My Culun CEO

My Culun CEO
Tarjo is Back



Sheila terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Nathan ada di sampingnya. Sheila melirik jam dinding dan baru pukul enam pagi. Tidak biasanya Nathan bangun sepagi ini.


Setelah menikah pria itu tidak pernah bangun pagi lagi dan harus dibangunkan oleh sang istri. Sheila turun dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri.


Usai membersihkan diri, Sheila mencium aroma lezat dari arah dapur. Ia segera keluar dari kamar dan menuju ke dapur.


"Tuan Su? Kamu masak apa? Kok baunya enak sekali?" Sheila yang masih memakai dress rumahan berjalan menuju dapur sambil menyepol rambutnya asal.


Nathan tersenyum melihat kedatangan Sheila.


"Aaaaaaaa!" Sheila berteriak kaget melihat Nathan yang sudah berubah menjadi Tarjo.


"Sssttt! Sayang! Tidak perlu berteriak. Bukankah kamu dulu sangat menyukai pria ini?" ucap Nathan santai sambil menghampiri istrinya yang masih tercengang. Nathan sengaja menggoda istrinya dengan berperan sebagai Tarjo.


"Ka-kamu serius akan menjadi Tarjo?" tanya Sheila saat pria itu sudah didepannya.


Nathan mengangguk. "Iya. Aku akan memberi pelajaran untuk gadis aneh itu!" sungut Nathan bila mengingat tentang Rizka.


"Ish, kamu! Tapi ... tidak buruk juga. Aku merindukanmu, Jo." Sheila memeluk Tarjo erat.


Nathan pun membalas pelukan Sheila. "Aku juga merindukanmu, Shei..."


Usai beberapa saat berpelukan, Nathan melepas tubuh Sheila.


"Ayo kita sarapan!" ajak Nathan.


"Iya, ayo!" balas Sheila.


Mereka bercengkerama ringan seakan bernostalgia saat Nathan masih menjadi Tarjo. Sheila sudah membayangkan ekspresi Rizka saat nanti bertemu dengan suaminya yang sudah berubah drastis.


"Tuan Su, apa ini tidak berlebihan? Bagaimana jika Rizka curiga?" tanya Sheila sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Tidak. Aku yakin ini berhasil. Bukankah dulu kamu juga tidak mengenaliku? Pasti Rizka juga tidak akan menyadarinya."


Sheila tersenyum. "Baiklah. Aku percaya denganmu, Tuan Su. Berhati-hatilah."


"Iya, sayang."


#


#


Tiba di gedung Avicenna Grup, Nathan yang sudah berubah menjadi Tarjo meminta Harvey untuk menjemputnya di lobi. Karena pastinya, para security tidak akan membiarkan dirinya masuk jika tidak bersama dengan pihak yang berkuasa.


Harvey mengerutkan dahi ketika melihat penampilan Nathan yang sungguh jauh berbeda dengan Nathan yang sesungguhnya. Pagi tadi Nathan menghubungi Harvey dan mengatakan semua rencana pria itu kepada sang asisten.


Sebenarnya Harvey tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan Nathan ini. Tapi semua sudah terjadi. Dan rencana harus tetap di laksanakan.


"Selamat pagi, Mas Tarjo. Saya Harvey!" sapa Harvey berpura-pura.


"Oh, iya, Pak Harvey. Saya Tarjo," balas Tarjo dengan senyum yang merekah memperlihatkan gigi tonggosnya.


Harvey tersenyum kecut. "Pak satpam, ini adalah Mas Tarjo. Dia orang suruhan tuan Nathan yang bertugas untuk menggantikan beliau karena sedang berhalangan," jelas Harvey.


Satpam itu mengerutkan keningnya heran. "Ah iya! Maaf ya, Mas. Saya tidak tahu kalau Mas Tarjo ini orang suruhan bos Nathan. Saya pikir tadi Masnya mau minta sumbangan. Sekali lagi saya minta maaf, Mas."


Tarjo mengangguk. "Tidak masalah, Pak." Dalam hati sebenarnya Tarjo mengumpat, namun ia harus urungkan karena memang penampilannya mirip dengan orang yang meminta sumbangan, hihi.


Harvey segera membawa Tarjo ke ruang kerja milik Nathan. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Penampilannya sebagai Tarjo sangat tidak bisa dikenali.


"Sebaiknya Tuan ganti baju dulu saja. Tuan harus tetap berpenampilan elegan meski sudah menjadi pria culun ini." Harvey terkekeh geli.


"Biasakan jangan memanggilku tuan. Panggil saja seperti yang tadi."


Keluar dari kamar pribadinya, Tarjo kembali bicara dengan Harvey.


