
Bagaimana rasanya saat pertama kali kalian menemukan jodoh kalian?
Apakah jantung kalian berdebar tak beraturan? Atau keringat mulai muncul ketika melihat si dia?
Ah, aku tidak tahu bagaimana awalnya. Kami hanya dua manusia yang dipertemukan di situasi yang cukup aneh. Ya, kami dijodohkan.
Bukan berarti aku tidak mampu mencari jodohku sendiri. Aku tidak banyak mengenal pria. Aku takut salah dalam memilih.
Tapi entah kenapa setelah mengenalmu, aku merasa yakin jika kaulah takdirku, Nathaniel Putra Avicenna.
Pria tampan itu adalah kekasihku.
Pria yang jarang bicara namun ia bisa tertawa di depanku.
Pria yang seperti gumpalan es, namun bisa menggombal di depanku.
Apa kami memang ditakdirkan bersama? Aku menantikan hari itu. Hari dimana aku berjalan kearahmu dengan memakai gaun panjang yang sangat indah. Lalu kita mengucap janji suci bersama untuk setia dalam suka maupun duka.
...***...
Hari ini seperti hari-hariku yang biasanya. Aku menghabiskan waktu untuk membantu Kak Cecil di kafenya. Aku masih belum tahu apakah aku akan kembali ke perusahaan Kak Rangga atau tidak. Aku belum meminta persetujuan Nathan.
Ah, rasanya makin hari dia makin posesif saja padaku. Selalu bertanya aku sedang apa, bersama siapa? Pulang jam berapa?
Padahal dia orang yang sangat sibuk. Bagaimana bisa terus mengirimiku pesan sepanjang hari.
"Hai, Sheila!" Itu adalah suara Naina. Aku memintanya datang untuk makan siang di kafe Kak Cecil.
"Hai, Na! Gimana kerjaan?" tanyaku basa basi.
Ya, selama ini Naina bekerja sebagai bankir di sebuah bank swasta. Dia sangat sibuk disana. Aku sengaja mengundangnya kemari karena ingin membicarakan rencanaku dan Nathan yang ingin menjodohkan Naina dengan Harvey.
Aku mengirim pesan pada Nathan. Aku tersenyum ketika melihat nama yang tertera di layar ponselku.
'Calon Suami', dia yang memberi nama itu sendiri di ponselku. Dan tidak terasa kami sedang menuju ke tahap yang mendebarkan itu.
"Shei!" panggil Naina karena aku tidak mempedulikannya.
"Hah, iya, Maaf. Kenapa, Na?"
"Haah! Lelah, Shei. Kadang aku merasa ingin berhenti saja dari pekerjaan ini."
"Hmm?" Aku mengerutkan dahi.
"Kalau begitu carilah suami yang baik yang bisa memberikanmu kehidupan yang layak!" ucapku sambil menaikturunkan alisku.
"Apaan sih, Shei? Kok kamu ngomong gitu? Jangan-jangan kamu..."
"Hai, sayang..." Suara Nathan memotong Kalimat Naina. Aku tersenyum ketika Nathan membawakan sebuah buket bunga untukku.
"Wah, terima kasih." Aku memeluk Nathan.
"Ehem! Kalian jangan bikin para jomblo meleleh dong, Shei." Itu adalah suara Kak Cecil.
Aku segera melepaskan pelukan Nathan. "Sini duduk! Kamu mau makan apa?" tanyaku.
"Terserah kamu saja. Pesankan saja yang terbaik di kafe kakak iparku yang cantik ini..." ucap Nathan seakan menggoda kak Cecil. Aku mendelik ke arahnya.
Aku yang sibuk berbincang dengan Nathan malah melupakan sejoli jomblo yang sedari tadi tidak bertegur sapa.
"Astaga, aku sampai lupa! Na, ini Harvey. Dia asisten Nathan di kantor. Harvey, ini Naina temanku," ucapku saling mengenalkan mereka.
"Sudah tahu!" jawab mereka kompak.
Aku dan Nathan saling pandang. "Kalian sudah saling kenal?" tanyaku.
"Yaelah, Shei. Siapa juga yang tidak kenal dia! Dia selalu menempel pada tuan Nathan seperti parasit," ketus Naina.
"Hei, jaga bicaramu ya! Enak saja bilang aku parasit! Bukankah kamu juga sama! Kamu juga selalu menempel pada Sheila." Harvey tak mau kalah.
Aku dan Nathan kembali saling pandang. Kami masih tak memahami situasi ini.
"Sudah, jangan bertengkar! Sheila dan Nathan itu rencananya ingin menjodohkan kalian berdua. Tapi ternyata kalian sudah saling kenal ya!" Kak Cecilia membuat semua rencanaku berantakan. Aku mendelik padanya.
"Ini jaman sudah canggih. Tidak perlu lagi yang namanya Mak Comblang," lanjut kak Cecil yang membuatku makin mati kutu.
"Ya sudah! Kami datang kesini karena ingin makan siang. Maka sebaiknya kita makan saja!" putus Nathan yang meyakinkan diriku. Aku mengangguk.
