My Culun CEO

My Culun CEO
#1 1 0



Vania mulai tersadar jika dirinya tak seharusnya memeluk Edo. Tangannya mulai memberi jarak. Ia sangat canggung ketika sorakan tepuk tangan mulai menggema di ruangan itu.


"Maaf ya, Bang. Aku tidak sengaja..." ucap Vania sanbil tertunduk.


Dari kejauhan Rizka menatap interaksi dua orang yang terbilang cukup dekat. Seperti seseorang yang saling mengenal, begitulah kata Rizka.


Rizka berjalan menghampiri Vania yang berhasil memenangkan tiket liburan bersamanya. Sekilas Rizka melirik Edo yang nampak membuang muka. Entah apa maksudnya itu.


"Selamat ya!" Rizka mengulurkan tangannya.


"Ah iya, terima kasih, Nona Rizka. Sa-saya juga tidak menyangka bisa memenangkan undian ini." Vania menyambut uluran tangan Rizka.


Sejenak Rizka memperhatikan penampilan Vania yang terlihat biasa dan sederhana. Bahkan Vania tidak memakai make-up yang berlebihan.


"Sebaiknya kau bersiap. Karena liburannya akan dimulai akhir minggu ini."


Mata Vania berbinar senang. "Iya, Nona. Sekali lagi terima kasih."


Rizka mengajak Vania untuk berfoto bersama. Beberapa wartawan hadir untuk meliput acara ini. Seketika wajah lugu Vania menjadi viral karena berhasil berfoto bersama dengan Rizka Hanggawan, dan yang membuat tercengang adalah Vania memenangkan tiket liburan mewah di kapal pesiar.


"Woah! Mimpi apa aku semalam? Kenapa mendapat kejutan yang tak terduga seperti ini?"


Vania terus berceloteh sepanjang perjalanan mereka menuju pulang. Edo kembali mengantar Vania. Edo sangat suka dengan gaya Vania yang apa adanya. Vania sangat cerewet jika ada di depannya. Namun di depan orang lain, Vania seakan menutup diri.


"Kau sudah mengatakannya berkali-kali, Van."


"Hehehe." Vania meringis. "Habsinya ini adalah sesuatu yang langka, Bang. Mana bisa aku liburan mewah dengan selebriti pulak!" cerita Vania dengan gembira.


"Kau ini ternyata cerewet juga ya! Tapi Kenapa kau sangat pendiam jika di depan orang lain?" tanya Edo.


"Emh, entahlah. Aku hanya tidak ingin orang-orang memanfaatkan kebaikanku. Aku ini kan culun, tidak cantik dan biasa saja. Mereka hanya ingin sesuatu saja dariku. Mereka semua jahat!"


Kini mereka sudah tiba di depan rumah Naina. Vania bersiap untuk keluar dari mobil namun ditahan oleh Edo.


"Emh, Vania..."


"Iya, Bang. Ada apa?"


"Jika ... orang yang yang kau kenal menyembunyikan rahasia darimu, apa kau marah?"


"Hmm?" Vania tidak mengerti. "Setiap orang kan pasti punya rahasia, Bang. Dan menurutku tidak ada yang salah."


"Tapi bagaimana jika orang yang kita kenal sebenarnya bukan orang yang kita kenal?"


Vania menggaruk kepalanya. "Kenapa Abang bertanya soal ini? Aku tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Abang."


Edo tersenyum. "Jangan dipikirkan! Aku hanya asal bicara saja. Baiklah, sampai jumpa lagi ya!"


Edo mengacak pelan rambut Vania. Dari kejauhan ada sepasang mata yang rupanya sudah menunggu kedatangan Vania dan Edo.


"Apa yang sedang mereka lakukan di dalam mobil? Kenapa tidak keluar juga?" gumam seorang pria yang adalah Damian.


Sejak tadi ia sudah menunggu kedatangan Vania agar bisa bicara empat mata dengan gadis itu. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang.


"Kemana saja Edo membawa Vania, hah? Sudah hampir tengah malam mereka baru pulang!" sungutnya.


Vania keluar dari mobil Edo dan masuk ketika mobil Edo telah menjauh dari pandangan. Vania membuka pintu gerbang rumah Naina.


"Vania..."


DEG


Vania syok mendengar suara itu. Ia berbalik badan untuk memastikan apakah ia berhalusinasi atau tidak.


"Tu-tuan Damian?" Vania bergumam.


"A-apa yang Tuan lakukan disini?" tanya Vania sambil menundukkan wajahnya.


Pria yang seharian ini ia hindari, kini malah mendatanginya.


"Aku ... ingin minta maaf..."


"Berhenti!" Vania menatap Damian. Ia memberanikan diri untuk menatap pria yang sudah membuatnya berbunga namun kini rasanya...


