Freya," ucap Damian dengan sungguh-sungguh.


Liliana melihat ada kesungguhan di mata Damian.


"Tante tidak bisa berbuat apapun, Damian. Semuanya tante serahkan pada Freya. Jika kamu memang benar mencintai dia, maka tunjukkanlah padanya."


Damian menatap Liliana dengan mata berbinar. "Iya, aku akan berjuang, Tante. Yang penting tante merestuiku kan?"


Liliana menepuk bahu Damian.


"Tante tahu kamu adalah anak yang baik. Mungkin masa lalu yang membentukmu menjadi pribadi yang berbeda. Tapi...tante yakin jika cintamu benar-benar tulus pada Freya. Kalau begitu, selamat berjuang ya Damian." Liliana memberikan semangat kepada Damian.


"Iya tante. Terima kasih." Damian melirik Edo.


"Hai, kakak ipar! Apa kau tidak ingin memberiku semangat juga?" goda Damian.


"Cih, malas sekali aku! Meski aku tidak menyemangatimu, kau pasti tidak akan menyerah kan?" ketus Edo.


"Hehehe, tentu saja aku tidak akan menyerah!" ucap Damian menggebu.


"Ada apa ini ramai sekali?" Suara seorang gadia yang membuat Edo tersenyum.


"Rizka?" Liliana menyapa Rizka.


"Lho, tante ada disini juga?" Rizka mencium punggung tangan Liliana.


"Ya sudah, karena sudah ada Rizka. Mama pulang ya Edo."


"Loh, kok pulang, Ma?" tanya Edo.


"Mama cukup lelah hari ini berkeliling beberapa yayasan."


"Ya sudah, Mama istirahat saja di rumah."


"Iya. Kalau begitu tante tinggal dulu ya Rizka, Damian."


"Iya, mama mertua. Hati-hati di jalan!" seru Damian bersemangat.


Rizka dan Edo saling pandang.


"Sayang, apa kamu yakin mau punya adik ipar seperti dia?" ucap Rizka sengaja mengerjai Damian.


"Hmm, entahlah. Aku juga tidak yakin," balas Edo.


"Hei hei! Kalian ini! Kalian harus memberi restu padaku dan Freya!"


"Lihatlah dia! Emosinya masih menggebu-gebu. Kurasa Freya tidak akan pernah menyukainya," goda Rizka dengan terkekeh.


"Kau! Kau juga payah! Bagaimana bisa kau menolak dijodohkan denganku dan kini malah bersama dengan sahabatku? Kau licik, Rizka!" sungut Damian.


Rizka dan Edo tertawa terbahak melihat tingkah Damian yang kalang kabut.


"Kalian lihat saja! Aku pasti bisa membuat Freya menerimaku!"


Rizka dan Edo saling pandang. Mereka malah sengaja mengerjai Edo dengan berciuman di depan matanya.


"Hei hei! Kalian mesum! Bagaimana bisa kalian bermesraan di depanku! Hei! Akan kulaporkan kalian!" Damian melempar bantal kearah Rizka dan Edo.


Edo tertawa makin keras melihat wajah Damian yang merah padam. "Rasakan! Kau juga berani sekali mencium Freya di depanku!"


"Argh! Freya! Terimalah diriku!" seru Damian sambil mengacak rambutnya.