My Culun CEO

My Culun CEO
Camping Romantis



Hari ini Sheila sedang menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya untuk pergi berkemah bersama Nathan. Ia mengurut hal apa lagi yang belum di bawanya. Ia tak ingin melupakan hal penting yang nantinya susah dibeli jika disana.


Sebenarnya Sheila tidak tahu kemana Nathan akan membawanya. Tapi yang namanya berkemah, pastinya akan berpetualang bersama alam, bukan?


Suara panggilan Sandra membuat Sheila segera bergegas membuka pintu kamarnya. Ia melihat Sandra yang seakan menunggu Sheila.


"Belum selesai.juga packingnya?" tanya Sandra.


Sheila menggeleng.


"Itu Nak Nathan sudah menunggumu di bawah. Gimana sih?"


Sheila meringis. "Aku takut kalo ada yang kelupaan di bawa, Ma!" alasan Sheila.


"Hmm, hanya dua hari saja. Ayo cepat! Sini Mama bantu!"


Sandra terpaksa harus turun tangan untuk membantu Sheila mengepak pakaian dan barang-barangnya.


"Astaga, Shei! Kamu kan hanya berkemah dua hari, kenapa bawa baju banyak gini?" Sandra menggelengkan kepalanya.


"Ssstt! Mama jangan berisik! Aku kan harus selalu tampil cantik di depan Nathan, Ma! Makanya aku..." Sheila tertunduk malu.


Sandra gemas dengan putrinya. Ia mencoel hidung putrinya itu.


"Kamu ini! Nak Nathan itu menyukai kamu apa adanya. Sama dengan kamu yang menyukai dia saat menjadi Tarjo. Mama sampai kaget pas lihat Nak Nathan berubah jadi Tarjo. Giginya itu lho! Kok kamu betah sih lihat gigi tonggosnya itu?"


"Ish, Mama! Kok jadi body shaming gitu? Awas kena pasal lho!"


"Ya Mama gak habis pikir aja! Ternyata putri Mama menyukai lelaki sederhana seperti Tarjo. Eh, Shei. Kamu pasti udah..." Sandra mengedipkan matanya.


"Ih mama apaan sih?" Wajah Sheila memerah.


"Gimana rasanya Shei pas begituan trus kena gigi tonggosnya itu?" Sandra sengaja menggoda Sheila.


"Mama! Kenapa jadi bahas Tarjo sih?" Sheila yang sudah kepalang malu akhirnya keluar dari kamar dengan menyeret kopernya. Sementara Sandra masih terkekeh geli karena melihat reaksi putrinya yang seperti maling ketangkap basah.


Di ruang tamu, Sheila menemui Nathan yang sedang bersama dengan Adi Jaya.


"Akhirnya kamu turun juga, Shei. Kasihan Nak Nathan sudah menunggu sejak tadi. Nanti kalau sudah jadi istri, jangan seperti ini lagi. Nak Nathan itu orang sibuk, masa iya di suruh nungguin kamu dandan," ucap Adi Jaya panjang lebar menasehati putrinya.


"Papa apaan sih? Kenapa bahas jadi istri?Ngelamar aja belum!" cemberut Sheila.


"Ini barang bawaan kamu, Shei?" tanya Nathan.


"Iya. Pa, aku pergi dulu ya! Jangan kangenin aku!" ucap Sheila dengan mencium pipi ayahnya.


Lalu Sheila beralih pada Sandra yang baru datang bergabung.


"Ma, Sheila pergi dulu ya!"


"Iya, hati-hati ya disana! Nak Nathan, titip Sheila ya!"


"Iya, Tante. Mari Om! Kami jalan dulu!"


...💟💟💟...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, tibalah Nathan dan Sheila di sebuah villa yang cukup jauh dari kota. Udara sejuk mulai terasa. Sangat berbeda dengan udara kota yang penuh sesak gas karbon monoksida.


Sheila turun dari mobil dan langsung merentangkan tangannya ke atas. Ia menghirup sebanyak-banyaknya udara bersih disini.


