
Nathan merasa sangat bersyukur karena sudah menemukan Sheila. Sebenarnya Roy ingin Nathan untuk melakukan konferensi pers mengenai kembalinya Sheila. Tentu saja kehebohan sempat tercipta ketika mendapati orang yang sudah meninggal ternyata masih hidup.
Sandra sangat bahagia ketika melihat Sheila dalam keadaan sehat. Untuk mengucap rasa syukur, Nathan mengundang beberapa teman dekat dan kerabat untuk datang ke rumah keluarga Avicenna.
Sebuah pesta kecil-kecilan Nathan siapkan untuk Sheila. Ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada keluarga kecilnya lagi.
Malam ini rumah keluarga Avicenna terasa ramai dengan kedatangan para tamu spesial yang khusus diundang oleh Nathan. Mereka memberi ucapan kepada Nathan karena berhasil melewati ujian dalam rumah tangganya.
Seseorang yang sudah mempersiapkan semuanya juga ikut datang dengan membawa karangan bunga yang cukup besar. Dialah Mira. Menantu keluarga Avicenna yang terbuang. Begitulah Mira menyebut dirinya sendiri.
Roy yang melihat kedatangan Mira segera menghampiri wanita itu yang datang bersama dengan putranya.
"Mira? Kau datang, Nak?" sapa Roy yang diikuti oleh Lian.
"Akhirnya kita bertemu, Nak," sambut Lian.
Mira hanya tersenyum penuh arti menyambut sapaan ramah si pemilik rumah.
"Terima kasih, Paman Roy, Bibi Lian. Aku juga tidak menyangka jika aku akan kembali ke negara ini," ucap Mira menyambut pelukan Lian.
"Kami turut berduka atas kehilanganmu. Paman berharap bisa bertemu dengan Devan. Tapi ternyata..." ucapan Roy terjeda.
"Tidak apa, Paman. Aku juga masih tidak percaya jika mas Devan sudah tiada. Seandainya saja aku memiliki nasib baik seperti Nathan yang mendapatkan kembali istrinya," balas Mira.
Sheila yang mendengar kalimat Mira mengernyitkan dahinya. Ia merasa jika Mira bukanlah orang baik.
Sheila terkejut karena Lian sedari tadi memanggilnya. Lian meminta Sheila untuk menemui Mira dan putranya.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Sheila.
"Ayo temui Mira dan Karel."
Sheila mengangguk dan menghampiri Mira yang sedang bersama dengan Nathan.
"Ah, ini dia!" seru Mira menatap Sheila.
"Kau sangat beruntung karena kau masih selamat dari orang jahat itu," ucap Mira.
Sheila hanya mengulas senyumnya. Entah kenapa Sheila kurang suka dengan sikap Mira yang seakan terlalu di buat-buat.
#
#
#
Sheila dan Nathan kembali ke kamar untuk beristirahat usai semua tamu pulang ke rumah mereka masing-masing. Sheila merasa lelah dan lega, karena bisa merasakan kehangatan bersama keluarganya lagi.
Sheila menyiapkan pakaian ganti untuk Nathan yang sedang berada di kamar mandi. Sheila menatap kamar Nathan. Seakan lama sekali ia tidak datang kemari sejak mereka tinggal di Amerika.
Nathan keluar dari kamar mandi dengan kondisi segar dan bugar. Ia menatap Sheila yang sudah dudukdi tempat tidur mereka.
"Sayang, kau sudah mandi?" tanya Nathan.
"Hmm, sudah. Aku tadi ke kamar Giga untuk mandi disana. Rasanya sangat menenangkan ketika melihatnya tertidur lelap seperti itu."
Nathan berganti pakaian lalu ikut naik ke atas tempat tidur. Ia langsung memeluk istrinya yang sangat dia cintai.
"Tuan Su!" panggil Sheila dalam dekapan Nathan.
"Hmm, ada apa?"
"Siapa sebenarnya kak Mira itu?"
Nathan melepaskan pelukannya. Ia menatap Sheila lamat.
"Kenapa memangnya?" tanya Nathan.
"Entahlah. Aku merasa dia seperti bukan orang baik. Tatapannya terhadapmu dan keluarga kita ... seakan memiliki sebuah makna tersembunyi. Apa keluarga ini punya masalah dengannya?" Sheila mencoba untuk mencari tahu apa yang dipikirkannya.
Nathan menghela napas panjang kemudian turun dari tempat tidur. Ia menuju ke lemari buku miliknya dan mengambil sebuah album foto lama.
Nathan kembali ke tempat tidur dan membuka album foto itu.
"Maaf jika aku harus menceritakan ini padamu. Setiap keluarga pasti memiliki masa kelam dalam perjalanannya. Begitu juga dengan keluarga ini. Kami mengalami banyak masalah puluhan tahun lalu."
Sheila menatap foto di album tua itu. Ia berusaha mendengarkan setiap cerita Nathan.
"Pendiri Avicenna Grup adalah Donald Avicenna. Dia adalah kakek buyutku. Kakek Donald memiliki dua putra."
"Dua?" Sheila terkejut. "Bukankah hanya kakek Dandy saja?"
Nathan menatap istrinya. "Yang orang tahu putra kakek Donald hanyalah kakek Dandy saja. Tapi sebenarnya dia memiliki dua putra. Kakek Donald bercerai dan putra pertamanya di bawa oleh mantan istrinya, nenek Emila. Putra pertama kakek Donald bernama Denny. Dia adalah kakek dari kak Devan, mendiang suami kak Mira."
