My Culun CEO

My Culun CEO
Melelehnya Gumpalan Es



Weekend telah tiba, waktunya para pencari rupiah untuk bersantai sejenak. Menikmati suasana syahdu di rumah dan bersenda gurau dengan keluarga. Namun berbeda halnya dengan Sheila dan Tarjo. Mereka memilih masih tinggal di rumah kontrakan dan enggan pulang ke rumah.


Melihat kondisi rumah kontrakannya yang sedikit terbengkalai, Sheila memutuskan untuk membersihkan rumah. Baru sebentar berbenah, suara klakson mobil menyahut di depan rumahnya.


"Siapa ya? Apa jangan-jangan Nathan?" gumam Sheila.


Sheila keluar rumah dan melihat Danny sedang berdiri disamping mobilnya.


"Kak Danny?" Sheila terkejut dengan kedatangan Danny. Ia melirik kearah rumah Tarjo. Ia tak ingin kejadian tempo hari terulang lagi.


"Hai, Shei. Sedang bersantai?" sapa Danny.


"Tidak. Aku sedang berberes rumah. Ada apa, Kak?"


"Ini, ada titipan dari kakakmu." Danny menyerahkan sebuah tiket perjalanan kepada Sheila.


"Oh!" Sheila menerima beberapa lembar kertas itu.


"Kak Rangga bilang kamu akan berangkat dengan Nathan karena keluarga kalian akan berangkat lebih dulu," jelas Danny.


"Eh?" Sheila terkejut.


"Ya sudah. Kalau begitu aku permisi dulu, Shei. Jaga dirimu ya!" Danny segera berpamitan karena melihat Tarjo sudah menatapnya dingin.


Sheila masih diam bergeming setelah mobil Danny meninggalkan rumahnya. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Tarjo.


"Shei..."


Sheila tersentak. "Hah?!"


"Dia sudah pergi. Tidak perlu melamunkannya," ucap Tarjo sinis.


"Apa sih? Kak Danny cuma..." Sheila menghentikan kalimatnya. Apa dia harus jujur pada Tarjo?


"Cuma apa?" tanya Tarjo penasaran.


"Jo, kamu jangan marah." Sheila memegangi kedua tangan Tarjo.


"Aku tidak marah."


"Terima kasih, Jo." Sheila memeluk Tarjo.


Dari kejauhan Danny melihat dari kaca spion kedekatan Sheila dan Tarjo. Sangat terlihat jika Sheila mencintai Tarjo. Bahkan gadis itu tak sungkan untuk memeluk Tarjo lebih dulu.


Sheila mengurai pelukannya. Ia menatap Tarjo lamat. Ia menguatkan hati untuk berkata jujur pada Tarjo.


"Keluargaku mengajak kami liburan," aku Sheila.


"Kami?" Tarjo mengernyit. Ia sengaja terus menguji Sheila.


"Ya maksudnya aku dan tunanganku itu." Sheila menundukkan wajahnya.


"Apa boleh buat. Kalian kan sudah bertunangan," balas Tarjo kecewa.


"Tapi kamu tenang saja! Aku dan dia sudah sepakat. Dia tidak akan menyentuhku tanpa izin dariku." Sheila mulai cemas jika Tarjo marah padanya.


"Jadi selama ini kalian pernah bersentuhan?" tanya Tarjo makin menyelidik. Sepertinya ia sangat suka melihat ekspresi wajah Sheila yang terlihat panik.


"Bu-bukan begitu. Ya pokoknya aku tidak akan melakukan kontak fisik dengannya. Kamu percaya sama aku kan?" Sheila berharap jika Tarjo memberikan kepercayaan padanya.


Sebuah anggukan sebagai jawabannya. Sheila tersenyum lega.


...💟💟💟...


Pukul 10 pagi, Boy menghubungi Nathan dan memintanya untuk datang ke rumah. kedua keponakan Nathan sangat rindu untuk jalan-jalan bersama paman mereka. Tentu saja Nathan tak kuasa menolak.


Tapi kini ia harus berpikir keras mencari alasan untuk Sheila. Akhirnya ia berbohong jika dirinya harus lembur dan bekerja di bengkel. Sheila pun mengerti.


Tak berselang lama setelah kepergian Tarjo, Nathan menghubungi Sheila dan mengajaknya pergi bersama kedua keponakan Nathan. Merasa tak memiliki pilihan untuk menolak, Sheila pun mengiyakan ajakan Nathan.


Sheila segera bersiap karena sebentar lagi Nathan dan keponakannya akan datang menjemput. Sheila bingung harus memakai baju apa. Setelah lama memilih, akhirnya Sheila memilih celana jeans pendek dan kaus lengan pendek dipadukan dengan jaket jeans yang senada dengan celananya.


Bunyi klakson mobil terdengar dan Sheila segera keluar dari rumah. Ia tak ingin Nathan mengomel karena menunggunya terlalu lama.


Mobil kembali melaju. Tempat pertama yang di inginkan oleh kedua keponakan Nathan adalah toko buku. Sheila hanya menurut dengan keinginan dua bocah itu.


Aurel dan Nimo langsung berpencar mencari buku kesukaan mereka. Sedangkan Sheila yang tak terlalu suka membaca buku, hanya melihat-lihat tanpa berniat membeli.


Sheila menuju ke rak buku novel romantis. Ia melihat-lihat siapa tahu ada yang ingin dibacanya.