"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Nathan.


Sheila mengangguk girang.


"Tapi... Ini villa milik siapa?" tanya Sheila.


"Ini milik mendiang kakek Donald. Kami jarang datang kesini. Tapi tempat ini bersih kok. Karena ada Mang Ujang yang menjaganya. Ayo!"


Sheila mengangguk paham. Mereka menaiki anai tangga dan bertemu dengan penajaga villa.


"Eh, Tuan Nathan sudah datang. Mari Mamang bantu!" Ujang si penjaga villa dengan sigap membawa barang-barang Nathan dan Sheila.


"Jadi, kita akan menginap di villa, Nate?Kamu bilang mau berkemah? Kok malah di villa sih?" ucap Sheila sedikit kecewa.


"Sayang, jangan cemberut dulu dong! Kita akan berkemah di belakang. Ayo!" Nathan menggandeng tangan Sheila dan membawanya ke halaman belakang villa.


"Waaah!" Sheila berdecak kagum dengan pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Suara air terjun begitu merdu terdengar di telinga Sheila.


"Kita akan membuat tenda disana! Ayo bantu aku!"


Nathan dengan sigap mendirikan tenda. Beruntung pagi tadi ia sudah menghubungi Ujang lebih dulu, sehingga bisa menyiapkan peralatan berkemah untuknya dan Sheila.


"Shei, bantu aku dong!" pinta Nathan yang sedikit kesulitan untuk mendirikan tenda.


Sheila menggeleng. Ia memang sengaja mengerjai Nathan. Ia ingin tahu seperti apa perjuangan kekasihnya untuk memasang tenda.


Karena terus kesulitan akhirnya Ujang turun tangan untuk membantu Nathan. Dan selesailah sudah tenda yang cukup besar berdiri di dekat sungai yang mengalir.


"Nate, kita gak akan di gigit buaya kan karena berkemah dekat sungai?" tanya Sheila was was.


Nathan tertawa. "Kalau binatang buaya sih tidak ada. Tapi kalau buaya yang lain mungkin saja ada."


"Akulah sang buayaaaaa!" seru Nathan lalu mengejar Sheila.


"Aaaaaa!" Sheila berteriak ketika Nathan berhasil menangkapnya.


Nathan menghujani banyak ciuman di wajah Sheila. Ia juga menciumi leher jenjang Sheila.


"Nate! Geli tahu!" Sheila menepisnya. Ia ikut tertawa karena Nathan terus menggelitik pinggangnya.


...💟💟💟...


Malam harinya, suasana makin syahdu karena hanya ada suara hewan malam disana. Nathan memasak daging panggang untuk menu makan malam mereka. Sheila menyiapkan teh jahe sebagai minuman penghangat tubuh.


Mereka makan dengan lahap. Sheila terlihat kelaparan. Sejak pertama mengenalnya, Sheila memang tidak pernah bersikap jaim di depan Nathan. Terlebih jika bersama Tarjo.


"Makan yang banyak ya sayangku..."


Nathan mengelus kepala Sheila.


"Ish, kamu apaan sih? Kamu juga makan yang banyak!" Sheila menyuap satu potong daging kedalam mulut Nathan.


Mereka terkekeh geli dengan tingkah mereka sendiri yang terkesan aneh.


Usai makan malam, mereka duduk menatap langit malam dari dalam tenda. Udaranya cukup dingin hingga membuat mereka harus memakai pakaian tebal.


Sheila memejamkan mata sambil bersyukur dengan apa yang sudah ia terima dalam hidup hingga saat ini.


"Apa yang kamu minta, Shei?" tanya Nathan karena tahu Sheila menutup adalah berdoa.


"Em, bukan hal besar. Aku hanya bersyukur atas apa yang sudah aku terima selama ini. Aku menjalani hari-hari dengan baik. Ada bahagia, sedih, kesal, kecewa, semuanya melebur menjadi satu. Meski begitu kita harus tetap bersyukur bukan?"


