My Culun CEO

My Culun CEO
Istri Posesif Tuan Su



Sheila sedang mematut dirinya di depan cermin sambil ber-video call bersama Danny. Sheila meminta tolong pada Danny barangkali saja ada lowongan pekerjaan untuk Vania, adik Vicky.


Danny menjawab untuk sementara tidak ada lowongan pekerjaan untuk bagian akuntan. Dibelakang Sheila sudah berdiri Nathan yang berkacak pinggang.


Istri Nathan ini sedang memakai riasan di wajahnya sambil bicara bersama Danny. Nathan melihat bagaimana Danny menatap Sheila yang sedang berhias. Wajah cantiknya semakin cantik dengan riasan natural di sana. Nathan mulai merasa cemburu karena Danny menatap Sheila dengan tatapan berbeda.


"Ehem! Ehem!" Mau tak mau akhirnya Nathan menginterupsi dan membuat Danny salah tingkah.


"Shei, sudah dulu ya! Bukankah kau akan pergi jalan-jalan dengan suamimu? Aku juga harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Bye!"


"Oke deh, Kak! Sekali lagi terima kasih ya!"


Panggilan video berakhir. Nathan melotot kearah Sheila.


"Ada apa, Tuan Su?" tanya Sheila sambil memakai pewarna bibirnya.


"Kau bilang kau cemburu jika aku di tatap oleh wanita lain. Memangnya kau pikir aku tidak cemburu kau bicara dengan Danny sambil merias wajahmu itu huh?!" kesal Nathan.


Sheila terkekeh. "Tapi aku dan kak Danny kan..."


"Tetap saja! Dia pernah menyukaimu, Shei. Dan aku masih tidak suka dengannya!"


Sheila beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami.


"Kak Danny sekarang sudah bahagia dengan Celia." Sheila merangkum wajah Nathan yang cemberut.


"Mereka masih belum menikah. Apapun bisa terjadi."


Sebuah kecupan singkat Sheila daratkan di bibir sang suami.


"Kita sudah terlambat, Tuan Su! Sebaiknya kita pergi saja! Aku tidak mau kita terus berdebat begini."


Sheila mengambil tas slempangnya dan menarik tangan Nathan.


#


#


#


Sheila dan Nathan berjalan-jalan di pusat kota Bangkok. Sheila melihat-lihat banyak barang bagus disana. Hobinya berbelanja kini mulai mencuat setelah ia tidak lagi hidup mandiri.


"Tuan Su, aku mau beli ini!" rengek Sheila melihat dress yang menurutnya bagus.


"Iya, terserah kau saja!" ucap Nathan pasrah.


"Wah, sepatunya juga sangat bagus!" Sheila mencoba sepatu kerja yang bisa ia kenakan saat bekerja nanti.


Tak lupa Sheila membeli oleh-oleh untuk keluarganya, ibu mertuanya, dan juga kakak iparnya. Lalu untuk Naina, sahabatnya. Haha, perempuan kalau sudah belanja pasti jadi lupa segalanya.


Nathan hanya duduk dan menunggu Sheila selesai berbelanja. Pastinya butuh yang cukup lama untuk memilah dan memilih barang. Bahkan hingga pernak pernik kecilpun Sheila beli untuk oleh-oleh para asistennya di rumah.


Nathan hanya melirik sekilas istrinya yang sedang berbinar senang. Ia menggeleng pelan.


"Apapun akan kuberi asal kau bahagia, Shei." gumamnya


Nathan mengecek pekerjaan melalui Harvey. Ia menghubungi Harvey kalau-kalau ada hal yang mendesak.


Saat sedang berbicara di telepon, beberapa wanita memperhatikan Nathan yang seperti tidak asing. Sheila lagi lagi memergoki para wanita membicarakan suaminya.


"Ish, apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain membicarakan suami orang?" sungut Sheila yang masih diam.


"Hah! Biarkan saja dulu. Kalau mereka keterlaluan, baru aku akan maju."


Sheila melanjutkan berbelanja. Cukup banyak juga barang yang Sheila beli.


Nathan terbengong melihat barang-barang yang Sheila beli.


"Sayang! Kenapa beli banyak barang begini? Nanti bawa pulang ke Indonesia butuh berapa bagasi?" tanya Nathan menggaruk kepalanya.


"Ini semua untuk orang-orang rumah dan juga para asisten. Kasihan kan mereka pasti lelah bekerja di rumah kita. Tidak ada salahnya membelikan mereka oleh-oleh juga!" Sheila meringis.


"Haaah! Ya sudah! Sebaiknya kita pulang naik pesawat jet pribadi saja. Aku akan hubungi kak Boy untuk mengirimkan pesawat kemari."


Mata Sheila berbinar. "Wah, suamiku memang yang terbaik." Sheila memeluk Nathan kegirangan.


"Ya sudah. Kalau begitu kita makan dulu saja. Sejak tadi kau sibuk belanja memangnya tidak lapar, hmm?"


Sheila tersenyum manis. "Tentu saja aku lapar!"


Sheila melingkarkan tangannya di lengan Nathan. Sebelumnya ia meminta karyawan toko untuk mengirim barang belanjaan Sheila ke hotel tempat mereka menginap.


Sheila dan Nathan berjalan menyusuri pasar tumpah yang ada di Thailand. Ada banyak penjual makanan di sana. Mulai dari makanan normal hingga yang ekstrem.


Nathan bergidik ngeri. "Mintalah yang lain tapi jangan memintaku untuk memakan hal seperti itu."


"Wah, disini benar-benar banyak hal yang ekstrem." gumam Sheila.


"Oh! Kita ke kedai di sebelah sana saja. Sepertinya menjual makanan biasa." Sheila terkikik geli.


Mereka akhirnya makan di resto Jepang yang ada disana. Selama makan, banyak mata yang menatap Nathan. Mereka tersihir dengan pesona CEO Avicenna Grup ini. Siapa yang tidak mengenal keluarganya? Sejak dari kakek buyutnya mereka memang sudah terkenal.


"Ehem!" Sheila melotot pada perempuan yang terus mencuri-curi pandang pada Nathan.


Hingga akhirnya Sheila tidak memakan makanannya dan sibuk menghalau para wanita yang tertarik pada suaminya. Bahkan beberapa lady boy juga menatap lapar pada Nathan.


Cukup tiga puluh menit saja mereka ada disana. Sheila membawa Nathan keluar. Padahal pria itu masih belum menghabiskan makanannya. Dan Sheila juga hanya sedikit menyentuh makanannya.


"Shei, sayang makanannya tahu!"


"Bodo amat! Kamu gak lihat mereka menatapmu seperti singa lapar yang siap memangsa buruannya! Aku tidak suka!" sungut Sheila.


Nathan terbahak. Istrinya ini sangat lucu. Entah kenapa sifat posesif Sheila makin keluar setelah mereka berbulan madu.


"Ya sudah, kita kembali ke hotel saja." putus Nathan.


Sheila melewati sebuah toko dan masuk ke dalam toko itu. Nathan mengernyit heran dengan barang-barang yang dibeli Sheila.


"Mau apa dia dengan barang-barang itu?" batin Nathan.


#


#


#


Tiba di hotel, Sheila memutuskan ingin berenang. Karena memang kolam renang ada di dalam kamar, alhasil tempat ini cukup menjaga privasi.


Sheila menarik tangan Nathan untuk berenang bersama. Nathan yang awalnya menolak akhirnya mau ikut berenang setelah melihat bikini seksi yang dipakai Sheila.


Mereka bermain air bersama dan bahkan bermain hal yang lain. Nathan sangat senang bisa berdua begini hanya dengan Sheila.


Sheila melingkarkan tangannya di leher Nathan. Nathan memeluk pinggang Sheila yang sungguh menggodanya.


Nathan mulai menarik tali bikini bagian atas Sheila.


"Tuan Su!"


Sheila merasa malu. Keadaan mereka yang sudah basah ditambah dengan hari yang mulai berganti malam membuat suasana semakin syahdu.


Nathan menggendong tubuh Sheila keluar dari air. Ia merebahkan tubuh Sheila dengan hati-hati diatas ranjang panas mereka selama disini.


Nathan menikmati setiap jengkal tubuh Sheila yang ada dibawah kungkungannya.


"Tuan Su, mulai besok, saat kita keluar dari hotel, kau harus memakai aksesoris yang aku beli tadi," ucap Sheila dengan napas yang naik turun karena ulah Nathan.


"Aksesoris apa?" Kini Nathan mulai menjelajah ke hutan amazon yang tak berpenghuni.


"Eeummmh, aksesoris seperti saat kau menjadi Tarjo," lirih Sheila sambil meremaas sprei.


"Hmm?" Nathan berhenti sejenak.


"Jadi, kau ingin aku kembali jadi Tarjo?"


Sheila mengangguk. "Hmm, aku ... tidak suka para wanita itu melihatmu."


Sheila memejamkan matanya ketika Nathan memainkan lidahnya dibawah sana. Rasanya geli-geli sedap, hihihi, kata Sheila.


"Kau sangat posesif, istriku..."


Nathan kembali keatas dan menatap wajah Sheila yang memerah.


"Tentu saja! Aku adalah istri posesifmu, Tuan Su!"


Sheila menarik tubuh Nathan dan mencium bibirnya sedikit kasar.


"Pelan-pelan saja, sayang. Aku tidak akan pergi kemanapun, oke?" ucap Nathan lalu mulai beraksi dengan senjatanya.


#bersambung


*Yeay, UP lagi ya genks. Jangan lupa dukungannya 😘😘


Sebentar lagi Lebaran, makthor mau ucapin minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.


Mohon maaf apabila makthor ada salah2 kata atau juga typo, hehehe.🙏🙏