"Oke! Mari makan!" seruku yang makin membuat dua orang ini menekuk wajahnya.
Usai menyantap makan siang bersama, Nathan dan Harvey pamit undur diri. Aku melambaikan tangan ketika mobil mereka makin menjauh dari pandangan.
Naina melihatku tajam dengan berkacak pinggang. "Kamu ngapain mau jodohin aku sama dia?" tanyanya.
"Ah, sudahlah, Shei. Jangan menyebut namanya lagi! Kalau begitu aku juga harus segera kembali ke kantor. Aku pergi dulu ya! Daaah!"
Naina meninggalkanku. Kini hanya ada aku dan kak Cecil.
"Sudah! Jangan memaksanya. Cinta kan memang tidak bisa dipaksa, Shei."
Benar apa yang dikatakan Kak Cecil. Biarkan saja cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Seperti aku dan Nathan.
Sore pun menjelang. Aku berpamitan dengan Kak Cecil. Aku berterimakasih karena kakak iparku ini bersedia menerimaku sebagai tenaga magang, hihi.
Tiba di rumah, aku langsung membersihkan diri. Jam makan malam pun tiba. Aku segera menuju meja makan. Aku menyapa Mama yang sedang menata makanan di meja.
"Hmm, enak kayaknya nih, Ma," ucapku sambil mengendus.
"Ish, tidak sopan! Nanti saat kamu sudah jadi seorang istri, kamu juga akan melakukan hal ini setiap hari."
Aku terdiam. Benarkah? Setiap hari yang kulakukan adalah menunggu Nathan pulang. Ah, apakah aku bisa melakukannya?
"Shei, bagaimana dengan rencanamu untuk bergabung dengan AJ Foods?" tanya Papa yang tiba-tiba datang.
"Eh? Aku belum bicara dengan Nathan lagi mengenai ini, Pa. Maksudku aku harus tetap meminta persetujuan darinya juga."
"Iya, Pa. Sheila akan jadi seorang istri, jadi bukankah lebih baik jika dia di rumah saja untuk mengurus rumah dan suaminya," sahut Mama.
"Tapi perusahaan juga membutuhkan Sheila, Ma."
"Jangan memaksa jika Sheila tidak bersedia!" kukuh Mama.
"Sheila bilang dia ingin bekerja, Ma!"
"Astaga! Papa ini! Tidak ada habisnya kalau ngajak debat!" Mama mengalah.
Aku tersenyum geli melihat perdebatan kecil mereka. Bahkan aku dan Nathan belum menikah. Mereka malah sudah repot membicarakan soal rumah tangga.
Usai makan malam berakhir, aku mengirim pesan pada Nathan. Kira-kira sedang apa dia malam ini? Biasanya dia sangat cerewet mengirimiku banyak pesan.
Lalu aku juga teringat akan Harvey. Aku mencoba meminta maaf dengan mengiriminya pesan. Aku bertanya sebenarnya ada masalah apa antara dirinya dan Naina.
Harvey menceritakan semuanya. Naina tidak suka dengan sikapnya yang sok ikut campur mengenai hubungannya dengan Vicky.
Oke! Aku mulai paham dengan apa yang terjadi. Naina memang tidak suka dengan pria yang gasrak gusruk. Dia menyukai pria yang lembut. Aku memberitahu semua hal yang disukai Naina dan yang tidak disukainya.
Ternyata akhirnya aku tahu jika Harvey menyimpan rasa pada Naina. Itu artinya aku masih belum gagal untuk menjadi Mak Comblang.
Aku malah sibuk bertukar pesan dengan Harvey dan melupakan pesanku yang belum dibalas oleh Nathan.
#
#
#
Sementara itu, Nathan sedang mengendarai mobilnya menuju pulang ke apartemen. Tiba-tiba ia ingat jika dirinya tadi pagi tak sempat sarapan karena persediaan roti sudah habis.
Nathan melihat sebuah minimarket pinggir jalan dan ia memutuskan untuk mampir membeli roti tawar. Ia terbiasa sarapan roti sandwich yang ia buat sendiri.
Bunyi lonceng yang terpasang di pintu masuk menggema ketika Nathan memasuki minimarket itu.
"Selamat datang, selamat berbelanja!" ucap seorang karyawan minimarket itu.
Nathan tidak memperhatikan karena matanya langsung tertuju pada deretan roti tawar yang berada tepat di depannya. Ia pun memilih beberapa roti tawar.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Sheila. Nathan tersenyum karena Sheila mengiriminya pesan lengkap dengan sebuah foto dirinya.
Nathan memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya dan menuju ke kasir.
"Berapa totalnya, Mbak?" tanya Nathan sambil merogoh saku dan mengambil dompet.
"Ternyata benar ini kamu, Niel..."
DEG
Nathan membulatkan mata kemudian menatap kasir minimarket yang ternyata orang yang dikenalinya.
#bersambung dulu ya genks...
*Kira2 siapakah kasir minimarket itu? 😬😬😬 kayaknya udah pd pinter nebak nih
Sampai ketemu beberapa jam lagi kesayangan 😘😘😘