My Culun CEO

My Culun CEO
#130 - Berdamai dengan Masa Lalu



. . . Lima tahun yang lalu . . .


Damian, Edo dan Samuel. Tiga remaja pria yang sudah menjalin pertemanan sejak masih duduk di bangku SMP. Hingga mereka sama-sama menginjak bangku kuliah, jalinan persahabatan mereka justru semakin erat.


Di usia keemasan mereka, dua puluh tahun, mereka bertiga membuat sebuah geng motor untuk menambahkan kekompakan mereka. Namun Samuel, merasa tak mampu jika harus membeli sepeda motor.


Edo dan Damian berinisiatif untuk menyisihkan uang jajan mereka hingga terkumpul dan bisa membeli sebuah sepeda motor untuk Samuel. Samuel sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya.


Mereka menaiki motor bersama. Kadang sering melakukan sebuah balapan hanya untuk kesenangan semata. Mereka mengundang geng motor yang lain dan beradu balap. Tak dipungkiri kemampuan Samuel memang hebat. Dia selalu memenangkan lomba balap itu.


Hingga suatu hari...


"Aku butuh dana untuk biaya operasi adikku. Pekerjaan paruh waktuku juga tidak bisa kuandalkan. Mungkin semester depan aku akan keluar dari kampus. Aku tidak akan sanggup membayar biayanya. Lebih baik uangku kugunakan untuk adikku saja."


"Hei, Sam. Kau masih punya kami!" ucap Damian.


Samuel menggeleng. "Kalian berdua sudah banyak membantuku selama ini."


"Jangan bicara begitu! Kita adalah teman, dan selamanya akan menjadi teman." sahut Edo.


Samuel tetap tidak mau menerima bantuan dari teman-temannya.


"Tidak! Jika aku bisa mendapatkan uang dengan hasil keringatku, maka aku bisa menerimanya."


Edo dan Damian nampak berpikir.


"Bagaimana kalau kita balapan?" usul Damian.


"Heh? Balapan?" ucap Samuel bingung.


"Benar! Kau bilang tidak mau menerima uang jika bukan hasil kerja kerasmu. Kita balapan, dan jika kau menang, aku akan memberimu uang 5000 dollar. Bagaimana? Dan kau Edo, kau juga harus bertaruh 5000 dollar. Kau juga harus ikut balapan."


"Heh? Dam, tapi kurasa, ini bukan ide yang bagus. Polisi sedang terus berpatroli karena ada laporan dari warga. Jika kita melakukan balapan maka..."


"Haish! Hanya polisi saja, tidak perlu takut! Kau tahu siapa ayahku kan?" sombong Damian.


"Baiklah, aku terima tantanganmu!" putus Samuel.


"Nah, oke! Bagaimana, Do?" tanya Damian untuk yang terakhir kalinya.


Dan malam itu, menjadi malam terakhir bagi Samuel. Seperti yang sudah di prediksi oleh Edo, jika sekarang sedang gencar dilakukan patroli oleh polisi, saat itu Damian dan Samuel yang sedang beradu kecepatan di jalanan, tiba-tiba di kejutkan dengan patroli polisi yang membuat kedua remaja itu kalang kabut.


Mereka yang tadinya berkendara beriringan harus berpencar untuk menghindari kejaran polisi. Damian belok ke kanan, dan Samuel ke kiri.


Nahas, Samuel berpapasan dengan sebuah truk yang sedang melintas dan membuatnya harus banting kemudi. Damian tidak tahu lagi apa yang terjadi. Hanya saja ia mendengar sebuah dentuman keras ketika motor Samuel meledak.


Damian menghampiri tempat kejadian perkara. Ia melihat tubuh kawannya sudah terbujur kaku. Tubuh Damian gemetar. Ia sangat takut sekarang.


Kabar mengenai kecelakaan Samuel, didengar juga oleh Edo. Saat itu tubuh Samuel sudah di bawa ke rumah sakit. Edo melihat Damian yang duduk diam tanpa ekspresi apapun.


"Kau! Kau yang sudah menyebabkan semua ini terjadi!" teriak Edo dengan menarik kerah baju Damian.


"Ini semua adalah salahmu!" Edo sangat kecewa dan menyesali semua kejadian ini.


Dan yang membuat Edo tidak bisa melupakan kebenciannya terhadap Damian adalah...


"Jangan takut! Kau tidak bersalah! Ayah pastikan kau tidak akan dapat masalah karena ini. Ayah sudah memberi mereka uang untuk biaya operasi adik Samuel. Jadi, kau tenang saja!"


Edo mengepalkan tangan ketika mendengar kata-kata Jonathan yang seakan menganggap remeh nyawa seseorang. Dan benar saja, tidak ada apapun setelah kejadian malam itu.


Hanya memang Damian sedikit tertekan dan depresi hingga membuatnya harus di rawat intensif. Ayah Damian, Jonathan, pernah menemui Edo dan memohon agar Edo bersedia menemui Damian. Namun Edo tetap menolak. Hingga lima tahun berlalu, dan hubungan mereka masih tak membaik juga.


#


#


#


Edo membuka mata kala mendengar suara berisik dari arah sampingnya. Ia merasakan kakinya kram dan tak bisa digerakkan.


"Argh!" teriak Edo kesakitan. Ia melihat sekeliling dan dirinya ada di sebuah kamar rumah sakit. Kakinya terbungkus kain perban dan tubuhnya mengalami beberapa luka lecet.


"Dengar ya! Carikan dia kamar yang lain! Aku tidak suka jika harus berbagi kamar dengan orang lain! Bukankah ini kamar VVIP? Kenapa malah di isi oleh dua orang?" geram Damian.


"Maaf Tuan. Kamarnya sudah penuh semua. Lagipula kalian terlibat kecelakaan berdua. Berada dalam satu ruangan yang sama akan memudahkan para perawat untuk memeriksa kondisi anda. Jika tidak ada lagi yang ingin Anda katakan, saya permisi!" Perawat itu menghilang di balik pintu.


Edo terkekeh melihat aksi Damian barusan. "Pantas saja Freya tidak mau menemuimu. Sikapmu yang seperti ini yang membuat para gadis jengah."


"Apa katamu?!" Damian tidak terima.


"Sudahlah! Aku malas berdebat denganmu. Kita nikmati saja hari-hari kita disini. Aku mau tidur lagi!" ucap Edo lalu menutup matanya.


"Bukan aku!" lirih Damian.


"Bukan aku yang menyebabkan Samuel pergi. Dia sendiri yang menginginkan semua itu. Kau sendiri bahkan tahu itu." lanjut Damian.


Edo terdiam dan membelakangi Damian.


"Aku tahu..." sahut Edo.


"Lalu, kenapa kau terus menyalahkanku?"


"Mungkin itu sebagai tanda jika aku juga menyalahkan diriku sendiri. Mungkin aku butuh seorang teman untuk kupersalahkan juga. Maaf..."


Damian menatap langit-langit kamarnya. "Akhirnya aku mendengarmu meminta maaf. Kita impas sekarang!" ucap Damian diiringi sebuah senyum.


"Abang!" Suara khas seorang gadis memasuki ruangan kamar itu.


"Freya?"


Freya segera mendatangi brankar Edo dan memeriksa kondisi kakaknya.


"Kenapa jadi begini, Bang? Aku melihatmu semalam pergi dengan sepeda motor. Aku sudah merasakan firasat buruk saat itu. Dan ternyata itu benar." Freya menangis sesenggukan.


"Hei, jangan menangis. Abang baik-baik saja." balas Edo mengusap air mata Freya.


Pemandangan mengharukan itu disaksikan langsung oleh Damian.


"Apa kau tidak ingin menjengukku juga, Freya?" tanya Damian penuh harap.


Freya diam. Ia menatap Damian tajam lalu menghampiri pria itu.


"Ini semua pasti karenamu! Kau yang sudah mengajak bang Edo untuk balapan dan akhirnya celaka seperti ini. Ini pasti karena ulahmu. Benar kan?" suara menggelegar Freya membuat Damian menutup telinganya.


"Astaga! Kenapa menyalahkanku? Lihatlah! Aku juga terluka. Kakiku juga di perban sama seperti dia!" bela Damian.


Freya tersenyum dingin. "Sudah salah tidak mau mengaku juga! Dasar pengecut!"


Freya memukuli tubuh Damian.


"Hei! Freya! Apa yang kau lakukan? Kenapa memukuliku? Aduh! Aku sedang sakit! Freya!" Damian mencoba menghalau pukulan tangan Freya.


"Frey! Hentikan! Kasihan dia!" lerai Edo.


"Freya! Hentikan!" Damian masih berusaha menghalau.


"Rasakan kau! Awas saja jika terjadi sesuatu dengan abangku!"


Freya terus memukuli Damian tanpa ampun. Ia benar-benar kesal saat ini.


Tak ingin terus mendapat pukulan, Damian malah menarik tangan Freya dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangan lalu jatuh menimpa tubuh Damian.


Mata Freya membola ketika secara tak sengaja tubuhnya berada diatas tubuh Damian. Ia ingin segera bangkit namun Damian menahannya.


"Lepaskan, brengsek!" ronta Freya.


"Tidak akan! Apa yang sudah kudapat tidak akan kulepaskan lagi!" ucap Damian lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Freya.


Freya syok dengan serangan dadakan Damian. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Damian dan berlari keluar dari kamar itu. Rasanya ia sangat malu saat ini. Wajahnya bahkan sudah memerah saking malunya.