"Kamu tahu, Harv? Penampilan seperti inilah yang disukai oleh Sheila. Dia menyukai hal yang lugu." Nathan terkekeh geli mengingat banyak hal yang ia habiskan bersama Sheila saat menjadi Tarjo.


"Saya masih belum percaya Mas Tarjo adalah cinta pertama nona Sheila," sahut Harvey.


"Kalau tidak percaya ya sudah. Saya tidak memaksa!" ketus Nathan.


"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Naina?" lanjutnya.


"Kami baik-baik saja, Mas. Kami akan menjalani semua ini dulu dan tidak terlalu terburu-buru dalam melangkah," jawab Harvey malu. Ini adalah pertama kalinya si dingin Nathan bertanya tentang hal pribadi padanya. Ternyata menikah banyak mengubah sifat Nathan, begitulah pikir Harvey.


Tarjo telah selesai mematut dirinya. Kini ia tinggal menunggu kedatangan Rizka dan membuat kejutan untuknya.


#


#


#


Rizka tiba di parkiran basement gedung Avicenna Grup. Ia memperhatikan penampilan dirinya sebelum keluar dari mobil.


Ia menyemprotkan parfum mahal dari brand miliknya sendiri. Tak lupa ia mengoleskan kembali pewarna bibir yang membuatnya semakin seksi.


"Hmm, kira-kira hari ini agenda apa lagi yang akan aku lakukan dengan Nathan?"


Rizka tersenyum gembira mengingat kejadian kemarin dimana dirinya sengaja membuat Nathan repot. Rizka mengenal Nathan saat dirinya menonton acara televisi yang menampilkan info bisnis. Nathan masuk dalam jajaran pengusaha muda sukses yang bahkan terkenal hingga ke luar negeri.


Tentu saja itu karena Nathan menyandang nama besar keluarganya. Awalnya Rizka agak ragu ketika Nathan di gosipkan sebagai penyuka sesama jenis. Tapi saat Nathan tampil bersama Marina, Rizka yakin jika Nathan adalah Pria normal. Terbukti dengan berita bahwa Nathan telah menikah.


Rizka memang belum tahu siapa istri Nathan, tapi pastinya ia tidak mempermasalahkan hal itu. Yang ia tahu adalah apa yang ia sukai harus ia dapatkan. Begitu juga dengan sekarang. Ia amat menyukai sosok Nathan yang dinilainya sempurna. Maka akan ia lakukan segala cara agar bisa mendapatkan keinginannya. Sifatnya menurun dari sang ayah yang sangat obsesif.


Dulu ayahnya berjuang untuk bisa mengalahkan sang kakak, hingga memutuskan keluar dari rumah dan membangun bisnis di luar negeri. Memang kerja kerasnya membuahkan hasil, dan ayah Rizka berhasil membangun Grup HG yang terkenal di Singapura.


Rizka turun dari mobilnya. Ia berjalan perlahan menuju pintu lift khusus CEO. Ia tak peduli harus melanggar aturan karena ia ingin lebih cepat sampai dan bertemu dengan Nathan.


Pintu lift terbuka. Rizka telah tiba di lantai milik Nathan. Ia berjalan dengan anggun menuju ruangan Nathan. Ia mengetuk pelan pintu ruangan Nathan.


Rizka masuk dan melihat sosok pria yang sedang berdiri membelakanginya. Matanya berbinar senang melihat Nathan terlihat gagah meski hanya bagian belakangnya saja.


"Tuan Nathan... Saya sudah datang..." Suara Rizka dibuat sehalus dan selembut mungkin dengan ada nada mendesah di akhir kata.


Nathan alias Tarjo berbalik badan dan menyapa Rizka dengan sebuah senyuman. Tampak gigi tonggosnya terlihat sangat menyilaukan di mata Rizka.


"Aaaaaa! Siapa kamu?" teriak Rizka. "Dimana Nathan?" tanya Rizka lagi.


Harvey yang sudah sigap menunggu di depan pintu segera masuk ke dalam.


"Ada apa, Nona? Kenapa berteriak?" tanya Harvey.


"I-itu ... i-tu si-siapa?" tunjuk Rizka kearah Tarjo.


"Oh, dia adalah Tarjo, Nona. Dia yang akan menggantikan tuan Nathan untuk sementara karena beliau berhalangan hadir."


"What?! Nathan berhalangan hadir dan digantikan dengan orang seperti dia? Yang benar saja!"


"Jangan meremehkan saya, Nona!" Suara Nathan alias Tarjo dibuat cempreng hingga membuat Rizka kembali tercengang.


"Aaaa! Tidak! Aku mau Nathan! Hanya dia! Kenapa malah si culun ini yang datang?" sungut Rizka dalam hati.