
Freya tiba di rumah sakit dengan wajah cemas dan panik. Ia sangat terkejut ketika mendapat telepon jika Liliana jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.
Freya yang sedang menunggu Damian pun akhirnya pergi meninggalkan gedung Ford Company dan langsung menuju ke rumah sakit. Disana ia bertemu dengan Edo dan juga Rizka.
"Bang, gimana keadaan mama?" tanya Freya panik.
"Tenangkan dirimu! Mama sudah di tangani dokter," jawab Edo.
"Apa yang terjadi, bang? Kenapa mama sampai pingsan? Tadi pagi mama masih baik-baik saja," tanya Freya lagi.
"Mama sering mengalami ini jika sedang banyak pikiran. Kamu jangan khawatir."
"Ini pasti karena aku kan, Bang?" Wajah Freya sendu dan mulai berkaca-kaca.
"Bukan! Jangan menyalahkan dirimu. Mama pasti akan baik-baik saja." Edo memeluk Freya untuk menenangkan gadis itu.
Setelah agak tenang, Freya masuk ke dalam kamar rawat Liliana dan duduk di samping brankar. Matanya menghangat dan buliran bening itu mengalir tanpa di minta.
Cepat-cepat Freya menyeka air matanya. Ia tak ingin Liliana melihatnya bersedih. Di tatapnya wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Liliana masih memejamkan mata karena pengaruh obat bius.
Rizka memegangi bahu Freya. "Tante Liliana pasti akan segera sembuh."
Freya mengangguk. "Terima kasih, Kak. Kapan kakak datang?"
"Begitu Edo meneleponku, aku langsung datang. Aku tahu dia orangnya mudah panik. Jadi aku harus menenangkan dia juga."
Freya tersenyum. "Padahal dia juga panik, tapi masih berpura-pura menenangkan aku."
Tiba-tiba saja yang sedang dibicarakan masuk ke dalam kamar.
"Frey, sebaiknya kamu pulang. Abang akan menginap disini untuk menjaga mama."
"Eh? Tapi, Bang..."
"Tidak apa. Pulanglah dengan Rizka."
Freya menatap Rizka. "Apa abang sudah memberitahu papa?"
"Huum, sudah. Papa akan datang dengan penerbangan malam ini. Kamu pasti lelah karena tadi menggantikan abang rapat. Sekarang istirahatlah!"
Freya tak dapat menolak permintaan Edo. Ia dan Rizka keluar dari kamar dan berjalan bersama.
Tiba di tempat parkir, Rizka dan Freya berpisah. Freya memasuki mobil dan kembali ke rumah. Begitu pula dengan Rizka yang juga pulang ke rumahnya.
#
#
#
Keesokan harinya, Freya memasakkan sesuatu untuk ia bawa ke rumah sakit. Ia harus memastikan jika kakaknya makan dengan baik selama menjaga sang ibu.
Usai memasak dan mengepak makanan, Freya langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Liliana. Sebelumnya ia sudah menghubungi Edo jika dirinya akan datang.
Di tempat lain, Udin alias Damian sudah berada di kantor dan menyiapkan semuanya untuk Freya. Parfum ruangan, ditambah dengan beberapa tangkai bunga mawar, lalu satu kotak roti lapis untuk Freya sarapan.
Udin keluar ruangan dan menuju ke rooftop tempatnya menyendiri untuk sejenak. Ia berharap jika hari ini Freya akan benar-benar bisa mengakui perasaannya dengan benar.
Setelah lima belas menit berada di rooftop dan tidak ada yang datang kesana lagi selain dirinya, Udin pun memutuskan untuk kembali ke lantai 7 dan menemui kedua rekan kerjanya.
Udin melihat ke arah ruangan Freya yang masih kosong. Ia pun mulai bertanya-tanya.
"Kemana dia? Sejak kemarin tidak ada apapun juga di sosial medianya."
Udin kembali ke bilik kecil tempatnya beristirahat. Ia merebahkan tubuhnya sejenak sambil memejamkan mata. Akhir-akhir ini ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Namun entah kenapa, tiduran di sebuah bilik kecil dengan kasur lantai yang tipis malah membuatnya terlelap hingga beberapa jam lamanya.
"Bang! Bangun!" Jono menggoyangkan tubuh Udin dengan pelan.
