
Edo memandangi ponselnya yang kembali menghitam. Ia mulai cemas karena Vania tak juga menjawab panggilan darinya.
Entah kenapa perasaan Edo menjadi tak menentu karena sudah banyak berbohong pada Vania. Edo mondar mandir di ruangannya hingga suara ketukan di pintu membuatnya sadar.
Jana masuk ke dalam ruangan Edo dan memberi hormat.
"Tuan, berkas kerjasama dengan Grup HG sudah siap. Sebaiknya Tuan segera memprosesnya. Menurut tuan Laurent, ini adalah hal yang baik untuk menjadi rekan bisnis Grup HG," jelas Jana.
"Baiklah. Aku akan kesana sekarang. Apa Bapak ingin ikut denganku?"
Jana tersenyum. "Sepertinya Tuan lebih cermat dalam hal ini. Saya akan menggantikan pekerjaan Tuan disini."
"Oke! Doakan aku berhasil ya, Pak." Edo beranjak dari kursi kebesarannya lalu menepuk bahu Jana.
Sebelum melajukan mobilnya, Edo mengirim pesan pada Vania. Sungguh ia tak tenang karena Vania mengabaikannya.
Di sisi Vania, kini gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ponseonya bergetar dan lagi-lagi tertera nama Edo disana.
"Hah! Masih belum kapok juga. Kalian benar-benar brengsek!" sungut Vania dalam hati. Kembali ia mengabaikan pesan yang dikirim Edo padanya.
...***...
Edo tiba di Grup HG dan berjalan menuju meja resepsionis. Ia bertanya dimana ruang kerja Rizka. Saat sedang bertanya, tiba-tiba seorang pria lain juga menanyakan hal yang sama dengan Edo.
Edo melirik pria yang sok ramah yang tak lain adalah Damian.
"Kau?!" seru Edo tidak percaya jika mereka kembali bertemu.
Tak kalah dengan Edo, Damian juga menatap Edo tak suka. Emosi Damian seakan mencapai ubun-ubun karena bertemu dengan Edo. Apalagi jika mengingat kebersamaan Edo dan Vania semalam.
"Kau lagi, kau lagi! Kenapa kau juga ada disini, hah?!" tanya Damian sengit.
Edo tertawa mengejek. "Aku yang datang lebih dulu! Harusnya kau yang antri!"
"Apa katamu?" Damian tersulut emosi.
"Kau tidak berubah, Damian. Kau selalu menggunakan emosimu untuk menyelesaikan masalah."
"Kau!"
"Sudahlah, Tuan!" Josh segera menengahi perdebatan dua pria tampan ini.
Bahkan sang resepsionis menatap bingung dengan dua pria yang sepertinya bersaing dengan sengit.
"Dimana ruangan Rizka Hanggawan?" seru Damian dan Edo bersamaan.
Si resepsionis menelan ludahnya kasar. "Tuan-tuan, silakan naik ke lantai lima."
"Hah! Dari tadi kek! Lama banget ditanya!" kesal Damian yang tumben tidak menjaga imejnya.
Edo dengan segera menyusul langkah Damian. Ia juga tak mau kalah dari Damian.
Tiba di lantai lima, mereka berdua disambut oleh asisten Fardhan yang sengaja di tempatkan Radit untuk mdmbantu Rizka.
"Aku duluan yang masuk!" ucap Damian.
"Aku!" seru Edo tidak terima.
"Tidak bisa! Aku yang lebih dulu datang!" Damian tak mau kalah.
"Enak saja! Aku yang lebih dulu datang!" sanggah Edo.
"Ada apa ini?" tanya Rizka yang mendengar keributan dari luar ruangannya.
"Nona!" Fardhan segera memberi hormat sebagai permintaan maaf.
"Farsh! Ada apa ini?" kesal Rizka.
"Maaf, Nona. Kedua orang ini..." Fardhan tak melanjutkan kalimatnya karena kedua orang itu kembali berdebat.
"Hentikan!" teriak Rizka. "Kalian berdua cepat masuk!" ucap Rizka dengan menunjuk kedua orang yang tak lain adalah Damian dan Edo.
...***...
Rizka menerima dengan tangan terbuka kedua pria yang memang dikabarkan tidak akur itu. Dan memang benar. Hanya ada perdebatan yang terjadi dengan mereka berdua.
Rizka sendiri masih tidak mengerti kenapa dua orang ini masih seperti anak-anak saja.
"Aku akan meninjau penawaran kerjasama dari kalian berdua. Jadi, sebaiknya, kalian tidak perlu berdebat mengenai ini. Mengerti?" tegas Rizka.
Kedua pria itu mengangguk patuh.
"Baiklah, sekarang kalian pergilah! Aku harus menyelesaikan pekerjaanku," ucap Rizka.
