My Culun CEO

My Culun CEO
#158 - Jalan Masing-masing



Freya kembali ke rumah dan duduk di tepi ranjang kamar tidurnya. Ia berusaha mengatur napasnya usai melakukan pertemuan dengan Damian.


Freya memegangi dadanya. Sungguh sebuah keputusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Freya masih ingat dengan jelas hasil akhir dari pertemuan mereka hari ini.


"Aku tidak bisa mengatur hidupmu. Jika apa yang kau inginkan berada disana, maka lakukanlah. Aku ingin mengejar mimpiku, dan kau juga mengejar mimpimu." -Freya


"Apa tidak ada sedikitpun prioritas untukku dalam hidupmu?" -Damian


"Damian..."


"Aku mencintaimu tapi sepertinya hanya aku saja yang berjuang disini."


"Bukan seperti itu..."


"Lalu seperti apa?!" Suara Damian mulai mengeras. "Aku tidak percaya jika aku ditolak berkali-kali oleh wanita yang aku cintai. Bahkan sekarangpun aku masih mencintainya."


Freya menghembuskan napas kasar. Freya tahu ini amat sulit untuk Damian. Tapi ini juga sulit untuknya. Berada dalam posisi yang tidak pernah dianggap ada, Freya ingin membuktikan jika dirinya bisa dengan usahanya sendiri. Dan ia tak akan menyerah sebelum berhasil.


#


#


#


Satu minggu kemudian,


"Jadi, usaha seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Edo ketika sedang mengunjungi sebuah ruko milik Freya yang akan dijadikan sebagai kantornya yang baru.


"Konsultan keuangan dan akuntan publik, Bang," jawab Freya dengan membereskan beberapa barang untuk perlengkapan kantor barunya.


"Wah, aku tidak percaya kau akan mewujudkan impianmu sendiri. Hei, dari mana kau dapat uang sebanyak ini, huh?"


Freya meringis. "Pinjaman dari bank. Kak Naina yang membantuku."


"Ck, kau ini! Kenapa tidak pakai uangmu sendiri saja?"


"Tidak, Bang. Kalau seperti itu namanya bukan usaha sendiri. Aku ingin memulainya benar-benar dari nol, Bang."


"Haah! Ya sudah. Lalu bagaimana dengan pekerjanya?"


"Aku sedang mengadakan perekrutan, Bang. Nanti abang ikut seleksi juga ya! Aku ingin memiliki staf yang berkompeten tapi juga gak sombong."


Edo terkekeh. "Iya iya, baiklah. Kau ini pintar juga, adikku. Oh ya, kudengar Damian kembali ke Paris. Apa kalian..."


"Tidak ada apa-apa, Bang. Kami memutuskan untuk mengejar impian masing-masing dulu."


"Haaaah! Entahlah. Aku tidak paham jalan pikiran kalian." Lagi-lagi Edo menghembuskan napas kasar.


Freya mengulas senyumnya. "Aku akan sangat bahagia jika semua ini berjalan dengan lancar, Bang."


Edo merangkul bahu Freya. "Abang akan selalu ada untukmu. Jangan khawatirkan apapun. Oke?!"


"Iya, Bang. Terima kasih atas bantuan abang selama ini. Tapi setelah ini, aku akan berusaha sendri. Abang jangan cemas ya!"


Edo memeluk Freya. Sebuah pelukan hangat dan mendalam dari seorang kakak.


Sementara di belahan dunia yang berbeda, Damian sedang mengajak Joseph berjalan-jalan dengan memakai kursi roda. Sejak datang ke Paris, Joseph sudah langsung di masukkan ke rumah sakit.


Damian selalu menemani kakeknya itu agar bersemangat untuk kembali sehat. Sudah seminggu ini Joseph merasa bosan terus berada di dalam kamar.


Dan hari ini, Joseph meminta Damian untuk menemaninya berkeliling komplek rumah sakit. Pria muda itu berusaha mengembangkan senyumnya meski sebenarnya hatinya sedang resah dan tak bergairah.


"Kau belum mengenalkan kekasihmu, Damian. Kakek dengar kau memacari putri bungsu keluarga Moremans. Ternyata sejak dulu seleramu tidak berubah ya!" ucap Joseph membuka percakapan.


Damian hanya tersenyum getir.


"Ada apa? Kenapa kau tidak menjawab? Kalian baik-baik saja kan?" lanjut Joseph.


