My Culun CEO

My Culun CEO
#131 - Kata Hati Freya



Damian senyam senyum sendiri setelah apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Ia tak menyadari jika di samping brankarnya, sepasang mata nyalang menatap kearahnya.


Damian melirik Edo yang kini sedang menatapnya tajam.


"Astaga! Kaget aku!" Damian mengelus dadanya.


"Apa yang barusan kau lakukan, hah?!" tanya Edo dengan tangan yang terkepal.


Jika saja kini kondisinya sedang tidak sakit, pastilah Damian habis di tangannya.


Damian hanya menggaruk tengkuknya sambil meringis.


"Jangan marah! Itu bukan ciuman pertama kami kok!" jujur Damian.


"APA KATAMU?!" Suara Edo menggelegar dan wajahnya sudah merah padam.


"Hei, jangan berteriak! Ini rumah sakit. Kau bisa dituntut karena sudah membuat keributan disini." Damian mengusap telinganya yang terasa berdengung.


"Kau! Berani sekali kau!" Edo ingin sekali maju ke brankar Damian dan menghajar wajahnya yang sok polos itu.


"Aku sudah bilang padanya kalau aku mencintainya. Aku juga tahu jika dia mencintaiku. Hanya saja dia masih belum mau mengakuinya."


Edo diam. Ia berusaha meredam amarahnya. Susah sekali bicara dengan Damian.


"Freya itu keras kepala!" lirih Edo.


"Aku tahu. Sejak di kapal pesiar waktu itu ... aku tahu jika dia merasakan hal yang sama denganku."


"Tapi kau masih bermain-main dengan wanitamu. Bagaimana Freya yakin jika kau memang mencintainya?" geram Edo.


"Edo! Aku tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun. Mereka yang mendekatiku. Mereka yang selalu menggodaku."


Suasana kembali hening. Baik Damian maupun Edo kini larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Aku tidak pernah mengejar cinta seorang gadis seperti ini," lirih Damian.


"Bukankah kau pernah menyukai Sheila?"


"Itu benar. Tapi ternyata itu hanya rasa kagum saja. Dan aku ... tidak menganggap itu serius. Lagipula, dia sudah menikah."


"Sekarang apa rencanamu?"


"Bukankah kau merelakan Freya untuk bersama denganku?" tanya Damian dengan sedikit kebahagiaan disana.


"Itu benar. Tapi aku tidak akan membantumu. Semuanya terserah Freya. Biarkan hatinya yang memilih."


Jawaban Edo membuat Damian terdiam. Ia harus berjuang keras untuk bisa mendapatkan kepercayaan Freya.


Di sisi lain, Freya berjalan menuju lorong yang sepi rumah sakit. Ia memegangi dadanya yang berdebar hebat. Ia juga memegangi bibirnya yang memang sudah tidak suci lagi karena Damian.


Freya menangis. Ia begitu lemah ketika dihadapkan dengan Damian. Dia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.


"Dasar brengsek!" umpat Freya.


Meski bibirnya mengutuki Damian, namun hatinya terasa berkata lain.


"Nona..."


Suara Vicky membuat Freya segera menghapus air matanya.


"Apa yang nona lakukan disini?"


"Tidak ada." jawab Freya dengan memalingkan wajahnya.


"Tuan Edo mencari nona."


"Oh, aku akan kesana sebentar lagi. Bisa tolong belikan aku minuman dingin?"


"Hm, tentu Nona. Duduklah di bangku sana. Saya akan kembali sebentar lagi."


Freya mengangguk. Ia berjalan dan duduk di sebuah bangku panjang rumah sakit. Tatapannya menerawang jauh. Apa yang dilakukan Damian memang sudah keterlaluan. Tapi apa yang sudah ia tuduhkan pada Damian juga keterlaluan juga. Ia sama sekali tak tahu apa masalah kakaknya dan Damian, dan dia hanya menyalahkan Damian saja.


Vicky terlihat menghampiri Freya dengan membawa dua buah minuman dingin ditangannya. Freya menatap pria yang menjadi kakaknya selama 12 tahun. Tidak ada cela dalam diri Vicky. Dia tampan dengan tubuh tinggi tegap dan berotot. Hanya saja terkadang tingkahnya yang badung yang membuatnya banyak terkena masalah. Usia Vicky delapan tahun diatas Freya dan sikapnya memang sangat dewasa sesuai dengan usianya.


