My Culun CEO

My Culun CEO
#1 0 8



Damian uring-uringan datang ke rumah seorang dokter yang tadi ia hubungi. Sang dokter yang adalah Liam, hanya bisa menggaruk kepalanya karena bingung dengan sikap Damian.


"Coba ceritakan padaku, sebenarnya ada apa? Tadi kau meneleponku lalu sekarang kau datang kemari dan uring-uringan."


Sejak setahun lalu, Damian yang tadinya adalah pasien ayah Liam, kini berganti menjadi pasien dirinya. Damian sendiri yang memilih Liam untuk menjadi dokter sekaligus penasihatnya. Kondisi Damian sudah lebih baik dari sebelumnya. Dan malam ini, Liam melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Damian.


"Kenapa wajahmu merah begitu? Apa yang barusan kau lakukan? Kau tidak melakukan hal yang aneh kan?" tanya Liam.


Damian menatap Liam. Wajahnya memang memerah karena ia merasa sangat malu. Apalagi mengingat apa yang baru saja dia lakukan tadi pada Vania. Sungguh hal diluar batas, menurutnya.


Akhirnya Damian bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya barusan. Hanya dengan Liam Damian menjadi orang yang terbuka. Bahkan pada Josh, ia tak bisa seterbuka ini.


"Astaga! Jadi, kau mencium anak gadis orang tanpa izin? Kau benar-benar..." Liam menutup mulutnya.


"Hei! Kau yang menyuruhku untuk memastikannya!" bantah Damian tak terima.


"Tapi bukan dengan sentuhan seperti itu! Kau bisa memastikannya dengan bertanya pada hatimu yang terdalam. Jika seperti ini, kau adalah pria tidak tahu diri, Damian! Semoga saja gadis itu tidak marah!"


Damian mengacak rambutnya frustrasi.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Damian.


"Apa kau mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanya Liam balik.


Damian menggeleng. "Kami hanya diam usai insiden itu."


Liam menepuk jidatnya. "Sebaiknya sekarang kau pulang dan renungkan dengan baik apa yang sudah kau lakukan."


"Tapi, Liam..."


"Sudah tidak ada tapi! Pulang dan renungkan. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan? Aku tahu kini kau mulai membuka dirimu, Damian. Maka dari itu, jangan biarkan masa lalu kembali mengalahkanmu. Mengerti?!"


Damian mengangguk. Ia pun dengan sangat terpaksa harus pergi dari rumah dokter Liam.


Sementara itu di kamar, Vania duduk di tepi tempat tidur sambil mengingat apa yang tadi terjadi dengannya dan Damian.


Vania memegangi bibirnya. Masih bisa ia rasakan jika kali ini ciuman Damian berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini sentuhan bibir Damian itu penuh dengan sebuah rasa. Begitulah pemikiran Vania.


"Hatiku? Kenapa jadi berdebar begini?" Vania memegangi dadanya.


Vania merebahkan tubuhnya di tempat tidur. "Apa maksudnya dengan memastikan sesuatu? Lalu kenapa juga dia minta maaf?"


Vania membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. "Kenapa dia datang di saat aku sudah tidak ingin mengharapkannya? Apa semesta memang memberikan takdir ini untukku?"


Vania meraih ponselnya. Ia menuliskan sesuatu di akun media sosialnya.


"Guys, jika ada pria yang menciummu secara tiba-tiba, apa artinya itu? Dia bilang dia ingin memastikan sesuatu. Apa maksudnya?"


Saat bermain sosmed, Vania menutupi semua identitas pribadinya. Ia memiliki teman dunia maya yang cukup banyak. Sebuah balasan muncul dari sahabat dunia mayanya.


"Itu artinya dia menyukaimu."


Saat membaca balasan ini, hati Vania jadi ikut berbunga.


"Bisa juga dia hanya menjadikanmu bahan taruhan."


Vania kembali cemberut.


"Seorang pria tidak akan mencium gadis tanpa ada alasan. Pasti dia sedang meyakinkan dirinya sendiri jika dia memiliki rasa terhadapmu."


Balasan yang ketiga membuat Vania merasa percaya diri.


"Lalu bagaimana dengan Sitta? Bukankah tuan Damian berhubungan dengan dia?" gumam Vania yang kembali sendu.


"Haah! Entahlah! Duniaku dan tuan Damian terlalu berbeda jauh. Dari mana dia tahu dimana tempat tinggalku? Apa dia mengikutiku sejak tadi?"


Vania masih tidak bisa menemukan titik terangnya. Ia memutuskan untuk menuju ke alam mimpi saja.


Keesokan harinya, Vania menyiapkan sarapan untuknya dan Naina. Hari ini ia akan bicara pada Naina mengenai rencana kepindahan dirinya.


"Wah, kamu masak apa, Van?" tanya Naina yang sudah duduk di kursi.


"Hanya nasi goreng saja, Kak. Kakak mau telurnya di ceplok atau di dadar?"


"Emh, di ceplok saja biar lebih cepat."


"Oke Kak!"


"Duduklah, kamu juga harus makan!" ucap Naina.


"Iya, Kak."


Mereka berdua makan dalam diam. Sesekali Vania melirik Naina yang nampak menyukai masakan Vania.


"Kak..."


"Hmm, ada apa?"


"Aku sudah memutuskan akan pindah dari sini..." ucap Vania dengan hati-hati.


Naina terdiam dan menatap Vania. "Kenapa? Kamu bisa tinggal disini, Vania!"


Vania menggeleng. "Aku sangat berterimakasih pada kakak karena sudah bersedia membantuku. Tapi, aku sudah punya cukup uang untuk menyewa rumah. Kemarin aku sudah membayar sewa rumahnya. Kakak jangan khawatir. Tempatnya dekat dengan kantorku, jadi akan lebih hemat ongkos." Vania meringis.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku tidak bisa menahanmu disini," ucap Naina pasrah.


"Emh, kak. Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi ini ... soal hal pribadi."


Naina mengangguk. "Tanya saja!"


"Apa kakak pernah berciuman?"


Naina tersedak saat sedang minum. "Vania! Kenapa bertanya soal hal begitu?" Naina merasakan wajahnya mulai merona.


"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud..."


"Iya, iya. Tidak apa. Kita sudah sama-sama dewasa, jadi tidak ada salahnya kamu bertanya begitu. Aku dan Harvey ... kami memang pernah berciuman. Itu seperti bentuk rasa cintanya padaku. Dan aku bisa merasakan itu dari sentuhannya. Memangnya apa kamu juga..."


"Ah, tidak kak!" Vania menggeleng cepat.


"Hei, jangan malu! Katakan saja! Siapa prianya? Apa abang ojol yang selalu mengantarmu itu?" goda Naina dengan menaikturunkan alisnya.


"Hah?! Bu-bukan, Kak!"


"Lalu? Apa ada pria lain? Wah, Vania! Aku tidak menyangka kamu sepopuler itu! Kamu ini cantik, Van. Hanya saja kamu harus sedikit mengubah penampilanmu!"


"Kakak! Ti-tidak! Kalau begitu aku berangkat kerja dulu, Kak!" Vania segera berlalu dengan wajahnya yang sudah bersemu merah.


...***...


Tiba di kantor, Vania terus menundukkan wajahnya. Ia sangat gugup jika nanti bertemu dengan Damian. Dari kejauhan, Damian juga baru datang dan akan menuju ke ruangannya.


Damian segera bersembunyi karena merasa gugup saat melihat Vania. Damian masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah toilet wanita.


Para karyawan wanita yang melihat Damian menjadi histeris namun Damian meminta mereka untuk diam.


"Sstt! Jangan berisik! Saya tidak akan berbuat mesum kok! Ya?!"


Dengan pesonanya, Damian berhasil menyihir para karyawannya yang sedang bersolek di toilet. Setelah dirasa aman, Damian segera keluar dari toilet wanita.


"Tuan!"


Suara Josh membuat Damian berjingkrak kaget.


"Josh! Kau membuatku terkejut!"


"Apa yang Tuan lakukan di toilet wanita? Apa Tuan..."


"Hush! Jangan bicara sembarangan. Aku tidak melakukan hal apapun. Ayo cepat kita ke ruanganku!"


Damian kembali berjalan dengan tegap dan gagah menuju ke ruangannya. Sedangkan Josh hanya menggeleng pelan dengan tingkah bosnya itu.


Dari dalam toilet, Nita yang ternyata sedari tadi ada di dalam pun ikut heran dengan kelakuan Damian.


"Ada yang aneh dengan tuan Damian. Aku harus segera melaporkan ini pada Sitta," ucap Nita lalu segera pergi dari sana.


#bersambung