"Kakek, aku dan Freya ... kami memutuskan untuk menjalani kehidupan kami masing-masing. Dia ingin mengejar impiannya, dan aku ... ingin menemani kakek disini." Damian duduk di sebuah bangku panjang dan menatap ke depan.


Joseph yang biasanya agak keras pada cucunya ini, kini hanya bisa diam. Ia ikut bersedih dengan apa yang sedang dialami oleh cucunya.


"Kenapa kakek diam? Bukankah kakek ingin tahu bagaimana hubunganku dengan Freya?"


Joseph menatap Damian. "Ya mau bagaimana lagi. Mungkin takdir sedang menguji cinta kalian. Sekarang kau fokus saja pada pengobatanmu. Kau memutuskan untuk datang kemari. Maka kau harus menanggung segala konsekuensinya. Mengerti?"


Damian tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, Kek. Terima kasih. Aku pikir kakek akan memarahiku seperti biasa."


Joseph tertawa lepas. "Kakek melakukan itu karena kakek menyayangimu. Tapi karena kau sudah banyak berubah, kakek tidak akan lagi menghukummu. Kakek hanya minta kau hidup dengan baik."


"Iya, Kek. Kakek juga harus sembuh dan kembali sehat seperti semula."


Joseph tergelak. "Kakek sudah tua. Diobati seperti apapun juga tidak akan sembuh. Tapi, dengan kehadiranmu dan juga Jonathan, itu membuat kakek kembali bahagia. Dan itu membuat imun tubuh kita meningkat. Benar kan?"


"Iya, Kek. Ya sudah kalau begitu kita kembali ke kamar ya! Hari sudah mulai gelap. Kakek harus istirahat!"


Damian kembali mendorong kursi roda Joseph menuju ke kamar rawat miliknya.


#


#


#


Satu tahun kemudian...


"Satu dua tiga, cheers!"


Dentingan suara gelas memenuhi sebuah ruangan karaoke dimana ada Freya dan beberapa karyawannya yang sedang merayakan keberhasilan mereka dalam hal pekerjaan.


"Mari kita bersulang untuk Nona Freya!" seru Aisha dengan mengangkat gelasnya keatas.


"Sukses selalu untuk Ya Consultant!" seru karyawan yang lainnya.


Freya mengembangkan senyumnya dan ikut bersuka cita dengan para karyawannya. Hari ini, satu tahun perayaan firma konsultan miliknya.


Satu tahun berjalan, firma konsultan yang diberi nama Ya Consultant sudah memiliki ratusan klien yang beberapa diantaranya adalah perusahaan besar ataupun petinggi negara.


Sebenarnya pekerjaan yang Freya tekuni masih terbilang langka, tapi Freya sendiri optimis hingga akhirnya ia bisa mencapai titik ini. Freya bahkan menyembunyikan identitasnya sebagai putri dari keluarga Moremans. Ia tidak ingin mendapat klien karena adanya koneksi.


Freya berjuang bersama Aisha, yang masih setia mendampingi nona muda itu hingga sukses seperti sekarang.


"Nona, setelah dari sini, Nona mau kemana?" tanya Aisha.


"Oh? Aku akan ke tempat kak Naina. Aku sudah janji akan datang kesana."


"Baiklah. Nona, apa kau tidak ingin bernyanyi?"


"Eh? Bernyanyi? Tidak, Aisha! Kau saja yang menyanyi!" tolak Freya.


Tapi dengan desakan dari para karyawannya, akhirnya mau tak mau Freya menyumbangkan sebuah lagu dengan suara merdunya. Semua orang bertepuk tangan mendengar Freya menyanyikan lagu galau yang seakan mewakili perasaan hatinya saat ini.


Usai menyanyi, Freya memutuskan untuk berpamitan. Ia harus segera menuju ke rumah Naina karena kakaknya itu pasti sudah menunggunya.


Dengan berjalan sedikit sempoyongan, Freya berusaha menahan mabuknya. Padahal ia hanya minum sedikit saja di dalam. Tapi kepalanya seakan berputar-putar dan pandangannya mulai kabur.


"Aduh! Kepalaku!" Freya memegangi kepalanya yang pening.


Tubuh sempoyongannya hampir saja terjatuh jika saja tidak ada orang yang segera menopangnya. Beruntung sesosok tubuh tegap dengan sigap memeganginya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pemilik tubuh tegap itu.


Samar-samar Freya bisa mengenali siapa sosok yang memeganginya.


"Bang Vicky?" gumam Freya.