Nathan mengangguk. "Selama ini kami tidak tahu dimana nenek Emila tinggal bersama kakek Denny. Kakek Dandy juga tidak tahu dimana keberadaan saudaranya selama ini."
"Lalu bagaimana kalian bisa bertemu sekarang?"
"Papa mencari keberadaan mereka setelah kematian kakek Dandy. Tapi semua masih sia-sia. Lalu setelahnya kak Boy yang melanjutkan penyelidikan. Ternyata selama ini kak Devan mendirikan perusahaan yang di beri nama Avintech. Itu adalah peninggalan dari kakek Denny."
Sheila mengusap punggung suaminya. Nathan menutup album foto lama itu dan meletakkannya diatas nakas.
"Bukankah setiap keluarga mempunyai ceritanya masing-masing? Keluargaku juga memiliki kisah kelamnya sendiri. Dan kini kami sudah berdamai dengan semuanya. Aku rasa sekarang adalah saatnya kalian berdamai dengan masa lalu. Apa kakek Denny masih memiliki keturunan yang masih hidup?"
Nathan menggeleng. "Yang aku tahu hanya tersisa Karel dan kak Mira saja."
Sheila mengangguk. "Begitu ya! Kalau begitu kita harus memperlakukan mereka dengan baik."
Nathan mengernyit. "Tadi kau bilang kau cukup curiga pada kak Mira, tapi kenapa sekarang...?"
"Aku tahu. Mungkin penilaianku salah. Dia bersikap begitu pasti karena selama ini hidup sendiri dan tak punya keluarga lain. Dia pasti kesepian selama ini. Makanya setelah ini kita harus memperbaiki hubungan dengannya."
Nathan memeluk Sheila. "Kau benar, sayang. Terkadang kau memiliki pemikiran yang dewasa. Tapi kadang, kau juga sangat kekanakan!"
"Apa katamu?! Kau mau cari masalah denganku, hah?!"
Nathan tertawa. "Astaga! Ternyata Sheila si tukang debat telah kembali!"
Sheila menggelitik pinggang Nathan dan membuat pria itu tertawa karena geli.
"Ampun sayang! Jangan lakukan!"
"Rasakan kau! Kau selalu saja mengajakku berdebat! Makanya sekarang rasakan hah!"
Suara berisik dari kamar Nathan membuat Lian dan Roy yang menguping di depan pintu terkekeh geli.
"Akhirnya mereka bisa merasakan kebahagiaan, Mas. Semoga setelah ini tidak akan ada lagi cobaan untuk keluarga kecil mereka," ucap Lian.
"Iya sayang. Ayo kita juga harus beristirahat. Biarkan mereka menghabiskan waktu mereka berdua." Roy memeluk bahu Lian lalu menuju ke kamar mereka.
#
#
#
Sepuluh tahun kemudian...
Suara gemuruh petir membuat seorang gadis kecil yang sedang tertidur mendadak terbangun dari tidurnya. Derasnya air hujan yang menimpa bumi membuatnya menarik selimut namun matanya tak bisa kembali terpejam.
Gadis kecil itu mencari keberadaan ayahnya yang biasanya tertidur di sampingnya.
"Bapak!" panggil gadis kecil itu karena tak mendapati ayahnya ada di kamar.
"Bapak!" Gadis itu kembali memanggil ayahnya.
Sayup-sayup ia mendengar dua orang sedang berbicara di luar kamar. Ia tahu itu adalah suara ayahnya dan suara seseorang.
Gadis kecil itu mengucek matanya dan turun dari tempat tidur sederhana miliknya.
"Siapa dia?" gumam gadis kecil itu yang mengintip di balik pintu. Ia mencoba menguping pembicaraan ayahnya.
"Besok pagi jangan sampai kau gagal! Atau uang ini akan kuambil kembali. Mengerti?!" ucap seorang pria memyerahkan sebuah amplop kepada ayah si gadis.
Gadis kecil itu memicingkan matanya. Lalu setelah kedua orang itu berbincang, orang itu pergi dari rumah si gadis kecil.
Ayah si gadis hendak menuju kamar namun dikejutkan dengan kehadiran si gadis di hadapannya.
"Merlin! Kenapa kau ada disini, Nak?" tanya si ayah.
"Siapa orang itu, Pak?" tanya si gadis kecil yang bernama Merlin.
"Bukan siapa-siapa! Ayo kita tidur lagi. Besok kan kamu harus ke sekolah!" Si ayah menyuruh Merlin kembali ke kamar.
"Ingat ya, Pak. Merlin tidak mau bapak terlibat kejahatan lagi. Sudah cukup kita hidup menderita begini. Jangan menambah beban Merlin, Pak!"
Si ayah hanya menggeleng pelan mendengar penuturan putrinya. Gadis berusia 10 tahun ini memang memiliki pemikiran dewasa melebihi usianya. Ia beruntung memiliki Merlin dalam hidupnya.
#bersambung...
*Uhuk! Siapakah Merlin? 😬😬😬 Sudah 10 tahun berlalu ye genks, itu artinya... we're ready to the new season 😘😘😘
Jangan lupa dukungannya selalu ya genks