My Culun CEO

My Culun CEO
#1 1 3



"Vania, kau baik-baik saja?"


Rizka mengulang pertanyaannya karena tidak mendapat respon dari Vania.


"Eh?"


"Kau kenapa?" tanya Rizka.


"Tidak apa-apa, Nona. Emh, Nona. Bisakah saya pergi ke kamar saja? Saya merasa ... kurang enak badan. Maaf ya Nona," alasan Vania.


Rizka tersenyum. "Iya, tidak apa. Tanyakan saja pada Farsh dimana kamarmu."


Vania mengangguk kemudian berlalu dari ruangan yang penuh dengan para kolega bisnis Rizka dan ayahnya.


Rio menghampiri Rizka yang menatap kepergian Vania.


"Ada hubungan apa antara Vania dan Damian? Dari tatapan mereka berdua sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Meski memang Damian adalah atasan Vania dikantor, tapi rasanya..."


"Sayang? Kenapa melamun?" tegur Rio.


"Hah? Ah, tidak, Pa. Ayo lanjutkan makan siangnya!" ucap Rizka sambil tersenyum seakan tidak ada yang terjadi dengan pikirannya barusan.


Vania keluar dari ruangan yang membuatnya sesak. "Huh! Kenapa harus bertemu dengannya disini? Kenapa semua orang yang ingin kuhindari malah ada disini juga?"


Vania mengacak rambutnya. Ia mencari keberadaan Fardhan yang ternyata tidak ada di luar ruangan.


"Kemana pria tadi? Ah sudahlah! Sebaiknya aku berjalan-jalan saja dulu! Bukankah sekarang aku sedang liburan? Untuk apa memikirkan hal yang tidak penting!" gumam Vania pada dirinya sendiri.


Vania berjalan menuju ke dek depan kapal pesiar dan melihat pemandangan yang tak biasa.


"Woah! Jadi dari tadi kapalnya sudah berjalan? Dan sekarang aku sedang ada di tengah lautan!" seru Vania gembira sambil merentangkan tangannya. Hembusan angin laut menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata merasakan begitu tenangnya hidup jika setiap hari merasakan hal seperti ini.


"Vania!" panggil seseorang yang membuat Vania membuka matanya.


"Oh! Kak Naina!" seru Vania lalu berpelukan dengan Naina.


"Kakak kemana saja? Aku menelepon kakak tapi tidak dijawab. Jahat ih!"


"Hehehe, maaf. Tadi aku kehabisan baterai. Kamu kok bisa ada disini?"


"Emh, aku sedang berjalan-jalan saja, Kak. Kakak sendiri dari mana?"


"Oh, aku juga bosan ada di kamar terus. Makanya aku memutuskan untuk jalan-jalan deh. Lagipula Harvey juga sedang makan siang dengan nona Rizka."


"Hah?! Jadi di ruangan tadi ada kak Harvey juga? Ya ampun! Aku pasti malu bertemu dengannya!" Vania menutup wajahnya dengan tangan.


"Kenapa, Van?"


Akhirnya Vania menceritakan semuanya pada Naina. Mungkin sudah saatnya ia bercerita pada orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.


Naina melongo mendengar cerita Vania. Rasanya ia tak percaya jika hal seperti ini benar-benar nyata terjadi.


"Wah, jadi kau sedang di kejar-kejar oleh dua pria tampan dan CEO perusahaan besar?! Wah, kau benar-benar hebat, Vania!" Naina memegangi kedua bahu Vania.


"Kakak! Apanya yang hebat? Mereka hanya memanfaatkan aku saja! Tidak mungkin pria sekelas mereka menyukai gadis seperti aku!" elak Vania dengan hati yang tertikam belati.


"Dengar! Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini! Selama ini mereka tidak pernah terdengar dekat dengan gadis manapun. Ya mungkin tuan Damian dikenal sebagai casanova karena keramahannya, tapi yang kulihat dia tidak pernah mengejar gadis seperti ini. Lalu, tuan Edo? Dia memang agak dingin tidak seperti tuan Damian, tapi dia juga tidak pernah terlihat dengan gadis manapun selama ini. Kau sangat beruntung, Van!" Naina mengutarakan pendapatnya berdasarkan riset-riset yang dia lakukan terhadap para pria kaya, hahaha.


"Sudahlah, Kak. Hidupku jadi tidak tenang karena kehadiran mereka!" ketus Vania.


"Ciyeee! Kau harus putuskan mau pilih Damian atau Edo? Edo atau Damian?" goda Naina.