Damian dan Edo berpamitan lalu keluar dari ruangan Rizka. Gadis itu memijat pelipisnya pelan.
Di tempat berbeda, Vania sedang menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin pulang tepat waktu kali ini karena ia akan membeli keperluan untuknya pergi berlibur besok.
Ya, liburan impian Vania akan segera terwujud besok. Bibir Vania terus tersenyum gembira mengingat hari esok ia akan pergi liburan. Sejenak ia akan melupakan masalahnya bersama Edo maupun Damian.
Pukul lima sore, Vania keluar dari kantor dan hendak memanggil ojek online melalui ponselnya. Namun lagi-lagi Edo datang menghampirinya.
"Vania! Kenapa tidak menjawab telepon dariku?" tanya Edo tanpa basa basi.
Vania tidak menjawab dan memilih untuk mengabaikan Edo.
"Vania! Apa kau marah padaku?" tanya Edo yang tak tahu apa masalah Vania dengannya.
"Pergilah, Bang! Jangan menemuiku lagi!" ucap Vania kemudian.
"Kenapa? Apa aku punya salah padamu?"
Vania memejamkan matanya. "Sudahlah, Bang. Jangan berpura-pura lagi! Aku sudah tahu semuanya!"
Vania menunjukkan ponsel pada Edo. Itu adalah sebuah artikel tentang dirinya.
"Apa kalian para orang kaya senang melakukan ini? Aku memang gadis bodoh hingga aku bisa jatuh kedalam permainan kalian!"
Vania tak kuasa menahan air matanya. Ia sudah tidak tahan dengan semua sandiwara kedua pria kaya yang mempermainkannya.
"Aku tidak mempermainkanmu, Vania! Aku..."
"Kau bukanlah seorang abang ojol atau supir orang kaya. Bahkan kau telah menunjukkan sisi aslimu tapi aku terlampau bodoh untuk mempercayai semua bualanmu itu!" Vania terisak.
Semua emosinya seakan terluapkan. Edo masih diam dan menerima amukan Vania. Pria itu tidak bisa menyangkal lagi.
"Maaf..."
Vania muak mendengar kata maaf. Tidak dari Edo maupun Damian.
Seorang abang ojol menghampiri Vania. Ia segera naik dan meninggalkan Edo yang masih mematung.
Dari kejauhan Damian melihat semua drama yang terjadi dan menghampiri Edo. Damian menepuk bahu Edo.
"Aku tidak menyangka kau tega melakukan ini pada Vania. Kau berbohong padanya? Ckckck, sungguh keterlaluan, Tuan Moremans," ucap Damian lalu meninggalkan Edo.
Edo melajukan mobilnya kembali ke rumah. Perasaannya sangat kacau saat ini. Dan ia tidak ingin berbuat hal yang nekat.
Begitu tiba di rumah, Edo langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa sang ibu. Biasanya Edo selalu bersikap hangat pada ibunya.
"Edo?" panggil Liliana dan mengikuti langkah sang putra.
"Aku sedang tidak ingin diganggu, Ma."
"Sayang, kau bisa cerita pada Mama. Ada apa?" bujuk Liliana dengan suara lembutnya.
Edo melepas dasi yang melilit lehernya. Ia menghampiri Liliana yang duduk di tepi ranjang miliknya.
Edo merebahkan kepalanya di pangkuan Liliana. Wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala putranya.
"Aku sudah melakukan kesalahan yang besar, Ma."
"Hmm..."
"Aku berbohong pada seorang gadis."
Lilianan tersenyum. Gerakan tangannya tak berhenti agar Edo mau terbuka padanya.
"Aku melakukan kebohongan yang berkelanjutan hingga membuat dia marah. Kini, apa yang harus aku lakukan, Ma? Aku merasa sangat sedih karena dia membenciku..."
Usapan lembut Liliana terhenti. "Dengar, Nak. Jika kau melakukan kesalahan dan kau sudah menyadarinya, maka ... hal terbaik yang harus kau lakukan adalah meyakinkannya. Kau harus bersungguh-sungguh meminta maaf padanya. Tunjukkan jika kau memang menyesali perbuatanmu."
Edo duduk dan menatap Liliana. "Aku benar-benar menyesal, Ma."
"Kalau begitu tunjukkan padanya!"
Edo mengangguk. "Terima kasih, Ma."
"Bersihkan dirimu lalu istirahat. Mama keluar dulu ya!"
Liliana keluar dari kamar Edo. Ia tersenyum penuh arti. Baru kali ini putranya terbuka karena seorang gadis.
Liliana meraih ponselnya. Ia menghubungi seseorang.
"Halo, tolong selidiki gadis yang sedang dekat dengan putraku, Edo."
#bersambung