"Bang! Sudah saatnya makan siang," ucap Doni.
Udin mulai membuka mata. Ia mengerjap sebentar dan melihat dua orang yang ada di depannya.
"Kenapa kalian menatapku begitu?" tanya Udin bingung.
"Abang pasti sangat lelah. Bahkan abang tidak bangun juga saat kami membangunkanmu," ucap Jono yang diangguki oleh Doni.
"Benarkah? Apa aku tidur selama itu?" Udin melirik jam dinding dan ia membelalakkan mata.
Jono dan Doni mengangguk cepat. Udin langsung bangun dan merapikan penampilannya.
Sudah waktunya jam makan siang dan dia harus memastikan apa yang akan Freya makan siang ini. Udin berjalan cepat menuju ruangan Freya. Namun dari kejauhan pun sudah terlihat jika ruangan itu kosong.
"Kosong? Kemana dia seharian ini?" gumam Udin yang didengar oleh Jono.
"Nona Freya sepertinya hari ini tidak masuk kantor, Bang. Sejak pagi ruangannya kosong," ucap Jono.
Udin tertegun. Ia diam dan tak menyahuti Jono.
"Abang ingin makan siang apa? Biar aku belikan," lanjut Jono.
Udin merogoh saku celananya dan menyerahkah uang berwarna merah kearah Jono.
"Ambillah dan beli makanan yang enak untukmu dan Doni," ucap Udin datar.
Mata Jono membola melihat uang seratus ribuan yang diberikan oleh Udin.
"Bang! Ini serius?" ucap Jono masih tidak percaya.
"Iya, aku serius. Kalian harus makan makanan yang bergizi agar bisa bekerja dengan baik." Udin menepuk bahu Jono.
"Lalu abang sendiri? Mau makan apa?"
"Tidak usah! Itu untuk kalian saja. Sudah sana cepat pergi! Nanti keburu waktu istirahatmu habis!"
"Baik, Bang. Terima kasih banyak, Bang." Jono segera berlari memanggil Doni.
Udin kembali menatap ruangan Freya. Ia pun masuk kedalam ruangan itu. Ia menuju meja kerja Freya dan melihat semua barang yang ia siapkan masih ada di tempatnya.
"Huft! Ada apa denganmu, Freya? Kau pergi kemana?" gumam Udin.
Tiba-tiba terdengar bunyi getar ponsel. Itu adalah ponsel Udin. Sebuah panggilan dari Josh.
Udin melihat sekeliling untuk memastikan dirinya aman.
"Halo, ada apa Josh?"
"............"
"Apa?! Yang benar? Dimana itu?"
"............"
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Udin mematikan sambungan telepon. Ia segera berlari keluar dari ruangan Freya.
Udin bergegas menuju tempat parkir dimana motornya terparkir. Ia menghubungi Josh dan memintanya membawakan setelan kerja milik dirinya. Ia akan segera menuju ke rumah sakit dimana Josh memberitahunya.
Tiba di rumah sakit, Udin mengubah penampilannya menjadi Damian. Josh yang melihatnya hanya bisa menggeleng pelan. Cinta memang aneh. Begitulah menurutnya.
Damian berlari menuju kamar rawat Liliana. Akhirnya ia tahu alasan Freya tidak masuk ke kantor hari ini.
Damian melihat Freya menangis di depan sebuah kamar. Ada Edo dan Rizka juga Laurent disana.
"Tenanglah! Mama hanya akan di periksa secara menyeluruh. Jangan sedih ya!" ucap Laurent memeluk Freya.
Damian menghampiri mereka dan langsung berhadapan dengan Freya.
"Jangan menangis! Hanya begitu saja kau menangis! Ibumu tidak akan pergi seperti ibuku! Jadi, jangan bersedih begitu. Kau harus kuat agar dia juga kuat!" ucap Damian lantang di depan Freya.
Gadis itu tertegun mendengar kata-kata Damian. Air matanya mendadak berhenti. Matanya menatap Damian lekat.
"Kenapa diam saja? Berjanjilah kau akan jadi gadis yang kuat!" lanjut Damian.
Freya kembali sadar ke alam nyata.
"Ternyata itu kamu..." gumamnya.
Damian mengernyit bingung. Ia menatap Edo dan juga Laurent.
"Kamu adalah anak itu..." lirih Freya masih dengan menatap Damian.