"Maaf? Apa tuan meminta maaf karena insiden semalam?"


"Saya sadar dengan apa yang tuan lakukan kepada saya. Tuan melakukannya karena tuan mabuk. Benar kan? Sama seperti dulu tuan juga melakukannya karena mabuk. Jadi sekarang, tidak perlu lagi datang ke rumah saya seperti ini. Saya cukup tahu posisi saya! Silakan Anda pergi, Tuan!"


Damian menggaruk kepalanya. "Kenapa jadi begini?" lirihnya.


"Jika yang semalam Tuan lakukan pada saya adalah sebuah kesalahan, maka ... saya sudah memaafkan Tuan. Tapi saya mohon jangan ganggu hidup saya lagi. Bukankah Tuan sudah memiliki Nona Sitta dalam hidup Tuan? Kenapa harus mempermainkan hati saya? Apa begitu menyenangkan memermainkan hati wanita bodoh seperti saya?"


"Vania... Kamu salah paham. Aku datang kesini..."


"Pergi!"


Vania mengusir Damian. "Aku bilang pergi! Dan jangan pernah datang lagi!"


Vania masuk ke dalam rumah lalu langsung menuju kamarnya. Ia melemparkan tas dan langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang.


"Minta maaf katanya? Dasar menyebalkan!"


Vania membenamkan wajahnya kedalam bantal. Rasanya ia ingin menangis. Tapi air matanya tidak juga keluar. Ia mengingat kembali soal hadiah liburan yang didapatkannya.


"Benar! Mungkin hadiah itu adalah berkat dari Tuhan agar aku bisa melupakan semuanya."


Vania tersenyum bagaimana liburannya nanti. "Ah, rasanya sudah tidak sabar!"


...***...


Keesokan harinya, Vania berangkat kerja dengan hati yang sudah baik-baik saja. Dengan berpikir positif Vania ingin memulai kehidupannya dengan rasa syukur kepada Tuhan.


Saat hendak menuju ke ruangannya, Vania dihadang oleh dua orang yang bertampang sangar. Siapa lagi kalau bukan Nita dan Sitta.


"Maaf, saya mau lewat!" ucap Vania sopan.


"Jangan harap kau bisa lewat sebelum aku bicara denganmu!" ucap Sitta sinis. Ia melirik Nita yang langsung memegangi lengan Vania.


"Ada apa ini?" tanya Vania.


"Sudah! Menurut saja! Atau kami akan menyakitimu!" bisik Nita.


Nita dan Sitta membawa Vania ke tempat yang agak sepi.


"Apa mau kalian?" tanya Vania berani.


"Wah, berani juga kau, hah!" Nita hendak maju namun dicegah oleh Sitta.


"Lihat ini!" Sitta memperlihatkan sebuah foto pada Vania.


"Itu kan bang Edo?" lirih Vania.


"Aku tidak menyangka jika kau adalah gadis yang mengerikan!" ketus Sitta.


Vania tidak paham kemana arah pembicaraan Sitta.


"Kau tahu siapa dia? Dia adalah Eduardo Moremans, atau biasa dipanggil Edo. Dia adalah CEO dari More Trans yang terkenal itu. Dan dia adalah sahabat Damian!" ucap Sitta.


"A-apa?!" Vania terkejut.


"Ya! Damian dan Edo sudah bersahabat sejak lama. Bahkan sebelum mereka pindah ke Indonesia."


Tubuh Vania terhuyung ke belakang.


"Jangan berpura-pura kaget! Aku tahu kau sengaja mendekati dua pria itu untuk suatu tujuan! Tapi jangan harap gadis miskin dan culun sepertimu bisa mendapatkan hati sang pangeran! Baik itu Damian maupun Edo, aku tidak akan membiarkannya. Camkan itu!"


Nita dan Sitta pergi meninggalkan Vania usai mengatakan semuanya pada Vania. Gadis berkacamata itu terdiam cukup lama. Air mata yang sedari semalam ia tahan akhirnya luruh juga.


Semua kata-kata Edo semalam, lalu balasan dari teman-teman di sosial medianya, kini mulai Vania percayai.


Vania menyeka air matanya. Ia harus bangkit dan tidak boleh lemah.


Sebuah getaran di ponselnya membuat Vania tersadar. Tertera nama Edo disana.


Vania tersenyum getir. "Apa sangat menyenangkan bagi kalian para pria kaya untuk mempermainkan hati seorang gadis miskin sepertiku? Apa kalian memang menjadikanku bahan taruhan kalian?"


Vania mengepalkan tangannya. Ia tidak menjawab panggilan Edo. Dan bahkan untuk seterusnya, ia tidak ingin melihat wajah Edo dan juga Damian.


#bersambung