"Ini Nona!" Vicky menyodorkan minuman dingin kearah Freya.


"Ah iya." Freya melamun dengan membayangkan Vicky. Dirinya amat malu.


"Apa yang nona pikirkan? Kenapa menatap saya begitu?"


"Ah tidak. Aku hanya ... sedang berpikir saja. Abang ini cukup tampan dan pastinya banyak gadis yang menyukai abang. Tapi ... kenapa abang masih memilih sendiri?"


Vicky tertawa. "Memangnya Nona ingin mencarikan saya jodoh?"


"Bukan begitu. Apa ... abang masih memikirkan kak Naina?"


"Tidak. Saya tahu saya banyak menyakiti Naina. Jadi, saya senang karena dia menemukan pria yang baik."


"Abang terlalu jahat padanya. Padahal kak Naina adalah wanita yang sempurna untuk abang. Ayo ke kamar bang Edo. Aku harus berpamitan dengannya." Freya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar rawat Edo dan Damian.


Tiba di depan kamar, Freya nampak ragu untuk masuk.


"Ada apa, Nona?" tanya Vicky.


"Dia tidak ada disini, Frey!" ucap Edo yang melihat adiknya mengendap-endap.


Freya meringis lalu menghampiri brankar Edo.


"Damian sedang menjalani pemeriksaan untuk mengetahui apakah tulang kakinya patah atau tidak." jelas Edo.


Freya menundukkan wajah.


"Freya..." panggil Edo lirih.


"Jika kamu memang menyukai Damian, maka..."


"Abang!" protes Freya.


"Baiklah. Aku tidak akan ikut campur. Tugasku hanya memastikan kau baik-baik saja."


"Abang..." Freya memeluk Edo. "Kapan abang di periksa juga?"


"Mungkin setelah Damian kembali. Kau mau langsung pulang?"


Freya mengangguk. "Aku akan ke kantor dulu."


"Baiklah, hati-hati. Tolong urus perusahaan selama aku tidak ada."


"Abang tenang saja. Sekarang abang istirahat agar lekas pulih."


Freya keluar dari kamar rawat Edo. Ia berjalan diikuti Vicky di belakangnya sambil mengawal.


Saat hampir tiba di lobi, Freya berpapasan dengan Damian yang memakai kursi roda dan di dorong oleh seorang perawat.


"Freya..."


Freya malas bertemu dengan Damian. Ia melewati Damian begitu saja. Namun pria itu meraih tangan Freya.


"Freya... Maafkan aku..."


Freya menepis tangan Damian.


"Freya, kau tahu aku sangat..."


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Damian. Si perawat melongo tak percaya ketika melihat sikap berani Freya menampar Damian.


"Aku membencimu! Aku sangat menbencimu!" ucap Freya dingin kemudian berlalu.


"Freya!" Damian menggerakkan kursi roda dengan tangannya.


"Freya! Tunggu! Freya!"


Vicky menghentikan langkah Damian.


"Jangan begini, Tuan. Nona Freya tidak akan luluh jika Anda bersikap begini," ucap Vicky.


"Tapi..."


"Berikan Nona Freya waktu. Saya mengenalnya dengan baik."


Damian berdecih. Ia sangat tidak suka dengan keadaan seperti ini.


"Maafkan sikap nona Freya. Semoga Anda lekas sembuh, Tuan." Vicky kembali melangkah dan menyusul Freya.


Gadis itu sudah menunggu di depan lobi rumah sakit. Ia berkacak pinggang melihat Vicky yang baru datang.


"Kenapa lama sekali? Apa yang kau bicarakan dengannya?" tanya Freya dingin.


"Tidak ada. Nona akan ke kantor?" Vicky tidak ingin membahas soal Damian dan memilih melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir.


Freya mengikuti langkah Vicky hingga mereka tiba di parkiran. Mobil mulai melaju meninggalkan area rumah sakit.


Suasana masih hening dan tak ada yang membuka pembicaraan. Hingga akhirnya...


"Sebaiknya Nona mengikuti apa kata hati Nona." celetuk Vicky.


Kalimat Vicky membuat Freya terdiam.


"Saya mengenal Nona sejak 12 tahun lalu. Saya tahu apa yang Nona rasakan."


Freya memejamkan mata.


"Nona tidak pernah begini sebelumnya. Dan hanya tuan Damian saja yang membuat nona begini."


...***...


*rekomendasi novel hari ini: