My Culun CEO

My Culun CEO
#1 1 2



Vania kembali ke rumah Naina dengan hati yang bergemuruh. Padahal tadi ia sangat bersemangat untuk berbelanja kebutuhan yang akan ia bawa untuk liburan nanti. Tapi karena bertemu dengan Edo, Vania memilih untuk langsung pulang saja.


Vania langsung membersihkan diri untuk melepas penat yang mendera. Lima belas menit kemudian, Vania memutuskan untuk memasak makan malam. Ia membuka lemari es. Tidak banyak bahan yang bisa ia temukan.


Vania mendesah kasar. Memang sudah waktunya dirinya berbelanja kebutuhan dapur. Vania memutuskan untuk menghubungi Naina terlebih dahulu.


Naina menyerahkan semua keperluan dapur kepada Vania. Akhirnya Vania berganti pakaian dan pergi ke sebuah supermarket yang cukup lengkap untuk berbelanja.


Vania ingat jika dirinya juga harus membeli kado untuk Rizka. Karena hari liburan besok bertepatan dengan hari ulang tahun Rizka.


Berbagai macam bahan makanan ia beli untuk persediaan makanan untuk dirinya dan Naina. Vania memutuskan untuk membuat kue kering yang akan ia berikan pada Rizka nanti.


Vania tidak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan saat gadis itu berbelanja. Pemilik mata itu tidak berani mendekat dan hanya mengawasi dari jauh saja.


Selesai berbelanja, Vania memanggil taksi karena barang belanjaannya terlalu banyak. Vania terus menghela napas selama dalam perjalanan.


Ia ingat bagaimana hari-hari yang dilaluinya akhir-akhir ini. Biasanya ada Edo yang selalu membantu dan menemaninya.


Buliran bening itu menetes begitu saja ke pipi mulusnya. Dengan cepat Vania menghapusnya.


"Sudahlah, Vania. Kau harus menjalani hidupmu sendiri. Kau tidak perlu bantuan dari siapapun. Kau adalah gadis yang kuat. Kau pasti bisa menjalani semua ini," batin Vania menguatkan dirinya.


Tiba di depan rumahnya, Vania dibantu dengan pak supir taksi mengeluarkan barang belanjaan miliknya lalu di masukkan kedalam rumah.


"Terima kasih banyak, Pak," ucap Vania.


Vania membawa sisa kantong belanjaan dengan kedua tangannya.


"Vania!"


Lagi-lagi Vania harus mengalami ini. Vania berbalik badan dan melihat seorang pria yang terlihat rapuh ada di depannya.


"Tolong maafkan aku!"


Vania memalingkan wajahnya.


"Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku memang sengaja menjadi abang ojol agar aku tahu seperti apa pelayanan yang di berikan oleh bawahanku. Dan apakah ada komplain dari pelanggan atau tidak."


Vania terdiam. Sebenarnya apa yang dilakukan Edo tidak ada salahnya. Tapi menjadi salah ketika ia makin menambah kebohongan yang dia lakukan.


"Apa kau bertaruh dengan tuan Damian?" Entah kenapa Vania ingin mengetahui hubungan Edo dan Damian.


"Tidak! Aku memang berteman dengannya. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Apa Damian melakukan sesuatu padamu?" Edo merasa ada hal lain ketika Vania menanyakan hal itu.


"Ti-tidak! Aku hanya..."


Sebuah pelukan hangat tiba-tiba Edo berikan pada Vania. "Maafkan aku... Kumohon maafkan aku..."


Vania mematung mendapat sebuah pelukan dari Edo. Air matanya yang tadi mengering, tiba-tiba kembali mengalir. Ia memang kecewa dengan kebohongan Edo, tapi didalam hatinya yang terdalam, ia tak bisa mengusir bayang-bayang Edo yang sudah menjadi sahabat baginya.


"Tolong lepaskan aku!" pinta Vania lirih.


"Ma-maaf..." ucap Edo melepas pelukannya.


"Sebaiknya abang pulang saja..." ucap Vania tanpa menatap Edo.


"Baiklah. Kau istirahatlah!"


Vania mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah. Vania mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Terdengar helaan napas berat dari dirinya.


"Sebaiknya kamu maafkan saja dia," ucap Naina yang ternyata melihat semua adegan tadi.


"Entahlah, Kak."


"Aku baru ingat, dia adalah Eduardo Moremans. Dia dikenal sangat disiplin terhadap karyawannya. Mungkin itu sebabnya dia menyamar menjadi abang ojol."


"Hei, bersemangatlah! Kamu tahu, tuan Nathan dan Sheila tidak bisa hadir besok dan meminta Harvey untuk menggantikannya. Lalu, aku juga di minta untuk menemani Harvey. Jadi..."


"Aaaaa! Serius, kak? Jadi besok kita liburan bersama?"


Naina mengangguk. Vania langsung berteriak gembira. Mereka saling berpelukan dan bersorak sorai.


...***...


Dan disinilah Vania kini, berdiri mematung di depan sebuah kapal pesiar mewah yang menjadi tempatnya berlibur nanti. Karena tadi ia harus membuat makanan dan kue kering, alhasil Vania datang terlambat.


"Duh, kemana kak Naina ya?" gumam Vania.


Vania memberikan tiket undian yang ia menangkan kemarin. Vania masuk dengan membawa satu tas koper yang ia dorong.


Vania terperangah begitu masuk ke dalam aula kapal pesiar itu.


"Wah, orang kaya mah bebas ya!" Mulut Vania tak berhenti berdecak kagum.


"Aku tidak akan bisa berlibur disini jika tidak karena menang undian," gumamnya lagi.


"Nona Vania Tanuja!" Seorang pria berpenampilan rapi dan berjas menghampiri Vania.


"Ah iya, Tuan."


"Mari ikut dengan saya! Nona Rizka sudah menunggu!" ucap pria yang tak lain adalah Fardhan.


Vania mengangguk dan mengikuti langkah Fardhan. Selama berjalan menuju tempat Rizka, banyak mata yang memperhatikan Vania. Penampilan Vania yang terkesan biasa dengan hanya memakai balutan kaus dan celana jeans, juga sandal gunung kesukaannya membuat dirinya jadi bahan gunjingan.


"Apa yang salah dengan penampilanku? Bukankah pestanya nanti malam?" gumam Vania.


"Silakan masuk, Nona. Nona Rizka sedang mengadakan acara makan siang, dan Nona diundang sebagai tamu undangan spesial."


Vania mengangguk paham. Ia masuk mengikuti langkah Fardhan hingga menghampiri Rizka.


"Nona Rizka, Nona Vania sudah datang," ucap Fardhan.


"Ah, benarkah?" Rizka beranjak dari duduknya dan mendekati Vania.


"Selamat datang, Vania," sambut Rizka hangat.


Sejenak Vania terpesona dengan kecantikan Rizka. Gadis itu melongo menatap Rizka yang bagaikan putri dari negeri dongeng. Rizka memakai dress hitam yang berkilauan dengan rambut panjangnya yang di gerai begitu saja.


"Farsh, tolong bawa barang-barang Vania ke kamar ya!" perintah Rizka.


"Baik, Nona." Fardhan memberi hormat dan mengangkat koper milik Vania.


"Vania, ayo mari!" Rizka meraih lengan Vania dan dibawanya ke meja makan yang ternyata sudah penuh banyak orang disana.


"Perhatian semuanya! Saya memiliki tamu istimewa disini. Dia adalah Nona Vania Tanuja. Dia adalah customer yang berhasil memenangkan undian liburan bersama dengan saya. Saya harap kalian memperlakukan dia sama seperti memperlakukan saya. Nona Vania bekerja di Ford Company sebagai seorang akuntan. Dan saya rasa, setelah ini saya akan meminta dia untuk berhenti dari sana dan bekerja dengan saya saja."


Kalimat candaan Rizka membuat tawa renyah dari seluruh tamu termasuk juga Vania. Vania belum menyadari situasi yang terjadi dan masih terus tertunduk.


"Nona Vania, mari sapa seluruh tamu undangan!" ucap Rizka.


Vania mengangguk. "Selamat siang semuanya! Saya Vania Tanuja. Saya sangat berterimakasih kepada Nona Rizka karena memberi saya kesempatan untuk merasakan liburan mewah bersama dengan beliau. Semoga kedepannya, eRHa Cosmetics semakin sukses. Saya..."


Ucapan Vania terjeda karena matanya menangkap sosok yang tak asing untuknya. Vania mematung menatap orang itu yang kini juga sedang menatapnya.


"Vania, kau tidak apa-apa?" bisik Rizka.


Rizka mengikuti arah pandang Vania yang tertuju pada seseorang.


"Hah?! Dia..."


#bersambung