Nathan tersenyum. "Iya. Untuk mencapai titik ini, aku juga banyak belajar dalam hidup. Aku tidak sepandai kakakku. Aku terlalu takut orang-orang membandingkan kami. Sejak kecil aku merasa Kak Boy mendapatkan perhatian yang banyak dibandingkan diriku. Tapi seiring berjalannya waktu. semua itu mulai kutepis. Aku menjalani hari-hariku dengan caraku sendiri. Aku tidak bisa menjadi dokter seperti kakakku. Maka aku harus mencari kelebihanku yang lain. Aku belajar dengan giat agar suatu saat orang-orang bisa melihat keberadaanku. Dan kini itu semua berhasil. Buah dari kerja kerasku. Aku bisa berdiri sendiri meski tetap di belakang nama keluargaku."


"Kau adalah orang yang hebat. Aku tahu itu..."


Sheila menatap Nathan yang begitu dekat dengan dirinya.


"Kamu tampan. Kamu juga sederhana saat menjadi Tarjo. Kamu bisa membuatku bahagia dengan keluguanmu. Meski Tarjo tidak pernah ada, tapi aku tahu jika ada sebagian diri Tarjo yang begitu melekat dengan seorang Nathan Avicenna. Yaitu sebuah kejujuran dan kelapangan hati."


Nathan tersenyum mendengar semua kata-kata manis Sheila. Sudah lama sekali ia tidak meraih candunya.


Nathan mengusap pipi Sheila. Mata yang tadinya saling beradu kini sama-sama terpejam. Hembusan napas yang begitu terasa memacu adrenalin untuk berbuat lebih jauh.


Nathan meraih candunya. Memainkannya dengan ritme yang pelan. Sheila melakukan hal yang sama. Membalas setiap sapuan bibir Nathan pada bibirnya.


Kegiatan saling balas itu menciptakan sebuah decapan yang begitu merdu. Nathan mulai mengabsen setiap inci yang ada di bibir Sheila. Lidahnya melesak masuk dan makin memperdalam ciumannya.


Sheila pasrah dengan semua perlakuan Nathan. Mereka sama-sama saling mendamba. Nathan merebahkan tubuh Sheila dengan masih menautkan bibir keduanya.


Tangannya melesak masuk kedalam sweater Sheila. Mata Sheila terbuka dan merasakan hangatnya tangan Nathan yang menyentuh kulitnya.


"Nate! Jangan!" Sheila meminta Nathan berhenti.


"Kenapa? Bukankah kamu menginginkannya saat aku menjadi Tarjo?"


Sheila tersipu malu. "Itu kan..."


"Menikahlah denganku, Sheila," ucap Nathan to the point.


"Hah?! Apa kamu sedang melamarku, Nate?"


"Iya."


Nathan menatap mata Sheila yang hampir menangis. "Kita akan mulai semuanya dari awal. Bagaimana? Apa kamu bersedia?"


Sheila mengangguk tanpa ragu. Ia memeluk Nathan yang masih berada diatasnya.


"Shei, jangan membangunkan singa yang sedang tidur!"


"Ha?!" Lagi lagi Sheila tak paham dengan maksud Nathan.


Nathan memutar bola matanya malas. Ia berbaring disamping Sheila dan memeluk gadisnya.


"Tidurlah! Besok kita akan menikmati pemandangan indah sekitar sini."


Sheila mengangguk dalam dekapan Nathan. "Em, Nate. Apa tidak ada cincin? Kau kan melamarku, tapi kenapa tidak memasangkan cincin?"


"Apa itu perlu?" jawab Nathan enteng.


"Ish, kau!" sungut Sheila yang membuat Nathan tertawa terbahak. Nathan sangat suka sekali mengerjai kekasihnya ini.


#bersambung...


*Terima kasih utk yg sudah mendukung karya ini 🙏🙏


sampai jumpa besok dan jangan lupa kasih jempolnya ya genks 👍👍😘😘