"Kakak!" sungut Vania dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Dengar adikku! Apapun keputusanmu, aku ingin kau tetap bahagia. Aku tahu akhir-akhir kau pasti memikirkan kedua pria kaya itu. Benar kan?" terka Naina yang kini dalam mode serius.


Vania terdiam. Ia tidak menjawab. Meski menyangkalpun, itu akan tetap ketahuan oleh Naina. Vania tidak pandai berbohong.


"Wah wah wah! Kenapa ada gadis kampung yang bisa naik kapal pesiar mewah ini ya?" seru seseorang dari arah belakang Naina dan Vania.


"Iya nih, Sitt. Ganggu pemandangan aja!" sahut kawannya. Siapa lagi kalau bukan Nita dan Sitta.


"Siapa kalian?" tanya Naina berani.


"Astaga! Benar-benar merusak mata!" sahut Nita.


"Apa mau kalian? Kami disini karena dapat undangan dari nona Rizka!" tegas Naina.


"Kak, sudahlah. Kita jangan bikin rusuh sama mereka. Ayo kita pergi saja!" ajak Vania.


"Hei! Siapa yang bilang kalian boleh pergi! Nita!" titah Sitta.


Nita mengambil satu botol anggur dan diserahkan pada Sitta. Sitta membuka tutup anggur itu lalu menyiramkannya ke tubuh Vania.


"Bahkan kalian tidak lebih berharga dari anggur ini! Ckckck, aku tahu kau berusaha menggoda Damian dan Edo. Bukankah sudah kubilang, aku tidak akan membiarkanmu!" seru Sitta dengan menuang habis satu botol anggur hingga tubuh Vania basah kuyup.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" Naina ingin membela Vania namun dengan cepat Nita mendorong tubuh Naina hingga terhuyung ke belakang.


Sementara itu, makan siangpun telah selesai. Rizka menyalami satu persatu kolega bisnisnya dengan ramah.


Rizka menghampiri Fardhan yang nampak sedang berjaga.


"Farsh! Apa Vania sudah kembali ke kamarnya?" tanya Rizka dengan suara lembutnya.


"Eh? Maksud Nona?"


"Ck, kamu gimana sih? Tadi Vania bilang dia kurang enak badan, jadi dia ingin kembali ke kamar saja. Aku minta dia untuk menemuimu. Kamu sudah antar dia ke kamar kan?" jelas Rizka.


"Tidak, Nona. Nona Vania tidak mencari saya."


"Heh?! Aneh! Lalu dimana dia sekarang? Bukankah dia belum tahu dimana kamarnya? Cepat kamu cari dia!" titah Rizka.


"Pak Fardhan! Pak!" Seorang anak buah Fardhan menghampiri pria itu dan Rizka.


"Ada apa?" tanya Fardhan.


"Emh, begini Pak..." Orang itu melirik Rizka.


"Tidak apa, katakan saja!" pinta Rizka.


"Di dek depan kapal terjadi keributan! Ada empat wanita yang sedang ribut disana," cerita orang itu.


"Apa?!" Rizka dan Fardhan kaget bersamaan.


"Nona tenang saja. Saya akan selesaikan masalah ini! Dan untuk nona Vania, saya juga akan mencarinya. Sebaiknya Nona kembali saja ke kamar Nona." Fardhan memberi hormat kemudian pergi bersama anak buahnya.


Rizka mengepalkan tangan mendengar penuturan bawahan Fardhan.


"Siapa yang berani merusak hari ulang tahunku, hah?! Berani sekali mereka!" Rizka mengepalkan tangan dan melangkah menyusul Fardhan.


"Rizka!" panggil Rio yang membuat Rizka kembali terhenti.


"Ada apa, Pa?"


"Kamu mau kemana?"


"Emh, itu Pa. Terjadi keributan di dek kapal depan. Aku ingin mengeceknya!"


"Sayang, bukankah Fardhan yang akan menyelesaikannya. Sudahlah! Sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu harus mempersiapkan diri untuk nanti malam."


"Tapi, Pah... Aku tidak bisa membiarkan ada orang yang merusak pestaku!"


Rio mendesah kasar. "Baiklah. Tapi kau jangan ikut campur dalam keributan itu. Serahkan saja semuanya pada Fardhan."


Rizka mengangguk dan segera melangkah pergi. Ia mengangkat gaunnya agar lebih bisa bergerak dengan cepat.


Rizka melihat sudah banyak orang berkumpul di dek kapal.


"Astaga! Kenapa orang-orang suka sekali menonton hal seperti ini? Tidak akan kubiarkan!"


Rizka melangkah maju menerobos kerumunan orang-orang yang ada disana.


"Hentikan!" teriak Rizka.


#bersambung