"Aku tidak menyangka jika tunangan paman Nathan menyukai buku-buku seperti itu," celetuk bocah 12 tahun itu menghampiri Sheila.


Sheila mengerutkan keningnya.


"Lihatlah! Paman Nathan tidak akan membaca buku yang seperti itu," lanjutnya dengan menunjuk Nathan.


Sheila melihat Nathan memilih buku-buku tentang bisnis. Sheila masih diam tak ingin menanggapi ocehan bocah kecil itu.


"Paman Nathan tidak segenius Papaku, makanya dia belajar sangat giat. Kakak adalah tunangannya, jadi sebaiknya kakak bisa mengerti tentang paman."


Usai mengatakan hal itu, Aurel pun berlalu. Sementara Sheila hanya menatap Nathan dari kejauhan. Nathan yang sudah memilih buku, mencari sosok Sheila hingga mata mereka akhirnya bertemu.


"Shei, kamu mau beli buku apa?"


Suara Nathan membuat Sheila kembali ke alam sadar.


"Hah?! Ah, tidak. Aku tidak ingin membeli apapun." Sheila meletakkan kembali novel romansa yang tadi diambilnya.


...💟💟💟...


Setelah dari toko buku, Nathan membawa keponakannya ke taman hiburan. Mereka berempat seperti keluarga kecil yang harmonis.


Dengan sabar Nathan menuruti kedua keponakannya dan menaiki berbagai wahana permainan. Nathan tertawa lepas dan tak peduli dengan embel-embel keluarga besarnya.


Sheila tersenyum simpul melihat sisi lain Nathan yang tak pernah ia lihat. Gumpalan Es telah meleleh. Begitu pikir Sheila.


Puas bermain berbagai macam wahana, kedua anak itu mulai kelaparan. Nathan membawa mereka ke restoran Jepang. Sheila hanya mengangguk tanda setuju.


Seharian ini memang tak banyak kata yang terucap dari bibir keduanya. Namun hanya melihat Nathan saja, sudah membuat Sheila tahu jika pria ini bukanlah pria yang seperti ia pikirkan sebelumnya. Nathan sungguh berbeda.


Nathan tahu jika sedari tadi Sheila memperhatikannya dalam diam. Ia tersenyum tipis dengan perkembangan pertemanan mereka. Meski ia merasa ini cukup miris.


Malam pun tiba, kedua bocah itu sudah puas bermain-main seharian. Saatnya mereka pulang.


Di dalam mobil, Aurel dan Nimo telah tertidur pulas. Kini hanya kesunyian yang menemani kedua insan yang duduk di jok depan.


"Terima kasih, Shei sudah menemaniku hari ini," ucap Nathan.


Sheila mengangguk. "Aku juga berterimakasih karena sudah mengajakku bermain."


Nathan terkekeh. "Apa kamu tidak pernah bermain di taman hiburan?"


"Entahlah. Mungkin sudah lama sekali sejak terakhir kali aku kesana."


"Maaf jika Aurel dan Nimo merepotkan. Dan jangan dimasukkan ke hati apa yang Aurel katakan. Dia memang suka bicara ketus seperti ayahnya."


Sheila tersenyum. "Tidak apa. Dia kan masih anak-anak."


Sheila menatap Nathan yang fokus menyetir. Sheila meraih ponselnya dan mencari nama kontak Nathan. Ia ingin mengganti nama gumpalan es untuk Nathan.


Nathan melirik sekilas apa yang tengah dilakukan Sheila. Dilihatnya gadis itu sedang bingung.


"Kamu lagi ngapain sih?" Nathan segera merebut ponsel Sheila dan melihat apa yang sedang dilakukannya.


"Hei, tidak sopan! Kembalikan ponselku!"


Nathan menyembuyikan ponsel Sheila. Ia menepikan mobil sejenak.


"Jadi, kamu mau ganti nama kontak aku di ponselmu?" tanya Nathan dengan kerlingan menggoda.


"Ish, kau! Sini kembalikan!" Sheila berusaha merebut namun Nathan menghalanginya.


"kamu harus jelaskan padaku kenapa kamu menamaiku dengan gumpalan es?" tanya Nathan menatap Sheila.


"Ya itu karena... Karena..."


"Karena apa?"


"Karena kamu memang gumpalan es! Cepat sini kembalikan ponselku!"


"Lalu, kenapa sekarang kamu mau menggantinya?"


Sheila salah tingkah. Ini salahnya kenapa juga harus mengganti nama kontak disaat dirinya masih bersama Nathan.


"Baiklah! Biarkan aku yang mengganti namanya!" Nathan mengetikkan sesuatu di ponsel Sheila.


"Hei! Jangan kasih nama yang aneh-aneh ya!" sungut Sheila.


"Tidak! Bukan nama yang aneh. Ini!" Nathan mengembalikan ponsel Sheila.


Sheila membulatkan mata membaca nama kontak Nathan.


"Apaan nih? Calon suami?" protes Sheila.


"Iya, itu adalah nama yang paling cocok. Jangan pernah menggantinya atau aku akan menghukummu!" ancam Nathan.


"A-apa?!" Sheila merengut. Namun ia juga tak bisa membantah Nathan.


Nathan tersenyum puas karena sudah membuat Sheila menurut. Ya, setidaknya ini bisa menjadi awal yang baru lagi untuk Nathan dan Sheila.


Huft! Masih tahap awal ya, Nate! Perjuanganmu masih panjang.


#bersambung. . .